History Of Love Princess Yueyin

History Of Love Princess Yueyin
Episode 48


__ADS_3

"Tapi…orang-orang akan menggunakan ramuan herbal untuk menghilangkan rasa sakit di tubuh penanam dan induk es pelupa." Lanjut Xianyu.


"Bagaimana cara membuat ramuannya?" Tanya ku.


Xianyu mengambil rumput yang sudah di keringkan, namanya adalah Kioqi termasuk tanaman herbal yang bisa meredakan rasa sakit di tubuh, atau bisa di gunakan sebagai obat bius dalam jumlah banyak. Dia mengambil tungku untuk mencampurkan semua bahan hingga berbentuk pil.


Xianyu mengaduk-aduk bahan hingga menggumpal, api arang di matikan. Dia mengambil lidi lalu menusuknya kedalam adonan herbal setelah di kira sudah tidak lengket lagi, Xianyu membentuknya menjadi beberapa buah pil kemudian di masukan ke dalam kain.


"Ini harus di simpan dalam suhu ruang, jangan sampai terkena air." Xianyu memberikannya padaku.


"Terima kasih." Membungkuk tanda sopan.


"Jika butuh bantuan, datang saja kesini. Dengan senang hati bisa membantu mu." Senyum Xianyu.


"Kau sangat baik, sebenernya aku ingin belajar membuat beberapa pil kesehatan." Ujar ku.


"Kalau begitu kau bisa datang besok, aku akan mengajarimu." Tawar Xianyu.


"Baiklah, terima kasih banyak. Karena hari sudah larut malam, aku akan kembali ke istana, sampai jumpa." Berjalan meninggalkan lembah di ikuti dengan Linshi yang menjaga dari belakang.


"Sampai jumpa." Xianyu melambaikan tangannya.


Aku dan linshi bergegas pulang, kami tidak menaiki kereta maupun kuda. Hanya berjalan kaki sambil menikmati udara segarnya di malam hari, meski salju menambah sensasi dingin. Linshi tidak jadi kembali ke istana barat, karena kaisar memerintahkan dia untuk menjaga dan membawa ku pulang pada saat acara.


"Selama di daerah timur tidak adakah hal yang mengesankan bagi mu?" Tanya ku pada linshi.


"Tidak ada." Jawab Linshi singkat sambil memperhatikan jalannya.


"Tapi Zizi bilang kau sedang dekat dengan seorang wanita." Aku melanjutkan pembicaraan kami, tidak enak rasanya jika terus berdiam di dalam sunyi.


"Dia hanya seorang pemilik kedai teh, dia hanya teman biasa bagi ku." Jelas linshi.


"Ternyata begitu, baiklah." Aku menyudahi percakapan.


Tiba-tiba saja linshi berhenti jalan, aku di buat bingung lalu membalikan tubuh. Dia bertanya padaku jika menjadi seorang pengawal seseorang apakah aku akan setia pada tuan ku, tentu saja jawabannya 'iya' karena itu memang tugas seorang pengawal.


"Kau pernah bilang, seorang sahabat harus mengalami susah, sedih dan senang bersama." Linshi mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Itu benar, kenapa?" Bingung ku.


"Jika kita mengalami kesusahan, atau bahkan sampai sedih. Berjanjilah untuk terus kuat dan tidak menangis." Lanjut linshi.


"Kenapa kau berkata seperti ini?" Aku khawatir mendengar ucapan linshi.


"Melihat mu, aku tidak tahu harus berbuat apa. Tidak ada yang bisa ku lakukan selain melindungi mu." Linshi tersenyum.


Perkataannya itu membuat mata berkaca-kaca, beruntung mempunyai sahabat seperti dia. Aku memeluknya, kami seorang sahabat walau jabatan berbeda karena sebuah kesalahan. Karena seorang sahabat harus melindungi satu sama lain, begitu juga dengan aku yang harus menjaga dia mengingatkan jika dia melakukan kesalahan.


"Jika kau mendapatkan kekasih, jangan lupa kenalkan pada ku." Nada ku bercanda tapi mata tetap berkaca-kaca.


Dia tertawa lalu mengacak-acak rambut ku, selain kaisar Yuwen dia sudah ku anggap seperti kakak sendiri. Memang kadang membuat kesal, tapi sampai saat kini linshi tak pernah sekalipun mengkhianati aku, dia senantiasa berada di samping ku dan terus mendengarkan perintah kaisar Yuwen, dia tipe orang yang sangat setia.


