
Semakin dipikir July semakin keberatan dijadikan pacar paksa oleh Marco, hatinya menjadi tak tenang teringat Lukas.. sepanjang pelajaran konsentrasi July berkurang, apalagi ujung matanya menangkap Marco yang kerap mencuri - curi pandang.
Selesai jam pelajaran, seperti kemarin July meminta dispensasi untuk pulang sore nanti pada Marco, sedang dalam mode pacar yang pengertian.. Marco mengizinkan.
Di parkiran… Lukas, Rumi, dan Luna sudah menunggu
“Maaf jadi menunggu, tadi aku minta izin dulu pada Tuan Marco” Jelas July
“Kenapa sampai harus minta izin? Bukannya tugasmu sebagai siswa pendamping selesai begitu jam sekolah habis?” Tanya Luna, Rumi ikut mengerutkan kening bertanya - tanya, “Iya sih, tugas kamu itu hanya sampai selesai jam sekolah Jul”
July tersenyum kecut, menunduk dalam.. tak banyak yang tahu kalau ia juga seorang pelayan di rumah Marco
Lukas paham situasi, mengambil July dari sisi Rumy, “Tidak ada salahnya kan minta izin pada Marco? Kenapa harus dipermasalahkan?”
“Bukan begitu, tapi ke depan jadwal July akan sangat padat.. masa iya setiap kali dia mau syuting atau pemotretan July harus izin Marco? Kalau izin orang tuanya sih aku ngerti” Protes Rumi
July mencelos, memalingkan muka ke arah lain mendengar kata orang tua. Lukas cepat menggandeng July, mengamankan di belakang punggungnya
“Kalau July ingin izin Marco, apa ada masalah?” Tatapan Lukas berbeda dari biasanya, kali ini matanya tajam penuh intimidasi sampai - sampai Rumi menciut takut
“Eh sudah - sudah, kita berangkat sekarang yuk, asisten sutradaranya sudah WA nih” Ucap Luna menengahi
Lukas cepat sekali berubah ekspresinya, tersenyum ramah mempersilakan July masuk ke mobil, membukakan pintu mobil mewahnya untuk gadis itu. July menghela napas gusar merasa telah mengkhianati Lukas, ia bertekad kuat - kuat.. setelah ini ia harus putus dari Marco, harus!
Sampai di tempat yang dituju, seorang resepsionis menyambut ramah.. lalu mengantarkan mereka ke ruang meeting. July, Rumi, dan Luna duduk dengan gugup, sedang Lukas celingak - celinguk melihat ke sekeliling, setelah memastikan tidak ada orang Lukas berdehem memimpin rapat kecil
“Pokoknya kalau nanti ada adegan aneh - aneh langsung mundur, enggak boleh ada adegan ranjang atau memakai baju sexy” Tandas Lukas
“Duh posesifnya minta ampun” Protes Rumi
Lukas tersenyum penuh arti “Keberatan?” Tanyanya
Rumi kalah power, cepat - cepat menggeleng, meski dia manajer artisnya tapi manusia pemegang kekuasaan tertinggi atas July adalah Lukas
Pintu ruang rapat dibuka dari luar, ke empat orang itu membenar - benar duduknya. Seorang sutradara terkenal masuk, di belakangnya mengekor 2 orang dengan membawa kertas tebal - tebal
“Ah selamat siang” Sutradara itu mengulurkan ramah tangannya pada Lukas, tersenyum penuh hormat, lalu gantian menyalami Rumi dan Luna, terakhir pada July.. ditatapnya July lamat - lamat, diperhatikan posturnya dari atas sampai bawah. Pria setengah baya itu lalu mengangguk- angguk tersenyum puas
Meeting itu cukup lama, July si artis baru di tes kemampuan aktingnya menjadi beberapa peran, untung saja gadis itu terbiasa berpura - pura sebelumnya, jadilah aktingnya natural tidak terlalu over
Lukas pacarnya, menonton dengan bangga.. ikut tertawa ketika July memerankan gadis bahagia, ikut sedih saat July akting menangis, dan mengutuk - ngutuk ketika July berperan menjadi korban bully.
Sama dengan Lukas, sutradara itu terkesima pada bakat July. Selesai tes kemampuan, meeting selesai dengan hasil July akan memerankan pemeran pendukung, sebagai gadis korban bully.. sepintar apa pun July berakting tapi tetap saja tak akan bisa menggeser bintang yang sudah top sebagai pemeran utama. Tapi tak apalah, untuk July ini sudah menjadi gerbang lebar menuju kesuksesan karir dan setumpuk uang.
__ADS_1
Mampir makan di resto sebentar sebelum pulang, Lukas mengumbar mesra pada July, gelendotan sepanjang waktu. Rumi dan Luna yang jomblo auto menghela napas, lelah melihat kebucinan Lukas.
Pulang makan Lukas mengantarkan Rumi dan Luna dulu, baru mengantarkan July
“Besok aku full training sampai 5 hari ke depan, setelah itu langsung ke California untuk interview masuk kuliah” Info Lukas sendu saat mereka dalam mobil dibawah pohon - pohon besar belakang kediaman Azhari
July bukannya tak sedih harus berpisah lagi dengan Lukas, tapi gadis itu menutupi kegalauannya dengan senyum terbaik, bekal semangat untuk sang pacar
“Semangat Kak… pokoknya aku tunggu Kakak pulang, nanti aku kasih yang manis dan hangat deh” Goda July
Lukas tertawa renyah, “Janji ya, begitu Kakak pulang adek kasih yang manis dan hangat” Tangan pemuda itu bergerilya, meraba hingga ke pangkal paha July
Gadis itu mendesis, syahdu menikmati sentuhan, “Sssshhh”
Pemuda itu kalap, menyerang bibir July habis - habisan, ngos - ngosan gadis itu dibuatnya
“Sepulang aku nanti, kita menginap di hotel bagaimana? Bukankah ada lomba debat bahasa Inggris?” Tanya Lukas di sela kegiatan bibir mereka, July si gadis yang biasanya polos dan lugu itu berubah agresif, balas ******* bibir Lukas
“Selama ada hadiahnya tentu saja aku mau, hehehe” Jawab July terengah
“Siaaaap” Sahut Lukas mengimbangi ******* July yang panas
...****************...
