Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta

Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta
Hanya Seorang Pelayan


__ADS_3

“Jangan berharap bisa mengandung keturunan Tuan Azhari, itu sangat mustahil.. ingat kalian dari dunia yang berbeda” Tandas kepala pelayan lagi


July mengelus perutnya, hatinya hancur berantakan.. seandainya ia sampai dihamili Marco apa ia tak pantas mengandung anak pemuda itu? Sehina itukah dirinya?


“Sudahlah kita bahas lagi nanti, cepat bersiap menuju ruang makan, sebentar lagi Tuan dan Nyonya akan sarapan” Titah kepala pelayan


Mengangguk patuh, “Baik Bu” Ucap July, gadis itu menghembuskan napas lelah setelah kepala pelayan beranjak, dunia terasa sempit sekali untuknya


Sebelum melaksanakan tugas, July mampir ke kamar, mengenakan seragam pelayan, make up tipis, dan memakai sepatu kerja berwarna hitam, sepatu baru yang dibelikan Lukas agar ia nyaman.


Mengingat Lukas ia mengingat ponsel yang kemarin ia banting, benda pipih itu sudah berada di atas nakas.. seorang pelayan pasti memungutnya saat membantu membereskan kamar July


Ponsel mahal itu sedikit retak layarnya, ada penyokan juga di ujung, July menyesal.. benar kata orang emosi memang berujung penyesalan


July membuka aplikasi, melihat puluhan pesan dan telepon yang masuk dari Lukas, gadis itu dingin memblokir nomor pacarnya. Hari ini Lukas berangkat untuk training perusahaan, artinya di sekolah pun mereka tidak akan bertemu, mungkin ini saatnya semua selesai, toh transaksi mereka sudah rampung.


Menghembuskan napas banyak - banyak, gadis itu anggun melangkah ke ruang makan seperti saat ia belum bertemu dengan Lukas, hanya seorang gadis pelayan. Hatinya hampa meski senyumnya ia lebarkan, senyum profesional.


Di ruang makan para pelayan sedang sibuk menyiap - nyiapkan untuk kedatangan Tuan dan Nyonya, July cepat bantu - bantu, lalu gupuh berdiri di pinggiran bersisian dengan kepala pelayan menunggu Tuan dan Nyonya datang


“Selamat pagi” Ucap July membuka kursi untuk Nyonya Azhari, sedang Tuan Azhari dibantu kepala pelayan


“Selamat pagi” Sahut Nyonya Azhari dingin


Setelah duduk, Tuan Azhari menoleh pada July yang sedang menuang teh untuk Nyonya besarnya, “July, saya dengar kamu juara olimpiade Sains kemarin, selamat ya” Ucap Tuan Azhari hangat


July hati - hati meletakkan pot teh di tempatnya, lalu menghadap Tuan Azhari membungkukkan badan, “Terima kasih Tuan” Sahut July sopan


“Guru kamu bilang kompensasi nilai dari sekolah untuk Marco juga sudah masuk, sering - seringlah ikut lomba, saya akan support keperluan kamu nanti” Tutur Tuan Azhari menyemangati


“Terima kasih atas kemurahan hati Tuan” Ucap July lagi


“Kemurahan hatiku juga! kamu pikir Tuanmu itu akan memberikanmu fasilitas kalau bukan karena izinku?” Sindir Nyonya Azhari


July menggeser badan menghadap Nyonya Azhari, seperti tadi membungkukkan badan, “Terima kasih atas kebaikan Nyonya”


Nyonya Azhari mendengus, “Tadi malam saat di bandara aku dihubungi oleh Mamanya Shofi, katanya Marco memutuskan hubungan.. dan itu semua berkaitan denganmu, ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” Tanyanya pada July


Kepala pelayan terperangah, panik khawatir July angkat bicara soal Marco kemarin


Tuan Azhari yang sedang membolak - balik koran menghela napas, “Itu kan urusan anak muda, kenapa sampai melibatkan Mama sih? Biarkan saja mereka yang menyelesaikan sendiri”


Nyonya Azhari tampak kesal, mendelik tajam pada suaminya itu, “Papa ini bagaimana? Shofi itu calon yang cocok untuk Marco, susah payah aku membujuk Marco untuk menerima Shofi, dan sekarang putus begitu saja hanya karena seorang gadis pelayan?”


