
“Malam ini kamu akan menerima hukuman dariku!” Ucap Marco
Gluk..
July menelan salivanya berkali - kali
“Saya minta maaf, Tuan” Bak hendak di eksekusi July tertunduk dalam - dalam minta pengampunan
Marco, pemuda yang sedang jengkel itu bangun dari duduknya, plastik hotel yang ia buang begitu saja tadi ia ambil lagi
Senyuman Marco mencibir tatkala membaca berulang - ulang nama hotel mahal yang tertera di plastik itu, “Apa kamu menghabiskan waktu bersama si berengsek Lukas di hotel ini?” Cecarnya, plastik itu ia buang lagi di depan kakinya
July gugup dicecar begitu, apalagi kilat kemarahan tampak jelas di mata Marco
Marco mendekat beberapa langkah menyisakan sedikit jarak dari July, “Bukankah aku sudah bilang kalau kamu harus segera pulang begitu jadwal shootingmu selesai? Untung saja tadi Bu Lisa menghubungiku untuk mengucap terima kasih, jadi aku tahu kalau shootingnya sudah selesai dari sore, kalau tidak mungkin aku tetap akan berpikir kalau kamu sibuk shooting bukan sibuk menyerahkan tubuhmu untuk laki - laki lain” Sinis Marco
July terdiam membisu, selain karena yang Marco katakan itu benar, Tuan mudanya itu pantang dijawab, sangat tak boleh dibantah, Titik!
“Katakan padaku apa saja yang kalian lakukan di kamar hotel tadi?!” Cecar Marco, pemuda itu semakin menipiskan jaraknya dengan July, hembusan napas Marco yang memburu bahkan terasa di dahi gadis itu
July semakin ciut, kakinya hendak mundur tapi Marco kadung menarik dagu July membuat gadis itu mendongak
“Katakan July!” Titah Marco lagi, bibirnya menipis menahan amarah, “Katakan apa dia sudah memerawanimu?” Tekan Marco
July tak bisa menggerakan wajah karena dagunya tersandera Marco, mata July mau tak mau bersitatap dengan mata Tuan mudanya itu, mata yang dulu membuat hati July bergetar
“Ti - Tidak Tuan” Sahut July sesuai kenyataan
“Jawab yang jujur, July!” Tekan Marco, sampai gemeretak giginya menahan marah
“Tidak Tuan, sungguh” Jawab July matanya menatap dada Tuan mudanya, tak kuat beradu pandang
Pemuda itu menyeringai, “Kenapa? kamu mau dadaku?” Tanyanya, kedua tangan July yang menggantung ia ambil lalu ia letakkan di dadanya, “Pegang July, pegang! Bukankah kah kau selalu ingin menyentuhku?”
July memalingkan wajah kini menatap lantai, tangannya ia tarik perlahan dari dada Marco, tapi Marco tak kalah cepat mengulang seperti tadi meletakkan tangan July di dadanya kali ini tangannya dipakai mengunci tangan July, kuat menahan
July semakin menekuk leher tak mau menatap Marco
“Kenapa? Apa sekarang kamu lebih suka menyentuh Lukas?”
