
Wush~ *angin berhembus kencang dan munculah sosok laki-laki.
"Xianyu!!" Teriak ku.
Aku mencoba pergi ke sisi Xianyu namun orang-orang itu melarang dan mengancam akan membunuh ku jika Xianyu mendekat.
Sebuah pertunjukan seseorang yang memiliki tingkat abadi, ini sangat menakjubkan pertama kali melihat Xianyu bertarung. Dia tampak tenang, rambutnya berterbangan di tiup angin, sudah ku duga Xianyu ini memiliki elemen angin dengan tingkat tinggi ketujuh yang sudah abadi.
Di suasana yang tenang itu para perampok terlihat mengantuk mungkin ini efek dari kekuatan Xianyu, namun pada saat bersamaan aku melihat ada sesuatu yang menjalar di dalam tanah, seperti ular berjalan di dalamnya.
Blar!!
Kami di kejutkan dengan sosok lima ular besar yang mengelilingi si perampok termasuk aku. Awalnya mereka terlihat mengantuk tapi setelah muncul ular tersebut mereka mati ketakutan. Satunya terkencing di celana, kaki gemetar bahkan pedang itu tak sanggup ia pegang lagi setelah melihat ular yang muncul dari bawah tanah.
"Kabur!!" Teriak mereka.
Sudah terlambat satu persatu dari mereka mati di makan ular itu, aku hanya mendengar teriakan mereka karena sebelum mereka di makan ular itu Xianyu lebih dahulu melemparkan kain putih yang melilit mata ku, padahal aku sangat ingin menyaksikan mereka mati.
Saat kain itu terbuka, Xianyu sudah ada di belakang melepaskan ikatan kainnya. Aku melihat hanya ada bekas darah disana dan ular-ular itu sudah hilang, sayang sekali tidak bisa melihatnya.
"Rasakan itu! Haha!" Aku tertawa senang.
"Kamu tidak takut?" Tanya Xianyu heran.
"Untuk apa takut? Mereka jahat pada ku. Sudah pantas mereka mati!" Jawab ku sambil menyilangkan tangan dan memasang wajah songong.
Xianyu tertawa sambil menggelengkan kepalanya pelan, mungkin dia heran pada ku. Aduh Xianyu kamu tidak tahu bagaimana pertempuran di dunia modern ku dalam menyelamatkan pasien saat operasi, usus, hati darah daging sudah biasa ku lihat. Apalagi mereka yang jahat pada ku, dengan senang aku menontonnya, bukan psikopat karena aku hanya bisa melihat tapi tidak bisa melakukan hal setega itu.
"Aku mendengar pembicaraan kalian, ada apa mencari ku?" Tanya Xianyu.
Aku menggenggam tangannya, benar sekali aku memang mencarinya. Oh ya dimana aku letakan rantang bakmie tadi ya? Karena perampok itu aku jadi meninggalkannya di setengah jalan.
"Aku membutuhkan bantuan, tapi sepertinya kita bicarakan nanti saja. Ayo bantu aku mencari makanan yang ku bawakan untuk mu." Kekeh ku.
Xianyu tersenyum, aku menggenggam tangannya lalu mengajaknya berlari mencari tempat dimana rantang tadi ku tinggalkan.
"Ketemu!!" Jerit ku dengan senang.
"Nah sekarang ayo ke lembah mu." Ajak ku.
"Ayo." Senyum Xianyu sambil berjalan.
__ADS_1
"Tunggu, tingkat abadi kenapa harus berjalan? Kau harus membawa ku terbang!" Paksa ku tanpa tahu rasa malu.
Xianyu menggelengkan kepalanya terheran, biar saja. Sekali-kali di bawa terbang oleh orang yang sudah memiliki ketingkatan abadi.
"Apa kau yakin?" Tanya Xianyu.
"Sangat yakin!" Jawab ku dengan semangat.
Xianyu memegang bahu ku dengan kedua tangannya, sontak kami melayang di udara. Dia menggerakkan kakinya, melompat-lompat melewati cabang pohon hingga kami sampai di lembah.
"Bagaimana?" Tanya Xianyu sekali lagi setelah sampai.
"Menyenang…kan…" jawab ku pelan dengan bola mata berputar-putar, rasanya sangat mual dia terbang sangat cepat.
Tap! *Putri Yueyin pingsan kemudian di tangkap oleh Xianyu.
"Ini sebabnya aku bertanya apa kau yakin, lihatlah apa yang terjadi. Lain kali aku tidak mau mengajak mu terbang." Kata Xianyu kemudian membopong tubuh Yueyin dan menelentangkan tubuhnya di atas ranjang dan matras tipis.
***
Tercium aroma arang dan suara dengung yang berasal dari teko panas pemasak air. Setelah bangun aku sudah berada di dalam rumah Xianyu. Ku lihat laki-laki itu sedang memasak sesuatu.
"Kau pingsan." Jawab Xianyu.