Suara sepatu yang melangkah tergesa menjeda Nyonya Azhari, seorang pelayan gupuh menghampiri kepala pelayan, berbisik


“Tidak tahu sopan santun! Aku sedang bicara dan kau tiba - tiba saja masuk lalu berbisik - bisik?!” Sentak Nyonya Azhari pada pelayan itu, sang pelayan menunduk takut


Kepala pelayan maju beberapa langkah mendekat, “Maaf Nyonya, ini soal Tuan muda Marco”


“Kenapa dia?” Tuan Azhari menyela


“Begini Tuan, Tuan muda Marco tidak ingin dilayani oleh pelayan lain selain July, tapi July sedang mogok tidak mau melayani Tuan muda Marco” Jelas kepala pelayan


Alis Nyonya Azhari menukik, semakin tersulut emosinya pada July, “Apa? Kenapa kau tak mau melayani Marco hah? Bukankah itu kewajibanmu di rumah ini?”


July menunduk dalam - dalam, tak berani menjawab


Kepala pelayan serba salah, “Ini hanya kesalah pahaman, Nyonya.. kemarin Tuan Marco marah karena July pergi selama 2 hari tanpa izin langsung pada Tuan muda, July tak terima sehingga mogok kerja sampai sekarang”


Gigi July gemeretak, kenapa kepala pelayan tak menceritakan yang sesungguhnya kalau kemarin Marco menyentuhnya tanpa izin, kenapa harus dia yang menjadi tersangka?


Tuan Azhari meletakkan korannya, “Sudah izin dariku untuk apalagi izin dari Marco?” Bela Tuan Azhari


Nyonya Azhari semakin kesal saja, “Lihat kan? Ini karena Papa selalu membela July, akhirnya dia ngelunjak! Berbuat semaunya sendiri!”


“Dibela bagaimana? Itu fakta Ma!” Sanggah Tuan Azhari


Nyonya Azhari mendengus kesal, lalu menoleh pada July, “Sekarang ceritakan dulu padaku apa hubunganmu dengan putusnya Marco dan Shofi?”


July menunduk dalam diam, bingung mau berkata apa


“Saya pernah mendengar kalau Nona Shofi cemburu pada July, dan setiap datang ke rumah ini Nona Shofi selalu marah kalau July melayani Tuan Marco” Sahut kepala pelayan lagi


“Baguslah kalau mereka putus, masa Marco mau dijodohkan dengan gadis pemarah dan cemburuan begitu!” Sambar Tuan Azhari

__ADS_1


Nyonya Azhari menghela napas, “Wajar kalau marah Pa, namanya juga cemburu karena July jauh lebih cantik.. kita juga harus memahami perasaan Shofi”


“Lantas kalau nanti July menjadi asisten pribadi Marco bagaimana? Apa setiap hari dia akan marah - marah dan cemburu?” Jawab Tuan Azhari


Nyonya Azhari mati kutu tak mampu menyanggah kalau urusan bisnis, “Hah… ya sudahlah! Papa yang carikan calon untuk Marco kalau begitu”


Tuan Azhari kembali membolak balik korannya, “Paling sebentar lagi Mama bawa yang lain, Papa tidak mau ikut campur”


Nyonya Azhari mendengus lanjut menoleh pada July, “Kerjakan tugasmu, layani Marco.. kami tidak menggajimu untuk berleha - leha saja!”


“Baik Nyonya” Sahut July


Kepala pelayan memberi kode, meminta pelayan tadi untuk menggeret July.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Adegan yang sama dengan kemarin, geret menggeret July.. hanya saja kali ini pelakunya berbeda, setelah sampai di depan kamar Marco, July di dorong masuk


Lalu, blam…. Pelayan itu menutup cepat pintu kamar Marco.


