Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta

Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta
Casting


__ADS_3

Diberi tahu bahwa tiba - tiba saja Sutradara Lee mengubah keputusannya, Lukas si pacar siap siaga menyempatkan diri melipir sebentar dari trainingnya, khusus untuk July. July jelas saja terkejut melihat Lukas sudah stand by di tempat parkir, masih dengan setelan jasnya pun


“Kakak kenapa kesini? Bukannya Kakak bilang jadwal trainingnya full?”


Lukas tersenyum menyambut, hangat ketika mengecup kening July, “Tentu saja untuk menemani pacar Kakak casting”


July menoleh pada Rumi dan Luna yang nyengir kuda, kalau tahu Rumi dan Luna akan minta Lukas untuk datang tentu saja July akan melarang, gadis itu tak mau sampai menganggu kegiatan Lukas


“Padahal aku bisa kok berangkat sama Rumi dan Luna, Kakak tidak perlu sampai bolos training begini hanya untuk mengantarku”


“Astaga July, ini bukan masalah antar mengantar.. tapi masalah power!” Tutur Rumi, “Dunia hiburan itu keras Jul, meski kamu cantik, bakat kamu segudang, tapi itu ga berarti apa - apa kalau kamu enggak punya koneksi!”


July mengerti sih maksud Rumi, tapi jiwa idealisnya berontak tak menerima, “Kalau aku lulus casting hanya karena pengaruh Kak Lukas, lebih baik aku batal saja main filmnya”


Lukas menghela napas, senyum sabar saat membelai kepala July, “Tidak semua yang terlibat di dunia hiburan berpikir seperti itu kok, untuk beberapa orang yang memang melihat kualitas maka koneksi dan power tidak ada apa - apanya”


“Lukas benar tuh Jul, ada juga kok orang - orang film yang bahkan enggak melihat rupa, yang penting kemampuan aktingnya.. yang aku dengar sih Sutradara Lee begitu, kalau tiba - tiba dia berubah pikiran pasti karena ada sesuatu yang memaksanya” Timpal Luna


Rumi merasa bersalah jadinya, terlihat sekali memanfaatkan Lukas, “Heemm, ini hanya upaya kita untuk memaksimalkan usaha kamu Jul, kalau nantinya kamu merasa diterima hanya karena Lukas, kamu mundur saja enggak apa - apa”


July agak ragu sih awalnya, tak suka kalau mendapatkan sesuatu karena mendompleng nama seseorang, tapi melihat Lukas yang sudah datang, Rumi dan Luna yang penuh harap tentu saja ia tak ingin mengecewakan


“Ya sudah, kita coba dulu kalau begitu” Ucap July tersenyum antusias membesarkan hati semua orang


“Itu baru pacarku” Ucap Lukas bangga, hampir saja mencium bibir gadisnya kalau saja Rumi tak berdehem memisahkan mereka


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai di hotel tempat casting di adakan, ke empat siswa sekolah swasta termahal itu berjalan beriringan menuju meeting room. Kali pertama July melihat Lukas seperti ini, pemuda itu tampak serius dan profesional.. tak akan ada yang menyangka kalau pemuda itu masih duduk di bangku SMA, wajahnya yang super tampan dan mengumbar senyum, tubuh yang tinggi tegap menarik perhatian para kaum hawa, menghipnotis mereka untuk menatap Lukas hingga punggung pemuda itu tak terlihat lagi, dalam hati July terbersit rasa iri.. ingin bisa sepercaya diri Lukas.


Lukas yang dari tadi dikagumi July menoleh, “Jangan khawatir, aku akan menemanimu sampai selesai”


“Terima kasih” Sahut July ceria


“Haduh, bucinnya enggak bisa ditunda dulu apa? Fokus dulu pada casting, fokus!” Omel Rumi


Lukas hanya nyengir kuda, lanjut menggandeng pacar tercintanya, Rumi dan Luna hanya bisa mengelus dada, ngenes mengingat status diri yang masih jomblo


Sampai di depan meeting room, Lukas celingukan melihat ke sekeliling, memastikan tak ada orang di sekitar, pemuda itu mengecup singkat bibir July


“Aduh astaga! Tahan diri Lukas, tahan!!” Omel Luna


Lukas hanya nyengir, puas melihat wajah July semerah tomat, gadis itu menunduk dalam sambil mengusap pelan bibirnya, merasakan sentuhan bibir hangat Lukas yang ia rindukan

__ADS_1


“Sudah siap?” Tanya Lukas


July mendongak.. menerbitkan senyumnya yang tulus, “Siap Kak” Sahutnya mantap


“Good girl, pacar Kakak memang hebat!” Puji Lukas, setelahnya pemuda itu mengetuk pintu meeting room


Sedang Luna dan Rumi sibuk merapi - rapikan July, mengoleskan pelembab bibir berwarna merah jambu ke bibir July


“Gara - gara Lukas nih” Omel Luna, yang dimaksud hanya tertawa kecil lanjut mengetuk pintu


Tak berapa lama kemudian pintu itu dibuka, asisten Sutradara Lee sendiri yang membukakan pintu, tersenyum ramah pada ke empatnya, mempersilakan untuk masuk


July menarik napasnya dalam - dalam lalu menghembuskannya pelan sebelum ia masuk ke ruangan mengikuti Lukas


“Selamat sore” Sapa ke empatnya hampir bersamaan pada semua orang yang berada di dalam meeting room, lebih banyak orang dibanding casting pertama kemarin


