
Sekali lagi tempat tidur itu berderit - derit, pergumulan panas pasangan itu kembali terjadi, suara tabrakan paha bersamaan dengan lenguhan dan rintihan keduanya.
Lewat tengah malam baru mereka berdua puas memenuhi hasrat, Lukas sampai menghabiskan 2 pengaman pun.
Masih polos tak berbusana keduanya membaringkan diri melepas lelah, setelah dinginnya AC mulai terasa, baru Lukas menggulung bedcover menutupi tubuhnya dan July
“Terima kasih” Ucap Lukas menciumi pipi July
“Aku sampai bosan mendengar ucapan terima kasih Kakak” sewot July yang wajahnya memerah, selangkangannya pun memerah, korban keganasan Lukas
Lukas tertawa kecil, membantu July meluruskan posisi kakinya yang terbuka lebar
“Rasanya aku tidak bisa bangun lagi” Keluh July
Si pelaku di sebelahnya tertawa lepas tak merasa berdosa sama sekali, “Maaf, entah kenapa kalau sama kamu aku nafsu terus, padahal dengan pacarku - pacarku dulu aku tidak pernah seperti ini” Tutur Lukas
“Benarkah?” Tanya July
“Sungguh, ya paling cuma pegangan, pelukan, paling jauh sampai ciuman.. tidak pernah lebih apalagi sampai tidur bareng… hehehe” Ucap Lukas
“Oh ya? Apa karena aku cewek murahan?”
“Astaga July, bukan begitu! Bagiku kamu bukan cewek murahan, bahkan aku bisa menjadikanmu cewek paling mahal kalau kamu mau” Ucap Lukas, lanjut menciumi pundak pacarnya itu, gemas mendusel - duselkan kepalanya ke lengan July
“Bagaimana caranya?” Tanya July
“Memanjakanmu dengan uang” Sahut Lukas
July menghela napas lelah, enggan membahas. Semakin Lukas bicara tentang uang semakin ia merasakan perbedaan yang besar antara mereka, si kaya dan si super fakir.
“Baby” Panggil Lukas
“Ya” Sahut July
“Masih ada waktu 1 hari besok, apa kamu mau pergi ke suatu tempat? Ke mall atau kemana mungkin?” Tawar Lukas
“Entahlah, sebenarnya aku lebih senang bersama Kakak di kamar seharian, dengan catatan Kakak tahan nafsu sedikit, jangan membuat badanku pegal - pegal lagi seperti sekarang” Ucap July bersungut - sungut
“Ahahaha.. baiklah, tapi aku ingin jalan - jalan denganmu dulu sebelum mengantarkanmu pulang”, Ucap Lukas.. mengingat pulang keduanya menghela napas lesu
July, si pelayan profesional cepat memperbaiki mood, “Kakak mau mengajakku kemana memangnya?” Tanya July
Pemuda di sampingnya menopang kepala dengan sebelah tangan, matanya memicing mempertimbangkan, “Mau pergi untuk mencari Ibumu?” Ajak Lukas
July sampai beringsut duduk, “Apa? Kakak mau mengantarku mencari Ibu?”
Lukas membenahi tidurnya, menarik July untuk berbaring kembali, kini mereka tidur berhadapan, “Tentu saja, bukankah Ibumu sudah lama tak bisa dihubungi, apa kamu tidak ingin mencari Ibumu?”
July memang sudah merencanakan untuk mencari keberadaan Ibunya, mempertanyakan kenapa ia sampai di gadaikan, syukur - syukur kalau Ibunya berbaik hati mengembalikan uang pada Tuan Azhari untuk membebaskannya
“Terima kasih” Haru July
“Sama - sama sayang” Sahut Lukas
July merangsek masuk ke pelukan Lukas, melepas khawatirnya, tanpa di komando sejoli itu lalu hening dan terlelap damai
__ADS_1
***
Matahari sudah menyingsing di ufuk timur, Lukas yang pertama bangun.. senyumnya terbit melihat gadis yang ia sukai terlelap di sampingnya, kali pertama mereka tidur bersama dalam satu kamar satu tempat tidur pula, coba saja kalau setiap hari bisa seperti itu, tidak… tidak… belum boleh
Lukas pelan sekali bangun dari kasurnya, tak ingin sampai membangunkan July, teringat rencana mereka tadi malam, pemuda itu lalu masuk ke kamar mandi, membersihkan diri.
