
"Selesai." Linshi membawa dua mangkuk bakmie ke atas meja.
Aku bertepuk tangan ria akhirnya linshi berhasil membuat bakmie yang enak di pandang. Dia menyuruhku untuk mencicipi satu mangkuk, alhasil rasanya sangat enak di bandingkan punya ku.
Dengan cepat aku memindahkan wadah bakmie ke tempat khusus rantang kecil, linshi bertanya-tanya pada siapa makanan itu akan ku berikan. Aku tidak akan memberi tahunya, dan yakin bahwa sebenarnya linshi juga tahu siapa orangnya.
Saat hendak pergi Lan dong terlihat menginginkan bakmie yang di buat linshi, matanya berbinar-binar menatap bakmie yang ku cicipi tadi. Aku tersenyum menyeringai, mengambil bakmie itu lalu menumpahkan serbuk sakit perut ke dalamnya lalu memberikan pada Lan dong.
"Untuk ku?" Tanyanya yang tu tanggapi dengan anggukan.
Dia langsung melahapnya dengan senang, rasakan kita lihat saja apa yang akan terjadi pada mu nanti. Aku masih sangat kesal mengetahui fakta bahwa dia yang memberikan racun pada Permaisuri Shen ai dan menjadikan aku tumbal kesalahannya.
Pergi ke kediaman pangeran Wenhua, aku melihat dia sedang membaca buku di bawah pohon dan di atas meja lebar yang biasa di duduki. Perlahan aku menghampiri pangeran Wenhua, tiba-tiba Pengyue datang membawakan makanan yang sama. Tatapan sengit beradu satu saling mengancam.
Pangeran Wenhua menyikapinya dengan dingin, dia asik membaca buku tanpa memperdulikan kehadiran kami. Dengan cepat aku duduk di samping pangeran tapi Pengyue juga merebut kesempatan itu.
"Tolong jangan berisik." Katanya membuat kami terbungkam dengan posisi kikuk.
"Pangeran, saya baru saja membuat bakmie kesukaan kamu." Ujar ku.
"Wenhua, ini bakmie buatan ku terdiri dari beberapa rempah pilihan keluarga song." Kata Pengyue.
*Keluarga song ada dua, yakni di daerah barat ada keluarga linshi dengan marga song tetapi sudah musnah hanya tinggal dirinya saja. Dan song di daerah timur marga milik keluarga Song Pengyue.
"Kamu bisa memasak?" Tanya pangeran Wenhua menatap ku sedikit sinis.
Deg!
Sejak kapan tatapannya berubah pada ku? Astaga! Aku melupakan sesuatu, saat itu mianju tahu kalau aku hanya bisa membuat kue bulan kan? Pangeran pasti kecewa.
"S-sebenarnya di bantu dengan Linshi." Jawab ku terbata-bata sambil menundukkan kepala.
"Hahaha! Ternyata putri yueyin dari kerajaan barat tidak bisa memasak!" Pengyue mentertawakan aku.
Sial, seharusnya ini hal yang wajar di kerajaan karena aku disini baru saja menginjak usia tujuh belas tahun. Oh iya apa perlu aku beri tahu pangeran kalau besok adalah hari ulang tahun ku?
"Sudahlah, aku tak berselera makan." Kata pangeran wenhua kemudian dia berdiri untuk meninggalkan kami.
__ADS_1
Kami berdua mencegat pangeran Wenhua, Pengyue memohon agar masakannya dimakan dan aku sebenarnya tidak terlalu berharap. Dia melakukan penolakan pada kami berdua, itu artinya suasana hati dia sedang tidak baik.
"Pangeran, maafkan aku jika aku mengecewakan mu. Tapi bisakah kamu pergi bersama ku besok ke hutan tempat dulu? Aku ingin merayakan ulang tahun ku bersama mu." Mohon ku berharap dia masih perduli.
Pangeran Wenhua hanya mengangguk sekilas dia pergi dengan cepat, Pengyue menatap ku sinis kemudian pergi juga. Ingin sekali ku rusak wajahnya yang sok cantik itu, kau tidak ada apa-apanya di bandingkan aku! Hm!
Karena pangeran Wenhua menolak mentah-mentah makanan ini, sebaiknya aku berikan saja pada Xianyu hitung-hitung sebagai alasan ku untuk main ke lembahnya, lalu meminta pertolongan dia membuatkan pil penawar racun mandul, kkk.
Aku berjalan melewati orang-orang jalan ini sedikit asing, apakah benar ini jalan menuju lembah Xianyu? Menggaruk puncak kepala kemudian berhenti sejenak menatap perjalanan.
"Xiaojie." Bisik seseorang sontak membuat ku terkejut.
"Pangeran Yifan!!" Aku terkejut bukan main saat melihatnya.
"Haha, sedang apa kamu disini? Dan kemana saja kamu?" Tanya pangeran Yifan.
"Ah, aku baru saja pulang dari istana barat." Jawab ku.
