History Of Love Princess Yueyin

History Of Love Princess Yueyin
Episode 16


__ADS_3

Author: Sebelumnya saya minta maaf atas penggantian judul cerita ini di karenakan mungkin tidak sesuai dengan alurnya kkk, lebih cocok memakai kata 'putri' karena cerita awalnya yueyin bukanlah seorang permaisuri, okay happy reading readers tersayang ❤️


Angin berhembus kencang menerpa wajah ku, duduk di depan pintu seorang diri tak mampu bergerak kemana pun. Tidak ada tempat untuk mengadu, tidak ada tempat untuk bercerita. Ternyata benar kata orang, jika kau tidak ingin mendapatkan cobaan hidup, lebih baik mati saja. Mahluk hidup pasti akan mendapatkan cobaan, sekecil dan sebesar apapun itu. Dan aku sekarang sedang berjuang mati-matian untuk bertahan hidup tanpa mata.


Hari pertama tidak bisa melihat, sangat sulit untuk ku. Meraba semua yang ada di hadapan demi berjalan, Linshi tak kunjung pulang sedangkan mianju ku tunggu tak pernah datang.


Kepala tersandar di ujung pintu, air mata ku mengalir. Dimana aku bisa mendapatkan bantuan? Kemana aku minta pertolongan? Rumah-rumah warga berjauhan, apakah aku bisa kesana tanpa pengelihatan?


"Meow." Terdengar suara kucing.


Aku tersenyum, hanya anchi satu-satunya yang bertahan di sisi ku. Menemani siang hingga malam dan tertidur.


"Nona meiyi." Panggilan dari seseorang.


Aku mendongakkan kepala, berusaha bangkit dengan meraba sekitar. Itu suara mianju, mungkin kah dia datang untuk menolong ku?


Berjalan ke depan tak sengaja memegang dadanya, mianju menarik tangan ku lalu membawa kesebuah tempat. Berada di depan kolam air yang mengalir, dia berbicara sesuatu tentang obat untuk mata ku. Aku mendengarnya sambil mengangguk tanpa menatap matanya.


"Aku menemukan penawarannya, siluman tua bilang bunga yuanwei bisa menyembuhkan mata mu secara perlahan. Tapi tumbuhan ini sangat sulit di temukan, kemudian siluman tua berkata bahwa kamu bisa menciptakannya." Jelas Mianju.


"Bagaimana mungkin aku bisa menciptakannya? Sedangkan aku tidak tahu bagaimana rupa bunga dari itu." Balas ku.


Mianju memegang tangan ku, dia bicara dengan nada yang lembut dan ramah. Percaya bahwa aku bisa menciptakan bunga itu tanpa melihat, melalui penjelasan dari mianju dan menciptakannya lewat dari pikiran ku.


"Nona meiyi anda pasti bisa, saya akan membantu anda menjelaskan secara detailnya." Kata mianju.


"Kamu yakin ini akan berhasil?" Tanya ku.


"Tentu saja nona, asalkan nona membayangkan dengan serius kita pasti berhasil." Jawabnya.


Aku tersenyum kemudian mengangguk. Terdengar suara lembaran buku terbuka lalu aroma kertas lama yang menyengat di hidung. Mianju mulai membacakan detail dari bunga tersebut.


"Kelopak tipis berwarna kuning lancip, daun yang kasar. Rupanya sama seperti bunga matahari. Tapi putiknya berwarna hijau keunguan. Besar hingga lima sentimeter. Beraroma mint dan sedikit menyengat, ada serbuk halus di batangnya." Jelas mianju.

__ADS_1


Aku menjatuhkan benang merah ke air kolam, lalu mulai membayangkan rupa bunga yuanwei seperti apa yang di katakan mianju. Tidak tahu apa yang terjadi tapi aku mendengar pujian dari mianju.


"Apakah berhasil?" Tanya ku.


"Berhasil nona, bahkan kolam ini hampir di penuhi bunga yuanwei. Yuanwei hanya mekar di pukul 4 pagi, untuk mencabutnya harus menunggu waktu itu." Jawab mianju.


"Itu artinya pengobatan ku di tunda?" Aku merasa sedikit kecewa, awalnya ku pikir bunga itu bisa langsung di pakai untuk pengobatan.


"Untungnya saya punya satu tangkai bunga yuanwei. Kita bisa melakukan pengobatan sekarang, besok pagi saya akan membantu nona memetik bunga ini." Kata mianju.


Mianju menarik tangan ku, dia bertanya dimana letak wadah penampung air dan mangkuk kecil. Tak lupa ternyata dia sudah menyediakan kain kasa pembalut mata. Aku mengetahui itu saat tidak sengaja meraba meja dan menyentuh gulungnya.


