
Tibalah hari dimana kami harus menangkap naga putih untuk menjaga panggoda Guren, Semuanya telah bersiap-siap berjalan menuju danau tepat dimana naga putih bersembunyi dan hidup disana. Menurut buku panduan memanggil naga putih dengan menciptakan lotus putih, satu-satunya orang yang bisa membuat lotus putih hanyalah aku.
Moonai dan pangeran Yifan mengawasi dari ujung danau, sedangkan aku berada di atas perahu untuk membuat lotus putih tumbuh dari permukaan air. Pangeran Wenhua berjaga di belakang, lotus putih itu semakin membesar, gelembung dari dasar air muncul, terlihat kumis naga yang bergerak di bawah air.
Lotus putih tumbuh sempurna, naga putih muncul dan membuat perahu kami terombang ambing. Wajah seramnya berada di atas kepala lu, nafasnya membuat rambut ku bergerak. Pangeran Wenhua menutup mulut ku agar tidak berteriak, sungguh ini lebih menyeramkan dari pada hantu bergerak sedikit saja mungkin tubuh ku akan hilang.
Dari ujung Moonai dan pangeran Yifan mengikat naga putih menggunakan elemen mereka masing-masing. Pangeran Wenhua melayang di atas udara lalu mengikat leher naga putih itu dengan es agar ia tidak bisa bergerak.
"Yueyin! Cepat letakan bola sucinya!" Teriak pangeran Wenhua.
Mereka bertiga bersusah payah untuk menahan naga putih, aku mengangguk kemudian terbang menaiki kepala naga tersebut. Lima sentimeter lagi bola itu mendekati kepalanya, tiba-tiba saja pangeran Wenhua terjatuh setelah di serang naga putih, sontak semua ikatan lepas dan naga putih pun mengamuk.
Air danau bagaikan ombak yang akan membantai kami semua, matanya putih menyapu seluruh sisi siap membantai orang-orang hidup. Kami mulai melindungi diri, aku mencoba mengikat naga putih menggunakan tanaman rambat, naga itu sadar dia menyemburkan air berisi racun ke arah ku. Sontak membuat pangeran Wenhua menggantikan posisi ku, dia melindungi dirinya dengan sekuat tenaga menahan tumpukan es agar racun itu tidak membasahi tubuh kami.
Moonai terbang lalu menarik salah satu Athena naga putih hingga ia hilang keseimbangan, selanjutnya pangeran Yifan terbang ke hadapan naga putih sambil menatap matanya. Mata naga putih terbelalak ketika melihat mata pangeran Yifan yang melambangkan naga hitam.
Groarrrrr! *Teriakan naga putih.
Tentu dia takut ketika melihat pangeran Yifan, di saat itulah aku menyempatkan diri untuk meletakkan bola suci. Setelah berhasil aku turun menggunakan pedang berbentuk payung yang sempat ku modifikasi sebelum pertandingan.
Semuanya legah, naga putih kini menjinak bagaikan binatang peliharaan. Sorot mata ku tertuju ke arah bola Krystal berwarna putih di sela-sela kaki bawahnya. Yang ternyata itu adalah telur naga putih, naga yang menjaga panggoda Guren tidak boleh memiliki anak, sebab itulah pangeran Wenhua mengambilnya.
"Cantik sekali." Puji Moonai.
__ADS_1
"Apakah kamu ingin menyimpannya?" Tanya pangeran Wenhua.
"Sepertinya tidak mungkin aku bisa menjaga bayi naga." Jawab Moonai.
"Telur naga harus di simpan dalam air, elemen mu sangat cocok untuk menjaganya." Tutur pangeran Yifan.
"Tapi aku sudah memiliki anchi, dia mungkin bisa bertengkar dengan kucingnya feibao. Yueyin kamu bisa menjaganya?" Tanya pangeran Wenhua.
Aku tersenyum, memang inilah yang aku inginkan saat melihat lukisan di desa Dahei. Aku memeluk telur itu kemudian mengusapnya pelan, cahaya remang-remang terlihat dan aku merasakan sedikit pergerakan.
"Karena sudah berhasil, ayo kita kembali." Ajak pangeran Yifan.
Membalikkan tubuh lalu bergegas pulang, terdengar suara batuk kasar yang berasal dari pangeran Wenhua. Saat menoleh darah segar sudah berada di tangannya, pangeran Wenhua memasang raut wajah datar kemudian membersihkan darah itu dengan sapu tangan.
"Aku baik-baik saja." Kata pangeran wenhua.
