
Tengah Malam Tuan dan Nyonya Azhari kembali dari luar negeri, paginya mereka sudah stand by di ruang makan, tersenyum lebar
July si gadis pelayan sudah siap melayani bersama beberapa pelayan senior, menuangkan kopi untuk Tuan dan Nyonya Azhari lalu berdiri ke belakang bersisian dengan kepala pelayan
Tuan Azhari menyeruput kopi yang masih mengepul, setelah itu membuka lembaran pertama koran, matanya turun naik mencari berita yang menarik. Suara lembaran koran dibalik cepat menjadi satu - satunya suara selain dentingan cangkir, Tuan dan Nyonya Azhari memang ingin sarapannya tenang, tak bicara jika tak penting
Melirik jam sebentar Tuan Azhari lalu menoleh pada July, “Bagaimana sekolahmu July? Apa ada kesulitan?” Tanya Tuan Azhari lalu menyeruput lagi kopinya
July maju mendekat, mengangguk hormat “Semua baik - baik saja Tuan, terima kasih” Sahut July
Tuan Azhari manggut - manggut senang, “Kamu sudah kelas 3, lebih fokus lagi pada pelajaran, kalau tidak salah ujian kelulusan tinggal beberapa bulan lagi bukan?” Tanya Tuan Azhari
“Iya Tuan” Sahut July patuh, July tahu Tuan Azhari merujuk pada kegiatan pemotretannya tempo hari, tapi tidak.. July tak boleh berhenti karena itu salah satu caranya untuk mendapatkan uang
“Bagus kalau kamu mengerti, saya cuma tidak ingin konsentrasi kamu terganggu sehingga berimbas pada nilai Marco nantinya” Ucap Tuan Azhari lagi
“Lagipula tidak perlulah ikut - ikut pemotretan seperti itu, untuk apa? Memalukan sekali” Sinis Nyonya Azhari, matanya memutar malas melihat July
“Baik Nyonya” Sahut July patuh
Tuan Azhari tersenyum puas, lantas kembali fokus pada korannya. July menggigit bibir bawahnya, menimang sebentar lalu mematangkan keberaniannya
“Maaf Tuan, apa saya boleh ikut perlombaan?” Tanya July
Kepala pelayan yang tadinya berdiri tenang mendelik tajam pada July, “July!” Tegurnya kesal karena July lancang mendahului bicara pada Tuan Azhari
Tuan Azhari menjatuhkan pandangannya pada kepala pelayan, baru menoleh pada July setelah kepala pelayan menunduk tenang
“Perlombaan apa maksud kamu?” Tanya Tuan Azhari, sedang Nyonya Azhari mendengus kesal lanjut menyesap kopinya
“Perlombaan sains, matematika, dan debat bahasa Inggris, Tuan. Kemarin saya sudah sampaikan pada Ibu kepala pelayan bahwa kalau saya menang, maka sekolah akan menambah poin nilai untuk Tuan Marco” Sahut July
Tuan Azhari menghela napas, tampak merenung sebentar ia lalu menoleh lagi pada kepala pelayan, “Kau sudah menghubungi sekolah? Apa betul yang dikatakan July?”
