
"Ara... Masuk dulu, ya? Kakak hati-hati pulangnya." Ara tampak sedikit gugup pada calon suaminya itu. Apalagi tapan Brey semakin intens saja ketika melihatnya.
"Tidur nyenyak, besok kita bertemu dikampus. Aku tunggu sarapannya," ucap Brey yang kemudian mengelus rambut indah gadis itu.
Ara mengangguk, lalu kemudian berlari masuk kedalam kamar kost mungilnya. Ia segera mengganti pakaian, lalu merebahkan diri diranjang empuk yang sebentar lagi akan ia tinggalkan itu.
Ya, Ara akan pindah kerumah besar itu nanti. Bersama Ila dan Mami mertuanya yang amat baik dan pengertian.
"Sedangkan ara masih begini aja. Haduh, ini gimana besok? Gimana kalau Ara belum bangun, tapi Mami udah didapur? Gimana kalau ara masih... Masih, diem aja tapi semua udah rapi?" galaunya.
Dan galau nya ara itu sepertinya memang ada dalam fikiran setiap wanita yang akan membina rumah tangga. Meski mertuanya baik, tapi ia takut jika sulit menyeimbangkan diri dengan sang mertua nanti.
Untung saja setelah itu Brey mengajaknya segera pindah. Dan bukan karena masalah seperti yang ada dinovel online yang selalu bertengkar dengan mertua atau iparnya.
Ara berusaha memejamkan mata. Ia terlalu bahagia hingga rasanya begitu sulit untuk tidur malam ini. Bahkan Ia menghabiskan segelas susu hangat yang Ia buat barusan. Fikirannya berkecamuk, terus saja membayangkan pernikahan yang sebentar lagi akan terjadi.
Namun, pada akhirnya mata itu terpejam sendiri hingga pagi.
*
__ADS_1
"Kakak!" Ila memekik dan langsung berbaring diatas kasur empuk kakaknya. Ia mengusap wajah dan rambut sang kakak dengan begitu lembutnya penuh perhatian.
"Kenapa? Tumben?" tukas Breyhan pada adik ssmata wayangnya itu.
"Ila seneng, akhirnya kakak menikah. Udah mau kepala tiga loh, hampir dikata bujang lapuk."
Masih saja Ila bisa meledek dan menggoda sang kakak dengan sarkasnya.
"Tapi, kalau udah nikah sama Ara, kakak masih sayang ngga sama Ila?" tanya nya sebagai adik semata wayang yang selalu dimanja. Ila hanya takut jika kehilangan semua dari kakaknya.
"Bukankah, kasih sayang ke Ila justru bertambah Dua kali lipat? Ila akan punya Dua kakak besok."
"Udah ah sana, Kakak mandi. Bau,"
"Hey! Kau yang kemari menggangguku, kau yang harus pergi." sergah Brey pada adiknya tercinta.
Ila tertawa lagi, rasanya hidup terasa berseri-seri pagi ini. Ia hanya ingin tertawa dan meluapkan semua rasa bahagianya.
Keduanya turun bersama, Ila dan Breyhan sudah amat rapi akan menuju tempatnya masing-masing. Seperti kebiasaannya juga, breyhan tak sarapan pagi ini karena menunggu pemberian sang pujaan hati.
__ADS_1
"Nanti maghnya kumat. Bahaya loh,"
"Engga, Mam. Nanti juga langsung dapet dari ara, tenang aja." balas Brey yang bertahan dengan air putihnya.
Mami hanya menggelengkan kepala melihat sang putra. Tapi tak bisa berbuat apa-apa, karena ia tengah mengejar yang selama ini ia tunggu dalam waktu lama.
Bahkan Brey sempat akan dijodohkan dengan anak sahabat Dady namun Brey selalu menolak dengan berbagai alasan.
Tiba dikampus, mereka melihat Ara tengah duduk diatas motornya. Ia diam dan seperti tengan melamun disana, dan Ila segera menghampirinuya.
"Ara kenapa?" tanya Ila dengan segala rasa penasaran dihatinya.
Tapi ara hanya terkejut. Melihat Ila, Ia justru langsung beralih untuk menghampiri Breyhan yanh baru turun dari mobilnya.
"Hey, Ara..." sapa manis brey padanya.
"Kak Breyhaaaaan! Maafin Ara, ara ngga sengaja!" ucapnya dengan sesal yang teramat dalam.
Rupanya ara bangun kesiangan, hingga Ia tak dapat membuatkan sarapan. Meski Brey tak apa, tapi Ia tak enak hati karena sudah berjanji sebelumnya.
__ADS_1
"Haish! Mentang-mentang ada ayank, Ila dicuekin. Au ah, kesel...." cebik gadis itu lalu pergi dari mereka semua disana.