“Sudah ku bilang jangan ada yang masuk!” Pekik Marco, sehelai baju dilempar tepat mengenai July


Gadis itu meringis, Marco yang mendengar rintihan July bangun dari tidurnya, pemuda itu beringsut bangkit gupuh mendekati July yang sedang berdiri ketakutan di depan pintu


“July, maaf aku tak tahu kalau kamu yang datang” pemuda itu cepat memeriksa wajah July, khawatir kenapa - kenapa, “Apa ada yang sakit?” Tanyanya


“Tidak Tuan, terima kasih” Sahut July, senyum lebarnya dipaksakan, profesional sekali


Masih memegang wajah July dengan kedua tangannya, pemuda itu menatap nanar mata July “Ini semua gara - gara kamu, apa kamu tidak merasa kalau kamu tidak adil?”


“Maaf” Sahut July


“Lukas boleh menyentuh tubuhmu, lalu kenapa aku tidak?! Itu sangat tidak adil Jul! Apa kau tahu aku bahkan sudah menutuskan hubunganku dengan Shofi?!” Tutur Marco


July tak bergeming, tak juga menunduk takut seperti kemarin.. Ia balas tatapan Marco dengan pandangan kosong. Dada pemuda itu mulai turun naik melihat wajah cantik July, Marco menipiskan jarak mereka, kedua tangannya enggan melepaskan wajah July


“Jawab July apa kau adil dalam hal ini?” Jarak mereka semakin dekat, July bahkan bisa merasakan hembusan napas Marco hangat menyapu wajahnya


“Tidak adil bukan?” Pemuda itu semakin mendekat, kini mereka tak berjarak.. begitu rapat. July membiarkan Marco mengecup bibirnya, bahkan sampai ******* habis. July pasrah, membiarkan Tuan mudanya berbuat sesukanya, tahu diri bahwa ia memang hanya gadis pelayan yang tergadai.


“Mmmhhhh” Rintih Marco terbawa nafsu, pemuda itu memegang pinggang July menggeretnya ke tempat tidur, matanya sekilas menoleh pada jam dinding


“Masih ada waktu sebelum kita sekolah” Ucapnya, lanjut menciumi July. July pasrah saat Marco merebahkan pundak lalu beringsut menindihnya


Nafas pemuda itu menderu, bagai binatang buas yang siap menyantap mangsanya, “Jadi kamu boleh ku sentuh sekarang?” Tanya Marco


“Tentu saja, aku hanya seorang pelayan yang tidak berharga sama sekali, jadi semua orang bebas menyentuhku” Sahut July dingin


Marco tertegun melihat gadis dalam kungkungannya, gadis yang seragam pelayan nya sudah berantakan


“Bukan sentuhan seperti itu maksudku” Marco beringsut bangun dari badan July, kehilangan nafsu


Gadis itu mengusap air matanya, secercah harapan muncul.. mungkinkah Marco bermaksud lain? Apa ada masa depan disana?


Marco menghela lelah napasnya, “Ini sangat rumit, July.. seandainya saja kamu bukan gadis pelayan, bukan gadis miskin yang digadaikan oleh Ibumu sendiri pasti semuanya akan mudah”


“Mustahil bagimu untuk naik ke kasta kami, apa pun yang kamu lakukan”


Gadis itu melebarkan senyum palsunya, menyesal sedikit berharap pada Marco, naif sekali dirinya


“Tuan benar” Ucap July, senyumnya profesional


Marco menggusar frustasi rambutnya, “Hah!!!!” Pekiknya, lanjut membuka atasan bajunya


“Siapkan keperluanku!” Titahnya


“Baik” Sahut July patuh


Setelah itu July menjalankan semua kewajibannya seperti biasa, mengumbar senyum penuh kepalsuan, padahal hatinya kosong, hampa, terombang - ambing di kepedihan yang tak berkesudahan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malamnya gadis kesepian itu duduk di pinggiran ranjang, menatap kosong ujung kamar sempitnya. Rasa hampa itu tak dapat ia bendung lagi.. July membuka blokir nomor Lukas, mengirim pesan pada Lukas


