Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta

Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta
Pasangan Populer Beda Kasta


__ADS_3

Di sekolah July benar - benar menghindari Lukas karena rasa bersalahnya, July sengaja datang terlambat ke sekolah, siangnya July yang tak pernah - pernahnya ikut ke kantin hari ini bergabung bersama Amel, Sisil, dan Fedya makan siang di kantin khusus siswa pendamping


Kantin itu sesak kalau jam makan siang, July baru tahu kalau jumlah siswa pendamping di sekolah itu sangat banyak, sedikit lega di hatinya mengetahui ternyata banyak yang bernasib sama sepertinya


Sepotong roti dan sekotak susu sudah tersedia di depan July, gadis itu hanya memainkan kotak susunya asal - asalan, tak berselera makan sama sekali


“Sudah ku bilang untuk membawa July kesini dari kemarin - kemarin, bener kan kataku, kalau ada July kita jadi pusat perhatian” celetuk Sisil sumringah


Fedya dan Amel mengikuti arah pandang Sisil pada banyak siswa laki - laki yang mencuri - curi pandang pada July, siswi perempuan juga sih tapi kebanyakan dari mereka sibuk berbisik - bisik


“July kan sudah terkenal, coba lihat videonya di website sekolah deh, yang like sama subscribes banyak banget” Sahut Fedya


Amel yang gerak cepat membuka website sekolah menghela napas lelah, “Tapi yang komen negatif juga banyak, kayaknya sih dari Nona - Nona muda” Infonya


“Hah? Masa?” Shock Sisil tak percaya, ponsel di tangan Amel diambilnya mata Sisil membulat membaca banyak hate speech di kolom komentar


“Pelayan tak tahu diri, jual diri aja sana, banyak yang lebih cantik sih di sekolah kenapa harus pelayan yang dijadiin model, berapa hargamu untuk semalam” Sisil bergumam membaca beberapa komentar, “Oh ya ampun, jahat sekali mereka!” Tutur Sisil lalu mengembalikan ponsel ke empunya


“Yang muji juga banyak, rata - rata dari siswa cowok sih” Sahut Amel lanjut membaca komentar


July duduk malas tak antusias pada yang tengah di bahas teman - temannya


“July, kamu kenapa? Udah sih komentar - komentar negatif begitu enggak perlu dipikirkan” Amel mengusap punggung July


“Enggak kok.. hehehe” Sahut July


“Lagi badmood ya? Apa lagi berantem sama Tuan Lukas?” Todong Fedya


July menggeleng, duh ia ingin menangis saja kalau mengingat Lukas


Melihat wajah cantik temannya sedang sendu, Fedya, Amel dan Sisil saling pandang


“Eh gimana kalau sore kita nonton? Ada film baru tuh di bioskop” Ajak Amel


“Kalau horor aku skip sih, jantungku enggak kuat kayaknya” Sahut Fedya


”Nonton yang genre romance saja gimana?” Tawar Sisil


“Ya sudahlah, yang penting nonton bareng” Ucap Amel setuju, “Kamu ikut kan Jul?” Tanya Amel pada July di sebelahnya


“Ikut ya Jul, kita kan enggak pernah jalan bareng, please!!” Pinta Sisil memohon sampai menangkupkan tangannya segala


“Sorry, aku enggak bisa.. aku kan harus kerja pulang sekolah nanti, emang kalian enggak kerja?”


Sisil dan Amel saling pandang, “Kerja? Kami enggak ada yang kerja sepulang sekolah kok Jul” Sahut Amel


“Benarkah?” Punggung July yang tadi lesu menegak lagi, penasaran


“Iya, jam kerja kami hanya jam sekolah saja kok, bisa mundur sedikit sih kalau tugas sekolah lagi banyak dan harus nyari bahan di perpustakaan, tapi itu jarang banget” Tambah Fedya


Dahi July mengkerut berlipat - lipat, “Jadi sepulang sekolah kamu enggak kerja di rumah tuan Axel?”


