
Sampai di kediaman mewah Tuan Azhari, July segera masuk ke kamarnya, melepas sepatu dan tas baru dari Lukas, July merasa norak karena ia beberapa kali senyum - senyum sambil melihat tas dan sepatu barunya itu, barang yang sudah lama ia impikan tapi terlupakan karena keterbatasan
Ponsel yang baru saja July charge itu berbunyi, sebelum keluar dari kamarnya untuk bekerja July menyempatkan diri dulu mengintip ponselnya, pesan dari Lukas membuat July penasaran, ada foto yang Lukas kirimkan
“Ahahaha… Sepatu lagi?” Gumam July, tawanya renyah melihat kelakuan random Lukas membelikan 2 pasang sepatu sama model hanya beda warna saja
“Terima kasih” Tulis July dalam pesannya untuk Lukas
“Sama - sama, selamat bekerja.. nanti malam aku video call ya” Balasan dari Lukas cepat, pertanda kalau ia memang menunggu pesan dari July
“Baik Kak, terima kasih.. sampai nanti” Balas July sebelum ia meletakkan kembali ponselnya. July menghirup udara banyak - banyak mengumpulkan semangat untuk melakukan pekerjaan selanjutnya meskipun badannya terasa remuk redam
Siang itu July tak melayani Marco, menurut kepala pelayan Marco tadi mampir sebentar ke rumah dengan pacarnya, Shofi.. setelah itu keduanya pergi lagi. July ingin menanggapinya dengan biasa saja, tapi tak bisa dipungkiri kalau cemburu itu masih ada
“Sadar diri, July! Sadar diri!” Rapalnya beberapa kali
Tidak ada Marco bukan berarti July bisa bersantai sejenak, bahkan pekerjaannya semakin banyak, senior - senior memanfaatkan tenaga July untuk meringankan beban kerja mereka, selama ini July memang selalu di anggap anak emas yang hanya mengerjakan tugas - tugas ringan saja, tanpa mereka sadari tugas July jauh lebih berat, belajar dan mengerjakan tugas sekolah untuk 2 orang itu melelahkan, belum lagi stand by untuk melayani kebutuhan Marco, setelah itu pun ketika pekerjaannya telah selesai July masih diharuskan mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum diselesaikan senior, benar - benar melelahkan.
July mengusap keringatnya setelah ia baru selesai mengepel hampir semua ruangan kecuali kamar Tuan dan Nyonya Azhari, karena hanya kepala pelayan yang boleh masuk ke kamar itu
Gadis yang sudah kepayahan itu duduk melantai berselonjor di depan gudang tempat alat - alat kebersihan di simpan, suara ketukan heels kepala pelayan memaksa July untuk berdiri saat itu juga
“Selamat sore Bu” Sapa July sopan
“July, bersiap - siaplah sebentar lagi supir Tuan muda Marco akan mengantarmu ke rumah Nona muda Shofi, ada acara disana.. kamu diperintahkan langsung oleh Nyonya Azhari untuk membantu!” Tutur kepala pelayan
“Maaf Bu, tapi bukannya sore ini adalah jadwal tugas saya untuk mengerjakan tugas sekolah? Lagipula besok ada ujian harian Bu, saya harus mempersiapkan diri” Sahut July
Kepala pelayan mendengus kesal tak suka dibantah, “Ingat July Nyonya Azhari lah yang berbaik hati menyekolahkanmu disana! Sudah jangan membantah, jangan membuat masalah dengan Nyonya besar!” Tandas kepala pelayan
“Baik Bu” Ucap July tak lagi protes, walaupun sebenarnya jelas ini tak sesuai dengan perjanjian, bukankah seharusnya July memprioritaskan urusan sekolahnya?
“Oh ya Nona Shofi berpesan agar kamu tetap memakai baju pelayan, jadi tidak perlu mengganti baju, emmmhhh.. dan satu lagi katanya kamu tidak perlu memakai make up, jadi bersihkan make upmu sebelum berangkat!” Titah kepala pelayan
Huh entah kenapa dengan Shofi, apa tujuannya berpesan seperti itu? Tapi July tak keberatan pun, untuk soal baju memang itu seragamnya sebagai pelayan, sedang untuk make up kalau boleh jujur July pun tak suka mengenakan make up, ia lebih senang tampil natural
Sopir Marco mengantarkan July masuk hingga ke halaman rumah mewah Shofi, saat tahu siapa yang diantar dengan mobil mewah itu penjaga rumah mengarahkan ke area belakang rumah, pintu untuk para pekerja masuk
July merasa kikuk di tempat yang masih asing itu, beruntung seorang pelayan berbaik hati mengantarkannya ke tempat acara yang terletak di samping rumah, sedang ada garden party rupanya.. suara musik dan gelak tawa bersahut - sahutan, pemuda pemudi dengan baju pesta beraneka warna dan model berseliweran
Bruuuk..
