
“Kak July” Sapa beberapa adik kelas saat July, Amel, Sisil, dan Fedya menuju kantin. July melempar senyum, ramah sekali
“Kamu jangan ramah - ramah dong Jul, agak jual mahal gitu kayak artis - artis sekarang!” Tegur Amel
“Biar apa sih harus sombong?” Protes Fedya
“Biar kelihatannya eksklusif lah, jadi misterius gitu” Sambar Sisil
July tersenyum kecil mendengar ucapan teman - temannya. Harus sombong? Bagaimana jiwa pelayannya yang sudah mendarah daging hilang begitu saja lalu berlagak seperti seorang bintang? Seterkenal apa pun nyatanya ia masih seorang babu
Sampai di kantin, pemandangan agak berbeda, banyak siswa utama wara wiri disana, saat July masuk pandangan menuju padanya, bisa dipastikan kalau siswa utama datang kesana hanya untuk melihat July
“Duduk disana yuk” Tunjuk Amel memilih bangku yang masih kosong, tepat di tengah - tengah, ke empat sahabat itu berjalan di bawah tatapan banyak orang
“July” Sapa gerombolan siswa utama yang dilewati July
Bawaan menjadi babu, gadis itu mengangguk sopan, “Selamat siang Tuan” Sahutnya
“Selamat siang Tuan, ahahaha” Ucap salah seorang siswa utama menertawakan July, July mengkerut.. menunduk sedih. Tersenyum penuh kepalsuan
Amel gerak cepat menggandeng temannya, “Sudah.. enggak usah di dengerin, lagian kan udah ku bilang kamu tuh enggak perlu ramah - ramah setelah jadi artis, lihat kan gimana kalau mereka dikasih hati” Sungut Amel
Duduk di bangku panjang, July masih menunduk sedih tak berani mendongak meskipun banyak orang yang memanggil - manggilnya. Teman - temannya menghela napas, sedih kehilangan ceria July tadi
Seorang siswa utama berperawakan tinggi menghampiri July, tampak canggung saat mencoba menyapa gadis itu
“July, hai” Sapanya sambil mengusap - usap tengkuknya, gadis pelayan itu mendongak, lalu seperti tadi mengangguk sopan hanya saya tidak berucap sepatah kata pun, diganti dengan senyumnya yang profesional
“Emmhhh, maafin teman - temanku tadi ya.. enggak perlu di dengerin” Ucap siswa itu
July hendak menjawab, tapi Amel ambil alih, “Tolong ingatkan teman - teman Tuan itu agar menjaga sikap pada July, dia ini artis terkenal sekarang” Amel si juru bicara kali perdana berani angkat suara pada seorang Tuan muda
“Baiklah, akan ku ingatkan nanti” Ucap siswa utama itu, “Kamu mau makan Jul? Mau aku pesankan? Sekalian dengan teman - teman kamu juga”
“Tidak perlu! July pacarku, kamu tidak perlu membelikan apa pun” Bukan July yang menjawab, melainkan Lukas. Pemuda yang entah kapan datangnya itu mendekat, disambut July yang terkejut dengan kehadiran Lukas, tanpa kabar sebelumnya
Senyum July lebar.. cerianya kembali, “Kakak”, Lukas meletakkan tangannya di pundak July, situasi jadi sedikit menegang karena siswa utama itu pantang mundur meski Lukas disana. Mereka jelas jadi tontonan semua orang, yang mereka tahu Lukas sedang training, tapi bahkan belum seminggu pemuda itu malah sudah kembali lagi
“Duh kayak kamu doang yang punya pacar!” Olok siswa utama itu, panas hati melihat Lukas dan July
Senyum Lukas palsu, duduk di samping July menggeser Amel dan Fedya, “Sekarang kami mau makan dulu, terima kasih atas tawarannya tadi ya” Usir Lukas halus, siswa utama itu mundur teratur bergabung dengan teman - temannya, tak lama rombongan itu bubar, bintang baru yang menjadi target mereka disana sudah kembali pada yang punya.
