
Selesai sarapan pagi dan satu ronde percintaan panas lagi, keduanya lalu keluar dari kamar mereka
Satu hal yang July kagumi dari Lukas adalah dia pintar sekali mengatur ekspresi, jika berdua saja dengan July ia super nafasuan, di luar kamar pembawaannya tenang dan berwibawa, senyum ramah merekah di bibirnya yang tampan, kalem memeluk pinggang July
“Video perjanjian kita sudah aku email ya” Ucap Lukas
“Baiklah, akan ku simpan baik - baik” Sahut July
“Tentu saja harus kamu simpan baik - baik, jika aku sampai macam - macam kamu bisa mendapatkan 1 milyar lho”
“Lalu bagaimana jika aku yang macam - macam, aku tak punya uang sebanyak itu” Tanya July lesu
“Itu makanya setialah padaku” Ucap Lukas gemas menciumi kepala July tak peduli pada pandangan orang - orang yang berada di hotel
****
Di mobil kedua muda - mudi itu duduk dengan senyuman lebar
“Kirim lokasi rumah Ibu kamu, by” Titah Lukas
“Aku pakai HP Kakak saja ya untuk mencari alamatnya” Pinta July
“Memangnya kenapa HP kamu? Apa rusak? Mau aku belikan yang baru?”
“Tidak perlu Kak, terima kasih.. HPku baik - baik saja kok, hanya saja aku sedang tidak ingin mengaktifkannya”
Lukas tersenyum paham, tanpa ragu menyerahkan ponselnya pada July, sedang ia kembali fokus ke jalan
“Kenapa Kakak mudah sekali memberikan HP Kakak padaku? Bagaimana kalau aku melihat - lihat isinya?”
“Buka saja by, aku tidak punya rahasia apa - apa, kalau mau lihat internet bankingku juga boleh.. hehehe”
July tersenyum singkat, tak tertarik pun mengintip isi saldo Lukas si kaya raya itu
“Perjalanannya lumayan jauh Kak, sekitar 4 jam” Info July setelah melihat GPS
“Jauh juga ya, lain kali kalau kamu mau pulang ke rumah Ibu kamu jangan sendirian ya, bahaya untuk seorang gadis bepergian sejauh ini sendiri” Pesan Lukas
July tersentuh hatinya dengan perhatian pemuda itu, perhatian yang tidak pernah ia dapatkan dari siapa pun bahkan dari Ibunya sendiri
Melewati toko oleh - oleh, Lukas menghentikan mobilnya sebentar
“Kita beli dulu oleh - oleh buat Ibu kamu ya” Ucapnya
“Kalau Ibu ada” Sahut July skeptis
Pemuda disampingnya mengelus lembut rambut July, “Kalau Ibu kamu tidak ada, nanti bisa kamu berikan pada orang lain disana”
July mengangguk singkat, keduanya berpegangan tangan masuk ke toko oleh - oleh
__ADS_1
Lukas membeli banyak sekali makanan, dan menolak keras saat July berinisiatif hendak membayar
“Simpan uangnya, bukan kah kamu ingin segera keluar dari rumah Marco? Kecuali kalau kamu mau menerima bantuanku” kata - kata sakti Lukas yang membuat July menyerah ketika Lukas membuka dompetnya untuk semua yang mereka beli
Meneruskan perjalanan, keduanya tak melepaskan tangan yang saling menggenggam, senang bisa bepergian bersama
“Ketika bertemu Ibu kamu, apa kamu akan memperkenalkanku?” Tanya Lukas
“Heemmm, entahlah… “
Lukas mendelik protes pada july, “Kenapa begitu, by? Apa aku kurang tampan? Kurang keren? Atau kurang kaya?”
“Ahahaha… justru karena Kakak sangat tampan dan sangat kaya, aku khawatir Ibuku memanfaatkan Kakak”
“Maksudmu?” Kening Lukas sampai berlipat - lipat
“Sudahlah, aku tak ingin membahasnya” Ucap July, senyum penuh arti di wajah cantik itu membungkam Lukas
Lukas lalu paham apa maksud omongan July tadi, Ibunya telah memanfaatkan anaknya sendiri untuk keuntungan dari keluarga Azhari, sangat kejam kalau menurut Lukas.
“Kalau kamu ingin segera keluar dari rumah Marco, beri tahu aku ya.. kapan pun itu” Ucap Lukas
“Iya Kak, terima kasih” Sahut July mengatur senyum semanis mungkin untuk pemuda di sampingnya
Perjalanan yang sebenarnya jauh itu terasa singkat untuk July dan Lukas, mungkin karena keduanya sedang bahagia, jarak jauh dan lelah pun tak mereka rasa
Sampai di lokasi yang ditunjukkan July, Lukas si pemuda sopan membuka kaca jendela mobil, menyapa ramah penduduk yang kebetulan berpapasan di gang sempit menuju rumah July
Lukas manut saja, tergesa turun membukakan pintu mobil untuk July, meskipun kakinya ingin sekali melangkah menemani gadis itu
Sambil menunggu July, Lukas melihat ponselnya.. membuka aplikasi perpesanan, puluhan pesan mulai ia balas satu per satu, setelahnya ia mulai membuka email yang juga menumpuk, merespon cepat karena semuanya penting
Lukas melirik waktu di ponselnya, sudah lebih dari setengah jam July di rumahnya yang entah yang mana pun, gang itu sangat sempit dengan banyak belokan.
