History Of Love Princess Yueyin

History Of Love Princess Yueyin
Episode 26


__ADS_3

"Lapor pangeran, kaisar berkata jangan menggantikan posisi pangeran jiyang. Kaisar akan memilih suami yang cocok untuk putri yueyin dari kerajaan barat." Kata prajurit timur yang berhasil kabur dari kejaran pembunuh bayaran lalu memberikan kabar pada kaisar serta menyampaikan pesan untuk pangeran Linyi.


"Tunggu, katakan lagi siapa nama putri itu?" Tanya pangeran Linyi.


"Putri Yueyin he, satu-satunya putri kerajaan di barat." Jawab prajurit itu.


Mata pangeran Linyi terbelalak saat mendengar jawaban dari prajurit, Yueyin? Bukankah itu perempuan yang di temuinya? Takdir sepertinya sengaja mengatur jalan untuk mempertemukan mereka lagi.


"Secepatnya kita ke istana barat untuk menjemput putri itu." Ajak Pangeran Linyi.


*Yueyin pov


Terbangun dari tidurku, melirik sekitar lalu mendapati Zizi dan yiyi sedang berjaga. Alih-alih berhati-hati saat berdiri aku melupakan bahwa punggung ku terdapat banyak luka cambukan. Rasanya sangat perih hingga aku terjatuh lagi.


"Putri yueyin." Panik mereka.


Mereka membantu ku berdiri, terdengar suara kasim mengatakan bahwa kaisar Yuwen mengunjungi kediaman ku. Kaisar menyuruh Zizi untuk menyiapkan pakaian terbaru untuk aku kenakan di acara sambutan pangeran kerajaan timur. Tidak di sangka hari yang ku pikirkan berulang kali telah datang, dimana aku harus pergi meninggalkan kerajaan ini.


"Yuer, jika kamu ingin me—"


"Kaisar, aku sudah yakin dengan keputusan ku." Aku memotong pembicaraan kaisar.


Tidak ada gunanya melakukan pelarian yang menyebabkan diri kami terus terancam, aku harus memikirkan banyak cara untuk terlepas dari masalah ini. Pergi dari istana barat bukankah hal yang bagus? Aku tidak akan bertemu dengan ibu suri lagi. Tentang kaisar, kami bisa saling bertukar kabar melalui surat.


"Putri Yueyin pakaiannya sudah di siapkan." Zizi menunjukkan arah ruang untuk berganti pakaian.


Sembari menunggu ku, kaisar tetap duduk di atas kursi. Sedang Zizi membantu ku untuk memasang satu persatu pakaian cantik berwarna merah dan putih. Setelah selesai aku kembali ke sisi kaisar dengan duduk di sampingnya, yiyi membawakan cermin lalu Zizi menyerahkan perhiasan rambut kepada kaisar.


Kaisar tersenyum tipis kemudian menempelkan perhiasan emas di rambut ku, dia menampilkan ekspresi yang sulit di baca. Aku tahu pasti dia sangat kecewa, tapi tidak bisa menolak atas keputusan ku.


Angin berhembus kencang, sama saat kami berada di rumah desa sebelah. Berdiri lalu memeluknya erat, yiyi dan zizi tersenyum mungkin karena tersentuh dengan hubungan kakak beradik yang kami miliki.

__ADS_1


"Kaisar jangan pernah lupakan aku, saat sampai di istana timur aku akan memberikan mu surat. Dan aku harap kamu membalasnya langsung." Kata ku.


"Yuer, aku tidak akan pernah melupakan mu seumur hidup ku. Pasti, aku pasti akan membalasnya." Kata kaisar Yuwen.


Kaisar menuntun ku hingga sampai dimana tempat jamuan berada, dengan tatapan kosong aku melihat kedepan. Langkah seirama dengan jatuhnya dedaun kering di pohon, saat ku lihat lagi ternyata—


"Linyi?" Aku terkejut.


Dia tersenyum kemudian memberikan salam, tidak di sangka bahwa pangeran yang di maksud kaisar adalah Linyi. Kenapa orang timur selalu membuat kesan buruk padaku? Apakah mereka semua memang hobi berbohong, aku tidak suka mengalami hal seperti ini.


"Salam saya kepada putri Yueyin." Pangeran Linyi membungkuk.


"Siapa kamu sebenarnya?" Tanya ku.


"Saya Linyi fei, pangeran kesembilan dari kerajaan timur. Atau bisa sebagai Linyi seorang perantauan." Jawab pangeran Linyi.


Aku tidak bisa berkata-kata lagi, semuanya mengejutkan bagi ku. Di tambah lagi ibu suri berakting seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dia menyambut kedatangan pangeran Linyi dengan hangat, lalu menyuruh ku untuk duduk menemani pangeran Linyi minum teh.


