
Pagi sekali berpuluh - puluh pesan sudah Lukas kirimkan untuk July, gadis itu terkekeh mendapat kebucinan Lukas, kalau saja pagi ini ia tak bekerja July yakin waktunya akan habis untuk berbalas chat dengan Lukas saja
Menyadari waktu, July menutup ponselnya, keluar kamar lalu melangkah elegan menuju kamar Marco, hari ini Nyonya dan Tuan Azhari meminta untuk sarapan pagi bersama Marco, artinya Tuan muda ya itu tak boleh telat sampai di meja makan
“Selamat pagi, Tuan” Ucap July saat melihat Marco yang sudah duduk di tempat tidurnya, seperti biasa pemuda itu bertelanjang dada, rambut gondrong dan ikalnya berantakan, matanya yang sayu mengikuti gerak - gerik July
July menggeret gorden, lalu membuka jendela lebar - lebar, cahaya matahari masuk menerangi kamar, setelahnya July memunguti baju Marco yang berserakan, menyiapkan baju seragam untuk Marco, lalu berdiri anggun menunggu Tuannya bangun dari tempat tidur
Marco bangun, lalu berjalan malas - malasan, saat melewati July ia berhenti sebentar melihat warna bibir July yang tak seperti biasa
“Ganti pelembab bibir?” Tanya Marco
“Maaf?” Sahut July
Marco menunjuk bibirnya sendiri, “Warna bibirmu berbeda” Sahutnya, July tersadar kalau ia memakai pelembab bibir pemberian Lukas, kata Lukas Ibunya biasa memakai itu, dan yang July tahu harganya hampir setara dengan uang transportasinya untuk 1 bulan, Lukas memberikannya beberapa warna sekaligus, ah pacarnya itu.. July refleks senyum - senyum sendiri
“Jadi bibirmu?” Tegur Marco
July tersenyum profesional, “Iya Tuan saya baru mengganti pelembab bibir saya” Sahut July
Pemuda itu menerbitkan senyuman pertamanya di pagi hari, “Warnanya bagus, bibir kamu lebih kelihatan sexy”
“Terima kasih Tuan” Sahut July sopan, kalau saja hatinya masih seperti dulu sudah tentu ia sudah salah tingkah mendapat pujian dari Marco
Marco berjalan santai menuju kamar mandi, July mengekori lalu berdiri patuh tepat di depan kamar mandi menunggu Tuannya selesai. Marco mandi sebentar saja, ia keluar mengenakan handuk yang melilit dari pinggang ke bawah, rambutnya ia biarkan basah
July tanggap menyodorkan handuk kering dan hangat untuk rambut Marco, setelahnya July memberikan boxer dan celana seragam Tuannya itu, July berbalik sebentar membiarkan Tuannya mengenakan celana
“Sudah” Ucap Marco, July berbalik lagi menerima handuk basah dari Marco lalu meletakkannya di keranjang handuk kotor
“Apa rambutnya ingin dikeringkan saja Tuan?” Tawar July, pemuda itu mengangguk lalu berjalan ke meja rias, July meraih hair dryer di laci meja rias, pelan dan lembut khawatir membuat Tuannya tak nyaman July mulai mengeringkan rambut ikal Marco
Selesai urusan rambut Tuannya, July menyiapkan kemeja Marco, telaten memaikannya
Mata sayu pemuda itu menatap July lekat - lekat, menelisik tiap inci wajah cantik gadis di depannya
“Kamu masih sakit?” Tanya Marco
“Saya sudah sehat Tuan, terima kasih” Sahut July
“Apa kamu pacaran dengan Lukas?” Tanya Marco lagi
Jari July berhenti di lubang terakhir kemeja Marco, menghela napasnya sebentar, “Tidak Tuan” Sahut July dengan ekspresi begitu tertata
“Lalu kenapa dia sampai menggendongmu kemarin?” Selidik Marco lagi
“Saya rasa karena Tuan Lukas memang orang yang baik, mungkin dia tidak tega melihat saya kesakitan” Sahut July lanjut merapikan dasi Marco, tinju Marco mengepal, dalam - dalam ia menghela napasnya
“Apa kamu suka padanya?” Tanya Marco belum puas
July lagi - lagi menghela napasnya, “Tidak, Tuan” Sahut July
“Heemmm, baguslah… kamu harus hati - hati padanya, sepertinya dia mendekatimu untuk memanfaatkanmu saja” Tutur Marco
“Baik Tuan” Jawab July singkat, nasihat dari orang yang telah memanfaatkannya tak ingin July dengarkan, menerima cinta dari Lukas, siapa takut? Yang penting tak jatuh terlalu dalam agar ia tak terluka lagi
“Selesai Tuan” Ucap July setelah memakaikan jas seragam Marco
“Terima kasih” Jawab Marco
Marco masih menatap July, “Lain kali kalau kau sakit bisakah kau memberi tahuku dulu sebelum orang lain?”
