History Of Love Princess Yueyin

History Of Love Princess Yueyin
Episode 41


__ADS_3

"Jelaskan!" Bentak ku.


Dahinya mengernyit dia menarik kain yang menutupi sebuah lukisan naga putih.



Gambaran naga putih itu membuat ku terkejut sekaligus merasa takjub, mungkinkah ukuran tubuhnya berkali-kali lipat lebih besar dari siluman naga putih. Matanya yang tajam, mulutnya yang terlihat sangar. Serta ada bola Krystal di tangannya, mungkinkah itu bayinya?


Grep! *Kepala desa menggenggam tangan ku saat sedang menyentuh lukisan.


Dadanya menyentuh punggung ku, sudah tua tapi masih memiliki nafsu bejat. Ku dorong dia hingga menghantam tembok, lalu mencekiknya karena kesal.


"Kau pikir aku ini siapa? Jangan salahkan aku jika kepala dan tubuh mu terpisah secara sengaja." Ancam ku.


"Haha, aku akan memberi tahu mu semua kelemahan naga putih jika mau tidur dengan ku." Tawarnya dengan wajah mesum lidah menjilat pinggiran bibir.


Aku sudah berada di batas ke sabaran. Menyimpan pedang di samping pinggang, mata berubah menjadi hijau, ku arahkan kedua jari kanan ke leher kepala desa tersebut. Tumbuhan menjalar dan mengangkat dia sampai ke udara.


"Uhuk..uhuk! Lepaskan aku!" Paksanya.


Aku terus mengendalikan tanaman rambat untuk mencekik kepala desa, amarah ku sudah memuncaki batasnya. Tidak perduli apa yang akan terjadi jika aku membunuh kepala desa ini.


"Aku akan beri tahu! Mata naga putih! Itu kelemahan nya, berikan saja serbuk buram lalu taburkan ke matanya, di saat waktu seperti itu letakan bola suci di kepalanya." Jelas kepala desa.


BRUGH! *Suara jatuh.


Saat kepala desa itu ku lepaskan dan terjatuh di lantai, semua kekuatan ku kembali seperti semula. Ingin mengucapkan terimakasih dan maaf, tapi semua itu percuma. Kepala desa sudah kehilangan nyawanya akibat cekikan tanaman rambat dari kekuatan ku.


"Habislah aku kali ini." Ujar ku kemudian segera pergi dari tempat itu.


*Istana kerajaan timur.


Aku tak sengaja berpas-pasan dengan pangeran Wenhua, sepertinya dia sudah menyelesaikan misi. Pikiran ku kacau, memikirkan bagaimana caranya menutupi pembunuhan yang telah ku lakukan. Tanpa sangka raut wajah panik ku mudah di tebak oleh pangeran Wenhua.

__ADS_1


Grep! *Pangeran Wenhua menahan lengan ku.


"Apa yang terjadi?" Tanyanya.


"Tidak apa-apa pangeran." Jawab ku sambil mengelap sedikit keringat dingin karena takut.


Pergerakan seperti itu membuat pangeran Wenhua melihat luka di tangan, tanpa izin dia membawa ku ke paviliun miliknya. Disana dia mengobati luka ku dengan teliti.



"Jelaskan apa yang terjadi, kau tak perlu menyembunyikan banyak rahasia pada ku. Kita satu kelompok sudah seharusnya saling membantu." Tutur pangeran Wenhua.


"Aku bertarung dengan siluman kelabang di desa Dahei dan menyebabkan luka ini, tapi..A-aku…tak sengaja membunuh kepala desa sebab dia ingin melecehkan diri ku, pangeran." Aku menjelaskannya.


Pangeran menghela nafasnya dalam, seperti dia sudah tahu apa yang akan terjadi. Setelah membersihkan luka dia menatap mata ku lama, hal itu membuat aku jadi malu dan pipi semakin memerah.


"Jika seperti itu, maka aku akan membantu mu. Kembali dan beristirahat lah." Suruh pangeran Wenhua.


"Baik, terima kasih pangeran." Sengaja segera pergi karena setiap bertemu dengan pangeran Wenhua hati ku merasa berdebar dan sakit tak karuan.


"Ternyata kau yang sudah membunuh kepala desa Dahei." Kata-katanya membuat aku terancam.


"Lalu apa mau mu? Apa kau akan melaporkan aku?" Tanya ku dengan ekspresi tegang.


