
Pangeran Linyi membuka matanya perlahan meski pandangan awal sedikit buram, dia melihat bayangan perempuan berdiri di hadapannya sambil memegang botol air. Dia menyadari bahwa tubuhnya telah di ikat rekat pada batang pohon menggunakan tali, pangeran Linyi pun menatap yueyin kesal.
"Lepaskan aku!" Marahnya.
"Aku tidak mau! Dasar tidak tahu terima kasih." Kesal yueyin.
"Kamu seorang penjahat aku tidak punya apapun untuk di berikan." Kata pangeran Linyi.
"Memangnya wajah ku seperti penjahat?! Dasar keterlaluan!" Dengus yueyin.
Yueyin minum di hadapan pangeran Linyi, tegukan lehernya membuat pangeran Linyi kehausan dan harus menahan rasa itu. Dia sangat kelelahan dan membutuhkan air untuk mengisi sedikit tenaga. Tapi sepertinya Yueyin sengaja melakukan itu untuk pamer di hadapan pangeran Linyi.
"Hehe kau ingin?" Tanya yueyin.
Pangeran Linyi hanya diam, karena seperti itu yueyin semakin menjadi. Menambah suara desah segar setelah meminum air, lalu tersenyum senang dan menumpahkan air di tanah kesan membuang-buang air supaya pangeran Linyi kesal.
"Kenapa kamu membuang airnya di tanah?!" Tanya pangeran Linyi dengan ekspresi jengkel.
"Kenapa? Ini air ku." Jawab yueyin.
Pangeran Linyi membuang wajahnya setelah mengerutkan dahi, perempuan di hadapannya ini sangat menjengkelkan bagaimana caranya bisa kabur dari sini sedang tali mengikatnya dengan erat.
"Huaaa...segarnyaaaa." senang yueyin.
Yueyin menepuk pantat kuda lalu di sahuti dengan suara teriakan kuda nyaring. Ia tertawa kemudian meminta maaf, pangeran Linyi berada di batas kesabarannya ia pun meneriaki Yueyin.
"TOLONG LEPAS—"
"Shttt! Aku pinjam kuda mu sebentar ya untuk pulang, selamat tidur." Kata yueyin sambil tersenyum manis kemudian menunggangi kuda dan pergi begitu saja.
"T-tunggu!! Hei!" Teriak pangeran Linyi.
Pangeran Linyi menghentakan kakinya, dia terlihat marah. Seumur hidup belum pernah di rendahkan seorang perempuan, dia berjanji jika bertemu lagi akan membalaskan prilaku yueyin terhadapnya.
__ADS_1
Di saat kesal pangeran Linyi melihat pedangnya berada tidak jauh dari kaki, bersyukur bahwa yueyin meletakkan pedang itu tak jauh dari tubuh pangeran Linyi, dari sanalah pangeran menarik pedang menggunakan kakinya kemudian melepaskan tali dengan pedang yang berada di mulutnya.
Meski sulit tapi pangeran Linyi bisa melakukan itu, dia menarik pedang itu menggunakan kaki, kemudian meletakannya di atas paha dan mengambilnya menggunakan mulut lalu memutuskan satu persatu tali yang mengikat tubuhnya.
Pedang itu sangat berat di saat tiga tali terakhir pedang terjatuh lagi, pangeran Linyi sangat kesal lalu mencoba memutuskan tali menggunakan sisa kekuatannya.
Ctas!
Tali pun putus dan pangeran Linyi berhasil bebas, dia tersenyum lalu mengambil tumpukan lumpur untuk di jadikan tinta di atas kain berwarna putih. Disana pangeran Linyi menulis kalimat 'Jika bertemu lagi aku akan membalas perbuatan mu' tulisnya lalu menggantung di atas ranting-ranting yang masih tersangkut di pohon.
Pangeran Linyi pun pergi membawa pedangnya, ia membiarkan kudanya di bawa oleh yueyin. Saat ini dia harus menuju istana barat untuk menghadap kaisar barat dan melakukan tugasnya untuk melamar putri kerajaan barat.
Sore hari itu, pangeran Linyi menggunakan uangnya untuk mencari pedagang kaki lima yang menjual makanan, saat dia sedang makan tak sengaja melihat kudanya di ikat di salah satu tiang kayu.
