Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta

Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta
Peluang Mengubah Nasib


__ADS_3

Bel masuk membuat July menghentikan sedu sedannya, cukup dulu air matanya bahkan July berharap air mata itu tak akan keluar lagi.


July melangkah lesu menyusuri koridor, sudah bel masuk ke-2 ketika ia hendak melangkah menaiki anak tangga, sudah anak tangga ke-3 ketika hampir saja ia bertabrakan dengan 2 orang Guru yang sedang fokus berdiskusi


July membungkuk sopan, “Maaf” Ucap July, Guru itu menoleh sebentar melihat siswi di depannya memakai seragam siswa pendamping Guru itu melanjutkan diskusinya yang tegang


July tak bisa lewat pun kerena Guru - Guru itu berdiri di titian anak tangga ke-4 tepat di atas July, memblokir jalan


“Bagaimana ceritanya dia tiba - tiba saja mengundurkan diri? Padahal hari ini kan hari - Hnya Pak, kita sudah mempersiapkan semua


“Tadi Anita bilang dia tidak cocok dengan make up artist yang kita siapkan, dia ingin make up artist lain Bu, saya sudah menghubungi make up artistnya tadi tapi jadwalnya penuh sampai minggu depan”


Guru perempuan itu mendengus kesal, “Susah kalau berurusan dengan siswa kaya, make up saja sampai pilih - pilih!” Keluhnya, “Apa tidak ada kandidat lain, Pak? Kita tidak mungkin memundurkan jadwal lagi, lusa sudah pemilihan sekolah favorit, masa kita tidak punya ikon untuk sekolah kita?” Tanya Guru bernama Lisa itu, July bisa membaca dari name tag yang tersemat di seragamnya


“Susah Bu nyari yang secantik Anita” Sahut Guru pria, July tak bisa membaca name tagnya karena tertutup jaket


Bu Lisa menjatuhkan pandangannya pada July yang berdiri kikuk di depan mereka, Pak Guru di sebelahnya ia sikut. Keduanya kini menatap July bersamaan, memperhatikannya dari ujung kaki ke ujung kepala


“Siapa namamu?” Tanya Bu Lisa pada July, July menoleh ke belakang mungkin bukan dirinya yang dimaksud Bu Lisa


“Saya Bu?” Tanya July setelah sadar ia hanya sendiri disitu


“Iya kamu” Sahut Bu Lisa, tak ada name tag di seragam siswa pendamping, mungkin karena dianggap makhluk tak penting di sekolah itu


“Selamat pagi.. perkenalkan saya July, Bu” July menundukkan badannya sopan pada kedua Guru yang belum pernah ia temui sebelumnya, sepertinya Guru kelas X


“Cantik, sopan, tinggi” Tutur Bu Lisa


“July siapa namamu dan dari kelas berapa?” Tanya Pak Guru


“Hanya July Pak, saya dari kelas XII B” Sahut July, Pak Guru segera mengakses data July lewat tab yang ia bawa


“Nilainya juga sangat bagus Bu, disini tertulis pendampingnya Marco Azhari” Gumam Pak Guru itu pelan pada Bu Lisa


Bu Lisa mengangguk - angguk, “Bagaimana kalau dia saja, Pak?”


“Saya cocok sih Bu” Jawab Pak Guru, July yang cerdas paham kemana tujuan pembicaraan kedua Guru itu, tadi ia sempat mencuri dengar pembicaraan keduanya


“July, kami sedang butuh bantuanmu.. ah bagaimana kalau kita bicara di kantor saya saja?” Tutur Bu Lisa


“Baik Bu” Sahut July patuh, July minggir ke samping saat Bu Lisa dan Pak Guru menuruni anak tangga, Lalu July mengekor menuju kantor Guru


“Duduk” Tutur Bu Lisa saat sampai di kursinya, July patuh duduk di kursi depan Bu Lisa, sedang Pak Guru tadi melepas jaketnya, July jadi bisa membaca name tag Guru itu, Pak Hans namanya. Beberapa Guru menatap ke arah July mungkin mengira July dalam masalah sehingga ia sampai di panggil ke kantor, setelahnya mereka acuh kembali fokus pada kegiatan masing - masing, beberapa Guru keluar ruangan bersiap untuk mengajar