“Tuan, ini tidak pantas” Sahut July, tangannya memberontak ingin lepas tapi cengkraman Marco jauh lebih kuat, July yakin tangannya sudah kemerahan sekarang
“Dimana saja Lukas sudah menyentuhmu Jul? Apa disini?” Jempol Marco menyentuh bibir lembab July yang masih menekuk leher, gadis itu memalingkan muka ke sisi lain tak ingin disentuh
Marco menghela napas kesal, ganti menarik dagu July, “Berapa kali kalian sudah berciuman?” Tanya Marco lagi semakin penasaran
July diam, matanya lagi - lagi menatap dada Marco, lebih baik dibanding beradu mata dengan Tuan mudanya yang sedang marah itu
Sedang pemuda itu… entah kemasukan setan apa tanpa permisi tiba - tiba mencium bibir July, berubah menjadi ******* kemudian, July shock membeku.. baru tersadar saat Marco menggigit kecil bibirnya
July mendorong dada Marco ingin lepas, tapi pemuda itu menarik pinggang July, merekatkan dengan tubuhnya, kini Tuan muda dan pelayan itu berhimpitan, sangat tak pantas kalau sampai terlihat orang lain
July semakin tak berkutik ketika lehernya pun dipegangi, disandera agar tak bergerak. Gadis itu gelagapan menerima serangan ******* Marco, semakin merinding saat perutnya bergesekan dengan sesuatu yang keras mengganjal
Marco melepas sebentar ciumannya menghirup udara
“Tuan saya tidak… hhhmmpphhh” protes July tak sampai selesai karena Marco lansung melahap lapar bibir gadis itu lagi, July meronta untuk kesekian kalinya namun semakin terkuncilah ia melekat ke tubuh Marco, semakin ia bisa merasakan juga bagaimana tubuh pemuda itu bergetar penuh napsu
July gemetar ketakutan, gigi putihnya menutup rapat - rapat saat lidah Marco hendak menelusup masuk, Marco tak habis akal ganti menyapu bibir July dengan lidahnya
Selesai dengan ciumannya, masih memegangi pinggang dan leher July agar tak bergerak, Marco menunduk mendaratkan dahinya di dahi July
“Jangan pernah mau disentuh lagi oleh laki - laki lain” Ucapnya mengintimidasi
July merasa tak berdaya, matanya berkaca - kaca hendak menangis, Marco tersadar melihat air mata July.. ia lalu melepaskan tangannya dari pinggang dan leher July, mundur selangkah
“Kenapa Tuan menyentuh saya lagi? Saya sudah bilang tidak ingin disentuh lagi oleh Tuan!” Tutur July, gadis itu sibuk mengusap mulutnya yang basah bekas Marco dengan lengan bajunya
Sekilas melihat lengan baju itu mengingatkannya pada Lukas, rasa bersalah muncul mengukung.. bagaimana ia bisa bertemu dengan Lukas setelah ini?
Kemarahan Marco mereda, mata sayunya mengikuti gerakan July
“Apa hubunganmu dengan Lukas? Apa kamu pacaran dengannya?” Tanya Marco menyelidik
Gadis yang masih syok itu memberanikan diri mendongak, ini harus dihentikan karena July sudah memiliki Lukas, jadi Marco tak boleh lagi menyentuh July seenak hatinya
__ADS_1
“Iya Tuan” Sahut July, Marco tersenyum sinis berjalan mendekat, gadis itu mundur menghindar
“Berhenti di tempatmu July!” Titah Marco, pelayan itu berhenti bergerak manut pada perintah Tuan muda
Kedua bahu July Marco pegang, ia menunduk menempatkan wajah persis di depan wajah July, bibir tipisnya menyunggingkan senyum sinis, “Apa kamu pikir Lukas benar - benar menyukaimu?” Tanya Marco, July menundukkan kepalanya enggan menjawab
“Jangan terlalu polos July, dia mungkin cuma memanfaatkanmu!” Ucap Marco lagi, July miris dalam hati… lihatlah siapa yang bicara? Bukankah belum lama ini Marco mengaku memanfaatkan rasa suka July padanya?
Marco lalu berkacak pinggang dengan angkuh, “Berapa banyak uang yang sudah dia berikan untukmu, hah? Apa sebanyak uang yang sudah keluargaku keluarkan?”
July lagi - lagi tak menjawab, menunduknya semakin dalam
Marco menghela napas, “Atau dia sudah membelikanmu banyak hadiah? Apa itu termasuk baju yang kamu pakai?” Cecar Marco lagi, July masih hening
“Jawab, Jul!” Titah Marco meninggikan suara
July, sangat tak suka dibentak.. sisa trauma perlakuan Ibunya sejak kecil, gadis itu mengkerut ketakutan
“Iy - Iya Tuan” Sahut July
Marco, Tuan mudanya itu kembali marah.. pergelangan tangan July ia tarik, gadis itu ia seret menuju walk in closet, tempat penyimpanan baju Marco yang segudang berjejer rapi
Sampai disana Marco mencari - cari di antara laci - laci dan sekat - sekat lemari, sebagai pelayan July ingin membantu, tapi melihat pemuda itu bermuka masam, July urung
“Shit, disini rupanya!” Maki Marco begitu ia melihat kantong kertas yang diletakkan paling pojok diantara jejeran sepatunya
Pemuda itu mengintip memastikan isinya masih ada, setelahnya ia mendekati July yang berdiri kikuk dengan tangan yang terlipat ke depan
Marco menyodorkan kantong itu, “Ganti bajumu dengan ini!” Titahnya
“Maaf?” Tanya July tak mengerti
“Aku bilang ganti bajumu dengan ini July!” Ulang Marco bernada tinggi lagi, July si pembenci bentakan itu segera menerima pemberian Tuannya, ia tak ingin dibentak lagi.. sudah cukup
Bingung hendak mengganti baju dimana, gadis pelayan itu memberanikan diri, “Tu - Tuan, apa boleh saya meminjam kamar mandi Tuan untuk mengganti baju?” Tanya July
“Ganti disini saja, tidak perlu ke kamar mandi” Sahut Marco
Dahi July sampai berlipat - lipat, “Maaf?”
