History Of Love Princess Yueyin

History Of Love Princess Yueyin
Episode 56


__ADS_3

*Di pagi hari


Suara burung berkicauan, warna kuning menggemaskan seperti bola bulu dia terbang kemudian hinggap di jendela. Tidak tahu jenis burung apa, yang jelas dia sangat lucu ada lingkaran kecil di kedua pipinya.


Suaranya membangunkan yueyin, ia pun meregangkan tubuhnya dan mengeluarkan suara seperti dengkuran. Setelah bangun melihat burung kuning berada di atas kepalanya.


Ciprat! *Na'asnya tahi burung itu terjatuh tepat di wajah yueyin.


"Zizi!!! Tolong aku!!" Teriak yueyin panik saat merasa sensasi hangat serta bau di wajahnya.


"Ada apa putri—" mulutnya terbungkam sendiri melihat wajah putri yueyin terdapat kotoran burung, ingin tertawa rasanya kurang sopan.


Zizi membantu putri yueyin membersihkan wajahnya. Dengan perasaan kesal dia mempunyai suasana hati yang buruk, bangun di pagi hari sudah di sapa hangat dengan kotoran burung.


*Yueyin pov.


Mata ku terbuka perlahan, perintilan air terjatuh dari wajah. Kain lembut membasuh muka sambil mengosongkan pikiran, ada perasaan bingung hampa saat kau bangun di pagi hari. Menatap matahari yang tertutupi awan biru muda bercampur putih. Aku berjalan melintasi jembatan yang menuju lapangan besar istana. Disana ku lihat seseorang sedang melatih pasukan kerajaan.


Karena bingung aku memperhatikannya dari kejauhan, tidak di sangka itu mengundang ke datangan seorang laki-laki memakai pakaian lengkap perang.


"Putri Yueyin, anda sudah pulih?" Tanya nya dengan senyuman yang teramat manis.


"Apa?" Aku menggaruk tenguk merasa bingung mendengar pertanyaan, sejak kapan kami bertemu?


"Ah anu, putri yueyin ini Tuan Tianyu putra pertama dari keluarga Gu. Tadi malam dia yang mengantar mu pulang." Jelas Zizi.


Aku menepok jidat, malam itu aku pingsan dan laki-laki ini yang mengantar pulang. Baiklah sebagai putri yang baik aku harus berterimakasih banyak atas pertolongannya.


"Maafkan saya tuan Yu, melupakan salah satu anggota keluarga kerajaan merupakan hal yang tidak bisa di toleransi." Ucap ku sambil membungkuk.


"Tidak, bangkitlah. Aku sudah mendengar bahwa kau mengalami kecelakaan yang membuat ingatan mu hilang, tak masalah lagi pula kita sebelumnya tidak terlalu dekat." Tianyu menarik lengan ku agar memperbaiki posisi seperti semua.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, sebagai rasa terima kasih ku aku akan memberikan kamu sesuatu." Senyum ku.


"Apa itu?" Tanyanya dengan penasaran dia terlihat ramah.


Membelakangi satu tangan ku, lalu menggerakkan pergelangan tangan ke dalam dengan bentuk lentikan. Muncul lah bunga aster yang ku ciptakan.


"Ambilah, bunga ini tidak akan mati di musim apapun. Namanya melambangkan diri ku." Aku memberikan sebatang bunga aster pada tuan Tianyu.


Dia tertawa kecil, kata terima kasih terucap di mulutnya kemudian aku melambaikan tangan dengan maksud perpisahan kami. Mungkin ini menjadi pertemuan pertama dan terakhir, karena aku belum tentu bisa kembali lagi ke daerah ini.


Bendera daerah barat berkibar, mata ku sedikit pedih mungkin karena sedih meninggalkan tempat dimana aku di besarkan. Yah walaupun sebenarnya bukan diri asli ku, tapi berada di tubuh ini rasanya seperti diriku sendiri.


Linshi menanyakan apa aku tidak berpamitan dulu dengan kaisar Yuwen, kurasa tidak perlu karena kehadiran ku akan membuatnya semakin kesal. Yang terpenting aku sudah mengirimkan surat beserta robekan kertas buku berisi pengertian racun mandul, entah dia percaya atau tidak. Yang penting aku harus mencari penawar dari racun tersebut.