“Begini July, seperti yang Ibu sampaikan tadi kalau kami.. maksudnya sekolah ini sedang butuh bantuanmu” Ucap Bu Lisa


July diam mendengarkan dengan tenang, duduknya elegan


“Jadi lusa itu ada pemilihan sekolah favorit tahunan, nah untuk itu kami perlu ikon sekolah yang akan dimunculkan di website untuk voting lewat sms” Jelas Pak Hans


“Jangan lupa di brosur untuk dibagikan juga Pak” Tambah Bu Lisa


“Ah iya betul, jadi nanti akan ada brosur, website, dan rencananya iklan singkat di televisi, makanya kami butuh model untuk ikon sekolah” Tutur Pak Hans

__ADS_1


“Tadinya ada Anita yang menjadi kandidat, tapi dia mengundurkan diri tiba - tiba, begitu melihat kamu tadi saya dan Pak Hans langsung cocok, sepakat untuk menjadikan kamu model ikon sekolah” Ucap Bu Lisa


“Kamu jangan khawatir, semua kostum dan make up akan sekolah tanggung, dan… ” Pak Hans menoleh dulu pada Bu Lisa sebelum ia melanjutkan, Bu Lisa mengangguk menyetujui, “Dan karena kamu siswa pendamping, maka kami juga akan memberi kamu uang saku” Terang Pak Hans


Mata July berbinar mendengar akan ada uang saku untuknya, kalau cukup besar tentu akan bisa menambah tabungannya bekal menebus kebebasannya pada Tuan Azhari


“M - maaf Bu, Pak.. kalau saya boleh tahu berapa uang saku yang akan saya dapatkan nanti kalau saya ikut?” Tanya July


“Sekitar 10 sampai 15 jutaan, cukup besarlah untuk uang saku” Sahut Bu Lisa memprovokasi


July mengangguk antusias, “Baik Bu, saya mau” Ucapnya tanpa ragu


Pak Hans dan Bu Lisa tersenyum lega, “Baiklah kalau begitu, nanti biar saya minta izin dulu pada Marco ya, karena bagaimana pun kamu adalah pendampingnya dia” Ucap Bu Lisa


Pak Hans menimang sebentar, “Apa sebaiknya kita pasangkan dengan Marco saja ya?” Tanyanya pada Bu Lisa, July terperangah, dalam hati ia merapal do’a semoga bukan Marco pasangannya, tentu sangat canggung jika mereka berfoto bersama berdua


“Marco ya? Heeemm.. dia tampan sih, tapi sepertinya kurang enerjik, bagaimana kalau Wira dari kelas XII A?” Sahut Bu Lisa


“Kurang Bu jika dipasangkan dengan July” Sahut Pak Hans


“Lukas bagaimana? Dia tampan, pintar, kemarin dia juga baru menjuarai basket” Tanya Bu Lisa


Mendengar nama Lukas disebut July jadi berharap Lukas lah yang menjadi pasangannya


“Lukas Walton? Apa dia mau Bu? Kok saya kurang yakin ya kalau dia mau, tapi kalau Lukas mau, cocok sekali sih Bu” Sahut Pak Hans


“Nanti biar saya bicara dengan Lukas, semoga saja dia mau” Ucap Bu Lisa meyakinkan Pak Hans


Hari yang tadinya muram berubah ceria untuk July, langkahnya ringan menyusuri koridor, ia membayangkan uang 15 juta di tangan, untuk uang itu ia berjanji akan berusaha semampu yang ia bisa agar tak mengecewakan Bu Lisa dan Pak Hans


Sepanjang pelajaran, July tak sabaran ingin segera masuk jam istirahat, ia ingin cepat - cepat tahu siapa yang mendampinginya, apa Lukas bersedia?


