
"Bagus sekali, belum selesai misi pertama pertandingan. Sudah ada tiga perempuan yang hendak mendekati Wenhua." Kata permaisuri.
"Yueyin, jelas aku tidak setuju hubungan mereka. Karena dia berasal dari kerajaan barat, Pengyue ku acungkan jempol untuk keberanian dia. Tapi terlalu bahaya mempunyai pasangan ambisi besar, bisa saja dia menjatuhkan posisi ku sebagai ibu suri nantinya." Gumam Permaisuri Enxi.
"Hanya Moonai yang aku percaya, karena ayahnya adalah rekan lama ku. Mereka pasti tidak akan mengecewakan." Senyum permaisuri.
"Lalu kita harus apa?" Tanya seseorang dengan tudung hitam dan topeng seperti tampilan mianju.
Dia bukan pangeran Wenhua sebagai mianju, bukan juga pangeran Yifan sebagai jubah hitam. Sosok itu belum di ketahui identitasnya, sepertinya dia rekan kerja lama permaisuri Enxi. Mereka terlihat sangat akrab.
"Kita lihat pergerakan Pengyue, dan aku ada tugas untuk mu. Tentang Yueyin." Seringai permaisuri Enxi.
Pangeran Wenhua termenung, dia harus mengikuti keinginan dan saran siapa? Perasaannya di lema. Jika memilih cinta harus mengikuti saran dari Linyi, jika ingin mendapatkan jabatan yang bersifat pasti harus membuat perjanjian dengan Pengyue, jika ingin membersihkan nama ibunya dia harus mengikuti kata permaisuri Enxi bibinya.
*Yueyin pov.
Aku terbangun dari tidur, melihat Zizi tertidur pulas di samping ku. Sedangkan linshi terlelap di posisi duduk, dengan wajah cantiknya itu ingin ku beri pewarna bibir.
Tok! Tok!
Mendengar ketukan pintu, aku segera keluar dan melihat siapa yang datang. Ternyata itu seorang pelayan di kediaman ku, dia mengatakan bahwa putri Moonai datang mencari ku.
Aku segera membersihkan tubuh di bantu dengan pelayan lain, tidak tega membangunkan Zizi karena ia terlihat kelelahan mungkin karena menjaga ku semalaman.
Setelah itu, cepat-cepat menghampiri putri Moonai yang ada di ruang depan. Ia duduk sambil membaca buku dan meminum teh yang di buat kan pelayan. Aku memberi hormat dan meminta maaf telat membuat ia menunggu lama.
"Maaf sudah membuat putri Moonai menunggu lama." Ucap Yueyin.
"Oh, kau sudah pulihan?" Tanya putri Moonai.
"Ya." Jawab ku.
__ADS_1
"Aku mendengar cerita dari Linyi, katanya kau pingsan saat sedang bertanam." Lanjut putri Moonai.
"Benar, mungkin karena aku kelelahan." Sambung ku.
"Begitu, sepertinya kita tidak berlatih dulu hari ini. Sebab pangeran Wenhua mendapatkan tugas baru dari kaisar." Jelas putri Moonai.
Kami sudahi percakapan sampai di sana, putri Moonai bilang aku harus beristirahat yang cukup agar pelatihan besok bisa berjalan dengan lancar. Pangeran Wenhua mendapatkan tugas baru dari kaisar, sedang aku sekarang duduk termenung di atas kursi.
"Putri apa yang kamu pikirkan?" Tanya Zizi.
Aku mengaduk-aduk sendok di dalam cangkir teh ada perasaan risih dan khawatir entah kenapa. Hujan pun turun, cuaca semakin dingin apakah dia baik-baik saja di luar sana?
"Zizi, pernahkah kau menyukai orang yang baru saja di temui?" Tanya ku di lanjutkan dengan tegukan teh.
Zizi menjawab perkataan ku. "Rasa suka terhadap orang baru itu adalah hal yang wajar nona, mungkin kita tertarik padanya saat pertama kali bertemu." Jawab Zizi.
"Namun, jika perasaan itu lebih. Dan kau selalu memikirkan, merasa bahwa dia bukanlah orang asing bagi mu, pernahkah kau merasakannya?" Tanya ku penasaran.
