
Sorenya, karena terlambat masuk ke sekolah dan melewatkan sampai 2 mata pelajaran July dihukum oleh Marco, gadis itu duduk tegang di perpustakaan rumah Tuan Azhari, berhadapan dengan tumpukan buku - buku tebal di bawah pengawasan Tuan mudanya
Tuan mudanya itu berjalan bolak balik di belakang July, memperhatikan betul apa yang sedang dilakukan pelayannya
“Baca yang serius! Kamu tidak ikut pelajaran sejarah dan kimia tadi” Omel Marco
“Maaf” Ucap July sendu
“Aku tidak perlu maafmu, aku perlu kamu membaca buku itu sampai selesai!” Sahut Marco
“Baik Tuan” Jawab July
Uuuhhh… July ingin sekali bilang kalau ia sudah khatam buku sejarah yang sedang dibacanya sekarang, 2 kali malah.. tapi seperti pesan kepala pelayan bahwa July mutlak tak boleh membantah apa pun perintah Tuan muda
“Lagipula kenapa kamu sampai terlambat? apa pekerjaanmu terlalu banyak? Apa melayaniku membuat sekolahmu terganggu?” Tanya Marco
“Tidak Tuan, itu semua sudah menjadi tugas saya” Sahut July dengan tersenyum manis, mungkin Marco tidak sadar kalau ulahnya lah yang membuat July terlambat, batin July
Di belakang July Marco memperhatikan bentuk tubuh gadis yang duduk tegak itu, pinggang yang ramping, pinggul yang besar, leher yang jenjang… tunggu, Marco teralihkan pada plester yang menempel di leher gadis itu, tempat yang sama ia meninggalkan jejaknya kemarin
Pemuda itu berjalan ke depan, lalu duduk di depan July, bersedekap tangan “Kenapa ditutup?” Tanya Marco
“Maaf?” Respon July tak mengerti, senyumnya profesionalnya masih mengembang
Marco menunjuk leher July, senyum gadis itu jatuh.. refleks menaikkan kerah seragam pelayannya, setelah itu wajah gadis itu datar tak berekspresi
“Jadi Lukas belum melihatnya?”
“Maaf” Sahut July
Marco berdecih, “Harusnya dia melihat supaya dia tahu kalau aku yang lebih berhak menyentuhmu”
July menghela napas dalam, tak berani protes, ia lanjut membaca buku memfokuskan pikirannya
“Kamu tahu kalau aku dan Shofi akan bertunangan?” Tanya Marco
Gadis yang sedang menunduk itu segera mendongak lalu merekahkan senyum
“Saya baru tahu Tuan” Sahutnya, July memang pernah patah hati oleh Marco, berpikir kalau ia sudah melupakan Tuan mudanya, tapi ternyata hatinya masih sakit mendengar pemuda idaman hati akan dijodohkan dengan gadis lain
“Senyummu palsu, cemburumu itu kentara sekali” Ucap Marco, July diam tak berekspresi seperti tadi
“Padahal kamu sudah punya pacar, aku jadi tak yakin kalau kamu benar - benar menyukai Lukas” Sambung Marco, gadis itu masih diam tanpa ekspresi membaca buku di depannya
Marco menghela napas lega, setelah itu ia bangun dari duduknya, “Lanjutkan membaca, jangan berhenti sampai selesai” Titahnya, pemuda itu lalu berjalan riang keluar dari perpustakaan
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Esok paginya July melesat berangkat ke sekolah tak ingin sampai terlambat seperti kemarin, dihukum oleh Guru piket dan Marco membuatnya lelah
__ADS_1
Mata pelajaran bahasa Perancis dilewati July dengan sangat baik, mata pelajaran favoritnya memang, apalagi matematika.. gadis itu bahkan nyaris menyelesaikan semua latihan di buku teks matematikanya
Bel istirahat berbunyi membuyarkan konsenstrasi para siswa, Tuan dan Nona muda menghambur keluar lebih dulu bahkan sebelum Guru mereka keluar kelas, tak sabar ingin segera menyantap makan siang.
July kadang membayangkan bagaimana rasa makanan di kantin elit sekolahnya itu, ia pernah melihat di brosur sekolah dalam menunya bahkan ada steak, memvisualisasikan di pikirannya saja sudah membuat perut July keroncongan
“Jul, mau ikut ke kantin bareng kita - kita enggak?” Tanya Amel
July baru mau menjawab ketika Lukas si pemuda tampan terlihat di ambang pintu kelas, pemuda itu menyapa siswa yang masih lalu lalang di depan kelas, tampak akrab saat berbicara dengan Leo, meski Axel yang berada disitu juga tampak acuh
“Ya udah Jul, kami duluan ya.. Kamu udah ada yang jagain tuh… hehehe” Goda Amel
“Iya Sih, July enggak usah di ganggu.. udah ada yang kontrak eksklusif” Tambah Fedya, ketiganya lalu tertawa ikut bahagia teman cantiknya pacaran dengan Tuan muda, sementara July mesem - mesem saja tersipu malu - malu
Saat ketiga temannya July keluar, Lukas baru masuk, hangat menyapa July
“Selamat siang”
“Selamat siang Kak” Sahut July tak kalah hangat
Lukas lalu duduk di depan July, menempati kursi Fedya, “Mau makan?” Tanya Lukas
“Aku bawa bekal Kak, hehehe… “
“Mau makan di kantin?” Tawar Lukas
“Kantin lantai 4 maksudnya, kamu pasti suka.. suasananya tenang” Lukas merujuk pada kantin elit khusus Tuan dan Nona muda
July terperangah, merasa sangat kebetulan karena baru tadi ia membayangkan kantin itu, July tersipu sendiri berpikir kalau mungkin Lukas bisa membaca isi hatinya, apakah mereka berjodoh?
