History Of Love Princess Yueyin

History Of Love Princess Yueyin
Episode 32


__ADS_3

Author: Terima kasih pada pihak mangatoon yang sudah mau menerima kontrak cerita ini🙏 dan karena hal itu saya memberi crazy up spesial di kontraknya novel HOLPY.


*Pagi hari


Zizi menyiapkan pakaian untuk ku, hanfu berwarna ungu muda. Jemari ku menyentuh jam pasir penghitung waktu, matahari terbit dari arah timur bertepatan dengan keringnya permukaan atas pasir. Aku membalik jam pasir penghitung, itu menentukan berapa lama aku berhasil mengetahui rencana permaisuri selanjutnya. Dan mengukur aksi balas dendam ku untuk Putri Zhao.


"Putri tampilan anda sudah siap." Kata Zizi.


"Kemana perginya Linshi?" Tanya ku.


"Seperti biasa dia selalu pergi keluar istana." Jawab Zizi.


Tidak masalah jika dia ingin bersenang-senang tetapi pekerjaannya harus selesai jika aku bertanya. Aku berdiri lalu mengangkat rok hanfu menjadikan akses kaki ku mudah untuk melangkah, pintu terbuka angin menyerbu wajah ku. Lagi-lagi salju menempel, tiba-tiba kelopak bunga tersangkut di helai rambut ku.


"Dari mana datangnya kelopak bunga ini? Apakah ada bunga yang tumbuh di musim dingin?" Bingung ku.


"Entahlah putri, tapi anda harus segera bertemu dengan pangeran dan putri lainnya untuk berdiskusi." Saran Zizi.


"Masih ada waktu setengah jam lagi, aku ingin mencari asal bunga itu." Memengang kelopak bunga berwarna ungu lalu melepaskannya bersama tiupan angin.


Aku terus berjalan tanpa melihat kebelakang, mengikuti dari mana kelopak-kelopak bunga itu terbang. Di balik tumpukan es, terdapat kebun bunga meihua yang tumbuh segar di tengah cuaca dingin. Ini sangat menakjubkan, belum pernah aku menjumpai bunga meihua berwarna ungu. Aku melewati tumpukan salju lalu menarik tangkai bunga itu.


Tangkai bunga itu tiba-tiba terbang melewati tubuh, ketika berbalik tangkai bunga sudah ada di tangan seseorang.



"Pangeran Wenhua?" Aku terkejut atas kehadirannya.


"Apa yang kamu lakukan di tengah-tengah cuaca dingin seperti ini?" Tanya pangeran Wenhua.


Dia menyatukan tangkai yang sudah ku petik tadi di pohonnya. Pangeran Wenhua ini, sebenarnya apa kehebatan dia? Bisa menyatukan kembali tumbuhan. Apakah dia seorang alkemis?


"Aku hanya penasaran, bagaimana bisa bunga meihua tumbuh dengan warna ungu?" Bingung ku.


Pangeran Wenhua tersenyum, dia menggapai tangan ku lalu mengarahkannya ke bunga meihua yang sudah menyatukan. Dadanya yang bidang menyentuh punggung ku, jemari lentik ku membuat bunga meihua berubah warna menjadi merah.


"Bagaimana bisa?!" Aku terkejut sontak membalikkan tubuh tanpa sadar ketika berbalik bibir pangeran Wenhua mencium dahi ku.


Hangat, aku menutupnya kemudian menunduk malu. Pangeran Wenhua memalingkan wajahnya dengan lengan menutup bibir, pipinya memerah. Sadar akan hal itu aku merasa tak enak.

__ADS_1


"Maafkan saya pangeran!" Ucap ku jadi salah tingkah.


"Kamu sepertinya orang yang sangat ceroboh." Kata pangeran wenhua.


Tidak terima atas perkataan pangeran Wenhua, aku memajukan langkah sembari membantah omongannya. Sekali lagi kami di timpa kesialan pagi hari.


"Tidak! Saya tidak—"


BRUK!


Saat memajukan langkah pangeran Wenhua melangkah mundur, berada di atas salju yang menumpuk. Rupanya tak sanggup menahan beban dua tubuh, kami pun terjatuh bersama-sama hingga kejadian lebih buruk terjadi lagi.



Chupp~


Ingin menangis, dimana harga diri ku?! Berciuman dengan laki-laki yang belum tentu menjadi pasangan ku, bibirnya sangat dingin dan lembut. Mata kami saling bertatapan, entah sejak kapan jantung ku tidak berdebar sewaktu bibir pangeran menyentuh bibir ku.


Malahan rasa ini terbilang sangat akrab, tubuh ku tidak menolaknya berbeda ketika orang lain yang melakukannya tentu aku merasakan jijik. Di atas salju, kami saling berciuman tanpa tahu perasaan masing-masing.


