Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta

Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta
Tuan Muda Yang Seenaknya


__ADS_3

“Halo Jul, kamu baik - baik saja kan? Rumi sudah menceritakan semuanya padaku tentang insiden tadi malam! Kamu masih di hotel kan? Jangan kemana - mana, aku kesana sekarang!”


“Tu - Tuan mau kesini?” July tremor, untuk apa Marco sampai datang kesana? Ada angin apa Tuan mudanya itu sampai seperhatian itu padanya?


“Ahahaha.. Tidak perlu Tuan, saya baik - baik saja.. sungguh, Tuan tidak perlu repot - repot, terima kasih” Ucap July, sumpah demi apa pun ia tak ingin dikunjungi Marco, rasanya lepas dari mulut buaya tadi malam lalu sekarang harus berhadapan dengan macan. July jadi kesal sekali pada Rumi, kenapa Rumi sampai harus cerita pada Marco sih


“Aku sudah dijalan, sebentar lagi sampai” Sahut Tuan mudanya tak mau tahu, klik.. pemuda itu menutup sambungan teleponnya tak memberikan kesempatan July untuk menjawab lagi


July menggenggam ponselnya erat, nyaris ia banting kalau tak ingat itu ponsel baru pemberian Lukas, dada July naik turun menahan amarah, marah pada diri sendiri karena bahkan ia tak bisa melarang Marco dengan tegas


“Aaaargggghhhhhh!!!!” Teriak July frustasi, berbarengan dengan teriakan July, Ambar masuk, asistennya itu sampai berlari secepat kilat memburu July, khawatir July kenapa - kenapa


“July, kamu kenapa?” Paniknya, tentengan plastik berisi sarapan untuk July di tangannya ia letakkan begitu saja di lantai, tangannya berganti tugas sibuk memeriksa wajah dan badan July, “Ada yang sakit ya? Apa si Atalarik berengsek itu nyakitin kamu juga?” Cecarnya full panik


July menoleh nelangsa, “Kakak, apa yang harus ku lakukan sekarang? Tuan mudaku mau datang kesini, aku tidak mau dia kesini Kak, aku tidak mau” Lirih July


Ambar yang baru kenal July 2 hari jelas saja bingung, keningnya sampai berlipat - lipat, “Tuan muda? Tuan muda siapa? Apa itu salah satu karakter di film Love?” Tanyanya


July membuang napasnya, “Bukan Kak, dia majikanku” Sahut July lesu, Ambar semakin puyeng.. gadis itu lalu duduk di depan July


“Majikan? Maksud kamu apa sih, Kakak ga ngerti” bilang Ambar, July jadi menyesal keceplosan cerita pada Ambar.. ia jadinya harus menjelaskan tentang dirinya pada asistennya itu


July menghirup udara banyak - banyak lalu menghembuskannya pelan, “Kakak, belum banyak yang tahu soal ini termasuk Rumi dan Luna, kalau setelah ini Kakak mau mundur jadi asistenku karena Kakak jijik padaku, aku bisa paham”


Mata Ambar memicing penasaran, “Jijik kenapa? Apa sih maksudmu Jul?”


“Kakak, aku ini pelayan di rumah seorang Tuan muda” Tutur July


Ambar shock, mulutnya sampai membuka menutup, “What?? Pelayan.. pelayan itu maksudmu?”


July mengangguk lesu, “Aku mengerti kalau setelah ini Kakak ingin berhenti jadi asistenku, tentu tidak mudah menerima artis Kakak yang ternyata seorang pelayan”


Ambar masih shock sih, tapi ia tak tega melihat July yang tertunduk lesu, rambut panjang July ia belai lembut, “Kakak enggak akan berhenti jadi asisten kamu kok, tenang saja.. jadi pelayan itu juga bukan pekerjaan yang salah, jangan khawatir” Ucapnya


“Benarkah kah?” Tanya July, seketika gadis itu haru


“Kakak juga bukan orang yang beruntung, lulus dari sekolah Bintang Pelajar Kakak tidak bisa lanjut kuliah karena Papa dipenjara, Papa Kakak… korupsi” Giliran Ambar yang sendu


July urung meratapi nasib karena ternyata kisah Ambar lebih pedih darinya, “Papa Kakak… dipenjara?”


Ambar mengangguk, tapi senyum di wajahnya tetap terbit, gadis itu memang selalu optimis dan ceria, kesan pertama yang July tangkap saat akan memutuskan untuk menerima Ambar sebagai asistennya


“Papa Kakak korupsi di perusahaannya untuk biayain sekolah Kakak di Bintang Pelajar” Jelas Ambar

__ADS_1


July tertegun, haruskah seseorang sampai melakukan hal serendah itu hanya untuk satu kursi di sekolah? Bagi July itu miris sekali


“Kakak, yang sabar ya” Hibur July, mengasihi sesama bernasib malang


“Ahahaha.. Terima kasih, kamu juga yang kuat ya! Jangan minder karena pekerjaan kamu” Sahut Ambar optimis


“Huft terima kasih Kakak” Ucap July haru, matanya sampai berkaca - kaca


“Iya Adek” Jawab Ambar, keduanya lalu berpelukan saling menguatkan, baru kenal 2 hari tapi mereka serasa sudah kenal lama


“Ngomong - ngomong soal Tuan muda, apa benar dia mau datang kesini?”


July menghela napas, “Tuan Marco memang begitu, dia tidak pernah menerima penolakan, padahal aku sudah menolaknya tadi”


“Marco? Marco Azhari maksudmu?” Tanya Ambar


“Kakak kenal?”