“Betul Tuan, pihak sekolah bilang kalau July menang maka nanti sekolah akan menambah nilai Tuan Marco untuk mata pelajaran yang sama” Sahut kepala pelayan
“Artinya jika July menang lomba sains maka akan menambah nilai Marco di mata pelajaran sains begitu?” Tanya Tuan Azhari memperjelas
“Betul, Tuan” Sahut kepala pelayan
“Tidak perlu sampai begitu lah Pa, suruh saja July untuk berusaha keras agar Marco mendapat nilai terbaik, kenapa harus dibuat repot sih sampai ikut - ikut lomba segala?” Sanggah Nyonya Azhari, tampak kesal sekali wajahnya menatap July
“Tidak sesederhana itu Ma, murid - murid di Sekolah Bintang Pelajar itu pintar - pintar, persaingannya sangat ketat! Anak kita saja yang sekolahnya ogah - ogahan, entah apa yang dia pikirkan” Keluh Tuan Azhari sambil memijit pelipisnya
“Meskipun menurut laporan dari sekolah bahwa sejauh ini nilai July sangat memuaskan, tapi tetap saja ada beberapa anak yang menjadi saingan berat, ada anak keluarga Simon, keluarga Rasyid”
Nyonya Azhari menengok kaget pada suaminya, “Keluarga Rasyid juga? Jadi anak keluarga Rasyid yang pengusaha berlian itu juga berprestasi? “ Cecar Nyonya Azhari
Tuan Azhari menghela napas, “Belum lagi anak Walton, mengingat anak kita yang sekolahnya saja malas - malasan, rasanya sulit jika dia mendapat nilai terbaik dengan usahanya sendiri, itu makanya kita masih sangat butuh July.. dan menurut Papa tak ada salahnya jika July ikut lomba kalau tujuannya untuk menambah nilai Marco”
__ADS_1
Nyonya Azhari berdecak kesal, “Terserah saja lah”
Tak ada alasan untuk menolak, Tuan Azhari lantas menoleh pada July, “Baik kalau begitu, saya izinkan kamu untuk ikut perlombaan, dengan catatan pastikan kamu menang dan pastikan kamu tidak tertinggal pelajaran” Putus Tuan Azhari
“Terima kasih atas kemurahan hati Tuan dan Nyonya” Sahut July, senyumnya mengembang merasa ada sercercah harap
Tuan Azhari membalas senyum, “Sudah, jangan lupa jaga kesehatanmu juga, makan yang banyak jangan sampai sakit, ya?!”
July membeku sebentar, hatinya meluruh mendapat perhatian dari figur seorang Ayah yang tak pernah ia kenal sebelumya, seandainya hidupnya normal memiliki seorang Ayah apakah seperti ini rasanya diperhatikan?
“T - Terima kasih Tuan” Sahut July, matanya berkaca - kaca menahan air mata
Waktu tepat jam setengah 7 saat beberapa pelayan masuk membawa troli penuh dengan makanan, tanpa dikomando July pamit mundur hendak menuju kamar Tuan mudanya.
Kaki July terasa ringan, meski malas berhadapan dengan Marco tapi semangat karena Tuan Azhari bijak mengizinkannya ikut lomba
Ah July tak sabar ingin mengabarkannya pada Lukas, senyum gadis itu lebar saat mengingat pacarnya itu
Seperti hari - hari sebelumnya, July menjalankan serangkaian protokol untuk masuk ke kamar Marco, sudah di dalam kamar gadis itu menghirup napas dalam - dalam dulu baru bergerak menuju tempat tidur Tuan muda, tapi kosong..
Terdengar suara air shower dari kamar mandi, merasa telat.. gadis itu cepat - cepat bergerak maju menuju walk in closet hendak menyiapkan keperluan Marco
Suara kenop pintu kamar mandi dibuka, July bergegas berdiri sigap tepat di depan kamar mandi, handuk kepala, boxer dan celana seragam Marco sudah di tangan. Marco muncul di ambang pintu, handuk melilit di pinggangnya, rambutnya yang ikal sedikit lurus karena basah
“Selamat pagi Tuan” Sapa July lalu menyodorkan handuk kepala untukTuannya, Marco dingin menatap July sekilas, mengambil handuk kepala dan mengeringkan rambutnya sendiri
July masih berdiri patuh menghadap Marco, “Berbaliklah, atau kamu ingin melihatku telanjang?” Titah Marco agak sinis, July yang sadar ia telat bereaksi tadi segera membalik badan
Gadis itu masih membalik badan saat Marco berjalan saja melewatinya, July gupuh mengikuti sambil menenteng kemeja dan seragam Marco yang tergantung di hanger
Marco duduk di meja rias, membuka laci lalu meraih hair dryer di dalamnya, July menghela napas.. mengerti kalau Marco masih marah padanya, tapi marah untuk apa? Kenapa Marco harus marah? Bukan kah July yang harus marah?