Ekspresi gadis itu lalu berubah begitu kesadarannya kembali, lihatlah siapa yang berkhayal? Sungguh pelayan tak tahu diri
“Bagaimana? Mau nemenin Kakak makan di kantin?” Tawar Lukas lagi
“Ahahaha.. Kak, aku hanya pelayan.. tak pantas makan bersama Tuan dan Nona muda”
Lukas mendengus, “Kamu pacarku, dan karena kita pacaran jadi kita harus makan di tempat yang sama” Pemuda itu tanpa basa basi gercep merapikan barang - barang July termasuk kotak bekal di atas meja, lalu ia masukkan ke tas sang pacar, tas pemberiannya
“Kakak suka sekali memaksa” Keluh July manyun - manyun menggemaskan
“Dan kamu suka sekali dipaksa” Sahut Lukas, gemas mencubit hidung gadisnya
July menghela napas, “Ya sudah, sebentar” Ucapnya, lalu menyusun ulangbarang - barang yang disimpan Lukas ke dalam tasnya
“Ahahaha.. Maaf, tadi kurang rapi ya?”
“Sudah rapi kok, aku cuma senang kalau letak barang - barangnya sesuai tempatnya semula”
“Kamu perfeksionis rupanya? Heeemm.. benar - benar selera Kakak” Ucap Lukas lalu mengacak pucuk kepala July
__ADS_1
“Itu makanya aku mau jadi pacar Kakak, Kakak kan sudah ganteng, pintar, baik, kaya lagi” Goda July
“Ahahaha, terima kasih” Ucap Adam sampai tersipu - sipu
“Sama - sama” Sahut July, tangan July merogoh ponsel di saku kecil tas, dahinya mengernyit saat meraba benda lain, July mengintip - ngintip ke dalam tas
Huuufftt, hadiah dari Axel.. bagaimana mungkin ia bisa melupakan kotak kecil itu?
Kepala July lalu celingukan melihat ke luar kelas, gadis itu menghela napas lega melihat Axel yang masih bersama Leo di depan, setelahnya July mengaktifkan dulu ponsel dan meletakkan di atas meja
“Kak, bisa menungguku sebentar?” Tanya July pada Lukas yang menatapnya penuh sabar
“Menunggumu selamanya juga boleh kok, hehehe…” Sahut Lukas serius tapi terdengar gurauan di telinga July, gadis itu tergelak lepas, lalu bangun dari duduknya menuju keluar kelas
Dreeet.. Dreeet…
Ponsel July bergetar, satu notifikasi pesan masuk begitu ponselnya aktif, Lukas awalnya acuh tak ingin melihat, tapi begitu sekilas membaca ‘Ibu kepala pelayan’ yang mengirim pesan, pemuda itu tergerak ingin tahu, Lukas menoleh sebentar keluar kelas.. melihat Axel dan July sedang bicara berdua sementara Leo tak jauh dari mereka, sibuk main ponsel
Lukas menggeser ponsel July sedikit agar lebih gampang ia baca
‘Ibu sudah transfer uang gaji sekaligus uang transportasi kamu 600 ribu untuk 1 bulan, belajarlah yang baik, berterima kasih kepada yang menyekolahkanmu’, Tulis kepala pelayan dalam pesannya
“600 ribu? Untuk gaji dan uang transport July selama sebulan? Pantas saja gadis itu selalu membawa bekal, batin Lukas perih.. hatinya teremas - remas, apalagi saat melihat July berdiri khidmat dengan tangan terlipat ke depan saat bicara pada Axel, sesekali gadis itu menundukkan badan menunjukkan kalau ia pelayan patuh
Melihat July berbalik badan hendak kembali ke kelas, Lukas cepat - cepat merubah ekspresinya, senyumnya ia lebarkan
“Sudah?” Tanya Lukas, July mengangguk sambil tersenyum lega
“Axel terlihat sedih, sepertinya dia kecewa karena kamu mengembalikan hadiahnya” Lukas menoleh sebentar melihat Axel, bisa Lukas lihat Axel terlihat kesal padanya
“Kakak tahu?” Tanya July lalu duduk kembali di bangkunya
“Aku lihat kamu membawa kotak berpita itu tadi, hehehe”
July menghela napas, “Aku tidak ingin menerima hadiah dari siapa pun selain Kakak, aku tidak mau dicap wanita murahan yang gampang menerima pemberian cowok - cowok”
“Good girl” Ucap Lukas sambil mengacak rambut July, “Kita makan sekarang? Kamu harus makan yang banyak karena setelah ini jam pelajaran olahraga kan?”
“Traktir” Rengek July manja
“Ahahaha.. sepuas kamu sayang” Sahut Lukas
Gadis cantik dan pemuda tampan itu lalu berjalan, saling mengenggam tangan menuju pintu tangga darurat, lift sedang super penuh saat itu, sementara keduanya sudah tak sabar mengisi perut
Lukas gentleman membuka pintu darurat, mempersilakan July masuk dulu, baru setelahnya ia masuk. Saat July hendak meniti anak tangga pertama Lukas menarik tangan July menghentikan langkah gadis itu
July belum bersiap - siap pun saat Lukas menyerang bibirnya dan memepet badan gadis itu ke dinding, tak lama July mengikuti ritme mengalungkan tangan ke leher Lukas, keduanya berciuman intens bertukar liur, saling menautkan lidah dan membiarkan diri mereka terhanyut sebentar mengikuti hasrat
(Bersambung)…
__ADS_1