"Lalu kenapa bisa sampai ke tempat ini? Seorang putri tidak baik keluar tanpa pengawalan." Lanjut pangeran Yifan.
"Tidak apa, aku kan kuat." Dengan bangganya berkata seperti itu.
"Kuat sekali!" Seru ku.
"Bisa menghancurkan arca batu?"
"Bisa menggunakan kepala pangeran Yifan." Jawab ku santai.
Perkataan itu membuat pangeran Yifan tertawa lepas, jarang-jarang kami bicara topik pembicaraan yang non-formal seperti ini. Selepas dari pertandingan itu, tak pernah sekalipun membahas diluarnya.
"Jadi, putri yueyin. Apa kamu sudah memutuskannya?" Tanya pangeran Yifan.
"Pangeran, aku harus memikirkan hal itu berulang kali. Di hati ku ini, ingin sekali mencipta kedamaian." Jawab ku.
"Salah satu caranya adalah melakukan itu." Kata pangeran Yifan.
"Maaf pangeran, sepertinya untuk sekarang aku tidak mungkin menerima tawaran itu." Ujar ke kemudian pergi meninggalkan pangeran Yifan.
__ADS_1
Tatapan sedih dan kegagalan seorang pria terpancar dari pangeran Yifan, dia hanya bisa menatap kepergian perempuan yang di sukainya secara diam-diam. Melihat ujung rambut bergoyang-goyang dengan langkahnya yang semakin menjauh.
"Aku akan membuat mu menerimanya." Senyum pangeran Yifan.
Semoga saja jalan ini tidak salah, aku terus melangkah sesuai kata hati tapi tiba-tiba saja tiga laki-laki menghampiri dan bertanya apakah aku perlu bantuan. Tepat sekali, jika aku bertanya kemana jalan tujuan lembah Xianyu apakah mereka mengetahuinya?
"Xiaojie, apakah kamu butuh bantuan?" Tanya mereka.
Sempat terheran dan merasa asing namun tetap tenang dan teguh pada tujuan. "Aku tersesat, apakah kalian tahu dimana letak lembah Xianyu?" Tanya ku.
"Lembah Xianyu, kebetulan sekali kami hendak kesana juga." Seru mereka.
Dengan senang hati aku menerima bantuan mereka, tapi sepertinya ada yang aneh. Kenapa mereka terus berbisik-bisik di depan ku, dan jalan ini semakin jauh dari perkotaan. Ini sudah memasuki jalan menuju hutan.
"Tunggu, seingat ku jalan ke lembah Xianyu tidak menuju sini." Aku mulai waspada ke-tiga laki-laki tersebut.
"Ini benar, kamu cukup maju lagi dan kita sudah tiba." Salah satunya merangkul tubuh ku.
Aku menepis tangannya, ini jalan yang salah. Dengan cepat aku meninggalkan tempat itu na'asnya aku di tangan oleh mereka, pedang yang biasa ku bawa tertinggal di kamar. Bagaimana caranya menghadapi mereka, atau harus menggantung tubuh mereka di atas pohon?
"Tolong beri jalan, aku mau pulang." Kata ku dengan nada tegas.
"Xiaojie, ayolah sekali saja kita bersenang-senang." Ajaknya.
"Kamu pikir aku ini perempuan apa?! Apa perlu aku katakan bahwa aku adalah putri yueyin dari kerajaan barat?! Jangan macam-macam pada ku!" Ancam ku.
Tampaknya ancaman itu tak berguna sama sekali, mereka malah mentertawakan diri ku dan mengecap aku sebagai perempuan pembohong demi kebebasan. Aku sudah tak tahan lagi, rasanya amarah memuncak ketika jari-jari mereka menyentuh wajah dan leher.
"Hentikan!" Teriak ku.
Salah satu dari mereka ku layangkan hingga terpelanting, mereka terkejut namun malah menjadi kan aku sebagai musuh pertarung bukan sebagai pemuas nafsu lagi. Siapa mereka, sepertinya ini salah satu perampok yang memiliki nafsu bejat pada wanita terlihat dari kekuatannya.
Mereka menggunakan pedang, memangkas semua tumbuhan yang menolong ku. Serangan yang aku keluarkan dari gelang ajaib terbuang sia-sia, di kesempatan kecil ku jadikan waktu pelarian dari sana. Satu serangan meluncur, hampir saja pedang itu melukai wajah ku. Dia menggunakan alat untuk mengancam nyawa.
Pedang itu sekarang berada di depan leher, mereka menyuruh ku untuk mengikut saja dan menuruti apa kehendak mereka. Sesaat berjalan, angin kencang datang berhembus sampai menebas pucuk pastura. Mereka berteriak menyuruh seseorang yang melakukan itu keluar agar tidak menghalangi niatnya.
"Siapa kau! Keluar dari sini!" Teriak mereka.
__ADS_1
Wush~ *angin berhembus kencang dan munculah sosok laki-laki.