
"Hari ini sudah di tetapkan, kau pergilah ke istana barat untuk menjemput calon istri mu." Ucap kaisar timur.
"Tunggu ayah! Biarkan saya menemani Gege Jiyang dalam perjalanannya." Kata pangeran ke tujuh bernama Linyi.
"Linyi! Kamu tidak boleh!" Bantah selir Lin ibu dari pangeran ke tujuh.
Awalnya kaisar sedikit kagum dengan keberanian putranya. Tapi saat selir Lin melarang dia hanya bisa diam dan menatap pangeran kedua yang sudah bersiap di depan kereta.
"Linyi Didi, kau tak perlu khawatir tentang ku." Senyum pangeran Jiyang sedikit pilu karena keadaan yang sedang di tanggung nya sekarang.
Dia sudah sakit-sakitan tapi kaisar menyuruhnya untuk menikah dengan putri kerajaan barat agar bisa terurus. Linyi terlihat khawatir pada kakak laki-laki beda ibu satu ayah itu.
"Biarkan saja Linyi ikut, saudari Lin kamu terlalu memanjakan putra mu." Kata Permaisuri.
Selir Lin melirik permaisuri dengan tatapan kesal, dia tahu jelas maksud dari permaisuri untuk membiarkan putranya pergi agar ia mudah menjatuhkan beberapa posisi pangeran di istana timur.
"Ibu, aku sudah bisa menjaga diri sendiri. Ibu tenang saja." Kata pangeran Linyi.
"Tapi Linyi…" ibunya khawatir lalu membelai wajah putranya.
"Ibu aku pasti bisa, ini juga kesempatan untuk memperbaiki nama keluarga kita." Bisik Linyi.
Selir Lin menjatuhkan air matanya, dia memeluk anak semata wayangnya lalu membiarkan ia bergabung bersama pangeran kedua. Di saat mereka hendak pergi, perempuan berambut abu-abu dengan tahi lalat di bawah mata seperti yueyin berlari ke arah pangeran kedua lalu memeluknya erat.
"Jiyang gege!" Teriaknya lalu memeluk pangeran jiyang.
"Zhao Meimei, kenapa kamu keluar dari kediaman?" Tanya pangeran jiyang.
"Hiks..kamu harus berjanji padaku, kembalilah dengan selamat." Ucap Putri ke lima kerajaan timur bernama Zhao adik kandung dari pangeran jiyang.
__ADS_1
Pangeran jiyang tersenyum, dia mencium puncak kepala adiknya untuk terakhir kali. Lalu menaiki kereta kuda, sedang pangeran Linyi menunggangi kuda bersama beberapa prajurit lainnya. Putri Zhao melihat kepergian kakak laki-lakinya kemudian menatap sinis permaisuri, senyuman sebagai balasan untuk putri Zhao dari permaisuri. Dia pergi meninggalkan permaisuri tanpa memberi hormat, kaisar terlihat marah lalu memanggil putrinya itu.
"Nu'er!" Panggil kaisar.
"Iya ayahanda." Kata putri Zhao memberi hormat.
"Berlutut di hadapan permaisuri sekarang." Perintah kaisar.
"Tapi ayah?!"
"Sekarang!"
Putri Zhao menahan emosinya, dalam hati mengumpat berkali-kali tidak terima ayahnya menyuruh ia bersujud kepada seorang permaisuri jal*ng menurutnya.
Permaisuri menyuruh putri Zhao berdiri lalu berkata bahwa ia tak perlu melakukan sampai seperti itu. Dia bersikap baik dan lembut di hadapan yang mulia kaisar, agar mendapatkan perhatian dan terkesan baik.
Putri Zhao pergi dan mereka semua bubar kembali ke kediaman masing-masing. Di perjalanan menuju kediaman kaisar, permaisuri menggandeng lengan kaisar sambil bermanja padanya.
"Istri ku, kamu tidak perlu bicara seperti itu. Aku tidak membutuhkan anak dari mu, yang ku butuhkan hanya cinta dan kesetiaan." Balas kaisar.
Permaisuri tersenyum dan berterima kasih kepada kaisar, bahwa dia mau menerima dirinya apa adanya. Bahkan tidak memiliki keturunan sekali pun, permaisuri hanya bisa berharap kepada pangeran Wenhua, jika posisi kaisar sudah tergantikan dia berharap pangeran wenhua yang mengambil alih agar dirinya tetap bisa berkuasa, untuk itu dia mengumpulkan banyak cara menjatuhkan pangeran kesayangan kaisar dan putra mahkota.