Amel, Fedya, dan Sisil tahu diri.. pamit pindah duduk ke bangku bekas siswa utama tadi
“Kakak kenapa ke sekolah? Bukannya masih masa training ya?” Cecar July, pemuda itu tersenyum, menopang wajah tampannya dengan tangan, full perhatian pada July
“Aku rindu” Ucapnya, July tersenyum.. menunduk dalam malu - malu, pipinya semerah tomat apalagi ketika Lukas mengusap - usap sayang kepalanya, duh….
__ADS_1
“Hari ini ada meeting dengan Rumi dan Luna membahas proposal mereka, Kakak minta izin bentar dari kantor, tapi sore nanti harus balik lagi” Jelas Lukas, July mengangguk - angguk
“Tapi itu alasan pendukung saja sih, alasasan utamanya kamu.. Kakak kangen banget”
July menggigit bibir bawahnya, malu - malu menunduk lagi, tak bisa ia pungkiri kalau ia pun sangat merindukan Lukas, “Kakak mau ke halaman belakang enggak?” Tawar July
Senyum Lukas merekah lebar, “Kakak udah kesana tadi, nyimpen hadiah - hadiah dulu buat kamu” Ah.. Lukas memang begitu, selalu bisa membuat July bahagia
****Di halaman belakang pasangan itu berciuman panas, melepas rindu.. kalau tidak ingat itu sekolah, mungkin Lukas sudah meminta jatah
“Sshhh Kak” Ucap July saat tangan Lukas mulai bergerilya, sampai membuka kancing atas seragam July. Di ceruk dinding yang tak terlihat itu Lukas mengulum - ngulum dan menghisap, membuat July merintih - rintih, syahdu.
Puas bersentuhan, keduanya duduk berselonjor.. July duduk bersandar pada dada Lukas, menikmati cemilan yang Lukas bawakan untuknya
“Kakak membelikanku sepatu lagi?” Tanya July melihat tumpukan kardus di dalam kantong belanja besar
“Iya, hehehe.. ada yang couple juga. Jadi kalau kita kencan lagi sepatunya samaan” Sahut Lukas lanjut membuka mulut menerima suapan tangan July
“Lalu itu box apa?” Tunjuk July pada box berbungkus kertas kado
“HP baru, kemarin HP Kakak jatuh.. lumayan parah sih rusaknya, pas beli yang baru Kakak ingat kamu, jadi sekalian beliin.. hehehe”
“Padahal HPku masih bagus sih Kak, retak sedikit saja” Ucap July
“Retak? Jatuh juga?” Tanya Lukas santai, menciumi rambut July.. seandainya saja Lukas tahu apa penyebab July membanting ponselnya hingga retak, pemuda itu sudah pasti murka pada Marco
“Maaf… aku keteledor Kak” Tutur July
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selesai jam pelajaran, July memohon - mohon pada Marco untuk pulang terlambat, ada pemotretan ia jadikan alasan… semoga saja Marco belum tahu kalau sedang ada Lukas, tak disangka pemuda itu memperbolehkan, tak berani menolak permintaan artis baru kesayangan hampir seisi sekolah, demi menjaga wibawa depan teman - temannya.
Seperti yang dikatakan Lukas tadi, di kantin siswa utama, Lukas, Rumi, Luna, dan July rapat bersama
Lukas si tampan tampak serius membaca kata per kata di proposal yang diajukan Rumi dan Luna, teliti tak melewatkan satu huruf pun, “Sudah oke, minggu depan kita tanda tangan MoU di depan notaris” Ucapnya
Rumi dan Luna tentu saja girang bukan kepalang
“Jangan senang dulu, ini perusahaan rintisanku… keberhasilan perusahaan ini tergantung usaha kita bersama, jadi aku mohon kerja samanya” Tutur Lukas
“Kami janji akan berupaya yang terbaik, tenang saja.. apalagi kalau July artisnya, aku optimis perusahaan kita bisa berkembang” Ucap Rumi tersenyum lebar
“Bagus, aku sekalian titip July ya” Pesan Lukas, Rumi dan Luna mengangguk setuju, sudah mahfum pada kebucinan Lukas
“Eh besok sore ada audisi untuk film berjudul Love, aku udah daftarin July sih untuk ikut.. tapi kalau kamu bisa ikut datang, mungkin akan jadi salah satu pertimbangan July diterima” Info Rumi pada Lukas
Lukas mengangguk cepat, “Aku ikut besok, nanti aku jemput kalian kesini” Tutur Lukas, beralih pada July pemuda itu mengelus lengan gadisnya, “Mau makan steak?” Tawarnya, July mengangguk dan tersenyum manis sekali
__ADS_1
Setelahnya Lukas bangun, beranjak menuju counter koki untuk memesan makanan. Memanfaatkan momen saat Lukas sedang tak bersamanya July berbisik mengutarakan rasa penasarannya
“Kenapa Kak Lukas harus ikut?” Tanya July
Rumi yang sedang minum sampai menghentikan sedotannya, “Tentu saja agar produser dan sutradaranya memprioritaskanmu Jul, di dunia hiburan sekarang, selain wajah dan bakat, kita juga perlu koneksi”
July semakin tak mengerti, “Apa mungkin seorang siswa SMA di dengar oleh produser dan sutradara ternama?”