Kami saling berangkulan sampai tiba di istana, baru saja menginjak kaki di rerumputan yang di penuhi salju. Aku melihat pangeran Wenhua sudah berdiri di depan kediaman, dengan cepat aku berlari ke sisinya meninggalkan linshi dari kejauhan.


"Kenapa kamu ada disini?" Tanya ku.


"Seharusnya aku yang bertanya, kemana saja kamu? Kenapa pulang selarut ini." Tanya pangeran Wenhua.


"Kamu sakit?" Tanya ku.


"Tidak, hanya kelelahan saja." Jawab pangeran Wenhua.


Dia berbohong, itu efek dari bunga es pelupa. Dia pikir aku tidak mengetahui semuanya? Tentang sejarah es pelupa saja bahkan aku sudah mengetahuinya, malam itu ku tarik tangannya tidak ada yang mengetahui bahwa pangeran Wenhua menginap semalam di kediaman ku.


Jendela tertutup, aku melarutkan pil yang di buatkan oleh Xianyu. Sembari menunggu air dan pilnya tercampur pangeran Wenhua duduk di atas kursi sambil memainkan jam pasir. Selesai, ku letakan di atas meja mempersilahkan dia meminum ramuan itu.


"Apa itu?" Tanya pangeran Wenhua.


"Ini obat, minumlah agar pertandingan besok kamu tidak cedera." Jawab ku sambil menyodorkan mangkuk kecil.


Pangeran Wenhua menolak dia tidak suka aroma pahit dari ramuan itu, memang dari aromanya saja sudah bisa di tebak bahwa obat ini tidak enak untuk di minum, tapi karena khasiatnya dapat menolong kami. Mau tak mau aku harus memaksa pangeran Wenhua untuk meminumnya.


Ku teguk semua air ramuan dan menarik leher pangeran Wenhua, aku mencium bibirnya membagikan setengah ramuan itu ke dalam mulutnya lalu meneguk serempak. Wajahnya sedikit memerah, jangan tanya bagaimana wajah ku sudah pasti seperti kepiting rebus.


__ADS_1


Meski pernah melakukannya berapa kali, aku tetap merasa malu dan memalingkan wajah dari pangeran Wenhua. Berjalan mendekati kasur, tiba-tiba saja pangeran Wenhua menerkam dari belakang.


"K-kamu! Tidur di bawah saja." Aku gugup.


"Di bawah sangat dingin, apa kamu tega melihat suami mu mati kedinginan?" Tanya pangeran Wenhua.


"Kamu bukan suami ku!" Aku kabur dari sela-sela lengan pangeran Wenhua.


Percuma, karena aku sudah di tangkapannya. Beruntung kediaman ku berada di sudut paling belakang istana utama, jarang sekali di lewati orang-orang.


"Ahhh~" desahan terdengar sampai ke telinga linshi.


Puftttt! *Menyembur arak keluar dari mulutnya.


Linshi tersedak karena suara itu, tidak di sangka bahwa yueyin mendapatkan kekasih lebih dulu darinya. Dia menutup telinga karena kesal.


"Kamu menyemburkan dua anak catur sampai jatuh, berarti mereka sudah mati." Kata Zizi kemudian memajukan kuda caturnya.


"Mana bisa! Karena suara itu aku jadi terkejut." Bantah Linshi.


"Haihh hanya itu saja." Perkataan Zizi seperti merendahkan.


"Memangnya kamu pernah?" Tanya linshi.


Pletak! *Zizi memukul dahi linshi menggunakan sendok.


"Bisa-bisanya laki-laki bertanya seperti itu, ckck. Kau ini tak pernah belajar ya?" Zizi menggelengkan kepalanya.


"Sakit! Belajar apa?" Bingung linshi sambil mengusap-usap dahinya.


"Sudahlah waktunya tidur, kau kembalilah ke kamar mu." Suruh Zizi.


"Hey tunggu sebentar."


Sementara itu di sisi lain.


Wajah memerah, keringat bercucuran padahal cuaca dingin. Ranjang kasur bergoyang-goyang suara yang di gemari laki-laki terdengar di seluruh ruangan kamar. Tangan yueyin mencengkeram lengan pangeran Wenhua, ternyata meski sakit dia juga cukup kuat jika melakukan hal itu. Entah bagaimana keadaan yueyin, dalam sehari di hari pertama dia melakukan dua kali bersama pangeran Wenhua.

__ADS_1


__ADS_2