Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta

Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta
Tawaran Tidur Bersama


__ADS_3

“Selamat pagi” Sapa Lukas dalam pesannya untuk July, karena hari Minggu Lukas hanya bisa berpuas diri berkirim chat lewat ponsel saja


“Selamat pagi Kak” Balas July cepat, berguling - guling sebentar di tempat tidur sebelum tugasnya untuk mengerjakan tugas sekolah Marco yang setumpuk itu dimulai, belum lagi tugasnya sendiri. Jadi sebenarnya tidak ada hari libur untuk July, hanya saja saat hari Minggu ia memang tidak mengerjakan pekerjaan rumah apa pun.


“Kakak sudah menerima soft copy foto - foto kita kemarin dari Bu Lisa, mau lihat?” Ketik Lukas lagi dalam pesannya


July cepat membalas pesan Lukas, tak sabaran melihat foto - foto mereka, “Mau Kak” balas July semangat


Beberapa foto masuk bertubi - tubi, July segera melihatnya satu persatu, gadis itu tertawa melihat foto - foto yang July yakini sudah Lukas edit, tak lama video call dari Lukas masuk


July merapi - rapikan rambutnya sebentar, lalu tergesa turun dari tempat tidur menuju meja tulis, mengoleskan sedikit lip balm di bibirnya yang polos, setelahnya baru ia menjawab video call Lukas


“Sayang… “ Sapa pemuda itu ceria


“Kakak” Sahut July tak kalah sumringah, “Kenapa fotonya Kakak edit lagi?” Tanya July


“Sengaja, biar Kakak cetak.. buat kenang - kenangan kita.. hehehe” Sahut Lukas


“Kenang - kenangan? Heemmm.. Apa Kakak sudah berniat meninggalkanku secepat itu? Baru juga dimulai tapi Kakak sudah menyerah pada gadis pelayan ini!” Goda July


Pemuda di seberang sana sampai terduduk kaget, “Kenapa bicaranya seperti itu, Jul?” Mata pemuda itu berkaca - kaca, raut wajahnya berubah sedih


“Ahahaha.. Maaf.. maaf, aku hanya bercanda Kak” July tergelak melihat wajah melas Lukas, “Jadi untuk apa Kakak cetak fotonya? Jangan jadi kenang - kenangan Kak, aku tak suka.. Kakak seperti akan meninggalkanku” Sahut July, kini dia yang sendu


“Ahahaha, Kakak enggak akan ninggalin kamu lah, Kakak cuma ingin punya foto yang bisa Kakak lihat pas kita lagi enggak bisa ketemu” Jawab Lukas


July mengerutkan keningnya, “Enggak bisa ketemu? Kan bisa video call Kak” Jawabnya


“Bukan begitu Jul, tapi kemarin Papa bilang kalau Kakak akan lanjut kuliah di luar negeri, Papa sudah siapin semuanya disana” Jelas Lukas, nada bicaranya tak seantusias tadi


July pun diam sebentar, jiwanya yang baru terisi seolah sudah kosong lagi, hampa. Keduanya diam hanyut dalam pikiran dan perasaan masing - masing.


July yang susah mau berkubang air mata meng off kameranya sebentar, menghirup udara banyak - banyak lalu menghembuskannya pelan, memulas senyumnya lebar baru mengaktifkan kameranya lagi


Lukas sedang sabar menunggu, ia tak bicara apa - apa menunggu July mengutarakan perasaannya


“Kakak, semangat ya…. “ Ucap July dengan senyuman lebar menyemangati


“Jul, kamu akan menungguku kan?” Tanya Lukas


July menghela napas, menunggu untuk apa? Menunggu berapa lama kalau pada akhirnya Lukas akan dijodohkan dengan orang lain, “Iya Kak, aku akan nungguin Kakak” Sahut July basa basi


Lukas terlihat lega, senyumnya yang sempat hilang tadi terbit kembali, “Hari ini kamu libur kan? Bagaimana kalau kita makan diluar? Bukannya kita belum merayakan hari jadian kita?” Ajak Lukas


July memajukkan bibirnya, kesal pada keadaan, “Aku tidak bisa lama - lama Kak, masih banyak tugas sekolah Tuan Marco yang harus aku kerjakan” Jawab July sambil menunjukkan setumpuk buku dengan tangannya


“Kalau kamu tidak bisa keluar rumah, bagaimana kalau aku saja yang kesana? Di belakang rumah juga enggak apa - apa kok.. hehehe” Ucap Lukas pantang menyerah, tak ingin kehilangan kesempatan untuk bertemu gadisnya sehari pun


“Heeemm.. baiklah, aku tunggu nanti sore Kak” Sahut July, semoga saja kepala pelayan mengizinkannya keluar dari rumah sebentar