Luna sampai shock, “Astaga July apa kamu benar - benar tidak tahu siapa Lukas Walton? Kamu enggak kenal pacar kamu sendiri?”
Rumi di sebelah Luna sampai menggeleng - gelengkan kepala, “Pacarmu itu bukan orang sembarangan, July… keluarganya sangat berpengaruh”
Percakapan mereka jeda sebentar, Lukas yang sedang dibicarakan sudah kembali duduk, wajahnya ceria full senang
“Kita belum membicarakan tentang gaji kalian sebagai manager dan make up artist July” Ucap Lukas, kembali ke mode serius
“40 persen, 25 untuk manager, 15 untuk make up artist” Nego Rumi
“Terlalu besar, 30 persen” Tandas Lukas menatap Rumi sungguh - sungguh
“Aku yang siapin kendaraan, aku yang cariin job, aku yang akan mengurus segala sesuatunya, 40 persen sudah pantas untukku dan Luna”
“Enggak bisa, 30 persen dan sudah tidak bisa di nego lagi” Keukeuh Lukas semakin serius menatap Rumi
July melirik Lukas mengkode agar melunak, tapi pemuda itu pantang kalah
Ah ya sudah, Rumi menyerah lah.. jiwa bisnis Lukas sudah mendarah daging rupanya, pintar sekali negosiasi, “30 persen kalau begitu.. tapi fix ya July akan jadi artis pertama di agensi kami”
“Aku mau kok” Timpal July mencoba berpihak pada Rumi
“Jangan asal mengiyakan sayang” Tegur Lukas
July cengengesan, “Aku kepikiran sih Kak, kata Rumi tadi penghasilanku dari film atau pemotretan itu banyak banget, berkali - kali lipat dari hadiah lomba, kalau hanya dipotong 30 persen uangku masih banyak banget”
Lukas menghela napas, speechless pada kepolosan July, “Kalau kamu perlu uang, kamu bisa minta padaku”
July menunduk malu diperlakukan begitu di depan Rumi dan Luna
“Jadi bagaimana, setuju dengan syaratku?” Sela Rumi
Lukas menoleh lagi pada July, menarik dagu gadisnya menatap lamat - lamat, “Kamu serius mau terjun di dunia hiburan? Uangnya sangat banyak, dalam sekejap kamu bisa menyelesaikan semua masalahmu dan keluar dari rumah Marco, nanti juga kamu bisa punya rumah sendiri”
Diimingi - imingi begitu tentu saja July tak menolak, “Mau Kak, mau” Sahutnya ceria, melihat senyum July kepala Lukas turun, tak peduli sedang ada siapa bersama mereka, Lukas mengecup bibir July, bahkan ********** lembut
July ingin protes tapi melihat raut senang di wajah tampan Lukas, July urung
Rumi dan Luna yang baru tersadar dari keterpanaan mereka, menyemprot Lukas, “Ya ampun, tahan diri Lukas!” Protes Luna
__ADS_1
Pemuda itu nyengir kuda, bodo amat dengan pandangan orang.. yang penting rindunya pada July sudah sedikit terbayar
(Bersambung)….