Selesai mandi, pemuda itu menggeser pintu kamar mandi pelan sekali, tak ingin suara apa pun sampai mengganggu tidurnya July
Tapi terlambat pun, di depan Lukas July sudah berdiri gupuh mengembangkan senyum
“Selamat pagi” Ucap gadis itu sumringah
Lukas membelai pipi kekasihnya, balas tersenyum manis, “Selamat pagi, kenapa sudah bangun?”
“Kenapa Kakak tidak membangunkanku? Maaf aku terlambat bangun” Sesal July
“Setelah ulahku padamu tadi malam? Tentu saja kamu kelelahan, itu makanya aku membiarkanmu istirahat, hehehe” Sahut Lukas
July tersenyum lega, kali pertama ia bisa terlambat bangun tanpa perasaan takut, “Tunggu sebentar” Ucap July melihat rambut Lukas yang basah dengan tetesan air di helaian rambutnya, gadis itu menelusup masuk ke kamar mandi melewati Lukas
“Mau ngapain by? Mau mandi?” Tanya Lukas
Keluar dari kamar mandi, gadis itu membawa handuk rambut di tangannya, lalu beranjak ke lemari di samping pintu kamar mandi, mengeluarkan boxer Lukas dari sana
Kembali pada Lukas yang sedang kebingungan, July menyodorkan boxer dan handuk rambut pada Lukas, “Silakan” Ucap July, mode pelayannya aktif
“Astaga, aku bisa melakukannya sendiri by” Sanggah Lukas, meskipun tangannya menerima sodoran July, tak ingin membuat pacaranya itu kecewa.
Lukas mengusap tetesan air di rambutnya, setelah cukup kering.. handuk basah yang di tangan Lukas diambil alih oleh July, pemuda itu tersenyum senang diperhatikan
Senyum pemuda itu jatuh, wajahnya berubah datar, cemburu melanda
“Apa sudah?” Tanya July yang tak mendengar pergerakan Lukas lagi
“Sudah” Sahut pemuda itu, July gerak cepat meraih baju ganti untuk Lukas yang sudah ia gantung rapi - rapi di lemari, pemuda itu mengenakan bajunya cepat - cepat tak ingin membiarkan July berdiri lama - lama
“Kakak duduklah, biar aku bantu” Ucap gadis itu membimbing Lukas yang manut saja digiring ke meja rias. Gadis itu membuka drawer meja, mengeluarkan hair dryer.
Selesai mengeringkan rambut Lukas, gadis pelayan itu menggulung kabel hair dryer, lalu rapi memasukkannya lagi ke dalam drawer meja
“Oh ya, skincare” Ucap July, ia gupuh menuju ransel Lukas mengeluarkan skincare sang pacar dari sana, July sudah mengetahui dimana semua barang - barang Lukas disimpan atas izin pacarnya, yang memberikan akses tanpa batas untuk barang apa pun miliknya untuk July
Gadis itu pelan sekali mengoleskan serum ke wajah tampan Lukas
“Apa kamu melakukannya juga untuk Marco?” Tanya Lukas, tak dapat menyembunyikan kecemburuannya
“Tentu saja, aku membantu Tuan Marco dari mulai berpakaian, memakai skincare, sampai memakai sepatu” Sahut July pura - pura ceria, kini jarinya lembut meratakan sunscreen
Melihat wajah datar Lukas di kaca, July menatap Lukas, “Kakak tidak lupa kan kalau pacar Kakak adalah seorang pelayan? Sekarang Kakak sudah tidur bersamaku, aku juga sudah menerima uang dari Kakak, kalau Kakak merasa jijik dan tidak mau melanjutkan hubungan denganku, Kakak boleh pulang.. tapi kalau Kakak tetap ingin denganku, tinggalah disini” Ucap July
“Aku mandi dulu” gadis itu tersenyum, lalu masuk ke kamar mandinya
Lukas merasa tersiksa, bukan karena dia jijik pada July yang seorang pelayan, tapi karena dia punya banyak uang tapi tak bisa melakukan apa pun untuk membantu gadis yang ia sukai
