
“Lomba nanti bawa baju - baju yang aku belikan kemarin ya, terutama piyama” Ketik Lukas dalam chatnya, memakai sticker love banyak - banyak membuat July tersenyum malu - malu
Gadis itu lalu melihat tumpukan baju - baju di depannya, hadiah yang Lukas tinggalkan di loker, bukan itu saja sih ada sampai 5 box sepatu baru, power bank, dan lip balm juga… varian baru kata Lukas
Bahagia, July berguling - guling di kasur… mengetik cepat untuk Lukas “Aku pikir Kakak lebih suka aku tidak pakai baju” Goda July
Respon Lukas cepat, tapi bukan mengirim pesan, pemuda itu melakukan video call menghubungi pacarnya
July mendudukkan diri sebelum menjawab video callnya
“Hai selamat malam” Sapa Lukas sumringah, wajahnya tampan meskipun hanya memakai T - Shirt polos berwarna putih
“Selamat malam, Kak” Sapa July dengan senyuman hangat
“Apa aku mengganggu? Kalau masih sibuk kita chat aja enggak apa - apa kok, hehehe”
Tak betah duduk karena badannya pegal - pegal, July merebahkan diri lagi” Enggak sibuk kok Kak, ini baru selesai kerja”
Lukas menghela napas, sudah lewat jam 11 malam dan gadis itu baru saja selesai bekerja, bahkan masih memakai seragam pelayannya pun
“Kalau kamu capek tidur saja, Kakak temenin” Ucap Lukas, pemuda itu berjalan ke tempat tidur lalu merebahkan diri, memperlihatkan tempat tidurnya yang king size dan empuk, membuat iri gadis yang sedang tidur di kasur sempit nan keras
“Aku harus mandi dulu Kak, tadi baru selesai vacum sama pel lantai” Sahut July, gadis itu menguap lelah beberapa kali
“Kakak juga mau kok nemenin kamu mandi, hehehe”
Sebenarnya Lukas hanya bergurau sih tapi July menanggapi dengan serius, “Masalahnya kamar mandinya diluar Kak, aku khawatir ada yang lihat”
Lukas di seberang sana tertawa lepas sekali, “Jadi kalau ada yang tidak lihat kamu mau?”
“Heeemm, bukannya Kakak sudah melihat semuanya?” Pipi July menggembung, menggemaskan sekali
“Justru karena sudah pernah melihatnya, aku ingin melihatnya terus”
“Memangnya apa yang ingin Kakak lihat?”
“Semuanya tentu saja, hehehe”
July menyamankan diri di bantalnya yang sudah sangat tipis, Lukas saja sampai miris melihatnya, ingin segera hari esok agar ia bisa membelikan bantal baru untuk July
“Kamu sudah belajar kan untuk besok?” Tanya Lukas
Gadis itu menghela napas, sadar kalau ia sama sekali belum sempat menyentuh buku - buku sains yang Lukas berikan untuk persiapan lomba, “Besok saja Kak, masih ada waktu sebelum aku melayani Tuan Marco”
“Aku yakin tanpa belajar pun kamu bisa sih, yang penting konsentrasi saat mengerjakan soal nanti” Ucap Lukas, tak ada jawaban dari July.. pemuda itu tersenyum melihat July yang sudah terlelap
“Selamat tidur sayang” Ucap Lukas
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi harinya July benar - benar tak sempat menyentuh buku untuk persiapan lomba, mengetahui July cuti 2 hari.. kepala pelayan membebaninya dengan pekerjaan lain sebelum berangkat, beruntung menjelang kepergiannya Tuan Mudanya itu belum bangun, berbekal izin kepala pelayan July mantap melangkah menuju halaman belakang, tempat Lukas menjemputnya
__ADS_1
Di belakang July, Sari dan kepala pelayan mengintip ingin tahu dari jendela
July pikir Lukas akan menjemputnya dengan motor, tapi ternyata pemuda itu membawa mobil sport mewah berwarna hitam, July sampai tak ingin menduga - duga harganya, yang pasti July gugup luar biasa harus menaiki mobil semewah itu
Lukas si pemuda gentleman membukakan pintu mobil untuk July dan mengambil alih barang bawaannya, “Selamat pagi” Ucapnya riang
“Selamat pagi” Sahut July ceria, setelah memastikan July duduk nyaman di mobilnya, pemuda itu memakaikan sabuk pengaman
“Terima kasih” Ucap July, baru duduk saja dia sudah merasa sangat nyaman, joknya empuk dengan interior nan mewah. July bisa membayangkan sekarang sekaya apa Lukas, tak salah jika ia memutuskan untuk menyerahkan malam pertamanya pada Lukas, Tuan muda kaya raya. July tak akan berharap lebih, sungguh. Seperti kata pelayan, menjadi simpanan Tuan muda saja sudah suatu keberuntungan untuknya bukan?