July menyampirkan dulu seragam Marco di kursi belajar, setelah itu July mengambil alih hair dryer dari tangan Marco
“Biar saya bantu Tuan” Ucap gadis pelayan itu, tak mau lepas tangan dari tanggung jawabnya
Marco masih membisu pun, lalu matanya memejam ketika jemari July lembut menyisiri pelan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer
Tak ada kata di antara keduanya hanya suara hair dryer yang terdengar
“Apa ucapanku kemarin membuatmu tersinggung?” Tanya Marco tiba - tiba
Ingin sekali gadis itu menjawab kalau Marco sudah menghancurkan hatinya, tapi ia sadar diri kalau ia hanya seorang pelayan, tak pantas menggugat Tuan mudanya, “Tidak Tuan” Sahut July dengan senyum profesional
“Kalau ada yang ingin kamu katakan, katakanlah” Titah Marco lagi
“Tidak ada, Tuan” Sahut July tanpa berpikir panjang
Mata Marco membuka lalu menatap July yang mulai beralih mengoleskan serum ke wajah Tuan mudanya
__ADS_1
“Sungguh?” Tanya Marco lagi
“Iya Tuan” Sahut July lanjut mengaplikasikan lembut tabir surya ke seluruh wajah Marco, meratakannya pelan - pelan. Sudah selesai, pemuda itu lalu berdiri menanti July yang mengambilkannya kemeja seragam lalu memakaikannya
Saat July mengancing kemejanya, Marco bisa melihat jelas leher jenjang gadis itu, hari ini July mengikat kuncir kuda rambutnya, gadis itu tampak cantik dan segar.
Berhadapan dekat dengan Marco membuat July teringat kalau ia belum meminta izin pada Tuan mudanya untuk ikut perlombaan, “Maaf Tuan, apa saya boleh mengikuti perlombaan?” Tanya July
“Lomba apa? Modelling lagi?” Tanya Marco, pemuda itu menundukkan badan mempermudah July memasangkan dasi
“Bukan Tuan, tapi lomba matematika, sains, dan lomba debat bahasa Inggris” Sahut July
Marco tersenyum sinis, “Seperti Lukas? Aku dengar Lukas juga pernah mengikuti lomba sains”
“Iya Tuan” Jawab July memberanikan diri
Marco menghentikan gerakan tangan July yang sedang menyimpul dasinya, “Apa dia yang memintamu ikut?”
Gadis itu menggeleng pelan, “Tidak Tuan, saya yang menginginkannya sendiri” Jawab July
Marco melepaskan tangan July lalu berdecih, “Oh ya? Aku tak yakin, jadwal belajar dan kerjamu saja sudah sangat padat, untuk apa kamu mengikuti lomba kalau bukan karena ingin berduaan dengan si kunyuk itu? Atau kamu sedang butuh uang? Aku bisa memberikannya padamu, tinggal sebut saja berapa yang kamu mau”
“Terima kasih atas tawarannya Tuan, tapi tidak perlu” Sahut July sopan,
Selesai dengan dasi Marco, gadis itu kembali ke kursi belajar meraih jas Tuan mudanya
Sambil dipakaikan jas oleh July Marco menelisik pelayannya itu, “Kenapa kamu menolak niatku? Bukannya kamu menerima semua hadiah Lukas, dan kemarin juga kamu menerima hadiah dari Axel kan?”
Ah hadiah Axel itu, seandainya Marco tak menyebutkannya sudah tentu ia akan lupa, ya… hari ini ia harus mengembalikan lagi hadiah yang bahkan belum dibuka itu pada Axel
“Maaf” Ucap July
Marco menghela napas, “Sepertinya jadwal kerjamu belum terlalu padat ya Jul, kalau begitu mulai nanti aku akan menambah kegiatanmu bersamaku, bagaimana pun tugas utama kamu di rumah ini untuk melayaniku kan?”
July sang pelayan patuh tak mungkin protes, “Baik Tuan” Sahut July
“Sudah selesai Tuan” Ucap July setelah Marco rapi dan tampan dalam balutan seragamnya
“Terima kasih” Ucap Marco, pemuda itu lalu berjalan di depan July hendak keluar kamar, July patuh mengekori
July hampir saja menabrak punggung Marco ketika Tuan mudanya itu berhenti tiba - tiba
Marco berbalik menghadap July, “Oh ya Jul”
“Ya?” Jawab July, gadis itu terkesiap saat Marco meraih lehernya, menurunkan kerah kemeja seragam pelayan July, dan menyedot masuk kulit leher July ke dalam mulutnya kuat - kuat, meninggalkan bekas kemerahan
Puas dengan karyanya, Marco melepas leher July, “Dengan begini kamu tidak akan membuka baju untuk Lukas”
(Bersambung)…
__ADS_1