Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta

Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta
Masa Kecil Yang Suram


__ADS_3

**


Gadis kecil itu tremor, apalagi setelah melihat Ibunya keluar membawa sapu, sapu bergagang yang biasa dipakai untuk menghukum badan kecil July


Trak..


Sakelar lampu berwarna putih kekuningan itu ditekan kasar Ibunya, lampu temaram berpijar tapi cukup memperlihatkan wajah murka Ibunya


“Ibu” Panggil July takut


Prak..


Awalnya gagang sapu itu menghantam kursi makan, tapi setelah dekat dengan July, sapu itu beralih tugas memukuli kaki kecil July


Gadis kecil itu berjongkok, menciut melindungi diri dari amukan sang Ibu, bibir kecilnya merintih merasakan sakit


“Gadis kotor, gadis sial! Harusnya kamu tidak lahir, mati saja kau! Mati!”


Pukulan membabi buta menganiaya July kecil, sasarannya bukan lagi kaki, tapi punggung, kepala, tangan. Belum juga puas, Ibunya itu mendorong tubuh peot gadis kecil itu hingga tersungkur, sapu yang kurang mempan memuaskan hatinya ia lempar begitu saja, ganti kaki sebagai senjata


Ibunya itu seperti kesetanan menginjak - injak kepala July, tak peduli meskipun anaknya yang dari tadi diam menahan sakit kini merintih - rintih


“Bu sakit Bu” Melas July kecil sangat pelan, tak berani bersuara kencang takut tetangga ada yang mendengar, Ibunya sudah wanti - wanti agar jangan sampai ada tetangga yang tahu dan ikut campur menolong July, atau July kecil yang akan merasakan akibatnya


“Anak sialan! Sudah ku bilang jangan keluar kamar dan makan kan?!”


“Anak pembangkang! Menyesal aku melahirkanmu! Pencuri! Anak sialan! Mati saja kau!”


Ibunya yang emosional tak melihat kucuran darah di kepala July yang terantuk - antuk ke lantai, memang begitu kalau Ibunya sedang marah, buta mata hati, hilang perasaan


Injakan itu terus menjejal di kepala July, tengkorak kepalanya yang retak tak berhenti mengeluarkan darah, gadis kecil itu membungkam mulutnya agar tak menjerit sakit

__ADS_1


“Malam ini tidur disini! Awas kalau kau berani masuk ke kamar!” Ucap Ibunya, pergi ke kamar dengan jejak darah yang menempel di bakiak, sandal kayu yang biasa Ibunya pakai di dalam rumah


Brak…


Pintu kamar Ibunya tertutup kasar. Tinggal gadis kecil yang meringkuk di lantai, pelan gadis itu bangun, duduk merasa - rasakan kepalanya yang sangat sakit, July mengusap cairan yang mengucur di pelipisnya dengan tangannya


“Jangan menangis lagi, jangan menangis lagi” rapalnya, July kecil lalu mencoba tersenyum, dalam hati mematri kalau semua dilakukan Ibunya karena menyayanginya


Melihat darahnya bersimbah di lantai, sempoyongan July kecil menuju dapur mengambil kain lap agar besok pagi Ibunya tak marah, dengan senyum menghiasi wajahnya yang mengerikan karena belepotan darah, July membersihkan lantai, gadis kecil itu merengut karena lantai tak juga bersih, tetesan darah baru dari kepalanya mengotori lagi lantai


July mengusap kepalanya, “Aku harus bersihkan ini dulu berarti”


Di tengah malam buta, July keluar dari pintu dapur mencari - cari kain lap kering yang di jemur di halaman belakang, kakinya berjinjit - jinjit meraih kain lap di tali jemuran, tak seimbang gadis itu terseok lalu limbung jatuh, setelah itu ia tak ingat apa - apa lagi.


Besoknya July sudah berada di Puskesmas desa, Ibunya meraung - raung menangisi dirinya di depan para tetangga sambil bilang kalau ada maling yang mencoba masuk ke rumah dan melukai July


Ibunya sampai memeluk - meluk July yang terbaring di tempat tidur Puskesmas, gadis kecil itu cerdas… ia ingat semua yang terjadi, tapi tak jadi masalahnya untuknya, ia sangat senang karena pertama kali itu Ibunya memeluk dan menangisinya.