July melesat keluar begitu jam istirahat berbunyi, ajakan Sisil, Amel, dan Fedya untuk ke kantin kembali tak ia gubris, dengan alasan dipanggil ke kantor Guru


Jalan July yang cepat tiba - tiba melambat saat melihat Marco baru saja keluar dari aula, begitu melihat July Marco melengos lalu pergi begitu saja, wajahnya dingin tak seperti pagi tadi, apa mungkin Marco masih kesal karena July meminta berganti tugas?


Ah iya… saat jam pelajaran sebelum istirahat tadi Marco dipanggil ke ruang Guru, apa Bu Lisa sudah menyampaikan maksudnya? Apa itu yang membuat Marco marah? July tak peduli pun, yang penting sekarang ia memiliki kesempatan untuk mendapatkan uang


Langkah July terhenti saat sudah diambang pintu aula, July terkejut karena aula itu ternyata sudah ditata sedemikian rupa, lampu - lampu sorot sudah terpasang, beberapa kamera sedang di setting, tak main - main fotografernya bule semua, dua meja rias sudah di siapkan juga, plus make up artistnya


July lebih terkejut karena selain ada Bu Lisa dan Pak Hans, sudah ada Lukas dan seorang siswi utama juga, siswi cantik berambut panjang itu tampak akrab berbincang dengan Lukas


“Ah July, ayo masuk” Titah Bu Lisa, mendengar nama July senyum Lukas lebar, kalau tak ingat July ingin merahasiakan hubungan keduanya tentu Lukas akan memburu pacarnya itu, memeluknya erat - erat


“Selamat siang semua” Ucap July sopan, siswi bernama Anita melihat July dari atas ke bawah, lalu melengos


July berjalan ke arah Bu Lisa, berdiri elegan tepat di depan Lukas, pacar rahasianya itu menatap July tanpa kedip, menyampaikan rindu. July tersenyum simpul malu - malu ditatap seintens itu oleh Lukas


July mencuri dengar ketika Bu Lisa menghampiri fotografer mempertanyakan kira - kira mana yang lebih fotogenic untuk dijadikan model, ada Anita dan July sebagai pilihannya, July yang fasih berbahasa inggris itu paham ketika fotografer meminta July dan Anita untuk diambil fotonya dulu sebelum di tentukan siapa yang akan menjadi model


Tidak, July tidak boleh kehilangan kesempatan untuk mendapatkan uang sebanyak itu


“July, Anita.. kalian bersiap dulu ya, karena Anita tiba - tiba mengajukan diri lagi, maka sekarang calon model perempuannya ada 2, sedang untuk prianya Lukas sudah bersedia”

__ADS_1


Lukas hendak protes, tentu saja ia bersedia kalau July yang jadi model perempuannya, kalau bukan.. Jelas Lukas tak ingin.


“Kak” Sapa July mendekati Lukas


“July, kalau bukan kamu modelnya, maka Kakak juga enggak mau” Tandas Lukas


“Kakak percaya padaku kan?” Tanya July


Lukas bingung dengan pertanyaan July tapi kemudian dia mengangguk mantap, “Percaya”


“Kalau begitu Kakak tenang aja, aku pastikan aku yang akan jadi partner Kakak” Ucap July yakin, Lukas tersenyum simpul mendukung pacarnya itu


Saat Anita di make up, July memanfaatkan kesempatan untuk mempelajari bagaimana cara pose dan angle untuk berfoto, otak cerdasnya ia gunakan untuk meniru setiap angle foto model profesional yang ia lihat


Anita selesai dengan make upnya yang heboh, siswi utama itu memang tampak rewel meminta ini itu saat bermake up tadi, khas anak manja orang kaya. Anita yang terbiasa sebagai model itu berpose luwes, mengikuti setiap arahan fotografer. Begitu selesai Anita sampai mendapat dua jempol dari Bu Lisa dan Pak Hans


“Kamu cantik” Ucap Lukas refleks saat melihat July selesai di poles, make up artist pun tampak puas dengan hasil karyanya, selain itu July tak meminta apa - apa tadi, pasrah di dandani.


