
"Putri anda mau kemana?" Tanya Zizi saat melihat aku sudah berpakaian rapi dan cantik.
"Pergi keluar." Jawab ku sambil membenarkan hiasan di kepala.
"Kalau begitu, berarti saya sendirian disini?" Zizi terlihat bosan terus berada di paviliun, tambah lagi aku sering meninggalkannya sendiri.
Tatapan ku menuju ke arah pangeran Wenhua, dia tersenyum. Kami memutuskan untuk mengajak Zizi berjalan di temani dengan feibao, meski ada pertengkaran dan perbedaan pendapat setiap percakapan. Mereka berusaha terlihat baik di depan kami.
"Putri sebaiknya kita pergi ke tempat pemandangan yang bagus saja." Saran Zizi.
"Pangeran, lebih baik kita melihat pertunjukan di tempat teater ada banyak penari cantik disana." Saran feibao.
Zizi terlihat marah bagaimana bisa feibao memberi saran seperti itu sedangkan aku masih berada di samping pangeran Wenhua, tangannya memukul pundak feibao lalu mulai mengeluarkan pendapat yang berbeda.
"Bagaimana mungkin kau mengajak kami pergi kesana?!" Kesal Zizi.
"Kenapa tidak, disana ada banyak hiburan terutama tarian cantik." Ujar feibao.
Aku menundukkan kepala, apakah pangeran suka perempuan yang bisa menari? Jika seperti itu jelas aku tak bisa melakukannya, yang ku ketahui hanya beberapa jenis beladiri dan cara membuat ramuan. Pangeran Wenhua mengeratkan rangkulannya.
"Kita akan pergi ke kebun Xieli itu kebun milik ibu ku, sudah lama tak di gunakan, jadi penasaran bagaimana keadaannya. Kita akan melihat-lihat kesana." Tutur pangeran Wenhua.
Aku mengangguk kemudian menyandarkan kepala di dada pangeran Wenhua, kereta kuda kami terus berjalan. Bagian dalamnya di dapat di masuki lebih dari empat orang karena berukuran lebih besar dari biasanya.
Sesampai disana, ada gerbang tua yang di tutupi. Pangeran Wenhua membuka gembok nya melalui kunci, kemudian kami memasuki tempat itu bersama-sama. Anehnya, kenapa disini tidak turun salju sama seperti di desa Dahei.
"Pangeran, apa kamu tahu kenapa di beberapa bagian daerah timur salju tidak kunjung turun?" Tanya ku.
"Orang bilang karena tempat itu memiliki kenangan yang suram." Jawab pangeran Wenhua dengan tatapan sendunya menatap sekitar.
Aku tahu dia sangat sedih kehilangan ibunya sejak kecil, feibao dan Zizi pergi ke arah lain. Aku memegang wajah pangeran wenhua lalu berkata.
__ADS_1
"Jika tempat ini memiliki kenangan yang suram, mari kita ubah menjadi tempat kenangan yang terindah." Kata ku.
Bibir pangeran merenggang seperti memberikan ruang untuk berciuman. Tanpa berpikir panjang langsung saja ku ***** bibir yang lembut itu, dia menarik bahu ku saling berpelukan erat tak rela melepaskan.
"Hosh.." aku melepaskan ciuman dan pelukan erat kami.
Tatapan pangeran Wenhua terlihat kecewa, tentu aku sengaja mempermainkan dia. Membuat dia membayangkan hal yang lebih lalu meninggalkannya agar rasa penasaran dia terhadap ku tak pernah luput. Aku berlari menjauhi pangeran, meraba rumput-rumput tinggi yang tumbuh di setiap tanah.
Pangeran Wenhua tersenyum, dia mengikuti langkah yang tersisa. Kami tiba di penghujung, dimana bagian kebun sangat tersembunyi. Disana aku mencoba duduk dan menatap pangeran dengan tersenyum. Tidak di sangka pangeran malah mendorong ku hingga terbaring di atas rerumputan. Ini tidak salah bukan? Melakukannya dengan orang yang kalian cintai? Meski tahu kami belum menikah, tapi aku tahu pangeran wenhua adalah orang yang bertanggung jawab.
"Aku takut…" ujar ku pelan.
"Ketakutan mu akan berubah menjadi rasa cinta yang membara." Pangeran Wenhua menciumi leher jenjang ku.
