
"Hey, sudahlah... Aku bisa sarapan dikantor nanti. Kau tak perlu menangis,"
"Tapi nanti maghnya kumat gimana?" tanya ara, yang ternyata juga masih paham dengan Brey selama ini.
Ya memang paham, karena dulu Brey sempat tak bisa menahan lapar sama sekali hingga tubuhnya sempat gemuk karena kebiasaan itu.
"Hanya beberapa menit. Itu tak akan membuatnya kambuh,"
"Yaudah, cepetan pergi." usir Ara, yang tak mau brey kumat sakitnya.
Ara mencium telapak tangannya, lalu menempelkan dipipi brey sebagai perpisahan keduanya. Brey tersenyum lalu mengusap rambut ara dengan telapak tangannya.
"Iyeaaakzzz! Menggilakan!" kesal Ila pada mereka berdua. Namun, salah siapa masih disana dan melihat semua moment mereka yang memuakkan itu. Padahal jadwalnya sudah padat dan She daritadi menunggu mereka dikelasnya..
"Aku pergi, byeee..." Brey kemudian masuk ke mobil dan melambaikan tangannya.
"Ila kenapa?" tanya ara pada adik iparnya itu. Wajah ara yang tampak jengah, membuatnya semakin bertanya-tanya.
"Ngga papa, yok masuk." tarik Ila pada lengan ara lalu membawanya masuk keruang kelasnya.
__ADS_1
"Lah, tumben bawa bekel sendiri? Beli lagi," sapa Sean yang masuk ke ruangan Brey. Disaat yang sama kerika calon suamu ara itu tengah menikmati sarapannya.
Brey kemudian bercerita mengenai pembicaraan mereka semalam dengan Mami papi, dan keputusan mantap untuk menikan seminggu lagi dengan semua rencana yang ada.
"Sanggup, tinggal dirumah sendiri?"
"Kenapa tidak?"
"Jangan bilang kalian pisah kamar? Aku lihat, ara sebenarnya belum siap, Brey."
"Pisah kamar itu hanya perkara waktu, Sayang." usap Breyhan diwajah adik sepupunya itu sembari tersenyum renyah hingga memperlihatkan lesing pipitnya.
"Apa? Kau yang memancing. Kita lihat saja, seberapa kuat dia menahan godaan ketika menikahi pria tampan nan rupawan sepertiku," tatap smirk Breyhan pada Sean, membuat bulu kuduknya merinding seketika.
Untungnya sang skretaris masuk, kemudian memanggil mereka untuk melakukan rapat seperti biasa.
" Ada Bu aya disana." ucap Kania padanya.
"Hmmm? Sudah lama?"
__ADS_1
"Lumayan, dan Dia mempertanyakan Bapak sejak tadi. Apalagi, nomor bapak susah dihubungi."
"Hah? Benarkah?" Brey segera melirik hpnya. Rupanya memang ia lupa mengecas hingga hpnya mati saat ini, lalu Ia meminta Kania untuk nengecas diruangannya.
"Jangan-jangan ara sempat hubungi?" gumam Brey dengan ara yang selalu ada dalam isi kepalanya.
Breyhan masuk keruangan rapat, dan mereka semua berdiri untuk menyambutnya. Terutama Aya, yang senyumnya seketika merekah ketika Breyhan datang.
Rapat segera dimulai untuk mempersingkat waktu. Suasananya pun tenang penuh konsentrasi untuk membahas semua proyek yang tengag mereka kerjakan. Aya sebagai satu-satunya wanita disana, juga tak kurang dengan pemahaman yang mereka bahas dengan proyeknya.
"Semua paham dengan apa yang saya jelaskan?" tanya Aya usai mempresentasikan hasil kerjanya.
"Saya paham, dan menurut saya semua bagus dan semua sudah berusaha sebaik mungkin. Hanya saja, mungkin untuk seminggu ini saya serahkan semuanya pada Sean."
"Ada sasuatu?" tanya seorang rekan kerja padanya. Kania segera menjelaskan beberapa alasan ketika Brey akan rehat sejenak. Karena selain harus keluar kota, Brey juga tengah merancang pernikahannya sebentar lagi dengan pujaan hatinya.
Semua orang yang ada disana lantas bersorak memberi selamat, meski Sean menjelaskan tak ada pesta mewah disana. Tapi mereka tetap senang, melihat sang presdir akan melepas masa lajangnya.
Hanya aya, yang justru diam tanpa berucap sepatah kata sama sekali. Ia justru menundukkan kepala, termenung sendirian diantara semua keriuhan yang ada.
__ADS_1
"Menikah? Apa dengan gadis kemarin? Gadis kecil itu?"