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


July membenar - benarkan bajunya, sore itu ia mengenakan T - Shirt dan rok yang sudah lusuh, tidak mungkin ia menggunakan seragam sekolah atau pun pelayan. Demi memperbaiki penampilannya yang terlalu apa adanya itu July menambahkan make up tipis, tak lupa mewarnai bibirnya dengan lip balm pemberian Lukas

__ADS_1


Setelah melalui permohonan panjang pada kepala pelayanan, akhirnya July diizinkan untuk keluar rumah, dengan catatan tidak boleh lebih dari 2 jam dan hanya di sekitar rumah saja. Begitu saja sudah membuat July bersyukur, setelah beberapa bulan baru kali ini ia bisa keluar tanpa menggunakan seragam sekolah atau seragam pelayannya


Di belakang kediaman Azhari, July berdiri celingukan menunggu kedatangan Lukas, kalau janji Lukas tepat dan tidak nyasar harusnya sekitar 5 menit lagi pemuda itu sampai. July memandangi motor sport yang mendekatinya, ragu kalau itu adalah Lukas, setelah pemuda itu membuka helmnya barulah July tersenyum menyambut hangat


Lukas sangat tampan sore itu, memakai T - shirt putih dibalut jaket kulit dan celana jeans warna senada, di punggungnya tercangklong tas ransel. Anting yang sempat ia lepas sewaktu pemotretan kini ia pakai lagi. July mematut penampilannya sendiri yang tak sebanding dengan Lukas, “Duh” Gumamnya insecure


Setelah memarkir motor dan meletakkan helmnya, Lukas berjalan tergesa setengah berlari mendekati July, “Sayang” Sapanya pada July, merenggangkan tangan lebar hendak memeluk


July menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tak ada orang di sekitar situ baru ia merangsek masuk dalam pelukan Lukas, nyaman. Melepas pelukannya sebentar, July lantas membimbing Lukas ke ceruk dinding benteng rumah Tuan Azhari, spot yang tidak terekam CCTV


Tak ada alas untuk duduk di atas rumput hijau itu, Lukas melepas jaketnya.. menggelarnya untuk July, dia sendiri duduk di atas rumput


July tersenyum malu - malu diperlakukan manis seperti itu, apalagi begitu Lukas membuka ranselnya, mengeluarkan berbagai jenis makanan, minuman, dan sebuah amplop


“Maaf karena kita merayakan hari jadiannya disini” Sendu July, Lukas tersenyum lalu mengacak rambut July


“Kenapa minta maaf? Yang penting kan kita ketemu” Sahut Lukas pengertian


“Kakak enggak malu pacaran denganku? Aku yakin pacar - pacar Kakak dulu pasti keren - keren, kencannya juga pasti di tempat mahal, bukan di halaman belakang rumah orang begini” Tutur July


“Kamu yang paling keren buat Kakak, Kakak enggak lihat tempat sih Jul, yang penting orangnya, dan.. kamu ternyata jauh lebih cantik kalau enggak pake seragam” Tutur Lukas menatap July lekat - lekat, duh… makin tak nyaman saja July, seharusnya ia pinjam saja baju pada Kak Sari tadi bukan memakai baju lusuh begini, waktu itu July pernah melihat Kak Sari memakai baju yang bagus saat hendak keluar rumah


“Ini foto - foto kita yang udah Kakak print” Lukas menyodorkan amplop pada July, gadis itu mengeluarkan tumpukan foto, melihatnya sambil senyum - senyum


Lukas kreatif mengedit foto itu dengan berbagai macam background beberapa negara


“Kakak pengennya kita beneran bisa foto - foto di negara itu, Jul” Ucap Lukas


“Ahahaha.. Bagaimana bisa Kak? Aku harus menabung berapa tahun untuk bisa ke luar negeri? Bisa - bisa Kakak udah nikah duluan!” Ucap July


“Heemmm.. Kakak lupa ya kalau aku pelayan yang liburnya cuma di hari Minggu? Mana mungkin aku ke luar negeri Kak!” Ucap July


“Kalau kita udah nikah nanti kita bisa puas - puasin ke luar negeri Jul, ke negara mana pun yang kamu mau” Ucap Lukas


Blusshhh..


Pipi July merona merah mendengar omongan Lukas, meskipun mustahil tapi rasanya July ingin percaya sebentar saja kalau ia punya kesempatan untuk bisa menikah dengan Lukas.


Trek.. Trek..


lampu - lampu halaman belakang dan taman sudah hidup, July baru sadar kalau matahari sudah tenggelam, semilir angin menggugurkan daun semakin melambungkan angan July, sebelum ia kemudian melihat lagi kaus lusuh yang tengah ia pakai, lalu harapan itu jatuh kembali, Tuan muda dan pelayan menikah, sangat mustahil.