Masuk ke rumah, July baru sadar kalau bibirnya bengkak karena ulah Lukas tadi, setelah membersihkan diri dan memakai seragamnya, July mengoleskan pelembab bibir.. sedikit kamuflase menutupi kebengkakan.
“Jangan memanfaatkan kebaikan Tuan muda Marco, bukan kamu saja yang bekerja di rumah ini! Dan gara - gara kamu pulang terlambat, pekerjaan kamu harus diambil alih oleh pelayan lain!” Tegur kepala pelayan
Senyum July redup, lantas menunduk dalam - dalam, “Maaf Bu” Ucap July
Kepala pelayan menghela napas lelah, kesal sekali pada July, “Tuan muda Marco sudah menunggumu, pergilah! Dan jangan keluar kamar Tuan muda sebelum Tuan muda memperbolehkanmu!” Titahnya
July mengangguk patuh, “Baik Bu” Sahutnya tanpa berani mendongak, gadis itu baru beranjak setelah kepala pelayan melengos pergi
Huh, jantung July berdebar kencang saat berada di depan kamar Marco, tapi ia kuat - kuatkan hatinya, tekadnya sudah bulat.. hari ini ia akan memutuskan hubungannya dengan Marco
Masuk ke dalam kamar July terperangah pada kamar Marco yang sudah di dekorasi sedemikian rupa, banyak sekali bunga - bunga dan lilin - lilin.. wangi makanan juga menyeruak mengundang selera. Dan satu lagi yang membuat shock, Tuan mudanya itu menyambut hangat dengan memegang sebuket besar bunga mawar pun
“Se - selamat malam Tuan” Sapa July gugup menduga - duga untuk apa itu semua
Marco merengut sedih, “Kenapa panggil Tuan? Bukankah aku ini pacarmu? Panggil saja aku Kakak atau sayang kalau kamu mau” Goda Marco
July makin menunduk dalam, menghindari tatapan Marco.. bahkan tak ia sadari kalau pemuda itu mendekat, menyodorkan buket bunga mawar pada July
__ADS_1
“Selamat ulang tahun, maaf lebih cepat.. aku tidak bisa jalan besok, Papa dan Mama pulang, dan kamu tahu kan bagaimana kalau mereka sedang ada di rumah” Tutur Marco
July menghela lega napasnya, sedikit bersyukur terhindar dari masalah besok.. tapi malam ini, masih mengkhawatirkan
“Terimalah bunga dariku, apa kamu mau aku memeganginya terus?” Pemuda itu menyodorkan buketnya lagi
July si gadis pelayan sekaligus pacar simpanan Marco itu menerima bunga dari Tuannya dengan tak senang hati, “Terima kasih” Ucapnya kembali menunduk
Marco tersenyum, tangannya meraih tangan gadis itu menggandengnya
“Duduklah” Titah Marco, entah kapan sepasang kursi dan meja di tengah - tengah itu pindah ke kamar Marco, makanan juga sudah tersaji indah disana
“Maaf dinnernya harus pindah ke kamarku, aku inginnya mengajakmu ke resto mahal, tapi kamu tahu sendiri kan banyak yang akan laporan pada Papa dan Mama nanti” Terang Marco lalu duduk di seberang July
July pelan meletakkan buket bunganya, elegan membenar - benarkan duduknya yang gugup.. dengan sangat hati - hati gadis itu mengangkat wajah
“Ada yang saya ingin bicarakan” Bilang July
“Ya?” Tanya Marco, serius menatap July
“Saya.. saya tidak bisa menjadi pacar Tuan” July tegas memandang Marco, menyaksikan bagaimana raut sumringah itu berubah bengis
“Kenapa? Apa karena Lukas? Atau karena kau sekarang sudah menjadi orang terkenal begitu? Cih… sombong sekali!” Sengit pemuda itu bersedekap
“Pokoknya saya tidak mau Tuan, saya hanya pelayan Tuan! Kita sangat berbeda, Tuan sendiri yang bilang seperti itu” Tandas July
Makin tersulut lah Marco, dia berdiri menggebrak meja.. sampai berdentingan alat - alat makannya, air tumpah, kuah sop cream jamur pun turut berlimpahan
“Keluar!” Usir Marco sampai menunjuk ke arah pintu, July menenangkan diri dulu mengatur napas
“Aku bilang keluar!” Sentak Marco tak mau menunggu July bergerak elegan bangun dari duduknya, gadis itu gupuh pamit lalu melesat keluar cepat.
Diluar kamar Marco, July menghembuskan pelan napasnya.. mencoba tenang di tengah kemurkaan Marco, meskipun ia mendengar teriakan amukan Marco dan suara barang - barang pecah belah yang dibanting.
(Bersambung)….
Tuan muda Marco berdandan rapi saat menyambut July tadi, sudah ia siapkan semuanya untuk July dari sepulang sekolah.. tapi gadis itu malah membuatnya marah.. huhuhu
Pemuda yang pernah bertahta di hati July, ini pertama kali saat July melihat Marco
__ADS_1
Gini nih kalau Marco pas bangun tidur dan tanpa baju atasan, Enggak heran kan kalau July pernah dibuat dag dig dug oleh pemuda tampan ini