
Aku mengikuti langkah kepala desa sesuai apa yang dia katakan, tempat itu sudah mengering tersisa tanah keras. Bukan berarti tidak ada mata airnya lagi, aku mulai menggunakan pedang dan mengeluarkan elemen es dari sana, kenapa bisa? Entah sejak kapan bibit es itu sedang mengenali pemiliknya.
JDAR!
Suara gemuruh tanah retak menggema, air mengalir deras dari retakan tanah tersebut. Setelah cukup penuh aku mulai mencampurkan kekuatan yang di miliki bersama air hingga membentuk ramuan khusus.
Berputar menggerakkan tangan dan menyatukan kedua jari lalu mengarahkan ke air, air yang jernih berubah menjadi warna hijau. Ramuan itulah yang akan menjadi obat untuk para warga desa Dahei.
"Berikanlah ramuan ini pada semua orang yang terkena wabahnya, sementara aku akan menyelidiki dari mana datangnya serangga tersebut." Ujar ku kemudian pergi.
"Terima kasih, Xiaojie." Kata kepala desa.
Meninggalkan desa tersebut, menuju pasar untuk membeli daging. Kali ini akan memancing serangga untuk menggigit daging hewan yang telah di sisip kan lalu mengambil sampel racun yang di keluarkan.
Saat berjalan menuju pasar, secara tak sengaja menabrak seseorang berpakaian serba hitam dan topeng silver di bagian mata setengah wajahnya. Kepala terasa sakit, orang itu serasa tak asing. Waktu membalikkan tubuh untuk melihatnya lagi, dia telah menghilang bagaikan di telan angin.
"Siapa laki-laki itu?" Aku menggigit kuku karena rasa penasaran terus hadir di dalam hidup ini. Merasa bahwa telah melupakan sesuatu yang penting, dan sakit di saat aku mencoba mengingat hal itu.
Sampailah di toko penjual daging, aku membeli setengah kilo daging sapi lalu meminta potongan kardus tak berguna. Kembali ke desa Dahei, meletakan potongan kardus di tanah lalu daging di atasnya.
Tak lama serangga pun datang meninggalkan bekas gigitan di daging tersebut. Dengan cepat mengambil jarum untuk memindahkan sampel ke dalam ramuan pengetesan racun. Ku rendam jarum ke dalam mangkuk keramik bersisi ramuan pengetes.
Air berubah menjadi warna ungu kehitaman, sesuai dengan dugaan. Menurut di buku yang ku miliki racun ini berasal dari siluman kelabang mereka bertelur dan menghasil kan hama racun sebagai wabah penyakit. Aku harus menyelidiki dimana keberadaan siluman kelabang ini dan segera membunuhnya agar tidak ada korban lagi.
Berapa saat menyelidiki racun tersebut, kepala desa datang menghampiri. Tidak perlu basa-basi aku langsung menanyakan tentang keberadaan siluman kelabang itu dan yakin pasti bahwa kepala desa ini mengetahui banyak hal. Dia menceritakan bahwa akhir-akhir ini mendengar suara aneh dan teriakan di belakang hutan tetapi tidak berani mengeceknya karena harus fokus mengurusi warga yang terkena wabah.
*Di hutan belakang
Tidak ada satu pun yang berani menemani ku, termasuk kepala desa. Mereka semua memang pengecut itu hal yang wajar karena mereka tidak memiliki kekuatan apapun. Saat menginjak daun kering sialnya menimbulkan suara yang membangunkan siluman kelabang raksasa.
__ADS_1
Aku melihat di depan ada bagian perutnya, berarti bagian kepalanya ada di belakang ku.
*mohon maaf editannya buriq benerš¤£
RAUGHHH!!! *Lengkingan suara kelabang.
Sontak aku sedikit menjauh karena terkejut, ini lebih besar dari dugaan. Tubuhnya lima belas kali lebih panjang dari tubuh ku, aku mulai menyentuh ujung pedang mengendalikan elemen es yang ada di pedang ku.
Terbang menaiki tubuh kelabang dan bertarung mati-matian, sempat terjatuh namun aku bangkit lagi. Sampai tiba dimana waktu kelabang itu akan memakan ku.