“Jul?” Tegur Lukas, tangan pemuda itu terulur mengelus rambut July


”Kak” Sahut July, seperti biasa gadis itu sangat pandai menyembunyikan kegalauannya, tersenyum lebar - lebar


July masih tersenyum saat Lukas mulai mepet mendekatinya, Pemuda itu lalu meraih July untuk bersandar di bahunya, tangan July ia genggam erat, kedua sejoli itu bersender ke tembok, syahdu memandangi daun - daun yang berguguran


“Bu Lisa bilang lusa mulai shooting untuk iklan pendek di tivi, tadi Bu Lisa minta Kakak untuk menyampaikannya sama kamu”


“Benarkah?” Sahut July girang, yang terbayang di otaknya adalah bayaran kembali


“Iya, shootingnya di sekitar sekolah sih sama beberapa tempat gitu, kamu tenang aja nanti kru sama sutradaranya profesional semua kok, Kakak berharap itu bisa menjadi kesempatan untuk mengembangkan karir model kamu” Tutur Lukas panjang lebar

__ADS_1


“Oh jadi itu yang Kakak bicarain sama Pak Hans kemarin?” Todong July


Lukas tertawa, lupa kalau pacarnya itu cerdas, “Kakak kenal dekat sama sutradaranya, makanya Kakak bilang sama Pak Hans kalau Kakak yang akan nyiapin semua krunya, nanti Kakak kenalin deh sama kamu” Sahut Lukas


“Terima kasih” Ucap July bahagia, secercah harap muncul untuknya mengubah nasib, tapi July galau lagi mengingat ia masih berstatus pelayan, tentu kegiatannya yang lain harus menyesuaikan dengan jam kerjanya, ah kalau sudah begitu July semakin ingin segera keluar dari rumah Tuan Azhari, dan untuk itu ia butuh uang yang tak sedikit


“Kak” Panggil July, ia lalu menurunkan kepalanya dari bahu Lukas kemudian mendongak menatap Lukas


“Ak… “ Belum lagi selesai berucap Lukas sudah mengecup bibirnya yang mengkilat basah, July lupa sudah pada tujuannya tadi pasrah diciumi Lukas, ikut hanyut dibawa perasaan


Semakin lama ciuman Lukas semakin menuntut, mulai menghisap, mengulum, terkadang menyedot bibit July masuk ke mulutnya, July telaten mengimbangi.. balik menghisap dan ******* bibir Lukas


“Kak” Ucap July saat ciuman mereka terurai


“Heeemm?” Respon Lukas masih mengecup - ngecup gemas bibir July


“Kalau aku mau menawarkan tidur bersama, berapa uang yang akan Kakak berikan?” Tanya July, pertanyaan kedua kalinya untuk Lukas.. pemuda itu lamat - lamat menatap July, menangkap keputus asaan di matanya.


Lukas jelas tak ingin bertransaksi dengan pacarnya sendiri tapi ini kedua kalinya Juli bertanya hal yang sama, artinya July benar - benar serius


“Kalau 100 juta, apa cukup?” Sahut Lukas


July melongo tak percaya apa yang ia dengar, “100 juta? Apa itu uang tunai?” Tanya July polos


“Aku tak pernah memegang uang tunai sebanyak itu jadi aku akan transfer saja, atau kamu mau dalam bentuk cek?” Tanya Lukas


July menggeleng pelan, otaknya masih memproses uang 100 juta yang tadi disebutkan Lukas


“Dengan satu syarat July” Raut muka Lukas begitu serius


“Apa itu Kak?” Tanya July penasaran


“Kamu hanya boleh tidur bersama dengan Kakak saja, tidak dengan laki - laki manapun lagi!” Tandas Lukas


July mengangguk yakin, memang ia tak berniat untuk tidur dengan lelaki manapun selain Lukas


“Bisa secepatnya Kak?” Todong July


“Bagaimana kalau saat shooting iklan pendek kamu?” Sahut Lukas tak gentar


“Setuju” Ucap July meyakinkan dirinya, July lalu merebahkan kembali kepalanya di bahu Lukas, keduanya terdiam sama - sama mencerna pembicaraan mereka barusan


“Apa Kakak menganggapku murahan?” Tanya July, ingin rasanya ia menjelaskan pada Lukas kenapa ia begitu senekad itu


“Enggak kok, kan kamu ngajak tidurnya sama Kakak saja” Hibur Lukas


“Terima kasih” Ucap July


“Untuk?” Tanya Lukas


“Karena Kakak mau menerima tawaranku” Ucap July, bibirnya bergetar mengucapkan itu, Tuhan.. seandainya ada jalan lain


“Sama - sama” Ucap Lukas, lanjut menciumi pucuk kepala July berkali - kali

__ADS_1


Lalu keduanya hening hanya saling memeluk hingga tiba saatnya July untuk masuk lagi ke dalam rumah, dan Lukas kembali ke kediamannya.


(Bersambung)…


__ADS_2