Tak selang lama, Lukas menghubunginya

__ADS_1


“Akhirnya! Thanks God, thanks!!!! Bentar Jul….. bentar” Sumringah pemuda itu, terdengar bicara pada beberapa orang sebentar, lalu membuka dan menutup pintu


July tersenyum hangat, senang mendengar suara Lukas lagi


“Jul, sorry.. tadi lagi meeting sama asistennya Papa”


“Aku ganggu ya, kalau begitu selamat meeting Kak”


“Halo Jul? July please…. Kamu enggak ganggu” Pemuda itu mengusap wajahnya frustasi


“Sibuk banget ya Kak selama training?”


“Hem.. begitulah”, Lukas menjeda, lanjut duduk di balkon, “Jul, tolong jangan blokir nomorku lagi ya” Pinta Lukas memelas


“Memangnya kenapa Kak, hehehe”


“Aku kebingungan, sampai aku menghubungi telepon rumah Marco, yang menjawab bilang kamu tidak bisa diganggu, aku khawatir kamu kenapa - kenapa”


“Heeemm” Sahut July


“Please jangan blokir lagi ya?!” Pinta Lukas


July menghela napasnya, “Entahlah”


“July please” Rayu Lukas


“Untuk apa Kak? Seseorang bilang padaku kalau apa pun yang aku lakukan aku tidak akan bisa merubah kastaku sebagai seorang pelayan”


“Siapa yang bicara begitu? Marco? Untuk apa kamu mendengarkan cowok pengecut seperti dia?!”


“Pengecut? Maksud Kakak?”


“Marco itu menyukaimu Jul, hanya saja dia tak siap untuk berjuang, dia tak berani mengambil resiko”, “Lagipula untuk apa membeda - bedakan kasta pelayan atau bukan, apa yang di banggakan dari harta milik orang tua? Jika bekerja keras semua orang bisa meraih kesuksesan”


Mendengar omongan Lukas menenangkan hati July, gadis itu tersenyum hangat


“Lalu bagaimana dengan Kakak, apa Kakak benar menyukaiku?” Goda July


Lukas di seberang sana menjadi salah tingkah, berdiri lalu duduk lagi, “Iya, aku mencintaimu Jul” Ucapnya malu - malu


July refleks tersenyum, bahagia mendengar ucapan Lukas. “Kalau Kakak mencintaiku, apa Kakak mau berjuang untukku?”


Lukas mengusap tengkuknya, semakin malu - malu, “Tentu saja!! Well…. saat ini kita memang masih sangat muda, tapi saat aku sudah dewasa nanti aku akan berjuang untukmu”


“Bagaimana dengan orang tua Kakak? Apa mereka bisa menerimaku?”


Lukas cengengesan, “Kalau soal itu, aku harap kamu sabar ya Jul, pokoknya aku akan berjuang untuk mandiri agar ga terlalu bergantung sama mereka”


“Apa itu semua demi aku?” Tanya July


“Tentu saja demi kamu!” Tegas Lukas


July tersenyum lega, secercah harapan yang tadi padam muncul kembali, di dunia ini paling tidak ada yang membuatnya merasa berharga


“Kakak lanjut lagi rapatnya kalau begitu, aku tak mau mengganggu Kakak lama - lama” Ucap July


“Ga ganggu kok, sungguh… please jangan blokir lagi ya” Melas Lukas


“Iya” Sahut July


“Beneran ya?”


“Iya”


“Sudah dulu ya Kak”


“Oke, nanti selesai meeting aku hubungi lagi ya… I love you”


Deg.. Jantung July berdegup - degup kencang


“I love you too” lepas gadis itu tak ia tahan - tahan lagi


Lukas tersenyum lebar, senang mendengar kata cinta dari July, Lukas lebih semangat menjalani hari, demi July.


(Bersambung)…

__ADS_1


__ADS_2