“Terima kasih” Ucap July senang dipuji sang pacar


Saat waktu pemotretan, July terpaku sebentar, menghirup udaranya dalam - dalam, lalu menghembuskannya pelan. Bu Lisa dan Pak Hans sudah pesimis melihat July yang terlihat gugup, sedang Anita duduk berkipas - kipas sudah optimis kalau ia yang menang, Anita sama tertariknya dengan pemotretan ini ketika mendengar Lukas yang menjadi pasangannya


Saat lampu spotlight meneranginya, July mengeluarkan kemampuannya, awalnya ia kaku sampai beberapa jepretan foto, lalu mulai rileks mengikuti pose yang ia pelajari singkat, wajah July tampak misterius, tak polos seperti biasanya. Mata July menatap tajam kamera sementara wajahnya ia expose dalam berbagai pose, ia kadang tersenyum, tertawa memperlihatkan giginya yang rapi, kadang juga angkuh


Lukas menatapi pacarnya itu, takjub melihat kemampuan July, apa July pernah jadi model? Lukas bertanya - tanya dalam hatinya


Fotografer seolah belum puas menggali kemampuan terpendam July, kali ini Lukas diminta masuk frame, keduanya diminta berpose santai membaca buku, lalu pose saling pandang, ada pose seolah mereka sedang di laboratorium juga, Lukas memakai jas lab sedang July memakai kacamata, menggemaskan. Chemistry keduanya hidup, mengisi satu sama lain. Lukas dan July mendapat tepuk tangan dari Bu Lisa dan Pak Hans, girang karena mereka tak salah pilih


Selesai pemotretan ketiga orang tersebut, Bu Lisa dan Pak Hans berdiskusi dengan fotografer, sementara Lukas, July, dan Anita menunggu dengan perasaan deg - degan


Tak lama Bu Lisa menghampiri Anita, ragu - ragu untuk menyampaikan, belum lagi angkat bicara Anita sudah bangun dari duduknya, paham kemana tujuan Bu Lisa


“Shit! Buang - buang waktu saja” Maki Anita lalu melengos pergi, Bu Lisa hanya geleng - geleng kepala tak mampu menegur siswi utama


Bu Lisa menoleh pada July, “July, selamat ya.. kamu terpilih menjadi ikon sekolah bersama Lukas, kata Mr. Michael foto - foto kamu sama Lukas tadi sudah cukup untuk diupload di website dan brosur sekolah nanti, tapi Mr. Michael minta kamu berfoto lagi, katanya dia sedang perlu model untuk katalog majalahnya” Jelas Bu Lisa


July girang bukan main, senang karena 15 juta sudah hampir di tangan, tapi mendengar akan ada sesi foto tambahan July menoleh dulu pada Lukas, rasanya sekarang ia punya kewajiban untuk meminta izin pacarnya itu


Kalau tak ada orang lain disitu Lukas pasti menciumi July yang matanya memelas meminta izin, manis sekali


“Boleh, siapa tahu ini kesempatan kamu” Bisik Lukas mengerti maksud July, Bu Lisa salah tingkah sendiri melihat pemuda dan gadis di depannya yang terlihat sedang jatuh cinta itu


“Gimana, kamu bersedia?” Tanya Bu Lisa, July menoleh pada Bu Lisa lalu mengangguk antusias


“Mau Bu” Sahut July


Jika tadi July berpakaian seragam, kini July berganti baju menjadi sporty, mengenakan T - Shirt sambil memeluk bola basket, July terlihat sempurna mengikuti arahan fotografer untuk berpose ceria, kostum kedua July mengenakan tank top yang dibalut jacket kulit, wajah July garang misterius melihat kamera


Lukas yang menunggu setia pacarnya terpana, darahnya berdesir tiba - tiba


“Shit” makinya dalam hati ketika menyadari July membangkitkan napsunya lagi


(Bersambung)…

__ADS_1


__ADS_2