“Oh sore, silakan - silakan” Sambut Sutradara Lee


“Perkenalkan ini Produser kita, Pak Chand” tutur Sutradara Lee


Lukas yang pertama menjabat tangan, “Selamat sore, saya Lukas” Ucapnya, Pak Chand menyambut agak dingin dengan mata memicing memperhatikan Lukas lamat - lamat, seperti pernah melihat tapi entah dimana


Setelahnya gantian July, Rumi, dan Luna yang menjabat tangan Pak Chand


Saat ke empatnya masuk, kerja orang - orang itu terjeda, semuanya menoleh bersamaan pada mereka


Artis papan atas itu bangun dari duduknya memperhatikan July dari atas hingga bawah, “Cantik sih, tapi kita belum lihat langsung kan kemampuan aktingnya, ini film bagus disadur dari Novel best seller karya Rossa, jangan sampai karena akting amatiran kemudian filmnya tidak masuk box office” Sinisnya


Uh Lukas ingin sekali marah pada wanita itu seandainya saja ia tak ingat kepentingan July disana


“Perkenalkan, saya Rumi manajernya July” Ucap Rumi mengulurkan tangan, wanita itu mengangguk angkuh lanjut menyalami Luna dan July, saat menyalami Lukas, wanita itu tampak bimbang.. menatap Lukas dari atas ke bawah


“Nama kamu?” Tanyanya


“Lukas” Sahut pemuda itu, menjeda sebentar sebelum melanjutkan “Lukas Ibrahim Walton”, semua orang di ruangan itu tampak kaget


Hanya Sutradara Lee yang terlihat santai, duduk bersiap di belakang kamera, tersenyum kecil melihat kekagetan di wajah semua orang


“Walton? Walton yang 2 bulan lalu masuk majalah Time dan Forbes?” Tanya produser, tercengang


“Itu Papa saya” Sahut Lukas ramah, orang - orang disana refleks ber - oh ria


“Keluarga Ibrahim juga, penguasa industri perhotelan di Indonesia” Sambar penata rias menambahkan

__ADS_1


“Seriusan?” Artis di depan Lukas melongo, sama dengan semua orang di ruangan itu, begitu pun dengan July.. tentang keluarga Ibrahim ini ia baru tahu


“Itu keluarga dari Mama” Jawab Lukas sopan


Produser gupuh mendekati Sutradara, “Kenapa tidak beritahu?” Bisiknya


“Untuk apa? Yang aku lihat bakatnya July, bukan yang lain” Sahut Sutradara Lee, cukup terdengar oleh July.. lega karena ia tak perlu dibayangi nama besar Lukas, jika yang lain selain Sutradara Lee berpikir berbeda, July tak peduli


Pak Chand sang Produser mendengus kesal pada Sutradara Lee, lalu segera mendekati Lukas


“Lalu ada keperluan apa kesini?” Tanya Produser ramah setelah tadi sempat dingin pada Lukas


“July teman saya, saya hanya ingin memastikan dia baik - baik saja, sekiranya jika ada sesuatu yang dibutuhkan selama proses syuting, semoga Bapak berkenan untuk menghubungi nomor ini” Sahut Lukas menyodorkan kartu nama yang ia keluarkan dari dompetnya


Suasana hening, fokus pada percakapan kedua orang ini…


Hingga Produser itu mengulurkan tangan menyambut kartu nama Lukas, “Oh baik.. baik, terima kasih” Ucapnya hangat


“July, bersiaplah” Panggil Sutradara Lee, tak ingin berlama - lama


Ditemani Rumi dan Luna, July berganti baju dibelakang partisi, tak ada ruang khusus untuk ganti baju memang. Lukas memperhatikan kaki kurus July di belakang partisi, hatinya sakit. Ia sebenarnya tak rela July menempuh jalan sebagai artis, ia tak ingin berbagi dengan siapa pun.


July sudah berganti baju memakai baju seragam, mengikuti perannya di naskah sebagai gadis korban bully di sekolah. Gadis itu tampak gugup, mencari - cari keberadaan Lukas, begitu sejoli itu bersitatap baik July maupun Lukas merasa lebih baik, sama - sama menghela lega napas mereka.


“July itu pacarmu?” Tanya artis wanita senior, mendekati Lukas.. tersenyum aneh


Lukas menatap sebentar lalu menoleh lagi pada July, “Begitulah” Jawab Lukas


“Begitulah? Artinya belum pasti?”


Lukas fokus pada July yang sedang disiapkan lagi oleh Rumi dan Luna, dibantu make up artis yang sudah stand by


“Kamu sadar kan kalau July sudah terkenal dia akan makin sulit di gapai? banyak yang akan mendekatinya nanti.. aku sudah lama jadi artis jadi aku tahu betul” Tambah wanita itu, genit - genit menatap Lukas, “Kalau kamu mau aku bisa loh menjadikan kamu artis juga”


“Tidak perlu Bu, terima kasih” Sahut Lukas sopan


“Ibu? Ahahaha.. panggil saja Kakak, aku masih muda kok” Jawab wanita itu semakin mepet


Lukas kesal sekali, tapi saat beradu pandang dengan July wajah kesalnya berubah lembut, sama - sama tersenyum melepas ketegangan


“Uh sweet banget” Ucap artis wanita senior, senyum - senyum centil.


(Bersambung)….

__ADS_1


__ADS_2