Kami berangkat, Lan dong ku sembunyikan di kerangkeng sedang. Dia sudah seperti seorang tersangka yang akan di arak-arakan massal, bedanya ku sembunyikan dia di dalam kereta sehingga tidak ada mata-mata dari permaisuri Enxi yang melihat ini. Aku harus mencari banyak bukti untuk membuka kedok busuk dari permaisuri itu.


Gradak gruduk! Hiyaaa! *Suara langkah kuda dan teriakan kuda.


"Jangan perduli kan, aku akan menjaga kalian sampai di perbatasan." Senyumnya.


Dia sangat baik, aku mengangguk kemudian menutup jendelanya. Tidak di sangka bahwa ada orang seperti ini di daerah barat, ku pikir hanya kaisar beserta yang lain memiliki rasa perduli pada ku. Tanpa sadar putri yueyin ini tidak tahu kalau ada banyak orang berhati baik, tetapi dia terus bersembunyi karena takut.


Tibalah di perbatasan, panglima Tianyu menghentikan kudanya. Kami berpisah sampai disana, anggaplah bahwa semua pertemuan ini impas dan tak merugikan satu sama lain.


*Istana timur


"Aish bisa tidak lebih cepat buka krangkeng nya? Aku tidak akan kabur." Rengek Lan dong.


"Lan dong, ingat jangan pernah kau melakukan hal ceroboh sekali pun! Dan ingat janji mu pada ku." Aku mengancam lan dong agar tidak berniat mengkhianati ku.


"Jika sudah berjanji maka akan ku tepati." Katanya.

__ADS_1


Baiklah begini sudah sedikit tenang, ada bayangan seseorang di kepala ku sudah dua hari kami tak jumpa bagaikan dua tahun tak bertemu. Bagaimana kabarnya? Ingin sekali ku temui dia langsung, tetapi sebelum itu aku akan membuatkan bakmie kesukaan dia.


"Putri anda yakin bisa memasak sendiri?" Tanya Zizi dengan raut wajah tak yakin bahwa aku bisa membuat bakmie.


"Tidak ada salahnya mencoba, jangan meremehkan aku Zizi." Sambil membaca buku resep kuno dan memasukan bahan satu persatu.


Setelah jadi dengan hasil yang sedikit acak-acakan, ku persilahkan Linshi untuk menjadi penguji rasa bakmie yang baru saja selesai di buat. Asap panas mengepul di depan wajahnya, dia menelan ludah dengan susah payah entah merasa tak sabaran atau merasa jijik.


Tak sabaran melihat sendok masuk ke dalam mulutnya, bibir ku bergerak seolah aku yang memakannya. Haa—hoek.


"Ini asin." Kata linshi singkat sambil menyimpan sendok di atas bakmie.


Dua kata dalam satu kalimat, menusuk kedua ginjal eh maksudku hati. Memasang raut wajah sedih sambil menggigit bibir dengan mata yang berkaca-kaca, linshi menghela nafas kasar kemudian menarik tangan ku untuk membuat ulang bakmie yang enak.


"Berapa banyak garam yang kau gunakan?" Tanya linshi.


"Tujuh sendok." Jawab ku polos.


Dia menepok jidatnya, mengambil buku resep lalu membacanya. Ujung jari telunjuk linshi menunjukkan tulisan 'hasil resep dua mangkuk' yang berarti resep itu hanya cukup untuk dua porsi. Sedangkan garam yang ku gunakan bisa untuk sepuluh porsi lebih, aku tercengir seperti kuda merasa malu.


"Dan lagi, kau menggunakan sendok makan sebesar ini. Seharusnya menggunakan sendok teh sekecil ini." Linshi menunjukkan perbedaannya.


Aku mengangguk mendengarkan guru masak Linshi mengajari murid yang tidak bisa masak ini, yah aku kan putri sudah seharusnya para bawahan tunduk dan memberikan makanan enak. Hehe, membalikan wajah ke belakang kemudian memasang wajah lucu untuk meledek diri sendiri.


"Yueyin kau dengar tidak?" Panggil linshi.


"Iya iya dengar!" Sahut ku.


Linshi meneruskan penjelasannya sambil memasak, dia bilang jangan biarkan air bakmie tergabung di dalam mienya saat pertama kali di masak. Karena bisa membuat mie bengkak dan terlalu lembut hingga mual ketika di makan. Baiklah akan ku catat itu di otak.


"Selesai." Linshi membawa dua mangkuk bakmie ke atas meja.

__ADS_1


__ADS_2