Seorang pemuda bersetelan jas menyenggol pundak July, tak sengaja tapi membuat pemuda itu berbalik badan menoleh pada July
“Maaf.. maaf aku enggak sengaja” Ucap pemuda itu, Tuan muda di kelas July bernama Axel
“July?” Tanya Axel meyakinkan pandangannya, Axel tersenyum cerah bertemu July di tengah pesta yang menurutnya sangat membosankan
__ADS_1
“Selamat malam Tuan” Sapa July profesional
“Malam, kamu ngapain disini? Kamu sama Marco?” Tanya pemuda itu sambil celingukan mencari - cari sahabat dekatnya, tatapannya lalu beralih pada baju yang di kenakan July, mata Axel sampai melihat dari ujung kaki ke ujung kepala July
“Maaf Tuan, saya tidak bersama Tuan Marco” Sahut July benar - benar sopan
“Kamu… kerja disini?” Tanya Axel ragu - ragu, khawatir menyinggung gadis yang diam - diam sedang ia sukai itu
“Iya Tuan, Nyonya Azhari mengirim saya untuk diperbantukan disini” Sahut July lagi
Axel manggut - manggut, ia mengerti sekarang kenapa July datang memakai baju pelayan seperti itu ke rumah Shofi
Seorang pelayan senior gupuh menghampiri July, melihat seragam July ia langsung saja meminta bantuan gadis itu untuk menyelamatkan makanan, gerimis tiba - tiba saja datang tanpa diundang
“Saya permisi Tuan” Pamit July pada Axel yang masih betah berdiri dekat July
“Ah iya… Iya, silakan… kalau perlu bantuan jangan ragu manggil aku ya” Tawar Axel, senyum July manis menggoda iman pemuda yang sedang deg - degan itu
“Terima kasih Tuan” Ucap July, dengan heelsnya gadis itu gerak cepat membantu pelayan yang lain memindahkan makanan ke tempat aman. Tamu undangan kompak bubar masuk ke dalam karena hujan semakin lebat
“Co, Marco!” Panggil Axel ketika ia melihat sahabatnya itu melintas masuk ke dalam bagian rumah Shofi, setengah berlari Axel menghampiri Marco yang bergandengan tangan dengan Shofi
“Shit! Kenapa mesti hujan sih?!” Umpat Shofi sambil mengusap - usap rambutnya dengan punggung tangan, melihat Marco hanya diam Shofi agresif mengalungkan tangan di leher pemuda itu
“Sayang maaf, acara anniversary kita jadi berantakan gara - gara hujan” Rengeknya
“Marco!” Sapa Axel, membuat Marco dan Shofi menoleh pada sahabatnya itu
“Kirain enggak datang!” Goda Marco
“Hai Xel, sama siapa? Sama Ririn bukan?” Sapa Shofi, Axel cengengesan saja ditodong begitu
“Udah putus” Sahut Axel
“What? Bukannya kalian baru pacaran seminggu gitu ya? Terus kenapa bisa putus? Kamu di depak ya?!” Tuding Shofi diahiri tawanya yang menggelegar
Bibir Axel sampai tertarik ke atas saking jengkelnya pada pacar Marco itu
“Eh ada July tuh, katanya dia lagi bantu - bantu disini” Info Axel, Marco terperangah kaget
“July? Siapa yang nyuruh dia kesini?” Tanya Marco
“Aku yang minta Mama kamu supaya July bantu - bantu disini, well.. kebetulan beberapa orang pelayanku lagi libur, jadi butuh tenaga tambahan buat bantuin handle acara malam ini” Terang Shofi
Wajah Marco tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya meskipun ia mengedikkan bahu seolah tak peduli, “Terserahlah” ucapnya
Pesta yang semula dialokasikan di tamanan samping kolam renang akhirnya berpindah ke ruang tengah kediaman Shofi, beruntung rumah itu sangat luas jadi sanggup menampung teman - teman Shofi yang banyak
__ADS_1
Shofi yang tampil cantik mengenakan mini dress berwarna hitam itu tampak hilir mudik menyapa teman - temannya, undangan yang baru datang ia sambut di depan pintu, sekilas Shofi bisa melihat July yang sedang membenahi makanan - makanan, menatanya kembali. Beberapa pemuda tampak mencuri - curi pandang pada gadis pelayan itu, padahal jangankan berbaju pesta, wajah July polos tanpa sentuhan make up apa pun.
