
July membanting cermin kecil yang ia pakai untuk melihat bekas yang ditinggalkan Marco di lehernya, suara teriakan tertahan keluar dari kerongkongan July, meski sangat emosi tapi gadis itu tak berani berteriak lantang, dinding kamarnya saling menempel dengan dinding kamar pelayan lain, July tak ingin membuat keributan
Gadis itu duduk di lantai menekuk lutut dadanya turun naik menahan amarah yang tak bisa diluapkan, butuh waktu cukup lama untuknya bisa menenangkan diri, otaknya berpikir cepat bagaimana menutup noda merah di leher, kerah seragam sekolahnya tak akan cukup untuk menutupi
Beringsut bangun, July lalu menuju ke meja tulis, membuka laci dan mengeluarkan jarum jahit, gadis itu mencari - cari keberadaan cermin kecilnya
“Huuufftt” Keluhnya lupa kalau cermin itu pecah berkeping - keping korban kemarahannya tadi, tak ada cermin July mengambil ponselnya menjadikan kamera sebagai pengganti cermin
July meringis merapatkan bibir saat menggores kulit yang ditandai Marco dengan jarum jahit membentuk garis vertikal dan horizontal, titik darah yang merembes dioleskan July untuk mengkamuflase jejak Marco menjadi luka lecet
Tok.. Tok..
“Jul, apa kamu tidak berangkat sekolah?” Suara Kak Sari lantang berteriak dari luar kamar
“Sebentar lagi Kak” Sahut July entah terdengar atau tidak oleh Sari, gadis itu bergegas mengambil plester lalu menempelkannya di luka tadi, selesai dengan itu July secepat kilat bersiap untuk berangkat sekolah
Secepat - cepatnya July mengayuh sepeda, ia tetap tak bisa mengubah kenyataan kalau hari ini ia terlambat masuk sekolah
Bukan dia saja sih, ada beberapa siswa lain yang semuanya siswa utama, bedanya siswa utama langsung di lepas tanpa hukuman, sedang siswa pendamping bersiap menerima sanksi kedisiplinan
“Jadi siswa pendamping saja datang terlambat, bagaimana tanggung jawabmu pada orang yang menyekolahkan kamu disini?” Sinis Guru piket
“Maaf Bu” Sahut July lalu menunduk
Guru itu menghela napas, “Jangan lakukan lagi! sebagai hukumanmu, Ibu minta kamu bereskan semua buku - buku di perpustakaan, sudah 2 hari ini stafnya ga masuk.. buku - buku disana berantakan tidak ada yang mengurus!” Titah Guru itu
Membayangkannya saja sudah membuat July lelah, tapi lebih baik dibanding ia harus lari berkeliling lapangan di bawah matahari yang sudah mulai terik, paling tidak di perpustakaan July bisa merasakan hawa dingin dari AC
Selesai urusan dengan Guru piket, July berjalan gontai menuju lift, beruntung koridor sudah sepi, July sedang lelah hati untuk mendengar cemoohan dari siswi utama
July menunggu dengan sabar di depan pintu lift, sentuhan tangan di bahu yang memar karena ulah Shofi membuat gadis itu meringis
”Ssshhhh” Ringis July
“Selamat… “ Lukas ingin menyapa tapi lalu berhenti melihat gadisnya mengeluh kesakitan, “July? Apa ada yang sakit?” Lukas tampak cemas
July cepat merubah ekspresinya, “Selamat pagi Kak” Sapanya hangat, melihat Lukas membuatnya melupakan sejenak kejadian tadi pagi
“Jul, apa ada yang sakit?” Ulang Lukas
“Ahahaha.. tidak ada Kak, tadi aku terbawa sentuhan Kakak, entahlah mungkin aku terangsang” Goda July
“Astaga” Lukas sampai terkejut mendengar July
Gemas, pemuda itu menarik hidung July, “Kenapa terangsangnya di depan lift? Apa tidak bisa menunggu sampai kita di kamar hotel saja?”
“Kelamaan, aku disentuhnya setiap hari tapi terangsangnya harus menunggu sampai nanti, tega sekali!” Sungut July
“Ahahaha.. maaf” Ucap Lukas cengengesan
Ting…
Pintu lift terbuka, kedua insan itu masuk ke dalam lift
“Ke kelas kan?” Tanya Lukas hendak menekan tombol angka
“Ke perpustakaan Kak”
“Ke perpus? Heemmm.. Jadi pacar Kakak ini dihukum karena terlambat?” Goda Lukas, lanjut menekan angka 4.. lantai dimana perpustakaan berada
July hanya membalas senyum enggan membahas
“Aku tadi nungguin kamu di tempat parkir tapi kamu enggak datang - datang sampai bel masuk, di kelas kamu juga enggak ada” Keluh Lukas
“Maaf” Sahut July
“Kenapa minta maaf? Sudah tugasku sebagai pacar kok nungguin kamu, justru kalau kamu tidak keberatan aku pengennya antar jemput kamu ke sekolah, hehehe…”
Duuuhh July ingin sekali bilang iya, tapi July sadar diri kerja dan hidup menumpang di rumah orang
“Kakak enggak ke kelas?” Tanya July setelah lift melewati lantai 3
__ADS_1
“Enggak, mata pelajaran pertama sains.. semua materinya udah aku pelajari waktu mau ikut lomba, aku bosan kalau harus belajar hal yang sama”
“Oh ya? Apa bukan karena Kakak ingin menemaniku di perpus?” Goda July
Lukas nyengir kuda, “Kelihatan sekali ya?”
