Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta

Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta
Anak Haram


__ADS_3

Seolah tak puas, Ibunya mengejeknya lebih lanjut, “Anak yang baik? Kamu selalu menjadi masalah, July. Aku beruntung bisa melarikan diri darimu.”


July mematung tertampar perkataan Ibunya sendiri, wajahnya bodoh dengan derai air mata yang tak kunjung usai. Saat seorang petugas kebersihan lewat dengan mendorong troley mereka jeda dulu sebentar, July maju lebih mendekat pada Ibunya demi memberikan jalan untuk petugas kebersihan itu, tapi seperti melihat makhluk menjijikkan, Ibunya mundur menjauh


“Jangan ganggu aku lagi, kamu juga sudah terkenal dan punya banyak uang kan sekarang? Jadi jalani sendiri hidupmu, anggap aku sudah mati” Tandas Ibunya tanpa belas kasih


Ekspresi July berubah total, ya tadi dia memang perih tapi ucapan Ibunya barusan membuatnya muak, “Baik, kalau begitu mulai detik ini aku anggap Ibu sudah mati, tapi beritahu aku dulu Bu, siapa Ayahku?” Ucap gadis itu dingin


Ibunya, wanita yang melahirkannya itu meludah jijik tepat di depan July, “Sampai mati pun tak akan ku beri tahu siapa Ayahmu”


July bukan tak terhina tapi demi sebuah nama dia maju mendekati Ibunya, menatap dengan tulus, “Kalau Ibu tak mau menganggapku sebagai anak, paling tidak katakan siapa Ayahku, setelah itu aku tidak akan mengganggu Ibu lagi” melas July


Wajah sang Ibu semakin tak bersahabat, mencibir anaknya sendiri, menatap bengis dari ujung kaki sampai ujung kepala


Dari dalam kamar, pintu kayu besar itu dibuka setengahnya, kepala laki - laki bule setengah baya yang tadi July lihat bersama Ibunya menyembul dari celah pintu memperhatikan July


“Who’s that?” Tanyanya pada Ibu July


Ibunya July cepat menoleh, tersenyum ramah pada pria itu, “Nobody” Sahutnya, pria bule itu mengedikkan bahu tak peduli lalu masuk kembali ke dalam kembali


“Apa itu ayahku, Bu?” Tanya July


Wanita di depannya tersenyum sinis, “Mimpi! Pergi, jangan cari aku lagi!”


“Lalu itu siapa Bu?”


“Bukan urusanmu anak haram!” Sentak Ibunya


July terbengong, otaknya memproses informasi yang disampaikan Ibunya barusan, tapi hatinya susah sekali menerima, baru saat Ibunya berbalik hendak meninggalkannya July tersadar


“Itu makanya dulu Ibu ingin menggugurkanku dan sekarang Ibu meninggalkanku? Karena aku anak haram?” Cecar July, Ibunya itu menoleh


“Bagus kalau kamu sudah tahu, aku tak perlu repot - repot memberitahumu! Dari bayi kamu cuma membawa sial, seandainya saja aku tidak hamil kamu, tak mungkin aku ditinggalkan laki - laki berengsek itu!” Sengitnya, lalu tanpa ampun masuk kembali ke dalam kamarnya


Blug…


Pintu kamar itu dibantingnya keras - keras, July menghela napas mengatur ritme jantungnya yang sedari tadi berdetak cepat. Air matanya luruh lagi, kakinya yang gemetaran melemas lalu tertekuk, gadis itu melantai menangis tersedu - sedu, ia sampai lupa menanyakan tentang uang Tuan Azhary yang diterima Ibunya

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Puas menangis, July kembali dengan lesu ke kamarnya, disana sudah ada Ambar.. asistennya itu tampak frustasi, berjalan mondar mandir memegang ponsel. Melihat July, gadis itu memburunya.. wajahnya campur aduk lega tapi panik lagi


“July! Ya Tuhan, kamu darimana saja?!”


July tak menyahut, ia yang bertelanjang kaki itu langsung beringsut ke kasur, meringkuk berbantalkan lengan


Ambar menyusul, duduk di samping July, “Kenapa menangis?” Tanyanya lembut, sambil mengusap - usap rambutnya


“Kak, kalau ada wartawan bertanya tentang orang tuaku, bilang saja kalau aku yatim piatu” Ucap July


“Tapi Jul, bukannya Ibu kamu masih… “


“Kak, tolong” Potong July


Ambar ingin bertanya lebih lanjut, tapi urung melihat lelehan air mata July, “Baiklah, kamu tenang saja.. istirahatlah Jul”


Ambar lalu bangun, membentangkan comforter ke atas tubuh July, lalu mengganti lampu yang terang menjadi lampu tidur, setelahnya ia duduk lagi di sebelah July, setia membelai - belai surai gadis itu untuk menenangkannya, membiarkan July tidur


Dalam tidur pun tangis July berlanjut, mungkin kesedihannya sampai terbawa hingga mimpinya, Ambar menghela napas.. prihatin melihat July, hal yang kemudian membuatnya melapor pada Lukas, seperti pesan Lukas pada dirinya untuk segera memberi tahu jika ada sesuatu yang terjadi pada July


