
Selama bekerja tak tampak kegalauan July karena keputusan Tuan Azhari, gadis itu menebar senyum, lincah kesana - kesini, baru setelah ia masuk kamar pertahanannya runtuh, air matanya berderai merasa satu - satunya harapan agar bisa keluar dari rumah itu sirna sudah.
Untuk memastikan kebenaran, gadis pelayan itu memberanikan diri mencoba menghubungi Marco, saking putus asanya ia sampai lupa kalau Marco sedang berada satu tempat dengan Nyonya Azhari, alhasil Nyonya Azhari merampas ponsel Marco, mengambil alih menjawab panggilan July
“Dimana tata kramamu? Berani sekali kau menelepon Tuanmu, apa kau pikir karena sudah jadi artis kau bisa kurang ajar sesukamu begitu?” Nyonya Azhari terdengar sekali marahnya, di belakangnya terdengar suara protes Marco
“Mom, come on!” Rengek Marco meminta ponselnya kembali, jelas saja pemuda itu blingsatan.. kali pertama July menghubungi dirinya, ia berbunga - bunga
Klik..
Nyonya besar memutuskan begitu saja panggilan dari si gadis pelayan, July menghela napas, sudah bisa membayangkan akan segeger apa apa Nyonya Azhari nanti karena kelancangan July menghubungi Marco
Pesan masuk, Marco yang mengirim [Kita bicara nanti], Tulis Marco.
July membalas, [Baik Tuan, terima kasih]. Setelah meletakkan ponselnya, gadis itu merebahkan diri mencoba untuk terpejam meskipun tak ada sedikit pun rasa kantuk. Semalaman ia mencoba tidur, tapi kata - kata Tuan Azhari jadi bayangan yang menakutkan untuknya, seperti hantu.. terus berputar di kepala gadis itu.
Bimbang, dini hari ia mencoba menghubungi Lukas, niatnya ingin meminta pertimbangan. Sepertinya Lukas belum tidur karena pacarnya itu masih update beberapa postingannya di media sosial, July tanpa ragu menelepon Lukas berharap pacarnya bisa memberi solusi
Lama July menunggu pemuda itu menyahut, tapi tak juga di respon. July mulai kesal, yang tadinya ia rebahan sampai mengubah posisi menjadi duduk. Penasaran July melihat postingan Lukas di media sosial, ditelitinya satu persatu sampai di zoom segala, Lukas tampaknya sedang ada acara pesta dengan koleganya di kantor, semuanya kolega Lukas tampak akrab dengan calon bos mereka, berfoto dengan senyum lebar
Satu hal yang sangat menyita perhatin July, gadis cantik berambut hitam legam menggandeng lengan Lukas, tampak luwes sekali berdekatan dengan pacarnya itu, sekilas mereka tampak serasi, yang lain seolah tahu memposisikan diri.. berfoto di sebelah kanan dan kiri mengapit Lukas dan gadis itu
July tersenyum miris, “Pantas saja dia tak mau menjawab teleponnya, ternyata dia sedang bersama gadis lain”
Gondok, July menon aktifkan ponselnya.. dalam hati berjanji tak akan mengaktifkan ponselnya beberapa hari ini.
Semakin tak bisa tidur, July memilih membaca buku.. mengejar ketinggalannya di sekolah selama syuting.
...----------------...
Hari Minggu pagi sekali July sudah kembali bekerja, ikut berbaur mengerjakan pekerjaan rumah dengan pelayan - pelayan yang lain, tak ia pedulikan bisik - bisik para pelayan senior, pokoknya hari ini ia akan fokus bekerja agar tak teringat tentang Lukas, sambil menunggu kepulangan Marco untuk mempertanyakan tentang keputusan Tuan Azhari.
__ADS_1
Siang hari Marco tiba di rumah besarnya, July lega karena Marco hanya sendiri tanpa Nyonya Azhari, menurut info dari kepala pelayan Marco memang diminta pulang lebih dulu agar esoknya bisa kembali sekolah
Para pelayan berjejer rapi menyambut Tuan mudanya, pemuda itu tampak sumringah.. sepanjang ia berjalan tak ragu menebarkan senyum. Apalagi alasannya kalau bukan July, sudah beberapa pekan Marco tak melihat wajah cantik gadis pelayannya itu, makanya saat tadi malam July meneleponnya ia girang minta ampun meskipun ponselnya di rampas sang Mama yang berakhir July dimaki - maki.