Jika memiliki masalah, Zizi adalah orang yang tepat untuk aku bercerita dan mendapatkan saran. Sebenarnya apa yang salah, sejak kapan aku jatuh cinta? Aneh tapi nyata.
Seseorang datang ke paviliun ku, membawa kotak besar berisi hadiah kain sutra, pakaian, perhiasan dan lainnya. Terakhir pelayan menyerahkan satu kotak kecil berisi gingseng ratusan tahun usianya.
"Putri Yueyin, terimalah hadiah dari kaisar sebagai tanda terima kasih." Kata pelayan.
Aku menerima semua hadiah itu, menyuruh pelayan khusus paviliun menaruh barang-barang di kamar. Setelah selesai pelayan memberikan gulungan surat dari kaisar yang bersifat perintah dan misi yang harus di selesaikan.
"Pergilah ke desa Dahei, orang-orang sana terkena wabah virus. Aku rasa kau bisa menyembuhkan mereka, hati-hati jika terkena racun itu. Ini misi pertama mu, jika berhasil kepala desa akan memberi satu kelemahan naga putih." Tulis kaisar di surat itu.
Aku mendapatkan misi individu pertama, setelah pangeran Wenhua pergi aku harus berkunjung ke desa Dahei dan menyelidiki serta menyembuhkan warga disana. Aku mengganti pakaian berwarna serba putih, juga menjinjing sepatu hingga sampai di depan pintu paviliun dan memakainya. Di pinggang sudah ada pedang yang tergantung, aku menarik ikatan rambut agar lebih kencang.
__ADS_1
"Zi, aku harus menyelesaikan misi ku. Kamu tunggulah disini." Perintah ku.
"Tapi putri—"
"Tenang saja, semua akan selesai. Kabari Linshi jika dia kembali." Aku pun berlari dan terbang.
Istana adalah bangunan tertinggi. Aku terbang menaiki salah satu puncak kediaman dan menatap bahwa sekitar. Melihat dimana dan sejauh apa letak desa Dahei, pakaian ku berkibar tertiup angin aku pun mengeluarkan cahaya hijau dari tangan ku, mengendalikan semua air berubah menjadi tanaman berbunga dan terjatuh ke atas salju.
Pangeran Yifan sedang memainkan guzheng miliknya, dia bunga-bunga kecil yang berasal dari tumbuhan terjatuh. Bibirnya menipis tersenyum, dia melanjutkan permainannya lagi, sudah tahu siapa yang menyebabkan hujan berubah menjadi sekuntum bunga kecil.
"Nona kita sudah sampai." Kusir kereta kuda berhenti.
Aku turun dari sana dan memberikan uang disana, baru memasuki gerbang desa Dahei saja sudah tercium bau racun menyengat. Melangkah memasuki gerbang kemudian ada serangga yang menyerang. Dengan cepat ke basmi semua serangga itu menggunakan pedang es.
"Kamu pasti orang kiriman kaisar." Celetuk seseorang.
"Kepala desa?" Tanya ku.
"Benar, mari ikuti saya." Jawabnya.
Aku mengikuti kemana arah kepala desa berjalan, kamu menelusuri setiap rumah warga. Mereka menderita racun akibat di gigit oleh serangga beracun, wajah membengkak dan tubuh memerah. Kasihan sekali mereka.
Aku aster adalah seorang perawat dan asisten pribadi dokter, melihat seperti ini sudah biasa. Mengecek keadaan mereka dan membantu menyembuhkan itu adalah tugas ku.
Ku sentuh benjolan yang ada di wajah mereka, ujungnya memerah dan mengeluarkan nanah. Manusianya berteriak kesakitan. Aku berusaha mengendalikan gelang ajaib untuk menyembuhkan tubuh korban.
Cahaya hijau mengalir dari kedua jari menuju wajah korban racun serangga. Benjolan itu mengempis dan keadaan mereka mulai membaik, sekarang aku tahu apa obatnya.
"Apakah kalian punya tempat mata air?" Tanya ku.
__ADS_1
"Kami punya tapi sayangnya sudah tidak ada airnya lagi. Sejak wabah ini berlangsung." Jawab kepala desa.
"Tidak apa, antarkan aku kesana."