Huru Hara Cinta Sang Penguasa

Huru Hara Cinta Sang Penguasa
Part 20


__ADS_3

" Mama dapat modal dari mana?" tanya Ara curiga. Jujur Ia tak mau mama papanya meminjam uang dari bank lagi atau dari rentenir dengan bunga yang menjerat leher. Apalagi jika ada jaminan lain yang semakin akan merugikan mereka.


"Engga, Sayang. Mama ngga pinjem darimanapun. Bukankah ara memiliki keluarga yang begitu baik disana?" jawab mama, dan itu saja bisa menjawab semua pertanyaan yang ada dalam benak ara.


Ya, siap lagi jika bukan Mami Papi yang bertindak kembali sebagai malaikat mereka. Ketika semua menjauh, mereka masih bisa datang untuk membantu semuanya.


" Ma... Apa mereka minta sesuatu dari kita?" tanya ara sedikit terbata. Tapi mama menyanggahnya, bahwa mereka begitu tulus memberi tanpa mengharap imbalan apa-apa.


"Ara kenapa bilang begitu? Mereka hanya bilang, karena mereka sudah menganggap kita keluarga, itu saja." jaaan sang mama dari sana.


Ara hanya mengangguk, Ia kemudian mematikan panggilan itu dan diam dengan segala kegalauan dalam hatinya. Memang salah ketika Ia mempertanyakan kebaikan mereka, padahal seharusnya ia tak boleh bertanya seperti itu hanya karena Breyhan.


Sejak dulu mereka tahu kebaikan keluarga Nugraha, yang tak pernah tebang pilih untuk menolong keluarga mereka tanpa imbalan apa-apa. Sangat jarang ditemukan saat ini.


"Sayangnya mami udah pulang," sambut mami pada kedua malaikatnya itu. Yang meski sudah dewasa, tapi kadang masih memperlakukan mereka seperti remaja bahkan anak-anak.

__ADS_1


Saat itu Ila duduk bersama mami disofa, Ia menceritakan kejadian hari ini dari pagi hingga siang. Bahkan menceritakan jika Breyhan mendapat bekal dari ara untuk sarapan.


"Jodoh kan, Mam? Tahu aja ara, kalau kak Brey ngga sarapan gara-gara Ila."


Mami takjub sekaligus senang mendengarnya, bahwa itu adalah sebuah kemajuan yang luar biasa untuk mereka berdua. Apalagi Brey memang tampak amat ingin bersama Ara.


Mami begitu antusias mendengar semua cerita putrinya sejak pagi hingga mereka ke Rumah sakit dengan kecelakaan kecil Breyhan. Tapi sepertinya luka itu tak menjadi fokus mami saat ini, Ia hanya tetap mendengarkan bagian Ara dan Breyhan saja disana. Bahkan mami terkekeh me dengar kekonyolan ara dengan segala kecemasannya.


Breyhan menggelengkan kepala mendengar antusiasme mereka berdua dengan segala ceritanya. Ia segera naik kekamarnya. Ia terdiam dan duduk ketika ingat kotak bekal yang ara berikan itu masih tertinggal dikantornya. Amat sangat menyesal, karena galau itu membuatnya lupa semua.


Tapi entah kenapa rasanya gelisah, bahkan ketika ia sudah mandi dengan air hangat yang seharusnya bisa merelaksasi tubuhnya. Bahkan ketika makan malam, yang Ia ingat hanya kotak bekal yang ketinggalan diruangan saat itu.


"Yaelah, perkara kotak bekal doang. Bukan Tuperwer mami kan?"


"Tapi sepertinya lebih berharga, Ila. Lihat, wajah Kak Brey sampai galau begitu," ledek mami pada sang putra.

__ADS_1


"Susul aja sono, ribet amat. Susul dah tuh, simpen dilemari kaca." tukas Ila.


Sejenak Breyhan diam lalu menatapnya. Tajam, dan semakin tajam hingga menyipitkan mata. Perasaan Ila tak enak dengan ekspresi kakaknya, ia mengerenyitkan dahi tapi tetap fokus pada makan malamnya.


" Apa?" tanya Ila padanya. Tapi Breyhan hanya tersenyum, ia lantas berdiri dan meraih kunci mobil dan pergi.


"Haish, astaga... Salah Ila menantang pria yang sedang jatuh cinta. Bucin," gerutu Ara sembari menepuk jidatnya.


Brey tiba di kantornya. Ia masuk dengan kunci yang ia pegang lalu naik keatas menuju ruangan pribadinya yang gelap gulita itu. Tapi Ia masih bisa menerawang dengan jelas arah meja dimana ia meletakkan kotak bekalnya tadi pagi.


"Ini dia," raih Brey pada kotak itu, lalu mendekapnya dengan erat dan hati yang lega.


Kleeekkk! Pintu dinyalakan. Brey panik sendiri hingga menunduk dan bersembunyi dibawah meja kerja, hingfa akhirnya Ia tersadar.


"Bodoh! Ini kantormu, kenapa kau bersembunyi gara-gara masuk kantor sendiri?"

__ADS_1


__ADS_2