**


Dua minggu setelah kejadian itu Ibunya pulang ke rumah setelah seharian pergi, July menyambut dengan manis


“Ibu.. Ibu.. July hari ini goreng ikan untuk Ibu, July sekarang bisa goreng ikan Bu” Ucap bocah berumur 7 tahun itu


“July juga belajar membuat sambal untuk Ibu, Ibu cobain deh.. sambalnya pedas, tadi waktu July cobain lidah July sampai panas Bu” Oceh gadis kecil itu riang, membuntuti Ibunya yang masuk ke dalam kamar lalu memasukkan baju - bajunya ke dalam tas jinjing besar


“July ambilkan Ibu nasi ya” Tawar gadis kecil itu


Ibunya masih mendiamkan, sibuk mondar mandir di kamar sempit, memasukkan kosmetiknya yang tak seberapa


Tak lama Ibunya keluar kamar, July setia membuntuti, di ambang pintu rupanya sudah ada tetangga sebelah rumah kontrakan July, Bu Mirna tersenyum lembut pada July

__ADS_1


“Aku titip, nanti sebulan sekali aku kirimkan uang” Ucap Ibunya July pada Bu Mirna, Bu Mirna hanya mengangguk


“Bu” Panggil July, gadis itu baru ngeh kalau Ibunya mau pergi


“Jul” Bu Mirna mendekat, meraih pundak July


“Aku pergi” Ucap Ibunya July, tak sekali pun memandangi July yang wajahnya memelas, gadis itu memperhatikan kepergian Ibunya dengan tatapan kosong hingga punggung Ibunya tak terlihat lagi


“Ibu kerja dulu ya buat July, nanti Bu Mirna yang temani July disini kalau malam” Jelas Bu Mirna membelai lembut rambut July


“Terima kasih Bu Mirna” Sahut July sopan, sempat - sempatnya ia tersenyum manis meskipun hatinya hancur, ia yang masih sangat kecil takut sekali kehilangan Ibunya, ia tak ingin ditinggalkan satu - satunya orang yang ia tahu sebagai keluarganya


“Anak cantik, anak baik… kasihan sekali kamu nak” Ucap Bu Mirna, meraih July dalam dekapan


“Tanganmu kenapa nak?” Tanya Bu Mirna melihat tangan July yang melepuh


“Tadi July goreng ikan buat Ibunya July, ikannya gerak - gerak Bu, minyaknya jadi tumpah ke tangan July” Jawab gadis itu polos


Bu Mirna menghela napas, sesak mendapati gadis kecil nan cantik dan baik itu bernasib malang, apalagi saat melihat banyak biru - biru di tangan dan kaki gadis itu, jelas bekas cubitan.


Hari - hari berikutnya Bu Mirna menemani July pada malam hari, sedang dari pagi hingga sore gadis itu mengurus keperluannya sendiri, Bu Mirna sendiri bekerja di rumah seorang kaya di kampung hingga sore, malam ia baru pulang dan menemani July


Hingga setahun kemudian Bu Mirna menikah dan diboyong suaminya ke tempat lain, July mendewasakan diri hidup sendiri di rumah itu, dengan uang yang dikirimkan Ibunya yang hanya cukup untuk sewa rumah dan makan selama sebulan, kebutuhan sekolah tak Ibunya pikirkan, gadis kecil itu terpaksa mencari pekerjaan, membantu mengerjakan PR, membantu menjaga warung, atau menjaga anak tetangga, semua dilakoninya demi membeli buku.


Semakin kesini kiriman dari Ibunya semakin sering telat, July kecil memutar otak agar uang kiriman Ibunya bisa cukup.. makan diaturnya menjadi sehari sekali, cukup dengan satu butir telur saja atau garam dan kerupuk pun tak apa. Kalau sedang beruntung ada tetangga yang mengirimkan lauk pauk untuknya, July hemat - hemat bisa sampai 2 hari makan.


Hal itu terus berlanjut hingga July SMP, semakin besar umurnya pekerjaan yang diambil gadis itu semakin banyak, meski mendapat beasiswa karena ia pintar tapi tetap saja kebutuhan sekolah yang lain juga banyak.


Dari mengasuh anak tetangga sepulang sekolah, membuka jasa mencuci baju, menjajakan kue, sampai jasa membersihkan rumah ia lakoni, selagi halal dan tenaganya cukup July jalani.


Ibunya nyaris tak pernah menghubungi July, hanya 4 pucuk surat yang pernah dikirimkan Ibunya kirimkan selama bertahun - tahun, itu pun tak banyak kata yang ditulis hanya pesan agar menghemat uang, jangan boros - boros. Setelahnya balasan surat July yang dikirimkan setiap bulan tak pernah digubris, July ingin sekali menghubungi Ibunya, bicara padanya, mendengar suaranya, tapi Ibunya tak pernah memberi tahu nomor telepon rumah tempat Ibunya bekerja di kota besar sana.

__ADS_1


(Bersambung)..


__ADS_2