“Hanya itu?” Sahut Lukas
“Ahahaha… ” July malu - malu mencium pipi Lukas
“Terima kasih baby” Ucap Lukas, setelah itu baru dia menutup pelan pintu mobilnya, meletakkan barang bawaan July di bagasi lalu masuk dan duduk di belakang kemudi
Dengan tenang, Lukas menjalankan mobil mahal itu, senyumnya mengembang sepanjang perjalanan, senang berdampingan dengan July
“Bukannya kita harusnya berangkat dengan tim sekolah ya?” Tanya July
“Bu Maya sih bilang seperti itu kemarin, katanya kita diminta berkumpul di sekolah supaya berangkat sama - sama, tapi aku bilang aku yang akan mengantarkanmu”
“Heemmm… syukurlah, aku lebih merasa nyaman seperti itu sih dibanding harus satu bus dengan Tuan dan Nona muda”
“Kenapa begitu? Sebagai perwakilan dari sekolah kamu punya hak yang sama dengan mereka kok”
“Entahlah, tapi sepertinya aku nyaman berdua saja dengan Kakak”
“Ahahaha.. itu lebih baik baby” Ucap Lukas sambil mengecup sayang dahi July
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Pakai ini” Lukas menutup seragam July yang hanya mengenakan rok hitam dan kemeja putih, seragam sekolahnya sehari - hari
“Terima kasih” Ucap July, nyaman dalam jas Lukas meskipun kebesaran, jas seragam Lukas harum sekali, sama seperti milik Tuan mudanya
“Kamu tunggu disini ya, aku daftarin kamu dulu” Ucap Lukas melihat antrian di meja pendaftaran yang mengular, tak tega jika July berpanas - panasan
Gadis itu mengangguk patuh, senyumnya manis meskipun jantungnya sudah mulai berdebar gugup, “Terima kasih” Ucapnya
Sepeninggal Lukas July melipir duduk di pojokan, memisahkan diri dari murid - murid kaya, tapi dimana pun July menyembunyikan diri, tetap saja dia mengundang perhatian.
Saat di tempat pendaftaran Lukas bertemu dengan Guru sains dan Guru pendamping, Bu Maya sang Guru Sains sibuk mendaftarkan murid - murid andalannya, tak keberatan saat Lukas mendaftarkan July sendiri, July tak terlalu diperhitungkan pun.
Kembali pada July setelah celingukan mencarinya, Lukas membawa 2 minuman kaleng dingin, dan 1 kartu tanda peserta
“Aku pikir kamu hilang, untung saja GPS di HP kamu nyala” Ucap Lukas sambil tersenyum, menyodorkan minumannya lalu duduk di samping July
“Maaf Kak” Jawab July menyesal
“Ahahaha.. enggak apa - apa, asal jangan tiba - tiba hilang dari hidupku saja”
__ADS_1
“Baiklah, hehehe” Sahut July, setelah itu sambil menunggu pengumuman lomba dimulai, keduanya sibuk berdiskusi materi sains, sedikit persiapan untuk July yang tak belajar apa pun
Suara pengumuman lomba dimulai menyita perhatian semua orang, selesai membuang sampah bekas minumnya dan July, pemuda itu lalu meletakkan tangan di punggung July menggiringnya untuk mendekati meja pendaftaran
“By, tanda tangan absen dulu ya di meja pendaftaran, setelah itu nanti diarahkan seleksi awalnya di ruangan mana”
“By?” Tanya July tak paham
“Baby, hehehe” Cengiran Lukas lebar
“Oohhh” July menunduk malu - malu dengan hati yang berdebar - debar, komplikasi gugup karena lomba dan karena Lukas
“Nanti jangan terburu - buru mengerjakannya, yang tenang. Kalau tiba - tiba merasa panik lagi, ingat ada aku yang menunggu kamu diluar” Ucap Lukas, mengerti kalau July sudah mulai bergantung padanya
“Terima kasih Kak” July merileks tak setegang tadi
Berjalan beriringan dengan Lukas membuat July minder, sepanjang jalan banyak yang menyapa Lukas, ternyata pemuda itu bukan hanya populer di sekolahnya, tapi juga di sekolah - sekolah lain.
Lukas memang tampan sih, belum lagi perawakannya tinggi dengan badan tegap atletis, senyumnya ramah dan hangat pada semua orang
Sampai di meja pendaftaran July menanda tangani absen, petugas lalu mengarahkan dimana tempat seleksi July berdasarkan nama sekolah, sekali lagi Lukas bertemu dengan Guru sainsnya, Bu Maya bersama dengan anak - anak pintar kebanggaan yang semuanya siswa kelas utama, para siswa itu menyapa Lukas dibalas ramah oleh si pemuda
“Jadi tadi kamu daftarin siapa Lukas?” Tanya Bu Maya ramah, senyumnya lebar
“July Bu, anak kelas XII B” Jawab Lukas, July sopan membungkukkan badan, dilihat sekilas saja oleh Bu Maya lanjut menoleh pada Lukas
“Lukas Sudah tahu mau kuliah dimana nanti?” Tanya Bu Maya
Lukas sampai kesal pun, tapi pemuda itu tahan - tahan. Tangan Lukas mengusap punggung July yang masih membungkuk, menegakkan kembali punggung gadis itu
“Kalau semuanya lancar rencananya mau di Harvey Mudd College, Bu” Sahut Lukas seprofesional mungkin tetap sopan
“Yang di California itu ya? Pasti lancar lah, kamu kan pintar.. tahun Lalu dapat juara olimpiade sains kan?”
“Iya Bu, terima kasih… hehehe.. kalau begitu kami duluan ya” Ujar Lukas cepat - cepat ingin beranjak
“Oh iya iya, silakan”
Bu Maya super ramah pada Lukas, berbanding terbalik dengan pada July yang bahkan tak dihiraukannya pun meskipun gadis itu membungkuk sopan
Sampai di depan ruangan seleksi pertama pemuda itu membenar - benarkan jas seragamnya yang dipakai July, “Pakai ini” Lukas memasang peniti nomor peserta July
“Terima kasih”
Pemuda itu tak malu - malu mencium dahi July sebelum gadisnya masuk ruangan
“Semangat by” Ucapnya
July malu sih, sampai memerah pipinya.. tapi di sisi lain semangatnya bangkit, harus juara supaya tak mengecewakan Lukas
July sudah masuk ruangan tapi Lukas masih menunggu di luar, menampakkan diri dari kaca jendela menyemangati July, begitu penguji datang baru Lukas pergi, beranjak menuju cafe untuk menunggu gadisnya.
__ADS_1
(Bersambung)….
...----------------...