Pasrah… July mengintip kantong kertas itu sebentar, lalu mengeluarkan isinya.. dress sekaki bermotif floral tanpa lengan, entah kapan Marco membelinya, atau mungkin sebenarnya ini untuk Shofi?
July memastikan lagi Tuan mudanya itu tak menoleh sebelum ia membuka resleting dress yang ia pakai, gadis itu bergumam dalam hati meminta maaf banyak - banyak pada Lukas, pacarnya yang sudah berbaik hati membelikannya dress cantik yang kini sudah melorot jatuh dari badannya
July tak sadar kalau Marco bisa melihat pantulan bayangan July di kaca lemari depannya, meski tak cukup jelas tapi siluet badan July yang ramping cukup membuat Marco meneguk ludahnya berkali - kali, lekukan pinggul itu, dada tertutup bra membusung menantang, Marco menggusar rambutnya frustasi menahan - nahan birahi
“Sudah” Ucap July sendu, baju pemberian Lukas ia lipat asal - asalan lalu ia masukkan ke dalam kantong kertas
Marco berbalik badan, tersenyum puas melihat July dalam balutan baju yang ia diam - diam belikan
“Berikan tas itu padaku!” Titah marco mengulurkan tangan, July ragu memberikan.. bagaimana pun itu adalah pemberian Lukas
“July” Tegur Marco melihat pelayannya itu bingung, July mengalah lagi.. memberikan dengan tak ikhlas
Sampai di tangan Marco, kantong kertas itu ia jejalkan begitu saja di tong sampah, July sampai hendak menangis melihatnya
Puas membuang barang pemberian Lukas, layaknya pada pacar.. Marco kembali meraih tangan July menariknya untuk ikut
July tergesa mengikuti langkah Marco yang besar - besar, sampai di depan tempat tidur Marco berhenti
“Duduk” Ucapnya
Jantung July berdegup kencang menerka - nerka apa yang selanjutnya akan Marco lakukan, “T - Tuan, saya minta maaf karena tidak langsung pulang tadi, saya salah.. tapi ini sudah larut malam, bolehkah saya kembali ke kamar saya? Pinta July memelas
Marco tak peduli pun, lanjut memerintah July, “Duduk July” Tekannya, July lagi - lagi manut… mendudukkan diri tak nyaman
Melihat Marco berjalan menjauh July menengok ke arah pintu, berharap kepala pelayan atau siapa pun datang dan membukakan pintu
Trek.. Trek..
Kamar itu gelap setelah sakelar lampu dimatikan Marco, menyisakan cahaya remang - remang dari lampu tidur, July makin ciut, duduknya tak tenang apalagi setelah Marco kembali dan tanpa malu - malu membuka atasan bajunya menyisakan celana piyamanya saja
Napas July tertahan saat Marco beringsut ke tempat tidur menyusulnya, July refleks mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang, kakinya ia tekuk dan lututnya ia peluk melindungi diri
“Selonjorkan kakimu!” Perintah Marco
__ADS_1
July semakin saja mengkerut, “T - Tuan saya tidak mau” Sahut July
“July, selonjorkan kakimu cepat!” Perintah Marco lagi, “Atau kamu ingin aku saja yang menarik kakimu?” Goda Marco
Mendengar itu July spontan menyelonjorkan kaki, Marco tersenyum penuh kemenangan
July terhenyak kaget saat Marco meletakkan kepalanya di paha July begitu saja, tanpa permisi pun.. pemuda itu berbaring menghadap perut gadis itu
“Belai rambutku!” Titah Marco sambil memejamkan matanya
“Maaf” July bukan tak mendengar tapi ia bingung dengan permintaan Marco
“Belai rambutku seperti waktu itu” Ucap Marco
“Tuan masih ingat?” Gumam July tak sengaja, ah bodohnya dia kenapa harus mengungkit saat ia sangat suka pada Tuannya itu?