"Sepertinya kita akan bertemu lagi." Gumam pangeran Linyi sambil tersenyum tipis.
*Yueyin pov
"Bagaimana ini.." aku menggigit ujung kuku karena gugup.
"Akhirnya aku menemukan mu." Pangeran Linyi melepaskan cadar milik yueyin sontak semua orang melihat ke arahnya.
"Bukankah itu putri Yueyin?!" Orang-orang sekitar heboh.
"Benar itu dia!" Lanjut mereka.
Jantung ku berdebar kencang, sialan laki-laki ini membuat ku terlihat oleh mereka. Tanpa menunggu lama aku berlari meninggalkan kawasan itu, lalu menunggangi kuda sendiri dengan cepat. Na'asnya si laki-laki itu melompat ke atas kuda ku sehingga kami menunggangi bersama-sama, dasar pengacau!
Prajurit mendengar suara dari orang-orang mereka langsung mengejar kami berdua, aku mengatur jalan kuda ke arah hutan lalu melompat dan meninggalkan laki-laki itu di atas kuda.
Bugh!
"Hei bodoh kenapa kau melompat?" Tanya laki-laki itu.
__ADS_1
"Kau yang bodoh! Dasar pembawa sial!" jawab ku dengan teriakan lalu berlari meninggalkan si laki-laki itu.
Saat aku hendak kabur, ada lima prajurit yang mengepung kami. Aku menelan saliva dengan susah payah menghitung jumlah mereka, bagaimana ini. Tak mungkin aku mengeluarkan kekuatan gelang ajaib tuk melawan mereka semua, ibu suri pasti akan curiga pada ku.
"Putri Yueyin segeralah pulang bersama kami." Kata prajurit.
"Tidak!" Jawab ku dan langsung mengeluarkan pedang yang di berikan Linshi.
Aku bertarung tanpa ujung bersama semua prajurit itu, laki-laki pemilik kuda tercengang melihat ku. Bahkan sekarang dia tidak ada niat untuk membantu ku, apakah ini namanya pembalasan dendam?
*Clank! *Suara pedang*.
Ketika pedang itu hendak memotong ujung rambut ku, laki-laki pemilik kuda menghantam pedang prajurit dengan pedang miliknya. Bahu kami bersenggolan kemudian ia tersenyum lepas sambil membisikkan sesuatu pada ku.
"Cara mu sangat payah, lihat aku bagaimana cara menggunakan pedang dengan baik." Bisiknya.
Aku tidak menyukai dia! Tapi kenapa ketika merasakan hembusan nafasnya di telinga ku, wajah jadi memerah. Dia melindungi ku dari serangan prajurit, membelakangi aku lalu pandangannya menyapu setiap prajurit entah apa maksudnya itu.
Dia memejamkan matanya, saat membuka mata warnanya berubah menjadi garis putih yang bertanda dia memiliki ilmu feng atau angin. Aku tertegun melihat kecepatan laki-laki itu dalam menggunakan pedang, seperti angin melesat perdetik menghabisi puluhan prajurit yang mengejar ku.
Rambutnya tertiup angin, tidak membutuhkan waktu lama untuk membuat semua prajurit tergeletak di tanah. Ku lihat jelas saat itu, ada darah yang menempel di tulang pipinya, matanya terlihat sangat tajam serta ada lingkaran garis putih di matanya. Siapakah dia sebenarnya?
"Apakah itu cukup untuk membuat mu kagum?" Tanya laki-laki itu.
"Siapa kamu?" Tanya ku.
"Aku si bodoh, sesuai apa yang kamu katakan." Jawabnya.
Dia membalikkan perkataan ku, aku jadi tidak enak telah menahannya dan mencuri kudanya. Sontak aku berlutut dan meminta maaf.
"Maafkan aku tuan, aku tidak bermaksud untuk melakukan kejahatan pada mu." Kata ku.
Sejujurnya sangat takjub padanya, dia memiliki ilmu seni beladiri yang sangat tinggi jauh dari ku. Badannya seukuran dengan mianju, hanya wajah yang membedakan mereka. Tapi kalau soal kekuatan, aku belum pernah melihat mianju bertarung sepertinya laki-laki ini lebih kuat dari dia.
__ADS_1