Ting…
Pintu lift terbuka di lantai 4
Lukas mempersilakan July untuk keluar dulu setelah itu baru ia mengekor, keduanya lalu berjalan beriringan dengan tangan saling menggenggam
Perpustakaan jelas sedang sepi saat ini, selain tak ada pengunjung, pegawainya pun absen
July menghela napas melihat buku - buku yang berserakan di meja staf perpustakaan, menumpuk begitu saja di rak, dan bahkan ada yang tergeletak di lantai
“Huuuhhhh” Keluh July
“Tenang, nanti Kakak bantuin” Ucap Lukas, belum apa - apa pemuda itu mengecup pipi July, “Semangat!” Tambahnya
“Ahahaha.. kerja dulu Kak! Kalau sudah selesai nanti baru aku kasih hadiah”
“Hadiah? Oh, apa yang bisa kamu tawarkan sebagai upahku?” Mata Lukas berbinar terang
“Heemmm, kalau haus Kakak boleh minum ini deh” Goda July, matanya menunjuk pada dadanya
“Kakak mulai kerjakan sekarang kalau begitu!” Sahut Lukas lantas melesat menuju rak buku
July tertawa lepas, lega mengusir rasa sedih dan marahnya pagi ini
Kedua sejoli itu fokus rapi - rapi, Lukas menyusun buku - buku di rak sesuai dengan nomor klasifikasinya, sementara July membereskan yang di meja dan lantai. Sesekali keduanya saling memanggil atau bertanya ketika buku yang di tangan tak jelas tempatnya
*** Bel jam pelajaran kedua berbunyi baru mereka selesai
“Tidak usah ikut kelas, kita minta surat keterangan saja dari guru piket, Kakak juga bisa bantu ngomong sama Guru kamu nanti” Ucap Lukas saat keduanya duduk melantai diantara rak - rak tinggi melepaskan rasa lelah
July meleburkan kepala ke bahu Lukas, memejam mereleksasi pikiran dan hatinya
“Enak sekali ya jadi Kakak, punya pengaruh jadi bisa menentukan hidup sesuai dengan yang Kakak mau” Ucap July
”Heemmm” Sahut July lagi - lagi enggan membahas
Pemuda itu mengecup kepala July, “Kamu berhak atas kehidupan kamu, perasaan, terutama tubuh kamu”
“Oh ya? Lantas kenapa Kakak gampang sekali menyentuhku tanpa izin?” Goda July
Senyum Lukas jatuh, “Kalau kamu tak rela Kakak sentuh, Kakak tidak akan memaksa kok” Ucapnya sendu
July merangsek ke depan dada “Jangan Kak, jangan berhenti menyentuhku.. kita sudah membuat perjanjian kan?”
“Kalau kamu berubah pikiran tentang perjanjian kita, kamu tidak perlu memaksakan diri Jul” Ucap Lukas
July menghela napas, lalu menegakkan duduknya, “Ya sudah lah kalau Kakak tidak mau menyentuhku lagi”
Wajah Lukas memelas menatap July, “Tidak begitu” Ucapnya tapi tak mampu menjelaskan
July ingin sekali tertawa, tapi tak jadi melihat Lukas yang berubah sendu, tangan gadis itu lalu menangkup wajah Lukas yang tampan
“Jangan berhenti menyentuhku Kak” Ucapnya lantas mengecup bibir Lukas, pemuda itu menggeser duduknya kini berhadapan dengan July
“Kakak pun mana bisa enggak nyentuh orang yang paling Kakak sukai” Ujar Lukas lembut, dagu gadis itu ia angkat kemudian ia kecup pelan, setelahnya ia balas mengecup bibir July, tak sabar ingin *******
July pun menyambut hangat, kooperatif membalas *******. July yang pertama menjulurkan lidah, pemuda itu sampai tersenyum senang dan tak membuang waktu untuk segera menyambut, saling berperang lidah
Tangan Lukas yang tadi menopang, satunya ia bawa naik lalu menyentuh pelan dada gadis itu
“Boleh aku minta hadiahnya sekarang?” Tanya Lukas lembut, July yang matanya mulai sayu di bawa hasrat mengangguk setuju
Saat akan membuka kancing atasan seragam July mata Lukas menangkap leher July yang ditutupi plester, hendak bertanya tapi Lukas sudah tak sanggup menahan gelora melihat dada July yang membusung
Mengalihkan perhatiannya, Lukas lanjut membuka kancing atasan July, mata Lukas berkabut saat melihat penutup dada berwarna hitam kontras dengan kulit putih pemakainya, memang bukan untuk pertama kalinya ia melihat July seterbuka itu tapi gadis itu selalu berhasil membuatnya antusias seolah itu adalah kegiatan perdana mereka
__ADS_1
“Kak, kenapa lama sekali?” Protes July
