History Of Love Princess Yueyin

History Of Love Princess Yueyin
Episode 52


__ADS_3

Aku mendapatkan laporan bahwa Yiyi dan mujing menemukan surat di sebuah ruang tempat Lan dong bekerja, si peramal yang selalu ada di samping ibu suri. Mereka menyerahkan surat itu tuk di baca, ternyata dia bekerja sama dengan daerah timur akhir-akhir ini. Tidak tahu hadiah apa yang di berikan Permaisuri Enxi hingga Lan dong ikut serta dalam jebakan ini.


"Dimana dia sekarang?" Tanya ku pada mujing.


"Dia berada di istana utama sedang berdiskusi dengan Mentri-mentri lain, putri." Jawab mujing.


Aku menghela nafas, perkara masalah ini cukup aku saja yang tau. Jika kaisar tau dia pasti sangat membenci daerah timur, akan ada peperangan lagi dan dua daerah kembali bermusuhan. Aku meminta ke empat pelayan dan penjaga menemani ku.


"Kalian tolong antarkan aku kesana." Pinta ku.


"Baik."


Zizi, linshi dan mujing serta yiyi mereka mengantarkan aku ke tempat dimana para menteri dan lan dong sedang berdiskusi. Saat sampai disana, mereka terlihat serius tetapi wajah lan dong sedikit pucat tampak khawatir.


Tentu dia takut rencananya akan terbongkar, apa lagi yang terbunuh bukanlah kaisar melainkan ibu suri. Para Mentri terkejut dengan ke datangan ku, satu pemimpin rapat itu mencegah dan bertanya apa maksud dari ke datangan ku ini.


"Mohon maaf putri, kami sedang melakukan diskusi kerajaan. Apakah putri butuh bantuan?" Tanya pemimpin rapat menteri.


"Aku hanya ingin bertemu dengan Lan dong." Jawab ku.


Deg! *Jantung lan dong berdegup kencang, dia sangat cemas bahkan tangannya sampai gemetar.


"Tapi kami sedang melakukan rapat." Bantah pemimpin rapat menteri.


"Kekurangan satu orang yang tidak penting, tidak masalah bukan?" Aku tersenyum menyeringai menatap lan dong yang terlihat cemas.


"Tapi…" ragu pemimpin rapat.


Tanpa rasa takut, karena sekarang tidak perlu ada yang di takutkan ketika berada di kerajaan barat. Aku menyuruh mujing dan Linshi menangkap Lan dong, awalnya dia sempat memberontak hingga linshi memukul kuduk lehernya lalu pingsan.


Semua Mentri terkejut saat melihat perubahan sifat putri yueyin yang terlihat sedikit kejam. Aku tertawa dalam hati, ini semua baru permulaan, satu persatu dari kalian yang berkhianat akan ku bongkar jika hidup ku masih panjang disini.


Kami pergi ke tempat dimana ada penjara bawah tanah, melewati lorong-lorong gelap dengan bermodalkan lampu obor sebagai penerangan. Sengaja menjadikan tempat itu untuk mengintrogasi Lan dong sekaligus tidak akan ada yang mendengarkan percakapan kami.


"Sudah selesai?" Tanya ku pada Zizi dan Yiyi si kembar dengan kepribadian yang berbeda.

__ADS_1


"Sudah putri." Jawab mereka.


Ku lihat lan dong yang terikat dengan rantai, tubuhnya menempel di papan kayu hukuman cambuk. Waktu seperti terbalik, dulu dia menyaksikan dengan santai saat aku di cambuk dengan ibu suri lalu bagaimana jika aku yang melakukan hal ini padanya.


"Ambilkan aku kursi." Pinta ku.


Duduk di hadapan lan dong, saat ia sadar aku pun tersenyum. Dia merasa panik setelah melihat tubuhnya terikat di papan hukuman.


"Putri Yueyin! Kamu tahu apa konsekuensi jika mengurung salah satu pekerja kerajaan?!" Dia berusaha mengancam ku.


"Aku tidak tahu." Jawab ku pura-pura, tentu tahu hukuman tidak berlaku pada orang biasa tetapi juga berlaku pada anggota kerajaan. Hanya saja, saat ini tidak ada yang perlu aku khawatirkan karena kaisar akan selalu berada di pihak ku.


"Kamu!" Lan dong terlihat emosi.


Aku tertawa terbahak-bahak, linshi menyerahkan surat yang mereka temukan tadi. Aku pun membukanya dan memperlihatkan isi surat itu kepada lan dong, dia kaget. Lalu memohon ampun agar aku tidak menghukumnya.