[July tadi hilang, pulang - pulang tanpa sepatu dan nangis sampai dia ketiduran] lapornya


Lukas membalas cepat, [Dia baru kembali ke kamar sekarang?] Ketik Lukas dalam pesannya, kalau Lukas hitung dari ia terakhir meninggalkan July di hotel tadi sampai saat ini jaraknya cukup lama


[Iya, dia berpesan tadi untuk bilang pada wartawan kalau dia yatim piatu] balas Ambar


Lukas di seberang sana mengernyitkan keningnya, [Apa ada yang terjadi?] Ketik Lukas lagi pada Ambar


[Entahlah, hanya itu yang disampaikan July] Jawab Ambar


Tak lagi membalas pesan Ambar, Lukas cepat - cepat menghubungi otoritas hotel tempat July menginap yang dikenalnya, pemuda itu serius berbicara dengan manager hotel, mengenyampingkan tugas kantor yang sedang dikerjakannya, Lukas benar - benar penasaran apa yang terjadi pada July sampai - sampai ia meminta rekaman CCTV hari itu.


****


Bangun tidur hari sudah menjelang sore, yang pertama July ingat saat ia membuka mata adalah kata - kata Ibunya, luka di hatinya masih basah, alhasil air matanya turun lagi

__ADS_1


Gadis itu pelan beringsut bangun, membiarkan Ambar yang tertidur dalam posisi duduk di sampingnya, mengingat Ibunya tubuh gadis itu bergetar saat mengenang masa kecilnya yang suram


{Flashback masa kecil July} :


Plak…


July kecil tersungkur, dipukul terlalu keras


“Sudah ku bilang jangan tanyakan soal Ayahmu padaku! Apa kau tuli? Apa kau bodoh?”


Wanita muda yang berparas cantik itu menjambak rambut si gadis kecil, menarik kuat - kuat


“Gara - gara kau! Gara - gara kau, pria itu meninggalkanku, padahal dia belum memberikan apa pun yang sudah dia janjikan padaku! Harusnya aku tak melahirkanmu dulu!”


Wanita itu menghempas begitu saja gadis kecil itu, membuat July kecil kembali tersungkur di lantai kamar


“Masuk ke kamar, masuk! Kau dihukum tidak makan seharian ini, dan jangan berani - berani keluar kamar!” Sentak Ibunya itu, sambil mengacungkan telunjuknya tinggi - tinggi


Gadis kecil berurai air mata itu manut, tertatih ia berjalan karena lututnya luka, setelah ia masuk ke kamar, ia tutup pintu kamar itu pelan - pelan, karena kalau sampai menimbulkan bunyi sedikit saja, Ibunya itu pasti murka, kaki kecilnya akan jadi sasaran amukan gagang sapu seperti yang sudah - sudah


“Padahal aku hanya ingin tahu apa aku punya Ayah, semua teman - temanku di sekolah punya Ayah, aku juga ingin punya Ayah” Gumam gadis kecil itu menekuk lututnya di pojokan, air matanya lagi - lagi jatuh


**


Ibunya tak main - main soal tak memberinya makan, July kecil semalaman menahan lapar, tak secuil pun makanan atau minum masuk ke perutnya, padahal tadi ia sudah bersusah payah masak, tugas sehari - hari yang harus ia kerjakan. July kecil hanya bisa membayangkan tempe goreng, telur dadar, dan sayur bayam di benaknya sampai menelan ludah berkali - kali.


Tak tahan lagi karena rasa laparnya, July kecil memberanikan diri mengendap - endap mengintip keluar kamar, ruang tamu merangkap ruang makan itu sudah gelap gulita, artinya Ibunya sudah di dalam kamar. Gadis kecil itu menghela napas lega, kakinya yang kecil berjinjit - jinjit mendekati meja makan, di tengah gelap gulita ia membesar - besarkan bola matanya yang bulat mencari tudung saji plastik berwarna merah


Senyum terukir di wajahnya yang imut melihat tudung saji, pelan sekali ia mengangkat tudung itu berharap masih ada sisa makanan, masih ada sebelah tempe disana, sayur bayam pun masih ada meskipun hanya tinggal kuahnya saja, July memutuskan untuk menyendok sisa kuah sayur, berharap Ibunya tak akan sadar kuah itu berkurang.


Gadis kecil itu cepat - cepat mengambil sendok, sayang sikunya menyenggol piring berisi tempe, alhasil piring berbahan seng itu menggelinding jatuh ke bawah


Prang…


July terpaku, gadis kecil itu shock sampai ngompol ia ketika melihat lampu di kamar Ibunya menyala


“Siapa itu?!” Lantang Ibunya dari dalam kamar

__ADS_1


Gadis kecil itu tremor, apalagi setelah melihat Ibunya keluar membawa sapu, sapu bergagang yang biasa dipakai untuk menghukum badan kecil July


(Bersambung)…


__ADS_2