Tok… Tok..
Kaca mobil Lukas diketuk dari luar, senyum pemuda itu terbit melihat gadis kesayangannya berdiri diluar mobil, pemuda tampan itu gupuh keluar menghampiri July
“Bagaimana?” Tanya Lukas
July menggeleng lesu, Lukas tak lanjut bertanya melihat mata July yang mulai berkaca - kaca
Pemuda pengertian itu segera membukakan pintu mobil, memastikan gadisnya sudah duduk nyaman baru ia masuk lagi ke dalam mobil
“Langsung jalan?” Tanya Lukas
July mengangguk, sebelum melajukan mobilnya Lukas mencium dahi pacarnya itu
“Kalau sudah mau cerita, cerita saja ya” Ujarnya
__ADS_1
“Terima kasih” Ujar July masih kuat menahan air matanya untuk tak jatuh
Lukas melajukan mobilnya pelan, menyesuaikan dengan hati July sekaligus mengulur waktu agar gadis itu siap bercerita
Berjalan ke 10 menit perjalanan mereka, July tak juga buka suara, gadis itu menatap lurus jalan di depan dengan bibir terkatup rapat. Lukas menghela napas, sabar - sabar menunggu July bicara, pemuda itu sedikit - sedikit menoleh pada July, serba salah.
“Benar kata Kakak tadi, oleh - olehnya akhirnya aku berikan pada pemilik rumah yang aku sewa dulu, Ibu tidak ada” Tutur July sendu, mengerti kalau Lukas sedang menunggu penjelasannya
“Mungkin Ibumu punya rumah yang lain?” Ucap Lukas mencoba berpikir positif
“Tanpa memberi tahuku? Bukankah sebagai anak aku punya hak untuk tahu dimana Ibu tinggal sekarang?”
“Apa tetangga di sekitar sana tidak ada yang tahu kabar tentang Ibumu?”
“Ada yang pernah melihat Ibuku, katanya Ibuku sudah menikah lagi” Tutur July, tersenyum miris
Lukas kembali menghela napas, ingin lebih fokus ke July.. Lukas menghentikan laju mobilnya, menepi di bahu jalan yang sepi
“Kamu baik - baik saja?” Tanya Lukas mengelus pipi gadis malang itu
“Setidaknya aku tahu kalau Ibuku masih hidup, lagi pula aku tak perlu tahu lebih banyak.. Tetanggaku bilang kalau aku anak yang tidak Ibu harapkan, bahkan Ibu berkali - kali mencoba menggugurkanku dulu” Wajah gadis itu tertunduk dalam, hatinya hampa sadar kalau ia tak berkeluarga atau bersanak saudara, air matanya lolos juga, mengalirkan perih yang membuat dadanya semakin sesak
Hati pemuda di samping July tersayat - sayat, pilu memenuhi dadanya. Tangan itu terulur meraih July ke dalam pelukan, mendamaikan perasaan gadisnya.
Tangis July kian deras, semakin terisak dalam rengkuhan Lukas.
“Sudah - sudah, jangan menangis lagi” Ucap Lukas, lembut membelai rambut July
Menangis July tak lama, gadis itu cepat menguasai diri. Ia melepaskan diri dari pelukan Lukas, tersipu malu saat menghapus air matanya sendiri, Lukas tersenyum bantu mengusap air mata di pipi July
“Jangan menangis lagi, ada aku” Ucap pemuda itu perhatian
“Terima kasih” Ucap July, Lukas sedikit melegakan hatinya
”Mau makan dulu?” Tawar Lukas ingin segera merubah suasana
“Boleh” Ucap July pura - pura ceria
“Steak?” Tanya Lukas
“Apa saja karena perutku sangat lapar sekarang” Sahut July
Lukas tertawa, “Steak kalau begitu” Ucapnya pengertian
Niat menghibur hati July, Lukas membawa gadis itu makan di restoran mahal, memanjakan lidah dan perut gadisnya
Saat mereka sedang makan, July tanpa sengaja melihat Leo dan pacarnya, Angela. Gadis itu menundukkan wajahnya dalam - dalam tak ingin sampai Leo atau Angela melihatnya
Sayang, Leo yang sahabatnya Marco itu terlanjur melihat July.. meski tak ada niat menyapa pun karena ada Lukas disana, Leo segan.
__ADS_1
(Bersambung)…