
Yueyin merapikan pakaiannya dia berkaca di cermin ada Zizi yang menatapnya khawatir karena trauma dengan kejadian yang menimpa linshi. Senyuman muncul di wajah yueyin, dia membelai puncak kepala Zizi lalu berkata.
"Semua akan baik-baik saja, kamu tinggalah bersama Xianyu. Setelah semuanya selesai aku akan membawa mu kembali." Senyum Yueyin.
"Tapi putri bagaimana jika Permaisuri Enxi melukai—"
"Dia tidak akan pernah bisa lagi, karena aku telah menemukan cara ampuh untuk mengalahkannya." Yueyin meyakinkan Zizi.
"Baiklah…"
*Yueyin pov.
Aku berjalan keluar melihat Xianyu sedang memetik tanaman herbal, dengan cepat ku sapa hangat selamat pagi. Dia mengangguk kemudian bertanya apakah aku sudah yakin dengan pilihan ku.
"Apakah kamu sudah yakin?" Tanyanya.
"Sudah yakin, tolong jaga Zizi saat berhasil aku akan kembali menjemputnya." Jawab ku.
Setelah berpamitan kereta kuda datang menjemput tentu itu berasal dari kediaman pangeran Yifan, sedikit gugup aku menaikinya lalu melihat Zizi dan Yifan berada di depan halaman rumah sambil menatap kepergian ku.
"Sekali ini, biarkan kami berhasil agar semua permasalahan ini selesai." Gumam ku.
Kuda berjalan menuju istana, aku memakai jubah merah untuk menutupi identitas sementara agar tidak langsung di serang oleh prajurit kerajaan. Saat masuk semuanya sibuk mengikuti pesta ulang tahun kaisar, disana sudah ada pangeran dan putri-putri kerajaan. Mata ku tertuju pada pangeran Yifan melewatkan sorot mata dari pangeran Wenhua tanpa perduli.
Sebuah anggukan merupakan simbol untuk jalan rencana kami, pangeran Wenhua berdiri dan berkata bahwa mereka semua kedatangan tamu spesial yang akan mengejutkan. Semuanya jadi penasaran, waktu itulah yang ku pakai untuk berdiri di tengah-tengah agar menjadi pusat perhatian.
"Kita kedatangan tamu spesial, sebagian orang tidak akan asing padanya." Ucap pangeran Yifan.
Aku membuka jubah yang ku pakai, semua orang tercengang melihat sosok yueyin hadir ke pesta ulang tahun kaisar tanpa takut di hukum. Namun yang bisa ku tunjukan adalah senyuman kepada Permaisuri dan ucapan selamat terhadap kaisar.
"Panjang umur yang mulia kaisar, semoga kesehatan selalu ada di tubuh anda." Senyum ku.
Permaisuri menatap dengan sengit, bisa ku lihat bahwa tangannya mencengkram kursi karena kesal. Kita lihat apa yang di lakukannya kali ini, apakah berusaha memfitnah ku lagi?
__ADS_1
"Kamu tahu apa artinya kembali kesini?" Tanya kaisar.
Tentu aku tahu, menyerahkan diri agar bisa ikut berkontribusi dalam pertandingan. Setelah selesai aku akan mengejar posisi Permaisuri kemudian menyatukan dua kerajaan dengan satu kebijakan agar semua permasalahan selesai sampai disini.
"Saya tahu kaisar, yueyin He akan menerima sanksi hukuman apapun yang di berikan kaisar agar bisa mengikuti pertandingan lagi." Ujar ku.
"Akankah kau mengecewakan ku lagi yueyin?" Tanya kaisar sekali lagi.
"Tentu tidak kaisar, saya pasti dapat memenuhi keinginan kaisar." Senyum ku membungkuk.
"Hukum putri yueyin di kolam kematian." Ucap kaisar sontak menjadi keributan karena itu hukuman terberat.
Aku sempat terkejut namun mendapatkan ketenangan setelah kode dari anggukan pangeran Yifan. Menghela nafas dalam, aku pasti bisa melewati ini semua ini akan cepat berlalu.
"Ayah mana mungkin putri yueyin bisa mendapatkan hukuman seperti itu!" Bantah pangeran Wenhua.
"WENHUA RUI!" teriak Permaisuri bermaksud untuk pangeran tidak mencampuri masalah itu.
"Anda tidak perlu repot-repot membela saya, karena ini adalah masalah pribadi ku." Ucapan terakhir di hari itu, lalu aku pun pergi ke kolam kematian untuk menerima hukuman.
Byur!!! *Pengyue mendorong tubuh yueyin.