Mianju menyiapkan semua alat untuk pengobatan, aku mendengar dia membuka lembaran buku lagi. Lalu mengambil mangkuk kecil dan di letakan di atas meja. Sembari menunggu mianju menyiapkan, aku hanya bisa duduk di atas kasur.


*Author pov


Mianju membaca bukunya, dia merasakan sakit di kepalanya sebentar. Ia pun meletakan buku itu dan membawa mangkuk kecil lalu di menyimpan di atas meja. Matanya tertuju bunga yuanwei, tangan kanannya mengambil pisau berukuran sedang dari sakunya.


Mianju membuka jemarinya, memperlihatkan telapak tangannya yang lebar juga jemarinya yang panjang. Menutup mata dan memberanikan diri untuk mengiris telapak tangannya. Kenapa itu di lakukan? Untuk melakukan pengobatan, bunga yuanwei harus di aktifkan, dan caranya adalah memberikan tetesan darah kepada bunga yuanwei.


"Mianju ada apa?" Tanya Yueyin.


"Tidak ada apa-apa nona meiyi." Jawab mianju.


Minaju menghancurkan bunga itu dengan tangan kanannya, lalu menaburkan kelopak yang telah hancur di atas air. Dia mencampurkan semuanya, mengaduk perlahan menggunakan pengaduk. Setelah itu dia menuangkan air campuran bunga yuanwei ke dalam mangkuk kecil, yang kemudian ia masukan sisa kain kasa dan membiarkannya terendam.


Perlahan kain kasa berwarna putih bersih berubah menjadi warna ungu muda. Ia pun mengambil kain kasa yang basah kemudian meremas hingga airnya terkuras setengah lalu menempelkannya di mata yueyin.


Mianju mengikat ujung kain agar tidak terjatuh, ia pun merapikan sisi-sisi yang terkeluar dari garis lipatan kain dan mengelap tetesan air yang membasahi pipinya.


"Nona anda bisa tidur di atas kasur agar tetesan airnya memasuki mata anda, jika terasa pedih itu efek dari obatnya, tidak apa-apa mata nona meiyi pasti akan sembuh perlahan." Jelas mianju.


"Terima kasih mianju." Ucap Yueyin berterima kasih karena sudah di tolong.

__ADS_1


Jika tidak ada mianju, Yueyin mungkin tidak bisa bertahan hidup disini. Di saat sulit untungnya laki-laki itu mau hadir dan membantu ia tanpa imbalan.


"Nona meiyi apa anda sudah sarapan?" Tanya mianju.


"Belum." Jawab Yueyin sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Kalau begitu saya pergi dulu untuk membelikan anda sarapan." Ucap mianju.


Baru saja berdiri dan hendak melangkah keluar dari kamar, kepala feibao muncul dari jendela dan tersenyum sambil menatap pangeran wenhua.


"Pangeran." Panggilannya dengan suara yang kecil agar Yueyin tidak terdengar.


Mianju melotot, dia berlari keluar dan menyeret feibao dari rumah yueyin. Pelayannya ini tidak bisa sehari saja membiarkan tuannya berjalan sendirian, selalu saja menguntit seperti mata-mata.


"Kenapa kamu kesini?" Tanya pangeran wenhua lalu membuka topengnya.


"Tentu saja untuk melihat kucing ku." Jawab Feibao.


Pangeran wenhua mendengus, ia menarik rambut belakang feibao lalu memaksa ia pergi dari tempat itu. Tiba-tiba saja terdengar suara manusia yang memanggil Feibao dengan sebutan tuan, mereka semua terkejut melihat sosok itu.


Mulut ternganga ketika melihat kucing hitam berubah menjadi wujud anak manusia dengan kuping hitam yang menempel di balik rambutnya. Senyumnya terlihat sangat imut membuat feibao gemas sendiri.


"Tuan feibao?" Panggil anchi.


"Anchi!! Akhirnya kamu kembali seperti wujud semula." Senang feibao lalu memeluknya kegirangan.


Tampang terlihat tegas serta rahang tajam berkesan kejam. Pandai bertarung tetapi luluh pada sosok siluman mungil yang ia temukan saat berumur lima belas tahun.


"Feibao, jangan menimbulkan suara yang besar." Kata pangeran wenhua.


Anchi melihat sosok pangeran ketiga dari kerajaan timur bernama wenhua, sosok laki-laki berambut hitam pekat dan tinggi menjulang bagaikan patung lilin tinggi. Mata yang tajam berwarna biru keabu-abuan. Hidung yang lancip terlihat sempurna serta bibir merah muda menggoda.


"Anchi memberi hormat kepada pangeran wenhua." Katanya sambil membungkuk sapa.

__ADS_1



__ADS_2