“Shofi, selamat ya buat anniversary kamu sama Marco, ga nyangka sih kalian bisa sampai 2 tahun pacaran” Ucap seorang teman Shofi yang baru datang
“Thanks, ayo masuk - masuk!” Sahut Shofi ceria, temannya itu hendak masuk tapi ragu melihat cetakan alas kaki mereka yang berlumpur, maklum lah mereka harus melewati tanah berumput samping kolam renang sebelum masuk ke ruang tengah, tanah itu basah setelah diguyur hujan tadi
“Bentar - bentar” Ucap Shofi pada temannya, baru saja ide gila terlintas di kepalanya, Shofi yang memang sudah tak suka pada July mendapat ide segar, dengan gayanya yang angkuh Shofi memanggil July, gadis pelayan itu gupuh menghampiri Shofi
“Selamat malam Nona, ada yang bisa saya bantu?” Sapa July sopan dan dengan senyum profesional ciri khasnya, meskipun hatinya teriris mengetahui kalau acara ini adalah acara anniversary Marco dan Shofi
Teman - teman Shofi yang satu sekolah dengan July berbisik - bisik, ada pula yang menatap July dengan iba
Shofi bersedekap memperhatikan July dengan sinis, “Coba kamu lihat sepatu teman - teman aku!” Titah Shofi, July patuh lalu melihat satu per satu sepatu teman - teman Shofi
“Kamu lihat juga lantainya, kotor bukan?” Ucap Shofi, seperti tadi July menggerakan mata mengikuti arahan Shofi, lantai marmer itu memang terlihat belepotan jejak - jejak berlumpur dari sepatu
“Nah aku enggak mau ya rumah jadi tambah kotor gini, makanya aku minta kamu untuk bersihin semua sepatu - sepatu yang baru datang sebelum mereka masuk!” Titah Shofi
“Shof! Ga usah lah… “ Seorang teman Shofi mengingatkan, mungkin kasihan melihat July
“Baik Nona” Sanggup July tanpa protes, tanpa bermuram durja, wajahnya tenang dan tetap tersenyum
“Udah jelas kan? Ayo buka sepatu kalian, kasih ke pelayan itu buat dibersihkan!” Titah Shofi, gadis kaya raya itu lalu memberikan pengumuman bahwa seorang pelayannya akan membersihkan sepatu yang terkena lumpur, reaksi orang - orang beragam ada yang tak peduli, ada yang berpuas hati, ada yang kesal seperti Axel, pemuda itu hendak protes pada Marco tapi sayang temannya itu sedang “fly” setelah menghisap bubuk putih berbahaya
Beberapa pelayan memandang kasihan pada July, seorang pelayan inisiatif memberikan beberapa lembar kain lap untuk memudahkan pekerjaan July
Gadis itu duduk di titian tangga depan pintu masuk ruang tengah, menunggu orang - orang menyetorkan sepatu mereka untuk dibersihkan dari lumpur
”Jul, mau aku bantuin?” Tawar Axel terenyuh melihat July yang duduk melantai sambil membersihkan sepatu teman - temannya
“Tidak usah Tuan, terima kasih” Sahut July, senyumnya tak lepas
“Aku beneran pengen bantuin” Kukuh Axel meskipun ia juga bingung bagaimana cara membantu July, sangat tak mungkin ia membersihkan sepatu, jangankan punya orang lain punya sendiri pun ia ogah
“Terima kasih Tuan, tapi saya bisa sendiri” Tolak July sopan
Axel menghela napasnya kesal, “Cih… si Shofi ini! Benar - benar enggak punya perasaan!” Gumam Axel geram
“Tunggu sebentar ya Jul!” Axel bergegas masuk lagi ke dalam kamar Shofi untuk menemui Marco, tapi apa yang ia lihat membuatnya urung, Marco yang sedang fly itu tengah berciuman intens dengan Shofi, plus adegan raba - rabaan pula.. baju Shofi sudah berantakan, bagian dadanya nyaris melorot ke bawah, melihat kesibukan Marco akhirnya Axel menunggu sebentar sambil memutar otak bagaimana cara menolong July
Malam semakin larut, nyaris pukul 11 malam ketika hujan turun dengan lebatnya, tak ada lagi sepatu yang di terima July untuk dibersihkan, di sebelah July berjejer rapi beberapa pasang sepatu yang sudah dibersihkan tapi belum diambil yang punya, mungkin mereka lebih nyaman bertelanjang kaki, sepatu Tuan dan Nona muda itu dijaga betul oleh July, gadis itu tetap diam menunggui sepatu sesuai perintah Shofi
Angin yang semakin dingin karena nyaris tengah malam dan hujan yang lebat membuat pintu ruang tengah ditutup dari dalam, sedang July setia duduk diluar, tempias hujan sesekali menyiram tubuhnya, dingin menusuk hingga ke tulang, tak ada yang tahu air mata July menetes diam - diam
“Kak” Gumamnya memanggil Lukas, satu - satunya orang yang terpikirkan olehnya saat perasaanya hancur seperti sekarang
Di seberang sana pemuda yang July panggil itu nyaris frustasi menghubungi July, dari puluhan video call, panggilan biasa, dan chat tak ada satu pun yang July respon, entah kenapa perasaan Lukas sangat gundah malam itu.
__ADS_1
(Bersambung)…