Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta

Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta
Kencan Pertama


__ADS_3

Hari berikutnya di meja makan, Tuan dan Nyonya Azhari beserta putra semata wayang mereka Marco, bersantap sarapan dengan tenang


Selesai dengan sarapannya, Tuan Azhari menengok ke belakang mencari - cari July


“July” Panggilnya, yang dipanggil gupuh mendekati


“Iya Tuan” Sahut July sopan sambil membungkukkan badan


“Saya sudah melihat brosur sekolah yang terbaru, saya diberi tahu asisten saya kalau kamu yang menjadi modelnya, selamat ya” Ucap Tuan Azhari hangat


“Terima kasih, Tuan” Sahut July, Nyonya Azhari melirik bosan pada July


“Entah apa yang dilihat sehingga July yang dipilih dibanding Anita, padahal sudah jelas - jelas Anita itu lebih cantik dan terawat, dan yang pasti bukan pelayan” sinis Nyonya Azhari, yang teman dekat dari Ibunya Anita


“Justru karena itu July yang terpilih, Ma.. Karena July cantik alami” Bela Marco, Nyonya Azhari mendelik pada anaknya itu tak suka jika Marco malah pro pada July


July kaget mendapat pembelaan Marco, sedikit penyesalan dalam hati July karena berpikir kalau Marco tak suka July menjadi model, ternyata Tuan mudanya itu masih berbelas kasih padanya


“Kemarin guru kamu juga sudah menghubungi, katanya akan ada shooting untuk iklan pendek di tivi, apa betul?” Tanya Tuan Azhari


July menangguk sopan, “Betul Tuan” Sahut July


“Heemm.. baiklah” Tuan Azhari mengetuk - ngetuk jarinya di meja, merenung sebentar, “Pada dasarnya saya tidak keberatan kalau kamu ada kegiatan lain diluar belajar, tapi syaratnya kamu tidak boleh ketinggalan pelajaran, saya tidak mau nilai Marco sampai turun lagi hanya gara - gara kegiatan kamu” Tutur Tuan Azhari


“Baik Tuan” Sahut July menyanggupi


“Yang tahu diri, kamu di sekolahkan disana untuk membantu nilai Marco!” Timpal Nyonya Azhari


“Mama” Protes Marco


“Baik Nyonya” Sahut July


Tuan Azhari membuka - buka brosur itu lagi, matanya memicing memperhatikan pemuda yang berfoto bersama July


“Ini kan… “


“Lukas, Lukas Walton” Sahut Marco jengah


“Apa? Lukas? Apa dia jadi model juga?” Nyonya Azhari memberi isyarat agar kepala pelayan mengambilkan satu brosur yang berada di depan Tuan Azhari, dengan gupuh kepala pelayan meraih satu brosur, berjalan sedikit menuju kursi Nyonya Azhari lantas menyerahkannya


Nyonya Azhari membolak balik brosur sekolah itu dengan penasaran, matanya terbelalak melihat foto Lukas dan July dalam satu frame bersama, “Apa pantasnya seorang pelayan berfoto dengan Tuan muda seperti ini? Lama - lama sekolah itu sudah kehilangan stratanya sebagai sekolah elit!” Gumam Nyonya Azhari, setelahnya brosur itu dihempasnya begitu saja ke tengah meja makan


“Berfoto bersama bukan berarti kau punya harapan untuk mendekati Tuan muda di sekolah itu, ingat asal usulmu! Kau hanya anak pelayan yang juga jadi pelayan” Tambah Nyonya Azhari pada July


“Mama!” Protes Marco, hatinya sakit seperti di remas mendengar July dihina begitu


“Baik Nyonya” Sahut gadis itu sopan, wajahnya memang tersenyum tapi hatinya terasa ngilu


“Ma, sudahlah! July juga pasti tahu mana yang boleh dan tidak, bukan begitu July?” Tanya Tuan Azhari


“Betul, Tuan” Sahut July, sakitnya hati tertutup sempurna dengan senyumnya yang lebar, Marco mencuri - curi pandang pada pelayannya itu, menelusuri wajahnya yang tenang seperti tak terjadi apa - apa