"Aih, ternyata kalian sudah saling mengenal. Kalau begitu mari lanjutkan acara jamuannya." Ajak ibu suri.


Duduk di samping pangeran Linyi, semua orang menikmati acara itu tetapi tidak dengan diriku. Sebenarnya apa yang mereka rencanakan? Aku masih tidak mengerti tentang kehidupan ini, bukankah ini sama saja dengan mengorbankan diri sendiri.


"Jadi pernikahannya akan di laksanakan disini atau istana timur?" Tanya ibu suri dengan senyuman sumringah.


Pangeran Linyi meletakkan araknya di atas meja, melihat ku sekilas lalu menatap ibu suri dan membalas dengan senyuman. "Kaisar berkata, putri yueyin akan memilih calon suaminya sendiri setelah tiba di istana." Jawab pangeran Linyi.


Ibu suri menutup mulutnya seolah tidak percaya tapi terlihat senang, matanya mengecil dan bibir menyungging. Tangannya melambai-lambai dengan lentik ke arah pangeran Linyi.


"Benarkah? Kalau begitu sebuah berkah untuk putri kami." Lanjut ibu suri.


"Lalu kapan kalian akan membawa Yueyin pergi?" Tanya kaisar.

__ADS_1


"Sekarang juga, karena kaisar sudah tidak sabar untuk mengadakan pernikahan putranya di istana." Jawab pangeran Linyi.


Bagaimana di sambar petir, kaisar Yuwen tersedak setelah meminum arah. Dia membanting cangkir di atas meja lalu menatap ku. Mata ini tidak bisa melihat keadaan kaisar seperti itu.


"Bagaimana pendapat mu Yueyin?" Tanya kaisar Yuwen.


"A-aku…"


Pangeran Linyi menggenggam erat kepalan tangan ku, dia tersenyum dengan tanda bahwa semuanya akan baik-baik saja jika aku pergi ke istana timur. Sesuai janji, aku tetap akan pergi melaksanakan pernikahan politik yang telah di tentukan.


"Aku akan pergi, Gege.." ucap ku dengan suara kecil sedikit serak.


Kaisar memejamkan matanya, menghirup nafas panjang kemudian menghelanya. Dia membuang wajahnya tidak ingin menatap ku, tak masalah jika kecewa tapi jangan sekali pun membenci karena kaisar satu-satunya kakak laki-laki yang selalu melindungi ku.


"Pergilah, aku merelakan kalian." Kata kaisar.


Pangeran Linyi mengangkat tangannya, lalu menaik turunkan seperti gerakan dayungan untuk memanggil prajurit. "Apakah kereta kuda sudah di siapkan?" Tanya Pangeran Linyi kepada prajuritnya.


Prajurit mengangguk, memberi hormat lalu menjawab pertanyaan pangeran Linyi. "Sudah pangeran, semuanya telah kami siapkan." Dia bangkit kemudian kembali ke posisi semula.


"Bagaimana putri apakah sudah siap?" Tanya pangeran Linyi padaku.


Aku menjawabnya dengan sebuah anggukan, kemudian pangeran membantu ku berdiri. Kami pun pergi ke gerbang istana untuk menaiki kereta kuda, bisa ku lihat kaisar dengan tatapan kosong melihat kami.


Dalam hati berkata 'maaf' semuanya pasti sangat menyakitkan. Perpisahan antara seorang saudara itu akan terjadi, tapi percayalah bahwa kita tetap akan bertemu lagi.


Kereta kuda berjalan, meninggalkan sisa kenangan masa kecil ku di kerajaan barat. Canda tawa keempat remaja sudah tidak terdengar lagi, sebagai memori terlepas dari pikiran ku, sudah saatnya memikirkan rencana kedepan. Jika sempat aku akan membantu kaisar terlepas dari ikatan ibu suri.


"Bahkan sampai sekarang, kau bahkan tidak pernah membiarkan aku bahagia barang sedetikpun." Kata kaisar Yuwen.


"Apa maksudmu Yuwen?" Tanya ibu suri.

__ADS_1


"Lupakanlah, esok hari aku harus terlihat lebih hebat darinya. Agar bisa memenangkan hati mu, sekali saja kau lirik aku, dan tahu isi perasaan ku sebenarnya, aku membutuhkan dia, tapi kau malah melepaskan begitu saja." Kaisar mulai meracau tak menentu akibat arak yang di minumnya.


"Penjaga! Bawa kaisar masuk ke dalam kediamannya dan biarkan ia beristirahat!" Perintah permaisuri.


__ADS_2