“Ya enggak lah, pulang sekolah ya pulang ke rumah.. aku emang kerja sama Tuan Axel tapi sebagai pendamping di sekolah saja, Papaku sih.. udah tahu usahanya mau bangkrut tapi maunya aku sekolah disini, jadinya ya itu.. aku disuruh jadi murid pendamping” Sahut Fedya


“Sama, aku juga begitu.. Papaku sih bilangnya kalau lulusan sekolah ini gampang buat diterima di kampus manapun meskipun nilainya pas - pasan, makanya pas aku daftar jadi siswa pendamping orang tuaku setuju” Tambah Sisil


Amel menyeruput dulu minumannya, “He-em, kayaknya semua siswa pendamping disini tujuannya sama sih, untuk dapat ijazah meskipun nilai - nilai dan prestasi kita nantinya untuk majikan” Ucap Amel


“Emangnya kamu masih kerja sepulang sekolah? Orang tua kamu ngizinin? Kamu kerja dimana?” Berondong Sisil


Diantara suara ribut anak - anak penghuni kantin July tersedot masuk ke dunianya sendiri yang malang, terhempas jatuh menyadari kalau selama ini ternyata hanya dia saja yang merangkap pelayan pribadi


“Jul, kamu kerja dimana?” Tanya Fedya menyadarkan lamunan suram July


“Eh… ya? Oh.. enggak kok.. hehehe” Jawab July tak sinkron


Suara rusuh kantin reda berubah hening, masih menyisakan bisik - bisik samar, Sisil dan Fedya yang duduk menghadap pintu masuk menjerit tertahan

__ADS_1


Sisil mengguncang - guncang tangan kanan July, “Lihat… lihat, Ada Tuan Lukas!” Seru Sisil histeris, July menoleh sebentar memastikan, setelahnya gadis itu duduk melorot, bersembunyi dari pandangan Lukas


Spot perhatian milik Lukas sekarang, Tuan muda pertama yang sudi menginjakkan kaki ke tempat berkumpul para siswa pendamping. Lukas si siswa populer nan tampan itu menyapa siapa pun dengan sopan, tak risih - risih membalas sapaan adik kelas atau seangkatan meskipun mereka hanya siswa pendamping


Sudah mereka duga Lukas akan berhenti di meja mana, kabar memang sudah berhembus kencang kalau Lukas dan July pacaran, hanya saja kebenarannya diragukan mengingat perbedaan yang sangat besar di antara keduanya.


Melihat Lukas sudah menemukan yang dicari, fokus seisi kantin berubah pada kegiatannya masing - masing meskipun masih ada yang iseng curi - curi pandang


“Siang” Lukas ramah menyapa


“Selamat siang Tuan” Sahut Sisil, Fedya, dan Amel hampir bersamaan, Lukas lalu menoleh pada July yang menunduk dalam - dalam, “Hai” Sapanya


Amel sibuk menyikut - nyikut July, “Jul, Tuan Lukas tuh”, July pelan mendongak.. “Hai Kak” Sapa July


“Kak? What?!” Fedya shock, Sisil sampai menutup mulutnya, sedang mulut Amel menganga lebar cukup sebelum ia tutup dengan tangannya


“Bisa kita bicara sebentar?” Tanya Lukas pada July


Ujung mata gadis itu bisa melihat teman - temannya yang menonton mereka penasaran, berpikir kalau July dan Lukas sedang bertengkar


Terlatih untuk bersikap profesional, July secepat mungkin menguasai diri, senyum ramahnya terbit lagi, “Silakan Kak” Ucap July kaku


Fedya gerak cepat mempersilakan Tuan muda itu duduk di tempatnya, “Silakan Tuan” Ucapnya sopan, sedang ia pindah duduk ke bangku sebelah membawa piring dan minumnya, bergabung dengan geng lain


July pura - pura biasa saja, ia membuka plastik berisi roti lalu melahapnya sedikit, meskipun perutnya sedang enek tak ingin makan apa - apa