Dia mendecak lalu melempar batu ke arah ku, berteriak tidak tahu terima kasih. Katanya dia hendak menolong ku tapi karena perkataan ku dia tidak jadi melakukannya.


"Memangnya apa yang bisa kau lakukan jika tertangkap?! Tidak tahu terima kasih! Hendak di tolong tapi bersikap sombong." Dia memutar langkah untuk memasuki kediaman pangeran Wenhua.


"Sejak kapan kau ingin menolong ku, bukankah kau sangat membenci ku?" Tanya ku lagi.


"Linyi berkata, bahwa Gege jiyang mati karena di bunuh seseorang dan itu bukan dirimu. Gege Wen juga bilang, kalau kematian itu takdir yang tidak bisa di cegah." Jawab putri Zhao.


"Lalu?" Aku semakin penasaran apa yang ingin di katakan putri Zhao.

__ADS_1


"Jika kau di panggil untuk di beri hukuman, pakai saja pakaian berwarna merah. Mengingat mendiang selir ruyi senang memakai pakaian berwarna merah, dan kalian memiliki satu kesamaan. Mungkin kaisar akan bersimpati untuk mengurangi hukuman mu." Jelas putri Zhao kemudian pergi.


Tidak di sangka sifat putri Zhao berubah seratus delapan puluh derajat, awalnya dia sangat membenci ku namun saat ini malah memberikan saran untuk mengurangi hukuman ku. Salju tetap turun di kawasan istana, meninggalkan kediaman pangeran Wenhua lalu pulang menemui Zizi.


*Di kamar


"Zi tolong siapkan air hangat untuk aku mandi, dan tolong carikan pakaian berwarna merah." Perintah ku.


"Baik putri.." sahutnya kemudian melakukan perintah ku dengan cepat.


Jendela terbuka, salju menyatu dengan tanah. Pohon-pohon tertutupi tidak ada yang spesial di musim ini, apakah aku akan berakhir di hukum kerajaan? Permaisuri tampaknya tak senang dengan kehadiran ku, dan dia juga sangat dekat dengan pangeran Wenhua. Kesalahan ku, apakah akan di gunakannya untuk menyingkirkan ku dari kerajaan timur? Ataukah malah menjadi konflik keluarga antara permaisuri Enxi dan pangeran Wenhua?


"Putri Yueyin, semuanya sudah saya siapkan. Mari saya langsung antarkan." Ajak Zizi.


Kami pergi ke tempat pemandian, hawa hangatnya membuat ku tenang. Ku lirik Zizi yang sedang mengelap tubuh ku dengan waslap sesekali menyirami air kelopak bunga agar harum.


"Zizi, aku telah membunuh seseorang." Ujar ku.


Pertama kalinya melakukan kesalahan besar, Zizi terkejut dan terpaku setelah mendengar ucapan ku. Dia meletakkan waslap di wadah lalu bersikap panik membantu memikirkan bagaimana solusinya.


"Putri, apakah saya harus memanggil Linshi untuk menyelesaikan ini? Kami akan membuang mayatnya dan memalsukan kematian orang itu. Anda hanya perlu katakan dimana kejadian itu." Kata Zizi.


"Terlambat sudah, walaupun kita memalsukan kematiannya. Semua orang akan tetap curiga pada ku, karena kepala desa itu terakhir kali hanya bertemu dengan ku." Aku memejamkan mata.


"Lalu apakah kita harus kabur dari tempat ini?" Tanya Zizi.


"Keputusan yang buruk." Ujar ku.


Zizi terlihat kebingungan, aku tahu dia sangat khawatir sebab itulah aku menggenggam tangannya erat agar menghilangkan rasa itu.


"Aku tidak akan mati hanya karena masalah itu, mungkin akan mendekam di penjara selama beberapa hari." Lanjut ku.


"Tapi putri jika kaisar Yuwen mendengar hal ini, dia pasti sangat sedih. Lima hari lagi adalah acara pernikahannya." Zizi mengingatkan ku.

__ADS_1


Benar, bagaimana caranya aku menghadiri pernikahan kaisar Yuwen. Bila aku mendapatkan hukuman, padahal sudah berjanji dia pasti sangat sedih jika aku tak hadir.


"Aku akan mencari jalan keluarnya, Zhao menyarankan ku menggunakan pakaian berwarna merah. Karena kaisar menyukai warna itu, semoga dengan saran Zhao, kaisar bisa membantu meringankan hukuman ku." Tutur ku.


__ADS_2