“Tentu saja, dia kan adik kelasku dulu. Ganteng sih tapi playboy parah.. hehehe”


July tersenyum miris, cap playboy pada Marco memang sudah lama ia dengar, tapi dulu rasa suka pada pemuda itu menutupinya


“Kalau kamu cuma pelayannya, kenapa dia sampai menyusulmu kesini? Apa kamu enggak merasa kalau itu terlalu berlebihan?” Curiga Ambar


July cengengesan, fix kalau soal ini dia tak akan bisa menjawab, rapat - rapat merahasiakan tentangnya dan Marco


“Di kamar saja Kak, tidak apa - apa” Ucap July


Ambar mengelus tangan July, “Tenang, nanti Kakak temenin”


July termenung menimang - nimang, ah akan lebih susah kalau ada Ambar disitu, ia khawatir reaksi Marco akan over padanya, “Aku sendirian saja Kak, terima kasih”


Ambar manggut - manggut mengerti, “Ah iya, Kakak bawakan sarapan” Gadis berkaca mata itu beringsut turun dari kasur, memungut plastik berisi roti - rotian di lantai


“Nanti kalau ada apa - apa, Kakak ada di kamar sebelah ya, pintunya enggak Kakak kunci kok, kamu bisa masuk lewat connecting door”


“Iya Kak, terima kasih” Sahut July


...****************...


Tak lama setelah Ambar masuk ke kamarnya, pintu kamar July diketuk. July menghirup udara banyak - banyak dulu sebelum ia menghembuskannya pelan. Bajunya yang belum ganti dari tadi malam ia rapi - rapikan, di depan Tuan muda seorang pelayan harus tampil rapi, sudah pakemnya begitu.


July melihat dulu dari lubang intip, pasti Marco yang berdiri di depan pintu, gadis itu menarik bibir melebarkan senyum profesional

__ADS_1


“Selamat pagi Tuan” Ucapnya setelah membukakan pintu


Pemuda di depannya itu merangsek masuk, memburu July lalu memegang kedua bahu gadis itu, “Kamu enggak kenapa - kenapa kan? Diapain kamu sama pria berengsek itu?” Napas Marco terengah, July menduga kalau pemuda itu berlarian di koridor


“Silakan masuk” meski telat karena Marco sudah di dalam, July tetap mengikuti SOP. Gadis itu lalu menutup pintu, setelahnya berdiri dan menunduk patuh depan Marco


“Saya tidak apa - apa Tuan, terima kasih atas perhatian Tuan”


“Bukan itu yang ku dengar dari Rumi, Jul! Lagipula kenapa kamu enggak cerita padaku?”


July tersenyum robot, “Tentu karena saya hanya seorang pelayan, sangat menyalahi aturan di rumah Tuan kalau saya melibatkan Tuan dalam masalah saya”


Marco menghela napas, peluhnya ia seka dengan punggung tangan, “Kamu bukan hanya pelayanku, kamu pacarku juga July”


Kalau soal itu July sudah angkat tangan pada kukuhnya Marco, pemuda itu keras kepalanya super akut.. efek dimanjakan oleh orang tuanya


“Maaf saya lupa memberi tahu Tuan kalau saya tidak bisa pulang tadi malam, sehingga pagi ini saya tidak bisa melaksanakan tanggung jawab saya” Si pelayan mengingatkan batasan, meskipun pemuda di depannya itu menatap tak suka


Marco tanpa dipersilakan beranjak, lalu duduk di kasur, seenaknya saja memang si Tuan muda itu, “Aku datang kesini bukan untuk mempertanyakan kenapa kamu tidak bekerja, aku kesini karena aku khawatir padamu”


Gadis pelayan itu tersenyum profesional, mendekat beberapa langkah, “Maaf apa Tuan tidak berangkat ke sekolah?” Tanya July


“Tidak ada kamu aku malas ke sekolah” Sahut Marco, lalu menatap ke sekelilingnya, “Kamarnya bagus juga, apa Lukas yang membayarnya untukmu?”


July mendengus, “Tuan, kalau sampai Tuan dan Nyonya Azhari tahu Tuan bolos sekolah, maka saya yang akan kena masalah”


“Tenang saja, Papa dan Mama sedang pergi ke luar negeri, baru kembali lusa.. kalau kamu mau aku bisa menemanimu disini sampai besok” Tawar Marco


July tergagap, “Ti - Tidak perlu Tuan, terima kasih.. besok saya mulai promo film jadi hari ini saya akan pindah ke hotel lain” Info July, sungguh - sungguh tak ingin Marco menemaninya


“Heem, ya sudah kalau begitu aku temenin kamu sampai kamu check out nanti” Tanpa basa basi pemuda itu merebahkan diri, nyaman seolah kamar itu adalah kamarnya sendiri


July mendengus kesal, kalau bukan Tuannya.. sudah pasti ia tendang keluar pemuda tampan itu


“Jul” Panggil Marco, matanya menerawang menatap langit - langit


“Ya Tuan” Sahut si gadis pelayan


“Mendekatkah” Titah Marco


Meski dada berdegup, July patuh juga, “Baik”


July mendekat, berdiri patuh mentok di pinggiran kasur, pemuda itu menoleh memberikan senyum, yang tak July duga setelahnya pemuda itu menarik tangan July membuat gadis itu terhempas ke kasur, Marco sigap bergerak.. menindih gadis itu

__ADS_1


“Tu - Tuan” July shock dalam kungkungan Marco


(Bersambung)…


__ADS_2