Suasana hening lagi saat Lukas duduk persis di depan July, pemandangan yang tak pantas seorang Tuan muda duduk bersama dengan para pelayan, tapi Lukas tak peduli.. meskipun Sisil dan Amel berubah kikuk salah tingkah


“Kenapa kamu tidak membalas chat Kakak?” Tanya Lukas


“Oh maaf, chargerku rusak Kak.. hehehe” Sahut July asal, padahal ia sengaja tak mengaktifkan ponselnya


“Aku khawatir” Ucap pemuda itu, Sisil mengipas - ngipas wajahnya yang memerah mendengar ucapan Lukas, Amel sampai senyum - senyum sendiri


Melirik wajah kedua temannya yang ikut salah tingkah July tersipu malu - malu, “Kak, kita bicara di tempat lain saja” Ucap July, Lukas nyengir lebar lanjut menoleh pada Amel dan Sisil


“Terima kasih sudah menjaga July” Ucapnya full senyuman


“Aku duluan” Ucap July setelah membereskan makanan lalu bangun dari duduknya


“Dah sana, jangan bikin Kak Lukas nunggu” Goda Sisil


“Kenapa ga jadian aja sih Jul? Cocok tahu!” Ucap Amel, suaranya yang agak lantang kembali menyedot perhatian, senyum Lukas semakin lebar sementara July berjalan kikuk mendekati Lukas menyadari banyak pasang mata memperhatikan mereka


July pikir Lukas akan bersikap seperti biasa, berjalan berdampingan menuju pintu keluar, tak tahunya tangan July tiba - tiba ia gandeng erat, July menghirup napas dalam - dalam sebelum ia mantap membiarkan semua orang tahu kalau ia dan Tuan muda itu berpacaran


Pecah sudah suasana di kantin, heboh melihat pasangan beda kasta itu


“Whaaattt?!!!! Sisil sampai berteriak, Fedya yang sudah kembali ke mejanya gerak cepat mengabadikan momen, memfoto dengan ponselnya dari belakang July dan Lukas sedang bergandengan tangan


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tak ada kata diantara keduanya hanya tangan yang saling menggenggam erat, July nyaman bergandengan tak lagi takut hubungannya terekspos


Saat melewati lapangan basket yang sedang banyak orang pun July cuek, ia yakin saat ini Marco sedang melihatnya mengingat ada Leo, Axel dan Aldi disitu


“Shit!” Teriak Leo lantang melihat Lukas dan July, sampai jeda dulu main basketnya


Aldi menepuk - nepuk bahu Axel menenangkan sahabatnya yang menatap July sendu


“Lukas woiiiiii, basket dulu sini! Sibuk pacaran saja kau!” Pekik teman Lukas satu tim basket


Lukas nyengir kuda saja, “Skip dulu ya” Sahutnya lanjut berjalan bergandengan tangan dengan sang pacar, tak mau kehilangan momen


Setelah membuat kehebohan di kantin dan lapangan basket, pasangan populer itu berbelok menuju taman belakang sekolah tempat favorit July


July mendudukkan diri duluan di pinggiran teras, menjuntaikan kakinya yang jenjang nyaris menyentuh rumput hijau di bawahnya, sedang Lukas mendudukkan diri di belakang July bersandar ke dinding dan menjulurkan kakinya

__ADS_1


“Sayang” Panggil Lukas, July menoleh.. tersenyum melihat kedua tangan Lukas terbentang lebar meminta July


July beringsut mundur, merangsek masuk saat Lukas membuka kakinya lebar - lebar, duduk dalam rengkuhan Lukas bersandar nyaman di dadanya


Tangan Lukas melingkar di perut July menyamankan gadisnya itu, sesekali bibirnya menciumi rambut July


“Wangi sekali” Ucap Lukas


“Kak” Panggil July


“Ya?” Sahut Lukas


“Seharusnya kemarin kita tidak menunda untuk tidur bersama” Tutur July, ia teringat lagi kejadian semalam, hatinya tak rela disentuh Marco lagi


