History Of Love Princess Yueyin

History Of Love Princess Yueyin
Episode 70


__ADS_3

"Zi, air apa yang di berikan kaisar?" Tanya ku sembari memperhatikan botol dari pelayan Yifan.


"Saya tidak tahu Permaisuri, tapi yang jelas pelayan itu bilang anda harus meminumnya." Jawab Zizi.


"Tolong ambilkan aku jarum perak." Kenapa dia tiba-tiba memberikan air untuk di minum, apakah ada niat terselubung darinya? Yifan tak pernah berbuat seperti ini.


Jarum perak akupuntur sudah ada di tangan ku, ku sentuh air itu di ujung jarum kemudian meletakannya di sebuah benang berwarna merah. Sedikit saja sampel untuk menumbuhkan tumbuhan dari benang merah.


Merendamnya di dalam air kemudian muncul bunga yang tidak ku ketahu namanya, setelah membaca buku aku mengetahui bahwa bunga itu bernama liuchan untuk menggugurkan kandungan. Kenapa dia memberikan ini untuk ku? Sontak aku teringat bahwa akhir-akhir ini telat datang bulan.


"Zi, bisakah kau temui tabib yang mengobati ku kemarin? Tolong paksa dia memberikan kebenaran dari keadaan ku, jika perlu berikan uang untuknya." Perintah permaisuri yueyin.


"Baik, Permaisuri." Zizi segera pergi.


Sembari menunggu kabar dari zizi, aku teringat bahwa pernikahan pangeran Wenhua akan di selenggarakan tiga bulan lagi. Jika memang begitu, lalu misalkan aku sedang mengandung, bagaimana nasib anak ini? Kenapa bisa jadi seperti ini! Aku ceroboh saat itu.


"Putri!" Panggil Zizi dengan terburu-buru.


Zizi menutup pintu rapat-rapat dia tampaknya ingin berbicara dengan serius, dengan takut-takut dia mengatakan kebenaran dengan suara pelan agar tidak ada yang mendengarkan pembicaraan mereka.


"Tabib itu bilang…anda sedang mengandung." Kata Zizi.


JDAR!


Aku memegang perut ku yang belum membesar, air mata mengalir akankah dia di bunuh jika kaisar Yifan tahu? Tidak dia sudah tahu lebih awal, aku tidak ingin menggugurkan bayi yang tidak berdosa ini.


"Bagaimana caranya, apa aku harus pergi dari sini?" Khawatir ku.


BRAK!


Pintu terbuka secara paksa disana sudah ada kaisar Yifan berdiri mencari dimana botol yang ia berikan. Setelah mendapatkannya dia tahu bahwa aku belum meminum air itu, dengan cepat dia memaksa aku untuk minum ramuan penggugur kandungan.

__ADS_1


"Aku tidak mau!!" Teriak ku.


"Apa yang ingin kamu pertahankan?! Yueyin bayi itu tidak boleh lahir karena dia anak haram!" Marah kaisar Yifan.


"DIA BUKAN ANAK HARAM! DIA ANAK KU!" aku menepis tangan kaisar di mulut ku.


Tenaga yang ku gunakan untuk melawan kaisar cukup besar, membuat perut ku kram dan meringis kesakitan. Tak tahan berdiri aku pun duduk di kursi sambil menatap mereka.


"Anak itu harus di bunuh." Camkan kaisar dengan tatapan tajamnya.


"Jika kau membunuhnya maka aku juga akan mengakhiri hidup ku." Aku menantang ucapan kaisar Yifan.


Dia marah besar, mendorong semua barang hingga berjatuhan lalu meninggalkan kediaman Permaisuri, sedangkan aku hanya bisa meratapi nasib ku dengan bayi ini. Seandainya waktu bisa berbalik, apakah aku bisa memperbaiki semua cerita ini? Pada akhirnya tidak ada kebahagiaan, semua orang tersakiti dengan caranya sendiri.


"Putri Yueyin, saya harus apa? Apa kita harus pergi dari sini?" Tanya Zizi.


"Pergi kemana? Tidak ada tempat persembunyian yang cocok lagi, Kaisar Yuwen, pangeran Wenhua sekarang tidak ada di dekat ku." Aku memusingkan masalah ini.