“Tentu saja ingat, rasa bibirmu, lidahmu, seberapa besar dadamu, aku tak mungkin lupa semua itu” Sahut Marco
Pipi July memerah, malu bercampur marah.. ingin ia tempeleng saja pemuda di pangkuannya ini kalau saja tak ingat status
“Jangan kemana - mana, jangan bangun tanpa seizinku” Tandas Marco, July menghela napas lesu artinya malam ini ia benar - benar tak bisa keluar dari kamar Marco
“July, kenapa kamu belum juga membelai rambutku?” Protes Marco, “Oh atau kamu berharap kita melakukan yang lain?” Goda Marco lagi
Berdecak kesal dalam hati, July akhirnya mengulurkan tangan membelai rambut sedikit gondrong dan ikal milik Marco
Lalu.. Hening, keduanya terdiam.. tak lama July bisa mendengar dengkuran halus Marco, pemuda itu terlelap damai di pangkuannya, sedang July duduk dengan tegang bersandar pada kepala ranjang
Ingin sekali July meraih ranselnya di lantai dan mengambil ponselnya dari sana, meminta Lukas untuk mengeluarkannya dari situ, tapi mengingat masalah sebesar apa yang nanti akan July hadapi tentu saja July urung
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ketukan di pintu menyadarkan July, matanya yang masih berat itu ia paksakan untuk membuka, hal pertama yang ia rasakan adalah kebas di kedua kakinya, Marco masih terlelap tenang di pahanya, July yang tak tidur semalaman kecolongan memejamkan mata, tak lama sih mungkin sekitar 15 menitan
Bunyi ketukan di pintu berbunyi lagi
“Masuk!” Pekik Marco, July sampai kaget pun bercampur geram.. karena ternyata pemuda itu sudah bangun
Suara kunci pintu yang dibuka membuat July bergerak - gerak tak nyaman, ia tak mau terlihat di tempat tidur Marco, selain pantangan ia juga tak mau kalau kepala pelayan berpikir macam - macam
“Aku belum mau bangun” Ucap Marco tak bergeming meski ia merasakan pergerakan July
“Tuan tolonglah” Pinta July
“Diam di tempat July” Titah Marco dengan mata terpejam
Suara heels mendekat, July menundukkan kepalanya dalam - dalam, wajah Marco malah semakin jelas di depannya, July memalingkan muka ke arah lain
Kepala pelayan tampak kaget melihat July dan Marco di tempat tidur, namun ia cepat menguasai diri
“Selamat pagi Tuan, apa anda ingin disiapkan sarapan sekarang?” Tanya kepala pelayan
“Ya, buatkan aku roti lapis yang banyak, tenagaku terkuras habis tadi malam” Ucap Marco tanpa merasa bersalah, alis kepala pelayan sampai naik, bibirnya membuka menutup bingung mau berkata apa
“Ba - Baik Tuan” Ucap kepala pelayan
July tak lagi sanggup menatap kepala pelayan, lehernya semakin turun ditekuk, entah apa maunya Marco ini, sudah pasti semuanya salah paham sekarang
Benar saja sih.. setelah dilepaskan Marco, July yang cepat - cepat bersiap hendak ke sekolah di datangi oleh Sari ke kamarnya
“Jul, kamu mau kemana? Kenapa kamu berangkat ke sekolah?” Tanya Kak Sari
“Aku kan tidak boleh bolos Kak, itu peraturan mutlak dari Tuan Azhari dan Tuan muda Marco.. hehehe” Sahut July
“Tapi Jul, apa kamu tidak merasakan sakit di bagian… itumu?” Tanya Sari menunjuk dari jauh bagian sensitif milik July
“Sa.. sakit?” July sampai kebingungan
“Sudah.. Sudah, kamu tidak usah sekolah” Ucap Sari sambil membimbing July ke tempat tidurnya, “Tuan Marco juga sudah mengizinkan kamu untuk bolos sekolah hari ini, Kak Sari dulu juga pernah merasakan sakitnya saat pertama itu bagaimana Jul, apalagi kalau sampai di paksa”
July tanggap, mengerti apa yang dipikirkan Sari, apa yang juga dipikirkan kepala pelayan, dan sebentar lagi semua pelayan di rumah itu, tapi kalau kepala pelayan dan Sari berpikir Marco menggauli paksa July tadi malam, kenapa tak seorang pun dari mereka menolong July? Kenapa tak ada yang membukakan pintu kamar itu?
Tiba - tiba hati July merasa kosong, kesepian, ia ternyata tak berarti sama sekali..
(Bersambung)…
__ADS_1