“Kalau kamu mau, hari ini bisa kok.. hehehe” Sahut Lukas


July menghela napas, “Aku tidak bisa, aku kerja” Tutur July lesu, “Sepertinya sekarang akan sulit sekali untuk punya waktu seperti kemarin” Keluh July


“Kenapa kamu enggak ikut kompetisi saja? Banyak kok kompetisi antar sekolah yang biasa diikuti sekolah kita, nah setiap kamu ikut lomba nanti Kakak temani, jadi kita punya banyak waktu buat ketemu diluar sekolah” Saran Lukas


July yang sedang getol mengumpulkan uang langsung menyangkutkan kompetisi dengan hadiah, “Kompetisi? Ada hadiahnya Kak?”


“Hadiahnya lumayan kok, sebentar.. “ Lukas merogoh ponsel dari saku celananya, membuka aplikasi media sosial


“Tahun lalu ada kompetisi debat bahasa inggris, hadiahnya sampai belasan juta” Lukas menunjukkan foto - foto yang terupload di media sosial itu, July khidmat memperhatikan


“Ada lomba sains juga, sekolah ini langganan juara” Tambah Lukas


Jari July menunjuk salah satu foto, matanya membola, “Ini Kakak kan? Kakak yang menang?” Tanya July


“Kakak iseng saja waktu itu.. hehehe” Jawab Lukas merendah, July mencium pipi pacarnya itu, bangga mengetahui kalau Lukas ternyata juga cerdas


“Ahahaha.. Terima kasih” Ucap Lukas


“Sama - sama” Sahut July


Jari Lukas lanjut scrolling foto - foto di media sosial itu lagi


“Nih tahun ini ada lomba matematika, kalau kamu mau nanti Kakak daftarkan” Tawar Lukas


July antusias sekali, namun setelah itu menghela napas, “Sepertinya Tuan Azhari dan Tuan Marco tak akan mengizinkan”


“Kakak yakin mereka pasti mengizinkan, karena setiap menang perlombaan kamu bisa menambah poin nilai untuk Marco” Sahut Lukas


“Benarkah?” July mulai antusias lagi, Lukas mengangguk mengiyakan


“Jadi gimana, Kakak daftarkan?” Tawar Lukas lagi, gemas.. ia menyampirkan rambut July menciumi leher gadis itu


“Kak… Shhhhh” Desis July, terhanyut.. gadis itu menoleh ke belakang menyatukan bibir dengan Lukas, awalnya cium - ciuman kecil namun berubah ******* panjang


“Jilat bibir bawahku pakai lidah Kak” Titah July, ingin menghapus jejak Marco tadi malam.. Lukas manut menyapukan lidahnya di bibir bawah July yang lembab


“Ada lagi?” Tanya Lukas


“Gigit kecil juga” Titah July, seperti tadi Lukas mengikuti menggigit kecil bibir July


“Terima kasih” Ucap July


“Sama - sama” Sahut Lukas, dibayang - bayangi kejadian tadi malam gadis itu naik ke pangkuan Lukas, agresif menciumi bibir pemudanya


Lukas menyambut hangat, menyedot penuh bibir July masuk ke dalam mulutnya, lidah mereka saling menerobos bertemu saling bertaut. Jeda sebentar saat napas mereka mulai tersengal, dahi mereka kemudian menyatu, tangan saling mengelus lembut leher satu sama lain


Turun dari menatap mata July, mata Lukas tertuju pada dada gadis itu yang membusung


“Ahahahha… Kakak mau?” Tawar July


“Dengan senang hati” Sahut Lukas, tangannya terulur menyentuh dada July lembut, lalu meremasnya perlahan

__ADS_1


“Aahhh, Kak” Desis July melabuhkan kepala di pundak Lukas, merasakan sensasi sentuhan pemuda itu


(Bersambung)


__ADS_2