__ADS_1
“Baik Tuan” Sahut July, July lalu berbalik hendak menuju tempat tidur Marco untuk merapikannya
“July” Panggil Marco, langkahnya tergesa menghampiri July
“Ya Tuan” July tak sempat berpikir saat kedua tangan Marco menarik wajah July, bibir Marco menyedot bibirnya penuh napsu
“Hmmmpphhh” July protes, sayang bibirnya di bungkam mulut Marco yang beraroma mint, tangan July ribut ingin melepas tangan Marco dari pipinya, Marco tak berhenti pun meskipun napasnya sendiri sudah tersengal gelagapan melepas hasrat, Marco menikmati ciuman paksanya pada July menereboskan lidahnya yang tak bersambut
Marco mengintip, tangannya melemah lalu mulai turun, mulutnya melepas bibir July saat melihat air mata July yang jatuh
July mengusap mulutnya yang basah, lip balm baru itu belepotan di sekitar mulut, basah bercampur air mata
Marco mengusap wajahnya berkali - kali, frustasi
July mundur teratur, “Jangan sentuh saya lagi Tuan” Gumam July
“Maaf” Ucap Marco menyesal tapi ingin mengulangi
“Tolong jangan sentuh saya lagi!” Tandas July, pertama kali ia menunjukkan ekspresi tak sukanya pada Marco, pemuda itu terkejut melihat kilat kemarahan di mata July
July mengusap lagi wajahnya memastikan jejak ciumannya dan Marco tak bersisa, gadis yang masih gemetaran ketakutan itu mengatur ekspresinya lagi terikat tanggung jawab, “Tuan dan Nyonya Azhari ingin sarapan bersama, silakan Tuan” Ucap July tangannya menunjukkan jalan mempersilakan
Marco kikuk, ia berdehem sebentar lalu membenar - benarkan jasnya, mulutnya ia bersihkan dengan lengan jas, noda lip balm July tertinggal disana
Pemuda itu lalu berjalan di depan July, namun tiba - tiba berhenti
“Aku… “ Marco berhenti sebentar
“Silakan Tuan” Tandas July tak memberi kesempatan, ekspresi July datar tak bersahabat seperti biasa
Marco menghela napas lalu melanjutkan langkahnya menuju meja makan
Tuan dan Nyonya Azhari sudah duduk rapi di meja makan menyambut anak semata wayang mereka dengan senyuman
“Begadang lagi tadi malam?” Tuduh Tuan Azhari melihat Marco tak bersemangat
Nyonya Azhari mendelik tajam, “Papa, coba tanyakan dulu dia kenapa! Mungkin dia sedang sakit” Gumamnya
“Aku sehat Ma” Ucap Marco, darah Marco berdesir seperti tadi ketika July datang dan menuangkannya kopi
“Selamat pagi Tuan, Nyonya” Ucap July sopan, lalu mundur kembali ke tempatnya semula
“Selamat pagi July” Sahut Tuan Azhari ramah
“Selamat pagi” Tambah Nyonya Azhari ceria
Beberapa pelayan gupuh menghidangkan makanan, menyajikannya sesempurna mungkin untuk majikan mereka
“Oh ya July, aku dengar dari wali kelasmu kalau nilaimu sangat baik, sejauh ini masih yang tertinggi, wali kelasmu bilang kalau kau mempertahankan nilaimu terus maka bisa dipastikan Marco akan lulus dengan nilai terbaik, bagus July.. aku bangga padamu” Tutur Tuan Azhari
“Terima kasih, Tuan” Sahut July
“Kau dengar itu July? Pertahankan, itu tugasmu di sekolah itu” Timpal Nyonya Azhari
“Baik Nyonya” Sambut July
“Ada yang kau inginkan sebagai hadiahmu July?” Tanya Tuan Azhari
July menggigit bibir, kalau di tanya keinginan tentu banyak, ia bingung harus mulai dari mana? Apa dia bisa meminta kebebasannya?