Di perjalanan menuju istana barat, ada sekelompok pembunuh bayaran dengan kekuatan yang stabil menyerang mereka. Saat itu kondisi pangeran jiyang sangat lemah, dia tidak bisa bertarung dan meninggal akibat luka tusukan di jantung. Jumlah mereka juga kalah banyak, akhirnya pangeran Linyi memerintahkan sisa prajurit untuk melapor pada kaisar atas kejadian yang telah terjadi. Dan ia tetap melanjutkan perjalanan dengan kudanya meskipun terluka.
"Katakan pada kaisar bahwa kita telah di serang, dan aku akan menggantikan posisi pangeran jiyang." Ucap pangeran Linyi.
"Baik pangeran."
Sementara itu di sisi lain, seseorang melapor pada Permaisuri bahwa mereka telah berhasil membunuh pangeran jiyang tetapi tidak dengan pangeran Linyi.
__ADS_1
"Bagaimana bisa menyisakan satu semut?! Aku tidak mau tahu dia harus mati sebelum kembali ke kerajaan timur!" Marah permaisuri.
"Baik permaisuri!" Dia pergi melakukan perintah dari permaisuri istana timur.
Pangeran Linyi menunggangi kuda dengan cepat, berusaha kabur dari pengejaran pembunuh bayaran yang di perintahkan permaisuri timur. Kemana arahnya pergi tidak di ketahui, hingga ia sudah tiba di perbatasan dan memasuki kerajaan barat. Di tempat yang sepi itu kudanya mulai kelelahan, mencari air tidak ada di gurun pasir. Akhirnya mereka terjatuh tak sadarkan diri.
Disisi lain yueyin sedang duduk termenung melihat seorang lelaki berkuda jalan ke arahnya. Ia pun terheran sekaligus terkejut saat melihat kuda dan penunggangnya terjatuh. Sontak yueyin menghampiri mereka dan mengecek nafas laki-laki itu dengan jarinya.
"Hei.. bangun!" Yueyin mengguncang tubuhnya.
Sepertinya hal itu percuma, laki-laki itu sudah kelelahan hingga mengakibatkan dirinya pingsan. Yueyin teringat dia membawa satu botol air saat ke sini. Dia membuka tutup botolnya lalu melirik kuda dan laki-laki itu secara bergantian.
"Maaf, tapi kuda ini lebih terlihat kasihan dari pada kamu." Kekeh yueyin lalu memberikan air minum kepada kuda.
Kuda itu mengeluarkan suara, entah mungkin dia ingin mengucapkan terima kasih karena telah di bantu. Mendapatkan minum kuda itu kembali bangkit dan berdiri. Yueyin terlihat senang ia pun mengusap kepala kuda itu dan memberikannya air lagi.
Di saat itu, tiba-tiba saja pangeran Linyi terbangun dan melihat perempuan membelakangi dirinya yang sedang memberi air kepada si kuda. Bukannya berterima kasih pangeran Linyi menarik yueyin dan menahannya di atas pasir karena merasa terancam.
"Siapa kamu!?" Tanya pangeran linyi.
Yueyin membuka matanya lebar, mendapati seorang laki-laki menahan tubuhnya di atas pasir. Tambah lagi wajah mereka terbilang dekat karena posisi pangeran Linyi berada di atas tubuh yueyin.
"Apa-apaan ini! Aku menolong mu!" Kata yueyin mencoba menyelamatkan dirinya.
Pangeran Linyi tak percaya, dia tetap menahan yueyin di atas pasir. Ketika ingin menyelamatkan dirinya dengan gelang ajaib, yueyin sangat kesal ternyata gelang itu tidak berfungsi. Mungkin karena tahu kalau pangeran Linyi bukan ancaman besar.
Ia tidak mendapatkan banyak tenaga dan kelelahan, akhirnya pangeran Linyi terjatuh dengan posisi tubuh yang sama dan menindih tubuh yueyin. Bukan itu yang yueyin khawatir kan, melainkan ketika bibir mereka saling menyentuh dan membuat jantung yueyin berdebar kencang.
"Hoekkkk!!!" Yueyin rasanya ingin muntah saat mengingat kejadian itu.
__ADS_1
Dia pun membawa pangeran Linyi bersama kudanya, setelah sampai di suatu tempat yang jauh dari gurun pasir ia melihat ada hutan yang cukup lembab. Disana lebih baik karena tidak terlalu panas, ia pun mengikat tubuh pangeran Linyi agar tidak memberontak.