"Maafkan saya putri! Maafkan saya!" Mohonnya.


"Lan dong, apakah kamu tahu konsekuensi membunuh anggota kerajaan? Oh tidak, merencanakan dan bekerja sama dengan musuh itu patut di acungkan jempol." Aku menyilangkan kaki sembari tersenyum ke arahnya.


"Masih menyangkal?!" Ke sebat tubuhnya menggunakan cambuk.


Cetas!


"Katakan bahwa kamu melakukannya, maka aku akan mempertimbangkan hukuman mu." Aku sudah tak sabar mendengar pengakuannya.


"Apa gunanya? Aku tetap akan mati juga kan?" Tanya Lan dong dengan santainya.


Takjub sekali, bahkan di saat seperti ini dia berusaha tetap tenang. Luka di tubuhnya juga mengalirkan banyak darah, namun dia tetap bisa tersenyum. Apa lan dong ini memiliki penyakit kelainan mental.


"Dia tidak bisa merasakan sakit." Bisik linshi.


Lan dong tertawa keras, di mendengar bisikan linshi. Lan dong memang memiliki kelainan kejiwaan, dimana dia tidak bisa merasakan sakit dan akan tersenyum bila tubuhnya di sakiti. Kelainan ini bisa di sebut sebagai masokis.


"Pantas saja, kalau begitu ambilkan panah. Aku akan langsung membunuh dia dengan satu tembakan di kepalanya." Kata ku membuat Lan dong panik.

__ADS_1


"Tunggu! Baik! Baik! Aku akan mengaku, bahwa aku telah bekerja sama dengan ratu Enxi!" Kata lan dong.


"Bagus, dengan begitu kamu harus bertanggung jawab. Aku akan meringankan hukuman mu jika kau mau mengaku saat berada di kerajaan timur." Aku pun segera pergi.


Begini lebih baik, dari pada kaisar tahu masalah yang sebenarnya terjadi dan membuat kacau kerajaan. Sebaiknya aku menyelesaikan sendiri, akan ku bawa Lan dong dan membereskan masalah ini langsung di depan kaisar.


"Zi, tolong beri makan lan dong. Jangan sampai dia mati lebih dulu sebelum kita pulang." Kata ku.


"Baik Putri." Zizi pergi, yang tersisa hanya aku dan linshi menuju pintu keluar.


"Kau sangat berubah, berada di kerajaan timur membuat kau sedikit kejam." Celetuk Linshi.


"Salah, apa yang kamu katakan salah linshi. Aku melakukan ini demi kebaikan kita semua, bagaimana jadinya kematian terus berlanjut? Dendam ini harus di usaikan, dan yang bersalah harus mendapatkan hukuman." Jelas ku.


"Apapun keputusan mu jika itu memang yang terbaik, maka aku akan membantu mu." Kata linshi.


Kami kembali ke kediaman awal, di mana tempat aku tinggal bersama pelayan lain. Ku pikir ada yang salah pada linshi dia akhir-akhir ini sering menyendiri, sekarang ku dapati dia sedang melamun menatap bulan malam sambil meminum arak.


"Linshi, ini sudah malam. Kenapa kau masih di luar?" Tanya ku.


"Bulan malam ini sangat indah bukan?" Dia balik bertanya.


"Oh ayolah, masuk! Aku tidak mau satu penjaga ku sakit." Aku menarik lengannya.


Bruk!


Mengesalkan, dia malah mabuk. Sekarang aku berada di pelukannya. Kami duduk di atas pinggiran kayu pembatas antara rumah dan luarnya. Entah mengapa linshi terlihat sangat menyedihkan saat mabuk.


"Hei, cerita lah, apa yang terjadi?" Tanya ku.


"Xue Meimei, aku merindukan mu." Dia semakin erat memeluk ku.


Ternyata linshi melihat ku sebagai adiknya yang telah meninggal. Tak pernah aku melihat dia seperti ini, linshi selalu menjadi orang yang periang penuh gelak tawa. Tetapi saat dia merasa terpuruk maka dia akan menjadi orang yang paling menyedihkan.


"Aku merasa bahwa kita akan segera bertemu." Gumam linshi.

__ADS_1


"Jaga ucapan mu! Kau tidak akan bisa bertemu dengan adik mu, kau akan selalu berada di sisi ku sebagai penjaga dan tak boleh mengkhianati ku." Aku mencubit bibirnya.


__ADS_2