"Aku tidak melakukan hal yang buruk pada mu kan seperti uhum.." ucap ku sambil memainkan jari, bahaya jika aku menganggap Xianyu sebagai pangeran Wenhua karena tinggi mereka sama.
"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan selain pingsan?" Tanya Xianyu, dia membawa mangkuk berisi ramuan.
"Ada banyak yang bisa ku lakukan selain pingsan." Dengus ku lalu menerima ramuan itu.
"Minumlah, ini bisa mengisi energi mu." Katanya.
Aku meminum ramuan itu dalam beberapa kali teguk, rasanya pahit. Sempat ingin memuntahkan nya namun aku mendapatkan tatapan tajam dari Xianyu yang mengisyaratkan, 'tidak tahu terima kasih!' begitu sepertinya.
"Hehe." Aku menutup mulut berusaha menahan rasa mual.
"Aku tidak akan pernah mengajak mu terbang lagi." Celetuk Xianyu.
"Kenapa?!" Panik ku.
"Lihat saja sendiri, kau sangat lemah." Jelas Xianyu sambil membuka rantang yang ku bawa.
__ADS_1
"Padahal aku ingin melakukan sekali lagi." Raut wajah cemberut muncul.
Saat Xianyu membuka rantangnya bakmie yang di buat linshi sudah bengkak, mungkin karena sudah terlalu lama terendam. Aku mengambil rantang itu kemudian menutupnya.
"Maaf, lain kali akan ku buatkan dan membawanya saat masih hangat." Ujar ku.
Xianyu menyunggingkan senyumnya, dia mengambil rantang itu lalu memakan bakmie yang sudah bengkak. Hal itu membuat ku shok apa dia tidak jijik melihatnya?
"Kenapa kamu masih memakannya?" Tanya ku.
"Ini masih layak di makan, kecuali sudah terjatuh." Jawabnya.
Sungguh hati yang mulia, tapi sayangnya itu buatan Linshi. Jadi walaupun kau berusaha membenarkan perasaan ku agar terbebas dari rasa kecewa itu percuma, karena aku tak merasakan apapun. Toh itu buatan Linshi, biar saja terbuang, nanti ku suruh lagi linshi membuatnya hehe.
"Kenapa kau tertawa?" Tanya Xianyu.
"Aku ini sangat bahagia, walau banyak cobaan masih ada orang yang tetap setia berada di sisi ku. Ada Zizi ada Linshi dan Tuan Xianyu." Jawab ku dengan senang.
Xianyu tertawa dia mengacak-acak rambutku tanda lucu dan sebagai rasa teman yang akrab. Tapi rasa itu mengingatkan ku pada kaisar Yuwen yang selalu membelai rambut dan mengatakan bahwa dia akan melindungi ku, entah kaisar sudah membaca surat itu atau belum. Ku harap kesalahan pahaman dia pada ku segera terselesaikan.
"Katakan sejujurnya." Kaisar Yuwen menatap mata permaisuri Shen, tersirat tatapan itu menunjukkan kemarahan yang teramat besar.
"Mohon ampun yang mulia kaisar! Ini kesalahan saya! Saya yang menyarankan permaisuri untuk mengambil kesempatan ini." Tabib kerajaan pada saat itu mengaku.
Ternyata, permaisuri Shen ai memang mandul. Pada saat pengecekan calon istri kaisar dia sudah di nyatakan mandul. Namun demi bisa menikah dengan sang kaisar pemimpin daerah barat, dia menyuruh semua orang disana untuk tutup mulut. Saat memakan pil milik yueyin dia merasa sakit perut lalu menyuruh tabib untuk mengeceknya, alhasil tabib menyatakan bahwa disana ada racun mandul yang telah di tumpahkan seseorang. Mereka menyarankan agar Permaisuri menggunakan kesempatan itu untuk menutupi kejadian yang sebenarnya.
"Kenapa kau tidak jujur saja!?" Kesal kaisar.
"…" Sunyi yang terdengar, permaisuri Shen hanya menunduk.
"Kau membuat hubungan kakak dan adik hancur, apa ini yang kau inginkan?!" Tanya Kaisar Yuwen dengan nada tinggi.
"Aku tidak bermaksud seperti itu.." jawab permaisuri Shen ai lirih.
"Aku tidak mempermasalahkan keturunan jika itu masalahnya. Aku hanya membutuhkan perempuan yang jujur dan sadar atas apa yang dia lakukan." Ujar kaisar.
Mendengar perkataan itu permaisuri Shen ai bersujud meminta ampun atas kesalahan yang dia perbuat. Dia rela menerima hukuman, bahkan bersujud di hadapan yueyin pun ia terima agar kaisar tidak melakukan perceraian.
"Tulislah surat permohonan maaf, kirimkan pada yueyin." Perintah kaisar.
Permaisuri mengangguk, dia akan melakukan apapun yang di suruh kaisar. Segera pelayan permaisuri menyiapkan selembar kertas coklat muda kuno dan kuas tinta, ia menuliskan permohonan maaf disana dengan rapi.
__ADS_1