Sampai di depan July, pemuda itu cengar cengir menatap dalam - dalam wajah July, kepala kelayan menghela napas.. tak suka jika Marco sudah bereaksi berlebihan seperti ini pada July di depan para pelayan
Gadis pelayan yang sedang ditatapi Tuan mudanya itu mengangguk hormat, “Selamat siang Tuan” Sapa July profesional
“Ikut ke kamarku” Titah Marco sebelum berbalik dan berjalan di depan July
“Baik” Ucap July, lalu mengekor di belakang Marco. Selama di perjalanan menuju kamar Marco keduanya tak berkata, hanya siulan riang Marco yang terdengar, pemuda itu terlihat sekali bahagianya.
Sampai di kamar Marco melempar tas ranselnya begitu saja, dipungut langsung oleh July.. gadis itu lalu meletakkan ransel Marco di atas meja, semua itu tak luput dari pandangan Marco, senyum pemuda itu jatuh.. menyesal karena melempar tasnya begitu saja, melihat badan July yang ringkih memungut tasnya membuat Marco merasa menjadi durjana
“Aku tak akan melempar tasku lagi sembarangan” Ucapnya, memecahkan kebisuan antara mereka
“Maaf?” Tanya July, tak begitu paham maksud perkataan Marco
Gadis itu kalem menuangkan air dari pitcher ke gelas, lalu memberikannya pada Marco, “Itu sudah tugas saya Tuan, tidak apa - apa”
“Itu perintah, Jul” Tandas Marco, dalam sekali teguk air di gelas habis ditenggaknya
July hendak mengambil alih gelas kosong di tangan Marco, tapi ternyata pemuda itu meletakkan sendiri di tempatnya tadi, benar - benar bukan seperti Marco
“Jadi kenapa kamu meneleponku tadi malam?” Tanya Marco setelah ia duduk di sofa
July mendekat dengan anggun, takzim berdiri di depan Tuannya
“Duduklah” Titah Marco, patuh.. July lalu duduk di ujung sofa
“Tuan, apa betul kalau Tuan meminta saya untuk berhenti syuting?” Tanya July tak lagi berbasa - basi, ini menyangkut masa depannya, ia tak mau kehilangan kesempatan untuk bisa segera keluar dari rumah itu
__ADS_1
Marco santai mengangguk, “Iya, karena aku merasa waktumu banyak tersita untuk syuting, kamu ingat kan kalau ujian akhir sudah dekat? Tentu saja aku tidak mau kalau kamu sampai kehilangan fokus belajar dan akhirnya berimbas pada nilaiku juga” Tutur Marco, menutupi alasan sebenarnya.. pemuda itu sebenarnya masih marah pada penolakan July tempo hari di hotel
July tersenyum palsu, “Baik Tuan, terserah Tuan saja” Ucapnya tanpa bantahan
Marco diam sebentar, diamatinya gadis yang begitu ia rindukan itu lamat - lamat
“Kalau kamu masih mau syuting, aku bisa meyakinkan Papa agar mengizinkanmu syuting lagi”
July tertarik, wajahnya menengadah bersitatap dengan Macro
“Tapi dengan satu syarat” Tambah Marco
Sesuai dugaan July, tak akan ada orang yang secara sukarela membantunya
“Selama beberapa hari ini, kencanlah denganku”
“Kita kan hanya pelayan dan majikan Tuan, itu sangat tidak pantas” Balas July tenang
“Kamu mau dibantu tidak? Mumpung pacar kesayangan kamu itu masih training!” Ucap Marco kesal
Ah Lukas, batin gadis itu tertuju lagi pada Lukas, si pemuda yang tadi malam membuatnya cemburu buta. July mempertimbangkan sebentar, toh Lukas pun bersenang - senang sendiri.. lantas kenapa dia tidak? Apalagi ini demi karirnya, semua butuh pengorbanan bukan?
Mantap, gadis itu menganggukan kepala, “Baik Tuan” Sanggupnya, Marco tersenyum penuh kemenangan
“Good, besok aku golf.. temani aku”
“Baik Tuan”
“Oke fix kalau begitu, besok kencan pertama kita” Ucap Marco lalu bersenandung riang, terlihat sekali senangnya
(Bersambung)
__ADS_1
{Note: Hai all readers, maaf ya beberapa hari belakangan ini jarang banget update, dan kalau pun update durasinya pendek - pendek 🙏🏻😅. Mohon dimaafkan ya, berhubung Author sedang tidak fit kemarin - kemarin, tapi Author janji mulai sekarang updatenya kontinuitas tiap hari 🥰🥰. Thanks untuk like, gift, komen, dan supportnya ya… much obliged and love 🥰🥰🥰🥰😘😘😘😘😘