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu, saya izinkan kamu untuk mengikuti shooting, untuk jadwal belajarmu nanti bisa di diskusikan dengan Marco, begitu juga jadwal kerjamu nanti akan diatur kepala pelayan” Tutur Tuan Azhari


“Baik Tuan, terima kasih atas kemurahan hati Tuan, Nyonya, dan Tuan muda Marco” Ucap July sopan dan tenang


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sepulang sekolah, kepala pelayan memanggil July ke ruangannya


“Atas izin Tuan Azhari besok kamu boleh ikut shooting, tapi jangan senang dulu… karena jam kerja kamu di pindah ke malam hari sepulang kamu shooting agar adil untuk yang lain” Tutur kepala pelayan


“Baik Bu, terima kasih” Sahut July bersyukur meskipun artinya esok hari tak ada waktu istirahat untuknya sama sekali


“Dan satu lagi Jul, apa yang Nyonya Azhari sampaikan tadi itu benar, jangan memanfaatkan kesempatan mendekati Tuan - Tuan muda disana, itu hanya akan membuang waktu dan konsentrasimu, kamu harus sadar apa tujuan Tuan dan Nyonya mengeluarkan uang banyak untuk menyekolahkanmu disana, jadi jangan pernah catuh cinta dengan Tuan - Tuan muda di sekolah itu, mengerti?!” Kepala pelayan menekankan ucapannya


“Saya mengerti Bu” Sahut July


“Ya sudah, sekarang kerjakan tugas sekolah Tuan Marco, jangan sampai ada yang terlewat!” Titah kepala pelayan


“Baik Bu” Ucap July, lalu pamit dan melaju ke perpustakaan


Di meja perpustakaan, July bergelut dengan tugas Tuannya yang setumpuk, mata dan otaknya fokus pada buku bahkan gadis itu tak menyadari ketika Marco masuk. Marco menarik kursi kosong di depan July, gadis itu menoleh lalu mengatur ekspresi


“Maaf saya tidak mendengar Tuan datang” Ucapnya


“Enggak apa - apa, kamu lanjutkan saja pekerjaanmu” Sahut Marco


“Baik Tuan” Sahut July, pemuda itu menopang wajah melihat wajah fokus July, entah kenapa pandangannya tertuju pada bibir July yang merekah lembab


“Dimana kamu akan shooting besok?” Tanya Marco, July mendongak


“Tidak, tidak ada” Sahut Marco, July tersenyum lalu melanjutkan pekerjaannya


Marco mendengus, “Aku tidak suka kalau bukan kamu yang menyiapkanku pagi - pagi” Keluh Marco, July kembali mendongak, tersenyum manis


“Kalau Tuan mau saya bisa membatalkan shootingnya” Tawar July tahu diri kalau ia harus memprioritaskan pekerjaannya


Marco menggeleng, “Tidak perlu, aku cuma sudah terbiasa dengan kamu, aku tidak suka kalau orang lain yang menyentuhku” Sahut Marco


“Maaf” Ucap July


“Sudah, tidak apa - apa.. yang penting besok begitu selesai shooting kamu langsung pulang” ucap Marco


“Baik Tuan, terima kasih” Sahut July, keduanya lalu hening.. July konsentrasi penuh mengerjakan tugas - tugas Marco, sedang Marco betah memandangi wajah serius July.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Selamat pagi” Sapa Lukas sumringah saat ia melihat July datang dengan sepedanya, pemuda itu terlihat sekali bucinnya, ia menunggu July sejak ia sampai di sekolah


Senyum July lebar melihat pemuda tampan itu, “Selamat pagi Kak” Sahutnya


Keduanya lalu berjalan beriringan, July menunduk malu - malu saat orang - orang memperhatikan mereka, sementara Lukas tak peduli ia sudah biasa menjadi pusat perhatian

__ADS_1


“Sudah siap untuk shooting hari ini?” Tanya Lukas, July mengangguk antusias


“Apa Kakak akan ikut?” Tanya July penuh harap kalau Lukas turut serta


“Tentu saja, bukankah kita sudah ada perjanjian?” Jawab Lukas


“Aku pikir Kakak lupa” Goda July


“Mana mungkin Kakak lupa janji sepenting itu” Sahut Lukas


Lukas mendekatkan bibirnya ke telinga July, “Apa Kakak berlu booking hotel?” bisik Lukas


Blusshhh..