“Ahahaha.. Maaf maaf”
Sudah mendapat warning, Lukas menurunkan penutup dada July, memajukan wajah dan mulai mengecupi aset kembar milik sang gadis, mengikuti insting pemuda itu menjulurkan lidah dan mulai menyapu dada gadis itu bergantian
“Sssshhhh… Ahhhhh” Racau July sambil mendongak
Ritme Lukas awalnya lembut, sangat lembut. Setelahnya pemuda itu menghisap kuat, memasukkan pucuk kedua aset kembar July ke dalam mulutnya
“Kakak… Sshhhh” Rintih July semakin tak karuan
“Boleh aku kasih kiss mark?” Tanya Lukas serak, mendengar itu July membeku mengingat lagi kejadian tadi pagi, tiba - tiba saja geloranya menguap menyisakan nelangsa yang teramat
Lukas tersadar setelah July tak lagi merespon, pemuda itu menyudahi kegiatannya di dada July, lembut mengecup dahi dan kemudian membantu memasangkan kancing atasan July lagi
“Maaf” Ucap July
“Never mind sayang” Sahut Lukas tenang dengan senyuman lebar, ia lalu berpindah duduk ke tempatnya semula bersisian dengan July
Lantai perpustakaan itu empuk karena di lapisi karpet tebal, membuat betah duduk berlama - lama. Seperti tadi, July melabuhkan kepalanya di bahu Lukas
“Aku sudah meminta izin pada Tuan Azhari dan Tuan Marco untuk ikut lomba Kak, dan mereka mengizinkanku” Info July
Wajah Lukas terlihat sumringah, “Benarkah? Kalau begitu Kakak daftarin sekarang, soalnya dateline pendaftarannya tinggal 2 hari lagi” Tutur Lukas lalu merogoh saku dan meraih ponselnya
Jari Lukas bekerja cepat scrolling di layar ponsel
“Kakak daftarin online ya, perwakilan dari sekolah” Info Lukas, July mengangguk
“Nama… sudah, nomor induk siswa… sudah, Tempat tanggal lahir… sudah, asal sekolah juga sudah” Gumam Lukas sambil mengetik cepat mengisi data untuk July
“Kakak sampai hapal nomor indukku juga?” July terperangah
“Hal kecil, Kakak bahkan hapal ukuran bra underware kamu… hehehe”
July speecless pada kebucinan Lukas, ia lanjut menyamankan diri di bahu tegap pemuda itu
“Alamat… Heemm, aku isi alamat sekolah saja ya?” Ujar Lukas lagi, ia memang tak tahu alamat lengkap July, ia pun tak tega jika harus mencantumkan alamat Marco sebagai rumah July
“Nama Ayah?… “ Lukas menoleh meminta jawaban pada July, gadis itu masih anteng di bahunya sedang Lukas menanti jawaban, penasaran tentang kehidupan July
“Kosongkan Kak, aku tak tahu nama Ayahku siapa, sampai saat ini Ibu bahkan tidak pernah menceritakan tentang Ayah padaku” Sahut July
Hati Lukas jatuh mencelos, dadanya terasa sesak, “Aku.. Aku minta maaf” Ucap Lukas penuh sesal sambil menempelkan dahinya di kepala July
July tersenyum, “Tidak apa - apa” Sahutnya
Lukas menghela napas, jarinya cepat melewati kolom nama Ayah kandung
“Kalau nama Ibumu?” Tanya Lukas sangat hati - hati, Lukas merutuki formulir online yang sedang ia isi itu, kenapa harus sampai mempertanyakan silsilah?
“Apa tidak bisa dilewati juga Kak? Aku rasa tidak perlu lah ada nama Ibu disitu, ada atau tidak ada Ibu sama saja buatku, aku tetap sendirian” Tutur July sendu
Lukas speechless, tak mampu berkata apa - apa, ia lekas meletakkan ponselnya, ganti merengkuh tubuh pacarnya itu, “Nanti setiap perlombaan aku dampingi ya? Dan setiap kamu menang aku kasih hadiah tambahan deh”
“Hadiahnya double Kak” Rengek July
“Kamu meminta terlalu sedikit, aku kasih kamu 3 hadiah sekaligus nanti” Sahut Lukas
“Terima kasih“ Ucap July sumringah
“Sama - sama” Sahut Lukas, melihat July yang sudah antusias Lukas meraih ponselnya lagi, melanjutkan proses registrasi lomba
“Done, Kakak udah email nomor peserta lombanya, hari Sabtu nanti kita mulai dari lomba Sains” Ujarnya puas
“Aku mungkin akan mengajukan cuti kerja Kak, apa kita bisa menuntaskan perjanjian kita hari Sabtu nanti?”
“Kakak siapin hotel dan pengamannya” Sahut Lukas sigap
“Ahahaha.. Terima kasih” July tertawa, terhibur oleh Lukas
__ADS_1
“Sama - sama” Ucap pemuda itu
(Bersambung)