
"Wanita berjubah merah, dan topeng Phoenix. Terlihat menarik." Seseorang datang saat Yuran memandang lukisan di dinding bangunan kedai.
"Pangeran Yifan, akhirnya kamu datang." Yuran dan dia duduk di satu meja yang sama.
Mereka berbincang-bincang panjang menceritakan apa yang terjadi selama dia menjadi buronan kerajaan, karena kejadian besar itu pertandingan bahkan tertunda sampai sekarang. Permaisuri Enxi juga semakin sensitif ada banyak pelayan yang di pecat serta tak sengaja terbunuh karena kemarahannya.
"Jika orang yang mempunyai jabatan tertinggi membunuh, dengan mudahnya dia menutupi kejahatan itu." Ucapan Yuran merendahkan Permaisuri Enxi.
"Yueyin maksud ku Yuran, apa kau sudah mempertimbangkan untuk menerima tawaran ku?" Tanya pangeran Yifan.
"Aku akan menerimanya, dalam waktu ini aku akan kembali ke istana. Tapi sebelum itu ada mahluk yang harus aku taklukkan." Jawab Yuran.
"Mahluk apa itu?"
"Bing niao, burung es." Yuran menerima pesanannya.
Terlihatlah pesanan bakmie yang datang, perasaan Yuran menjadi kacau dia membuang bakmie itu dan memutuskan untuk mengajak pangeran Yifan pergi dari sana. Pangeran Yifan tahu bahwa Yuran masih belum bisa melupakan kenangannya dengan pangeran Wenhua.
Di perjalanan menuju ke suatu tempat, mereka melewati jalanan yang sepi pengunjung. Iseng-iseng pangeran Yifan melemparkan batu ke arah Yuran, dengan cepat perempuan itu menangkis batu dengan kekuatannya.
Klak! *Batu terpelanting.
"Kau jadi lebih berwaspada." Puji Yifan.
"Tentu sa—"
Syatt! Klepak-klepak! *Suara kibaran pakaian.
Seseorang datang menyerang yueyin dia membuat pedang sendiri dari elemen besi, lalu melawan orang itu dengan antusias. Membuat jebakan agar orang itu terjatuh, tetapi dengan cermatnya Yuran mematahkan pedang musuh terlebih dahulu.
Batu terbang memisahkan jarak mereka, Yuran dan orang itu sama-sama tersenyum saling menatap. Sudah lama tak bertemu, sekali bertemu keduanya mengalami peningkatan.
"Tidak ku sangka kau masih hidup." Katanya.
"Kau pasti sangat berharap kalau aku mati." Kekeh Yuran.
__ADS_1
"Haha, aku tahu itu cobaan terberat untuk hidup mu. Maka dari itulah, mari kita bekerja sama untuk menghancurkan kekaisaran." Putri Zhao tersenyum.
Mereka sudah bekerja sama, para korban dari Permaisuri Enxi. Sengaja hendak menghancurkan kekaisaran agar pemimpin di gantikan dan membuat kebijakan baru, Zhao sudah sangat muak dengan peraturan Permaisuri Enxi terhadap putri-putri kerajaan.
"Apa kau yakin? Kaisar timur sendiri adalah ayah mu." Yuren berkata tuk memastikan pembicaraan mereka.
"Dia memang ayah ku, tapi itu dulu sebelum mengenal Enxi sialan itu. Satu-satunya cara membalas dendam adalah menjatuhkan posisi kaisar, jika kekaisaran runtuh maka Permaisuri tak akan ada kekuatan atau hak lagi." Jelas putri Zhao.
Apa yang di katakan oleh putri Zhao benar, semua keputusan tergantung pada Yuran jika dia menerima tawaran itu maka rencana mereka akan di jalankan, berhasil atau tidak itu semua tergantung pada kecerdasan mereka dalam menghadapi Permaisuri Enxi.
Yuran menatap bintang di langit malam hari, terhubung pada langit istana kerajaan. Di bawah rembulan yang terang, sosok laki-laki tengah duduk termenung. Dia merasa hatinya hampa, seperti telah kehilangan sesuatu tanpa sadar.
"Wenhua Rui, aku mendengar dari pelayan bahwa kau terus duduk disini dari sore hari. Ini sudah malam, kenapa tidak masuk ke kamar mu saja?" Tanya Permaisuri Enxi, dia mengunjungi pangeran.