Ketika melepaskan ciuman itu, wajah saling memerah dan merasa kepanasan meski berada di musim dingin. Bibir ku terasa basah, ibu jari pangeran Wenhua mengusap lembut bibir ku, dia mendorong tubuh lalu tangannya mulai meraba pinggang ku.


"Hah..hah.." nafas ku terengah-engah, pangeran Wenhua terlalu kasar.


Aku tidak bisa berkata-kata, ku rasa aku telah jatuh cinta pada laki-laki ini. Matanya, hidungnya membuat aku tak tahan untuk mengusap wajah tampannya itu.


"Aku mencintaimu, maaf untuk hari itu." Ucap pangeran Wenhua.


"Maaf untuk apa?" Aku tidak mengerti pembicaraannya.


Tubuh pangeran berubah menjadi debu, lenyap seketika terbang bersama angin dingin. Aku menjerit-jerit, mengejar debu itu karena takut terjadi apa-apa.


"Pangeran!!!" Teriak ku.


"Putri Yueyin! Sadar lah!!" Teriak Zizi sambil mengguncang tubuh ku.


Aku menatap raut wajah panik Zizi, kemudian melihat sekitar sepi dan hanya ada kebun bunga meihua. Tidak menemukan pangeran Wenhua, kemana perginya dia?


"Dimana pangeran wenhua?" Tanya ku.

__ADS_1


"Putri Yueyin, sadarlah. Anda terkena pengaruh racun bunga meihua." Jawab Zizi.


"Racun bunga meihua? Sejak kapan bunga meihua beracun?" Bingung ku.


"Bunga meihua berwarna merah muda itu biasa di gunakan orang-orang, tetapi warna ungu sangat langka. Di temukan sepuluh tahun sekali, dan yang paling parahnya. Bunga ini dapat menjebak orang untuk hidup di dalam hayalan nya, racun bunga meihua ungu bisa membuat korbannya tak sadarkan diri bertahun-tahun, anda harus bersyukur bisa bangun dari mimpi." Jelas Zizi.


Jika itu semua adalah mimpi hayalan, pangeran Wenhua. Dia tidak nyata saat melakukan itu? Air mata ku mengalir, dada terasa sakit. Bukan terluka, bukan juga luka dalam. Ini seperti rasanya patah hati, aku tidak pernah bertemu dengan dia sebelumnya. Kenapa dia terasa sangat akrab bagi ku?


Tangan menyentuh bibir, menangis di dalam deru angin. Aku tidak bisa, tidak bisa menyukainya terlalu dalam. Sudahi sampai disini, berhentilah memikirkan dia Yueyin He.


"Putri saya tahu mimpi itu sangat menyakitkan, katanya bunga meihua selalu membuat korbannya menderita dengan hayalan." Zizi memeluk ku agar merasa hangat.


Pelukan itu aku merasa sedikit tenang, Zizi sudah ku anggap sebagai saudara sendiri. Kami berpelukan hingga tiba-tiba muncul lah perempuan yang akan menjadi saingan ku.


"Wanita mengeluarkan air mata, adalah wanita yang lemah." Kata dia.


Song pengyue wanita berwajah dingin tak punya hati itu mengolok diri ku, kemudian pelayannya tertawa terbahak-bahak menertawai kami. Mereka pergi tapi kami memiliki perasaan kesal karena ulah dia.


"Putri biar aku beri mereka pelajaran." Zizi tidak bisa menahan emosinya.


"Hentikan, sebaiknya jangan membuat masalah. Kita baru saja tinggal beberapa hari di istana ini." Aku menyuruh Zizi untuk menahan emosinya.


Sementara itu di sisi lain, Zhao dan faibao duduk di atas tembok memperhatikan kedua perempuan yang sedang bicara. Zhao mengigit bibirnya, dia membenci Yueyin, tapi kesal kepada sikap sombong milik Pengyue, hanya dia yang boleh membully Yueyin, tidak dengan Pengyue.


"Kenapa kamu terlihat kesal?" Tanya feibao sambil memakan apel.


"Pengyue itu, dia kira sudah sangat hebat?!" Kesal putri Zhao.


"Bukankah dia memang lebih hebat dari mu?" Lanjut feibao.


"FEIBAO! KAU! AKU AKAN BILANG PADA GEGE WEN KALAU KAU MENGEJEK KU!" Teriak putri Zhao.


Sontak membuat Zizi dan putri Yueyin menoleh ke atas tembok dan mendapati mereka yang tengah bersantai. Feibao menutup telinganya, dia melihat Zizi akan memasuki gerbang kediaman permaisuri. Feibao melompat ke bawah lalu mencegat Zizi agar tidak memasuki tempat itu.


"Hei pelayan di larang masuk!" Kata feibao.


"Apa-apaan kau! Minggir!" Marah Zizi.


"Aku saja tidak masuk! Apa kau mau membuat Permaisuri murka dengan ikut mencampuri urusan ini?!" Kesal feibao.

__ADS_1


__ADS_2