SRETT! *Suara tebasan.
Seseorang memotong antena dan membuat mulut kelabang itu terluka. Jantung ku berdebar hampir saja aku mati di tangan siluman kelabang itu jika tidak di tolong dengan orang ini.
"Xiaojie bisa saya bantu anda berdiri?" Dia mengajukan tangannya untuk membantu aku berdiri.
"Dia akan pergi jika merasa terancam, anda tenang saja dia tidak akan pernah kembali ke tempat ini lagi." Tutur si laki-laki bertopeng.
Aku mengangguk sembari tersenyum, gaya dan suara laki-laki ini tidak begitu asing. Ingin sekali ku lihat wajah aslinya, namun itu pasti melanggar tata krama seorang putri yang ingin mengetahui identitas orang lain.
"Kalau begitu saya pamit dulu." Katanya.
"Tunggu." Aku menarik lengannya, saat tertarik tiba-tiba saja topengnya terjatuh.
Sedikit lagi aku dapat melihat wajahnya, sayangnya dia dengan cepat memasang topeng itu lagi. Aku jadi semakin penasaran siapa orang di balik topeng itu.
"Ada apa nona?" Tanya nya.
__ADS_1
Nging!!!! *Suara dengungan.
Telinga ku terasa sakit dan kepala pusing, setengah ingatan kembali dimana ada dua orang yang saling berbicara di bawah pohon, di samping kolam serta tertawa bersama saat makan. Seorang laki-laki bertopeng memasangkan perban mata untuk perempuan, mianju!
"Mianju!" Panggil ku menatap dia dengan mata yang berkaca-kaca.
Bukan sambutan atau pelukan hangat yang aku dapatkan darinya, dia menekan leher ku tepat dimana luka es pelupa yang ku dapatkan. Dada terasa sesak, aku pun kehilangan kesadaran dan di tinggalkan begitu saja.
"Maafkan aku." Mianju pergi meninggalkan putri yueyin sendirian di hutan.
Tak lama kemudian warga desa menemukan putri dan membawanya pulang. Mianju sengaja menekan tempat es pelupa tertanam, agar zatnya mengalir sampai ke otak yueyin dan melupakan kejadian hari itu. Sangat kejam melakukan itu pada seorang yang ia cintai, tapi mianju memiliki alasan tersendiri untuk melakukannya.
Mata perlahan terbuka, putri yueyin melihat ada beberapa warga dan kepala desa di sampingnya. Ia melihat telapak tangannya, ada luka sayatan bekas serangan siluman kelabang. Seingatnya dia pingsan setelah mengalahkan siluman kelabang, itu di sebabkan dengan racun yang di tangannya.
"Putri Yueyin anda butuh air?" Tanya kepala desa.
"Tidak perlu. Tapi maaf kepala desa, saya tidak ingin berbasa-basi. Kaisar bilang anda akan memberi tahu saya satu kelemahan naga putih jika berhasil mengatasi wabah ini." Jelas ku.
"Benar sekali, mari saya tunjukan ruangan untuk kita bercerita putri." Ajak kepala desa.
Mungkin saat itu aku percaya padanya, dia takut seseorang mendengar percakapan kami dan berusaha menaklukkan naga putih sendiri. Lain dengan yang ku pikirkan, kepala desa ini tidak sebaik yang aku pikirkan. Sangat bejat! Memajang banyak lukisan wanita seksi di dinding, aku melihatnya merasa jijik.
Brak! *Suara dorongan.
Dia mendorong ku ke dinding lalu memojokkan aku, matanya melirik ke arah dada dan membelai ujung wajah. Dengan cepat menepis tangannya lalu menodongkan pedang ke matanya.
"Tenang-tenang putri, saya hanya bercanda." Kekehnya.
"Aku tidak punya waktu untuk bercanda." Jawab ku dingin.
__ADS_1
Pria seperti ini seharusnya harus di musnahkan, jika tidak dia akan merusak moral banyak wanita. Sayangnya dia seorang kepala desa, membunuhnya aku berpikir dua kali jika tidak mau berurusan dengan hukum kerajaan.
"Jelaskan!" Bentak ku.