Wajah July yang putih merona merah, mendengarnya saja sudah membuat July dag dig dug, “T - Terserah Kakak saja” Ucap July


Lukas tersenyum, hampir mencium kepala July kalau saja ia tak ingat sedang berada di sekolah


Shooting yang di agendakan siang maju menjadi pagi hari, July membaca cepat script yang disiapkan oleh kru dibawah bimbingan Bu Lisa, Pak Hans, dan didampingi Lukas. Meskipun hanya untuk iklan promo di televisi tapi kepala sekolah berpesan agar dilaksanakan dengan serius, mengingat sekolah itu mewakili image orang - orang kaya


Tak main - main sih persiapannya, make up artistnya saja langganan artis, sutradaranya juga sudah kawakan


Saat mulai shooting meskipun gugup di awal tapi gadis itu pintar mengikuti arahan sutradara, berakting layaknya artis gaek, luwes berimprovisasi memperkenalkan satu persatu fasilitas sekolah itu di depan kamera


“Bu Lisa yakin kalau Ibunya July hanya seorang pelayan? Kalau melihat bakat dan wajahnya sih saya menduga Ibu atau Ayahnya yang mewariskan gen artis” Bisik Pak Hans pada Bu Lisa


“Yang saya baca di biodatanya sih seperti itu Pak, tapi entahlah.. “ Sahut Bu Lisa, Lukas yang berdiri di samping Pak Hans mencuri dengar, apa yang dikatakan Pak Hans tadi? July adalah anak seorang pelayan?


Lukas baru sadar kalau selama ini ia tak pernah bertanya tentang orang tua July dan bagaimana ia bisa berakhir di rumah Marco sebagai pelayan


** Shooting July berjalan lancar, gadis itu tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan semua adegan, sore hari shooting sudah selesai, hasilnya memuaskan untuk Bu Lisa dan Pak Hans, July pun dicap berbakat oleh sutradara, bahkan sutradara itu menawarkan peran kecil, tapi mengingat jadwal kerjanya yang padat di rumah Marco, July menolak.. menunda keinginannya.


Karena jam sekolah sudah selesai, July dan Lukas diperbolehkan langsung pulang oleh Bu Lisa. Melihat sekolah sudah sepi, sejoli itu memberanikan diri bergandengan tangan menyusuri koridor hendak menuju gerbang sekolah


“Masih ada waktu sebelum jam kerjaku nanti malam Kak, apa Kakak sudah pesan hotelnya?” Tanya July malu - malu, sampai menggigit bibir bawahnya


Lukas menggeleng, “Belum, Kakak mau nanya kamu dulu maunya hotel seperti apa?” Sahut Lukas


“Yang biasa saja sih Kak, cuma buat sebentar kan?” Tutur July


Pemuda di sampingnya melepas gandengan ganti menangkup pipi July dengan kedua tangannya, “Ini momen spesial sayang, Kakak enggak mau hotel yang biasa - biasa saja”


July merengut, “Masalahnya aku belum pernah tidur di hotel Kak, jadi aku tidak tahu hotel seperti apa yang bagus” Keluh July


Lukas tersenyum, “Ya sudah, aku saja yang pilih ya.. aku jamin kamu bakalan suka” Ucap Lukas pengertian, pemuda itu lalu merogoh saku mengambil ponselnya


Keduanya lalu berjalan beriringan lagi, sebelah tangan Lukas menggandeng July, sedang satu tangannya sibuk mengscroll ponsel


“Tapi Kak, kita pakai seragam.. apa tidak masalah?” Tanya July seketika saat sadar kalau mereka masih memakai baju seragam SMA


“Gampang, gimana kita kalau kita ke mall dulu? Nanti Kakak sekalian pesan hotel yang nyatu sama mall, hotelnya lumayan bagus kok” Sahut Lukas

__ADS_1


“Oke Kak” July menerbitkan senyumnya, meskipun hatinya berdebar tak karuan.


(Apakah rencana mereka untuk tidur bersama terlaksana? Bersambung ke episode selanjutnya ya…. 🥰)


__ADS_2