
Mami mengajak Ara duduk disofa, Ia amat bahagia melihat Ara kembali pada mereka hingga rasanya begitu ingin mengajaknya megobrol berdua. Namun, belum lagi Mami bertanya perut ara sudah keroncongan tak karuan. Saat itu mami tertawa terbahak-bahak, dan mami mempersilahkan ara tetap duduk dan ia memasak makanan untuknya.
"Mami ngga usah, Ara bisa masak sendiri kok. Meski hanya telor atau mi instan," Ara menggaruk kepalanya yang tak gatal. Malu, karena diusianya yang sudah segitu Ia belum bisa melakukan apapun didapur.
"Ngga papa, Sayang. Mami sudah lama ngga masak buat Ara, Omelet kan?" tanya Mami dengan antusiasnya. Bakan mami meminta ara kembali kekamar saja jika ia masih ingin istirahat dan nanti akan mengantarnya kekamar mereka, tapi ara menolaknya karena serba tak enak hati.
"Biasa aja, Sayang. Sama maminya sendiri juga," tegur mami, tapi justru itu membuat Ara semakin gelisah saat ini.
Untung saja Dady datang, Ia lalu duduk didekat ara untuk mengobrol padanya dengan ramah. Apalagi kalau bukan Papi mempertanyakan mengenai rekannya itu yang sudah sekian lama tak tampak oleh mereka. Ara langsung tertunduk, tapi Ia kemudian buka suara tak kelang lama.
"Papa bangkrut, Pi. Usaha dan semua harta Papa disita bank karena ngga bisa melunasi hutang. Sebenarnya, Papa ditipu rekan bisnisnya saat itu tapi Papa juga ngga bisa berbuat apa-apa karena kurangnya bukti. Papa mengaku teledor, jadi Papa lebih memilih pulang ke kampung nenek." jawab Ara dengan segala kisah hidup pelik keluarganya.
Papi mengelus dagu, Ia tak menyangka hingga rekannya bisa mengalami nasib setragis itu. Padahal selama ini Ia dikenal pengusaha yang kompeten dengan bidangnya, bahkan kredibilitasnya sudah diakui oleh semua yang mengenalnya selama ini termasuk Papi sendiri.
Papi kemudian mempertanyakan pasal Ara, Ia bagaimana, tinggal dimana dan kuliah bagian apa hingga bisa bertemu Ila. Hingga Ara menceritakan semua hingga Mami justru begitu perih mendengarnya. Mami tak tahan, bahkan mengusap air mata dengan celemek yang tengah ia pakai saat ini padahal ada tisu didekatnya.
"Mami jangan nangis, Ara ngga papa kok." ucap Ara yang langsung menghampirinya.
Mami hanya sedih membayangkan perihnya ara saat ini dengan hidup yang serba pas-pasan. Karena mami tahu betapa ara dimaja sejak dulu dan menjadi anak kesayangan mama papanya.
"Ara makan dulu, pasti ara laper daritadi. Mami bawain bahan makanan ya, buat ke kost?" tawar mami padanya.
"Ah... Mam, ngga usah. Masih cukup kok," tolak ara semakin tak enak hati.
Tapi saat itu Ila yang bangun langsung turun. Ia melihat maminya datang langsung segera memeluknya, tapi seketika mengusap air mata yang mengalir dipipinya.
"Maaf bikin Mamii nangis. Ara ngga sengaja," sesal ara pada sahabatnya itu.
__ADS_1
Ila pengertian, Ia tahu bukan maksud ara membuat maminya menangis. Papi juga disana sedih, pasti Ara sudah menceritakan kisahnya pada mereka. Dan Ila berharap, agar mami papi bisa menolong mama papa ara dengan segala kekuasaan yang dimiliki.
Ara kemudian beralih ke meja makan untuk menyantap makan siangnya, sementara Ila tengah menemani mami ke kamarnya. Ara merasa tak enak, lagi-lagi tak enak dengan kejadian hari ini. Bukanya membawa bahagia atas pertemuan mereka, tapi justru membuat sedih semua dengan kabar duka keluarganya.
Ila dikamar menceritakan kesulitan Ara saat ini, tapi Ara menolak semua bantuan Ila padanya apalagi dalam bentuk materi.
"Kost ara dimana?" tanya Mami, dan Ila segera memberitahunya. Mami saat itu langsung menelpon sang putra yang tengah sibuk disana, dan mama seketika memintanya pulang kerumah mereka.
Mendengar suara Maminya yang sumbang, Brey segera mengakhiri pertemuannya. Ia pamit dan mewakilkan semua pada sean dan ia berlari menuju mobilnya untuk pulang kerumah.
"Hallo, Za?"
"Ya, Kak? Ada apa?"
"Kau ingat rekan bisnis kita yang bernama Johan? Istrinya bernama Rina. Kita sempat melakukan beberapa proyek Lima belas tahun lalu.."
"Cari infonya sekarang. Dimana, dan bagaimana keadaaan dia. Aku tunggu kabarnya."
"Baik," balas Papa Reza dari tempatnya saat ini. Ia segera bergerak melaksanakan perintah meski tengah ada dikantornya sendiri. Ia juga meminta beberapa rekan untuk membantunya agar semua proses semakin cepat dan akurat.
Brey tiba dirumahnya, Ia segera masuk dan disana langsung bertemu papi dan ara dimeja makan. Brey dengan wajahnya yang serius dan tegang langsung menghampiri papi untuk mencium tangannya lalu menananyakan keberadaan mami. Tapi, mode wajah itu seketika berubah ketika Ia menyapa ara disana.
"Hay cantik," sapa Brey dengan begitu manis dan ramah padanya. Ara sampai tercengang, ketika melihat Brey bisa merubah mode diri antara serius dan genit dalam waktu amat singkat.
"Hay juga... Kak," sapa ara.
"Kamu kesini ngga bilang kakak?"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Tak apa, hanya ingin bertemu saja. Tak boleh?"
"Hah?" Ara masih saja cengo dengannya. Untung saja makan siang itu sudah habis, hingga meski gugup ia tak perlu tersedak lagi dibuatnya.
"Kak, maaf... Tadi yang buat mami nangis itu ara. Ara ngga sengaja karena_..."
"Tangis itu, apakah tangis bahagia? Karena mami sudah bertemu dengan calon menantu yang selama ini ia cari."
Bibir ara bergerak-gerak mendengarkannya. Harusnya ia tersipu malu dengan godaan itu, tapi tidak bagi ara saat ini. Ia hanya diam dan bengong melihat tingkah pria yang masih saja gencar menggodanya itu.
"Kakaaaak!" pekik Ila dari atas.
Brey yang tadinya manis, dan santai bertumpu kedua tangan di meja makan itu langsung tersentak dan kembali pada modenya.
"Ya? Ada apa?"
Tapi Ila sudah tahu semuanya. Ia kesal dan langsung menjewer telinga Brey saat itu juga dengan segala kekesalan hatinya.
"La... Jangan gini, malu."
"Malu sama siapa? Sama Ara? Tadi ngegombal gitu ngga malu? Mami nungguin daritadi diatas."
"Iya... Iya... Lepasin. Kakak naik sekarang juga,"
"Bohong! Ayo sama Ila naiknya." ajak gadis itu dengan tetap menjewer telinga kakaknya. Tapi Brey tetap memberikan senyuman terindahnya untuk ara meski ditengah segala rasa sakit yang ada. Semua terasa indah, ketika ara sesekali membalas senyum untuknya.
__ADS_1
"Oh, indahnya." ucap Brey yang kini tengah menapaki tangga. Senyuman itu terasa menggetarkan jiwa.