"Apa kau yakin itu akan berhasil zi?" Tanya ku lirih.


"Tentu saja! Saya yakin pangeran Wenhua orang yang bertanggung jawab." Jawab Zizi.


"Lalu bagaimana dengan kaisar Yifan?" Bingung ku.


"Ada kaisar Yuwen, masalah ini pasti bisa di bicarakan baik-baik. Kaisar Yuwen juga sebelumnya tahu hubungan anda dengan pangeran Wenhua bukan? Semuanya pasti akan membela bayi ini." Jelas Zizi.


Sesuai saran Zizi akhirnya aku mengirimkan surat kepada pangeran Wenhua, berharap dia dapat membacanya dan tahu aku sedang mengandung anaknya.


Wenhua, aku sudah menerima surat mu. Terima kasih atas doa mu, tapi aku sama sekali tidak bahagia disini. Kata-kata mu benar, setelah ambisi itu tercapai pada akhirnya kita akan menyesal, maaf aku tidak mendengarkan omongan mu.


Aku merindukanmu, Wenhua bisakah kita kembali? Aku akan melepaskan jabatan Permaisuri di timur, meski kau menolak, apakah kau tetap kukuh ketika tahu bahwa aku sedang mengandung anak mu? Wenhua Rui, dia membutuhkan seorang ayah.

__ADS_1


Tolong jawab surat ini, walau kau tak mau bertanggung jawab aku akan tetap merawat bayi kita.


Tulis ku saat itu, kemudian ku serahkan pada burung merpati yang biasa di gunakan mendiang linshi. Semakin lama rasa bersalah ku semakin besar, tampaknya penyesalan itu tidak akan pernah hilang sampai rasa gila.


"Bayi ku, aku selalu berharap kebahagiaan untuk kita. Semoga setelah ini, hidup kita akan baik-baik saja." Aku mengusap perut.


Satu bulan kemudian..


Tidak ada surat balasan surat dari pangeran Wenhua sedangkan keadaan istana semakin canggung. Kaisar Yifan enggan menegur dan mengajak ku bicara. Kami menjalani kegiatan masing-masing hingga suatu ketika dia mengetahui bahwa aku sering mengirimkan surat pada pangeran Wenhua.


"Kenapa kau masih menghubunginya?! Yue! Apakah kebaikan ku untuk membiarkan anak itu hidup tidak cukup?! Kenapa kau masih mencari cara agar bisa kabur dari sini?!" Kaisar Yifan marah dan memerintah seluruh pelayan ku untuk mengurung ku selama bayi ini lahir, dia berkata bahwa aku tidak boleh keluar tanpa izinnya.


Hidup menyedihkan, tidak di sangka pangeran Yifan yang ku kenal dulu berubah menjadi kejam. Dia menganggap ku sebagai manusia tawanan yang di atur sesuka hatinya, sekarang aku hanya bisa berada di kediaman Permaisuri tanpa izin keluar darinya.



Naga putih sama sedihnya dengan diri ku, kami merasa kesepian di tengah rasa sakit. Air hujan jatuh membasahi tubuh, tampaknya hari esok tidak akan pernah membaik.


"Luze aku punya sebuah cerita untuk mu."


Malam itu sejuk dan bulan sangat luas, kue bulan di nikmati dengan arak buatannya. Dia berbalik hati menolong seorang gadis yang sedang kesusahan.


Rasa rindu ku pikir saat itu adalah hal biasa namun tersadar bahwa itu cinta, Angin meniup bunga menempelkan salju di jubah. Alisnya membeku, mimpi terlalu panjang dan tak terlupakan.


Bertemu lagi di sebuah paviliun tengah bunga, mengingat masa lalu sebagai ilusi lalu tertidur di dalam kubangan kelopak meihua tumpukan salju. Jemari terpisah ingatan hilang bagaikan debu.



Cinta itu terlalu panjang menyikapinya dengan serius sampai bodoh, namun kita senang saat melakukannya. Bahkan lupa bahwa bola api akan segera menyerang.


Dua baris air mata jatuh di kisi jendela tengah hujan, tidak ada lagi sosok yang di nantikan. Phoenix salju menjadi saksi pertengkaran, ucapan dendam yang menyakiti satu sama lain.

__ADS_1



__ADS_2