Kami pergi ke tempat dimana jendral yangsi dan keluarganya tinggal. Kediaman khusus jendral utama, ada banyak patung kepala kuda di depan gerbang. Baru saja menginjak kaki di depan paviliun, tombak dan anak panah berjejeran membentuki lorong.
Memasuki ruang khusus, seperti kamar. Pangeran Yifan menopang tubuh adiknya lalu membantu dia berbaring di atas ranjang, saat beristirahat jendral yangsi lewat dan tak sengaja melihat keadaan pangeran Wenhua. Ia pun khawatir dan mencoba membantu calon menantunya itu.
"Apa yang terjadi Wenhua?" Tanya jendral yangsi.
"Saya tidak apa-apa." Jawab pangeran Wenhua.
"Kau selalu seperti itu setiap kali aku bertanya, bangkitlah aku akan mentransfer setengah tenaga ku untuk memulihkan kondisi tubuh mu." Jendral yangsi dan Moonai membantu pangeran Wenhua.
__ADS_1
Melihat mereka seperti keluarga dan aku seperti orang asing yang tersudutkan, hati ku merasa sedih. Diam-diam pangeran Yifan menggenggam erat tangan ku kemudian tersenyum, tidak tahu apa maksudnya atau mungkin dia bermaksud untuk menyemangati aku.
"Pangeran Yifan, dan—" perkataannya terjeda saat melihat aku, mungkin jendral yangsi terganggu dengan kehadiran ku.
"Sebaiknya kalian pulang saja dulu, beristirahat lah. Biar aku yang menolong Wenhua." Katanya.
"Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu." Pangeran Yifan menarik lengan ku dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Aku hanya bisa menatap wajah pangeran Yifan yang pucat sedang menahan rasa sakit, tidak bisa berada di sampingnya. Marah pada diri sendiri kenapa tidak bisa menjaga pangeran Wenhua dengan baik, aku ingin berada di sampingnya tapi di satu sisi takut jika semua mengetahui bahwa kami tengah menjalin suatu hubungan, padahal pangeran Wenhua dan putri Moonai sudah di jodohkan sebelum aku tiba di istana ini.
Saat ini aku dan pangeran Yifan berada di kediaman ku, kami meletakkan telur naga putih di dalam kolam. Tidak tahu kenapa air mata tiba-tiba saja mengalir lalu terjatuh ke dalam kolam, aku baru menyadari bahwa telah jatuh cinta pada tunangan orang lain. Apakah putri Moonai mencintai pangeran Wenhua?
"Yueyin…" Panggil pangeran Yifan sambil mengesampingkan helai rambut yang terurai.
Aku menoleh tanda menyahuti panggilannya, dia tersenyum kemudian duduk santai di samping ku. Pangeran Yifan mulai bercerita bahwa dulu ibunya lah yang memelihara naga putih yang kami jinakan tadi. Naga putih itu adalah anak dari naga Guren yang sempat mati, saat masih berbentuk telur permaisuri Qilan selalu menunggunya menetas di temani dengan kaisar. Tapi dia tidak sempat melihat wajah bayi dari naga putih tersebut, takdir berkehendak bahwa hidup permaisuri Qilan harus berakhir. Sejak saat itu naga putih di danau tidak memiliki tuan dan menjadi liar, dia sangat menyayangkan apa yang telah terjadi.
"Berarti, jika aku menjaga naga putih ini maka dia akan menganggap ku sebagai tuannya?" Tanya ku.
"Benar." Jawab pangeran Yifan.
Aku tersenyum menatap telur yang tenggelam di dalam kolam, mungkin saat dia menetas kita bisa menjadi teman. Menemani aku di kala sedang merasa sendiri, lingkaran tangan mengikat pinggangku, setelah menoleh melihat pangeran Yifan memeluk tubuh ku.
"Pangeran Yifan?" Aku terkejut.
"Maaf, tapi bolehkah aku meminjam pelukan mu sebentar? Aku bahkan lupa rasanya memeluk seorang wanita. Sejak kematian ibu ku." Kata pangeran Yifan.
__ADS_1
Perkataannya menyayat hati, aku jadi teringat pada ibu. Bagaimana keadaannya? Lama disini aku jadi melupakan sosok ibu yang selalu menyemangati ku bekerja, dia pasti sedih mendengar kabar anaknya tertimpa musibah kecelakaan.
"Saya juga merindukan sosok ibu." Gumam ku dengan mata yang berkaca-kaca.