"Cepat hitung waktu lamanya disana." Perintah Pengyue.
Selama di istana ternyata dia dapat menarik perhatian Permaisuri Enxi dan dapat kepercayaan untuk bergabung dalam Mentri-mentri hukum kerajaan. Senyuman jahat terlukis di wajahnya, berharap bahwa aku mati ketika melewati cobaan ini dan dia tidak akan mendapatkan saingan ketika pertandingan.
Di dalam kolam seluruh tubuh ku terasa nyeri, tak sadar kalau air mata keluar dengan sendirinya. Perlahan ingatan lama muncul, anehnya semua kebahagiaan yang pernah di alami itulah yang muncul seakan aku tak bersedia jika mati dengan mudahnya. Seakan aku tidak bisa menyakiti orang-orang yang pernah berbuat baik pada ku.
Ini sebuah cobaan dari kolam kematian, dia mencoba membersikan hati yang penuh kebencian. Tenang, aku tidak akan membunuh orang itu, hanya saja bibinya pantas mendapatkan ganjaran. Bukan berarti aku akan kembali bersamanya, dia akan merasakan sakit yang sama saat kehilangan kepercayaan.
WUSHHH!!
Tubuh ku terangkat lalu jatuh ke dalam pelukan pangeran Yifan, kami tertawa kecil. Akhirnya berhasil melewati ujian dari kolam kematian, semua orang terkagum-kagum saat aku berhasil melakukannya tepuk tangan dari kaisar terdengar ia pun berdiri di hadapan pangeran Yifan dan aku.
__ADS_1
"Selamat kau telah berhasil, besok persiapkan diri mu karena pertandingan akan segera di mulai." Kata kaisar.
"Baik kaisar." Aku memberi hormat.
Setelah kaisar pergi, pangeran Wenhua menatap ku namun aku menghindari kontak mata darinya. Pengyue menarik lengan pangeran Wenhua lalu pergi dari sana, lihat baru lima bulan saja dia sudah menemukan pengganti ku.
"Ayo ganti pakaian mu." Ajak Yifan, kami pergi ke kediamannya.
Setelah mengganti pakaian aku mengajak pangeran Yifan untuk mencari seseorang, dia bertanya siapa orang itu. Aku pun menunjukkan sebuah surat dari mendiang ibu suri barat nama laki-laki itu adalah Anyu di sebutkan ciri-cirinya dalam surat itu.
"Orang tertua disini adalah kakek Chong dia mantan guru, di perguruan Zhen." Kata pangeran Yifan.
"Kalau begitu bisakah kita bertemu dengannya, dan bertanya banyak hal?" Tanya ku.
Pangeran Yifan mengangguk, kami segera pergi ketempat itu. Semakin cepat masalah ini terselesaikan semakin baik kedepannya, ketika kami bertemu dengan kakek Chong dia sudah terbaring di atas kasur dengan di temani seorang cucunya. Aku pun duduk dan bertanya pada kakek itu.
"Ada apa pangeran Yifan repot-repot kesini?" Tanya kakek Chong.
"Kakek, teman ku ingin bertanya suatu hal. Mungkin kamu tahu banyak tentang perguruan." Jawab pangeran Yifan.
"Kalau begitu, apa yang ingin di tanyakan?"
"Kakek, apakah kamu mengenal laki-laki bernama Anyu? Rambut putih dan mata biru, pandai mengobati orang-orang, dia dulu belajar di perguruan Zhen bersama putri Cheni." Tanya ku dengan sedikit penjelasan.
"Rambut putih mata biru, pandai mengobati bernama Anyu." Dia berpikir sejenak karena ingatannya mulai memburuk di usia tua.
"Maksud mu Xianyu Rong? Dia adalah murid kesayangan ku, putri Cheni dan dia sempat berkencan dulu, sebelum hubungan mereka kandas karena perjodohan putri Cheni dengan kaisar barat, haha." Kekeh kakek Chong.
Aku terkejut, tunggu— dia mengatakan bahwa Anyu adalah Xianyu Rong. Bukankah itu Xianyu yang aku kenal? Demi memastikannya aku kembali bertanya pada si kakek.
"Kakek, Xianyu yang kamu maksud apakah memiliki lembah?" Tanya ku.
"Kemu mengenalnya? Dia memang pandai mengobati orang, saat itu dia pernah berkata pada ku bahwa dia akan membuat lembahnya sendiri. Anyu adalah nama panggilan yang kami ciptakan untuknya." Jelas kakek Chong.
__ADS_1
Tidak salah lagi itu memang Xianyu orang yang aku kenal.