***
__ADS_1
Tak berapa lama di kamar mandi, July mendengar suara pintu dibuka, lalu ditutup kembali, fix Lukas meninggalkannya. Ah… harusnya ia tak usah membicarakan bagaimana ia melayani Marco setiap harinya tadi sehingga Lukas tak merasa jijik
July sekuat tenaga menahan tangisnya, tapi saat tetesan air dari shower mendarat di wajahnya, air mata yang tak dia inginkan deras mengalir
Wajar Lukas meninggalkannya, sudahlah digadaikan Ibunya sendiri, tak punya rumah atau pun keluarga, ia pun seorang pelayan yang sampai memakaikan sepatu untuk Tuan mudanya sendiri
July menghapus air matanya yang bercampur baur dengan air shower, bukankah ini memang sudah ia duga sebelumnya? Lantas kenapa ia harus sedih ditinggalkan Lukas? Toh masa depan hubungan mereka sangat mustahil
Keluar dari kamar mandi, setelah memakai baju.. July duduk lesu di pinggiran kasur, ia menghitung masih ada waktu beberapa jam lagi hingga jam check out hotel
July mencoba menghibur diri, berguling - guling di tempat tidur yang tadi malam dipakainya untuk bergumul panas dengan Lukas, bahkan wangi parfum Lukas pun masih terasa
Meski matanya menatap televisi yang menayangkan tayangan lucu, tapi tetap saja air matanya bergulir perih. Gadis itu merasa sendirian, terasing.. ada yang hilang dari hatinya, meskipun dia baru saja menjuarai olimpiade nasional, meskipun pundi demi pundi terkumpul banyak di tabungannya
Ting… Tong…
Suara bel pintu kamar berbunyi, July yang sedang tak ingin melakukan apa pun mengacuhkan saja
Ting.. Tong..
Bel pintu berbunyi kedua kalinya, dengan lesu.. July terpaksa membuka pintu
Hati July melebar, senyumnya sumringah berbunga - bunga melihat siapa yang di depan pintu
“Kakak, aku pikir Kakak pulang”
Lukas tersenyum, lalu masuk ke dalam.. “Dan meninggalkan gadis yang sangat aku sukai sendirian disini?”
July tersenyum malu - malu, “Sungguh aku pikir Kakak pulang tadi”
Pemuda itu tertawa kecil, “Setelah apa yang telah kita lakukan? Aku bukan cowok berengsek seperti itu, by” Sahut Lukas
July tertunduk malu, tak enak hati sudah berburuk sangka pada Lukas, kalau saja July lebih teliti bahkan ransel dan barang - barang Lukas masih ada di tempatnya
Lukas meletakkan barang - barang bawaannya di meja depan sofa, “Aku tadi membeli makanan di restoran untuk sarapan kita, by” Jelas Lukas
Duh, July semakin malu saja
“Terima kasih” Ucap gadis itu
Lukas mengambil helaian rambut July yang masih berair, “Kamu sibuk mengeringkan rambut orang lain tapi tak mengeringkan rambutmu sendiri?”
Lukas membimbing July untuk duduk di kursi rias, “Aku bantu keringkan” Ucapnya, pemuda tampan itu lalu mengeluarkan hair dryer dan mengeringkan rambut panjang July, meski sedikit kesulitan.. tapi Lukas begitu semangat
“Ini pertama kalinya rambutku dikeringkan orang lain” Ucap July
Lukas mencubit sayang pipi gadisnya, “Aku akan sering melakukannya untukmu” Ucapnya
“Terima kasih” Sahut July terharu
“Berdandan yang cantik, pakai baju paling bagus yang aku belikan, siapa tahu kita bertemu dengan Ibumu nanti.. aku tak mau kalau Ibumu berpikir aku tak menjagamu dengan baik” Titah Lukas
Senyum July begitu lebar, “Semoga saja kita bertemu Ibu Kak, semoga” harap July
(Bersambung)…
__ADS_1