“Yang sopan! Tuanmu sedang menawarkan kebaikan hatinya!” Sinis Nyonya Azhari
__ADS_1
“July” Tegur kepala pelayan yang berdiri tak jauh dari July
July menguatkan hati memberanikan diri, “Tuan, bisakah saya berganti tugas? Biar saya mengerjakan tugas membersihkan rumah” Ucap July
Kepala pelayan shock mendengar permintaan July, konyol sekali permintaannya itu, padahal July bisa meminta hadiah atau kenaikan uang transportasi
Marco menghela napas, garpu yang sudah ia pegang untuk bersantap di letakkan kembali, ia mengerti alasan July meminta berganti tugas
“Kau tahu sayang, aku pikir permintaan July tak ada salahnya, lagipula Shofi tak nyaman jika Marco berdekatan dengan gadis seusianya meskipun hanya seorang pelayan, tapi bagaimana pun juga July tetap seorang gadis bukan?!” Cerocos Nyonya Azhari
Ah Marco kesal sekali rasanya, bagaimana kalau sampai Papanya mengabulkan permintaan July?
Tuan Azhari manggut - manggut, jarinya mengetuk - ngetuk meja namun kemudian ia menggeleng
“Tidak bisa! Tugasmu tetap harus mendampingi Marco di rumah dan di sekolah, anak ini sudah banyak mengalami kemunduran di sekolah, bukan hanya nilai tapi dari prestasi olahraga juga” Tandas Tuan Azhari
Marco terhenyak, “Papa tahu darimana? Apa Papa punya orang di sekolah?” Cecar Marco
“Papa tahu semua tentang kamu, Marco!” Sahut Tuan Azhari
“Sayang, itu kan hanya olahraga di sekolah, tak berarti apa - apa” Ujar Nyonya Azhari membela anaknya
“Dia kalah dari anak Walton, Ma!” Tandas Tuan Azhari
Alis Nyonya Azhari menukik tajam, “Benarkah?” Bibir Wanita separuh baya yang masih cantik itu terangkat sebelah, kritis akut, “Ibunya sombong sekali, kalau dia tahu anaknya sehebat itu sudah pasti dia akan tambah besar kepala” Gumamnya
Tuan Azhari menjatuhkan pandangannya pada July lagi, “Aku tak bisa memenuhi keinginanmu, tapi sebagai kompensasi aku akan memberikanmu hari libur, satu hari dalam seminggu” Tuturnya
Tuan Azhari lantas menoleh pada kepala pelayan, “Kau aturkan jadwal libur July” Titahnya
“Baik Tuan” Sahut kepala pelayan patuh
July pasrah menerima, meskipun keinginannya tak terpenuhi paling tidak ia mendapat hari libur, membayangkan bisa keluar dari rumah itu satu hari saja membuatnya terhibur
“Terima kasih atas kebaikan Tuan dan Nyonya” Ucap July
“Tetap jaga jarak dengan Marco, jangan mencari kesempatan” Tandas Nyonya Azhari
“Ma” Protes Marco
“Bagaimana pun dia seorang gadis juga Marco, calon tunanganmu itu sudah protes pada Mama, kalau saja kamu tak perlu July untuk nilai kamu, sudah pasti Mama akan memindahkan dia untuk tugas yang lain” Tutur Nyonya Azhari
“Shofi itu berlebihan Ma” Protes Marco lagi
“Mama jadi menyesal menebus July dengan uang yang banyak pada Ibunya, kalau tahu July akan bertingkah… Mama carikan saja siswa pendamping yang lain untuk kamu, tapi ya apa boleh buat.. Mama sudah terlanjur mengeluarkan banyak uang, sayang sekali!” Tambah Nyonya Azhari berkeluh kesah
July berdiri tenang meskipun hatinya tercabik mendengar omongan Nyonya Azhari, belum lagi perlakuan Marco tadi
“Sudah sudah, bukan waktunya berdebat! Papa ingin makan dengan tenang pagi ini!” Lerai Tuan Azhari
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Atas kebaikan Tuan Azhari, July diperbolehkan untuk menyelesaikan tugasnya lebih cepat, tanpa pikir panjang gadis itu bergegas mengganti seragam, lalu melesat menuju sekolah tak ingin berlama - lama lagi di rumah Marco
Sekolah masih sepi saat ia sampai, July menekuk lutut bersembunyi di halaman belakang, air matanya jatuh berderai, ia merasa tak berdaya atas dirinya sendiri, menyedihkan
”Apa Ibu tahu apa yang ku alami disini, Bu? Apa penderitaanku sepadan dengan uang yang Ibu dapat?” Gumam July
Dimana Ibunya itu sekarang? Apa dia bahagia dengan uang yang di dapatkannya? Semua tetangga di kampung yang July hubungi tak ada satu pun yang mendengar kabar Ibunya, apa Ibunya memang benar - benar sudah melupakannya?
Bel masuk membuat July menghentikan sedu sedannya, cukup dulu air matanya bahkan July berharap air mata itu tak akan keluar lagi.
__ADS_1
(Bersambung)…