"Tidak apa bibi, aku hanya ingin sendiri." Jawab pangeran Wenhua.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Permaisuri Enxi lagi.
"…" Pangeran hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Permaisuri Enxi karena dirinya juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini.
"Cepat, siapkan teh untuk kami." Perintah Permaisuri.
"Baik, Permaisuri." Para pelayan pergi menyiapkan teh.
Setelah pelayan itu kembali, Permaisuri berkata bahwa teh itu bisa menyegarkan pikiran pangeran Wenhua. Dia pun hendak meminum teh itu, tangannya meraih cangkir teh kayu kemudian mengarahkannya ke bibir.
Clank! *Suara jatuhan cangkir.
"Moonai?" Pangeran Wenhua terkejut karena Moonai menyenggol tangganya hingga teh itu tumpah.
"Apa-apaan kamu moonai?!" Permaisuri kesal.
Moonai tidak menghiraukan ucapan Permaisuri, dia menarik tangan pangeran Wenhua lalu berlari ke arah bekas kediaman putri yueyin. Disana terlihat cahaya putih terang benderang, mereka menyilangkan tangan tepat di depan mata karena silau.
"Apa yang terjadi?" Tanya pangeran Wenhua.
__ADS_1
"Telur naga putih sudah menetas." Jawab Moonai.
Ketika mereka sampai di kolam, naga putih kecil berenang-renang di dalam kolam itu. Melihatnya pangeran Wenhua sangat senang, ia pun membungkuk demi menyentuh kepala naga putih.
"Raunggg!!!"
Naga putih meraung tampaknya menolak untuk di sentuh, dia belum memiliki kekuatan yang kuat. Mencari manusia yang selalu menemaninya di kala masih bersemayam dalam cangkang, dia adalah putri yueyin.
"Dia bisa jadi liar jika tidak dapat menemukan tuannya, itu sangat berbahaya bagi kerajaan." Tutur Moonai.
Pangeran Wenhua terdiam, menopang dagunya sambil berpikir. Lima bulan dia mencari keberadaan yueyin tetapi tidak mendapatkan satu kabar pun, dia juga sedikit menyesal saat itu telah melukai linshi.
"Wenhua, apa kamu ingat bahwa kalian pernah sedekat nadi?" Tanya Moonai.
Nyutt! *Jantung pangeran terasa sakit.
"Uhuk..uhuk…" darah hitam keluar dari mulut pangeran Wenhua, itu adalah efek dari ramuan.
Dadanya terasa sakit, pangeran Wenhua merasa sesak. Ia melihat naga putih yang menatapnya sendu, wajah imut itu membutuhkan tuan sebagai sosok ibunya.
"Apakah aku pantas di maafkan?" Tanya pangeran Wenhua.
"Jika kau datang sendiri dan memohon ampun atas kesalahan mu. Mungkin yueyin bisa mempertimbangkannya." Jawab Moonai.
"Moonai, kita sudah di jodohkan. Kau tahu kalau Permaisuri Enxi sangat keras, dia tidak akan bisa membiarkan yueyin begitu saja. Aku tidak ingin yueyin semakin terluka." Kata pangeran wenhua.
"Lalu apa kau akan membiarkan dia sendirian di luar sana? Apa kau akan membiarkan cinta mu pergi dan merasakan penyesalan seumur hidup?! Wenhua! Aku tidak ingin seperti itu! Aku mencintai Pangeran Yifan, seumur hidup aku hanya ingin menikah dengannya." Mata Moonai berkaca-kaca.
Pangeran Wenhua terkejut, ini berupa pengakuan dari putri Moonai. Dia berpikir keras untuk memilih jalan hidup yang terbaik, tahta memang menggiurkan tapi tak bisa menjadi kebahagiaan. Di lihat semuanya sudah terlanjur hancur seperti sudah sepantasnya dia tak akan mendapatkan 'maaf' dari orang-orang terdekatnya termasuk pangeran Yifan kini membenci dirinya.
"Aku akan bertaruh untuk menjadi yang pertama, Wenhua bisakah kau mengalah demi pangeran Yifan?" Mohon Moonai.
"Permaisuri Enxi akan kecewa pada ku." Pangeran Wenhua menekuk tangan di dahinya.
"Kalau begitu, berjuanglah jika kau memang ingin menjadi pemimpin istana timur. Maka lebih baik aku mengalah saja, dan semoga yueyin segera kembali." Tutur Moonai.
__ADS_1