Sambil melihat sekitar, sepertinya Zizi dan feibao tidak akan datang kemari. Ku remat rumput hingga bentuknya tak serupa lagi, sakit yang ku rasakan saat kehilangan pertahanan wanita 'perawan' tak apa, memiliki anak darinya di dunia ini pun aku sangat rela.
Erangan kenikmatan dan rasa sakit itu bercampur satu, suara hentakan tertutupi dengan suara gesekan daun tertiup angin. Wajah ku memerah air mata mengalir, sedangkan yang melakukan kenikmatan.
***
"Kemana putri dan pangeran?" Bingung Zizi.
"Kau ini selalu mengganggu kesempatan mereka." Cetus feibao sambil memukul tempurung dahi Zizi.
Dia meringis kesakitan, membalas perbuatan feibao dengan memukulinya habis-habisan. Saat melangkah mundur mereka berdua terjatuh ke dalam jebakan, tentu itu sudah di buat oleh seseorang.
"Apa-apaan ini?!" Feibao berusaha memberontak tapi jaring itu sangat kuat menahan mereka.
Sekelompok orang-orang menangkap mereka lalu meninggalkan surat darah di tanah. Zizi berteriak meminta pertolongan tapi sepertinya itu percuma, pangeran Wenhua dan putri Yueyin tidak akan mendengarkannya karena posisi mereka sangat berjauhan.
__ADS_1
***
Satu jam kemudian, mereka kembali ketempat semula melihat ada surat di tanah putri yueyin pun membacanya. "Kedua pelayan mu sudah berada di tangan kami, datanglah ke jurang belulang." Tulisnya.
Putri Yueyin dan pangeran Wenhua saling bertatapan, mereka tahu ada hal yang salah. Tanpa menunggu waktu yang lama mereka langsung pergi ke tempat itu.
"Mphhh!" Zizi berusaha berteriak meminta pertolongan, mereka mengikat Zizi dan feibao tepat di batang pohon mendekati jurang. Jika tali itu putus maka bisa di pastikan Zizi dan feibao jatuh ke jurang.
"Lepaskan mereka!" Teriak putri yueyin.
Para penjahat itu tersenyum akhirnya putri yueyin jatuh ke dalam jebakan itu, sesuai perintah mereka di suruh untuk membunuh putri yueyin tetapi itu tak mudah di lakukan, akhirnya memutuskan untuk melakukan jebakan seperti ini. Dimana para penjahat itu menyuruh putri yueyin menukarkan nyawanya demi Zizi dan feibao.
"Bagaimana mungkin kami melepaskan begitu saja, nyawa di tukar dengan nyawa." Kata mereka.
"Jadi apa mau kalian?" Tanya pangeran Wenhua.
"Cukup dengan pengorbanan wanita itu, jika dia mau menyerahkan nyawanya maka kami akan melepaskan kedua orang ini." Jawab penjahat.
Tentu itu di lakukan agar putri Yueyin mati dan gelang ajaib tidak memiliki tuan lagi, pangeran Wenhua tahu siapa di balik dalang ini tentu saja permaisuri, siapa lagi yang bisa mengincar gelang ajaib dan memerintah banyak orang? Tentu hanya permaisuri yang bisa melakukannya.
"Baiklah jika itu mau kalian." Putri Yueyin menarik pedang miliknya, sontak membuat pangeran Wenhua menahan pedang hingga tangannya terluka.
Putri Yueyin menyuruh agar pangeran melepaskannya, dia berpikir dangkal semua masalah tidak akan selesai dengan kematian. Di saat bersamaan pangeran Wenhua memberi isyarat pada feibao.
**Bruk!
Brugh**!
Tangan kiri di gunakan untuk mendorong satu penjahat yang ada di samping Zizi dengan elemen angin. Sedangkan feibao menerjang satu penjahat di sampingnya hingga jatuh ke jurang. Satunya lagi hendak memutuskan tali pengikat zizi, untungnya yueyin peka dengan keadaan itu ia menahan penjahat menggunakan sihirnya yakni tanaman rambat yang mengikat seluruh tubuh penjahat itu.
Setelah berhasil mengalahkan semuanya, pangeran Wenhua dan putri Yueyin membantu melepaskan Zizi dan feibao lalu membawa mereka pergi secepat mungkin.
__ADS_1
"Pangeran tangan anda terluka." Kata feibao.
"Tidak masalah, kita harus pulang secepatnya." Ujar pangeran Wenhua.