Huru Hara Cinta Sang Penguasa

Huru Hara Cinta Sang Penguasa
Part 26


__ADS_3

Kak?" panggil Ara. Ia juga siap jika Breyhan menolak permintaannya kali ini. Ia hanya harus mempersiapkan diri, karena ia sendiri yang meminta semuanya dari brey.


Tapi tak seperti yang Ara duga. Brey justru turun untuk menggenggam tangannya, "Kau mau begitu? Baiklah. Kita akan tinggal di Appartemen setelah menikah. Kau juga belum ingin mereka semua tahu pernikahan kita, bukan?"


"Kakak,"


"Sebentar lagi Ara akan magang, dan lebih baik dikantor saja. Aku akan merahasiakan pernikahan sementara agar tak mengganggu magangmu nanti,"


"He'em... Terimakasih," Ara meraih tangan Breyhan lalu mengecupnya dengan mesra.


Betapa bahagia Breyhan saat ini, melihat sang istri kecil sudah mulai luluh hatinya. Ingin segera memeluk, atau bahkan mengecupnya bertubi-tubi dengan penuh cinta. Namun, ia harus kembali menahan semuanya.


"Mana abis nikah pisah kamar. Haissssh!" gerutu Brey dalam hati. Tapi tak apa, dalam tahap ini saja Ia sudah amat bahagia rasanya.


Keduanya telah tiba dirumah besar itu. Wajah ara tampak lebih pucat dari sebelumnya, akralnya juga dingin menggambarkan betapa gugup ia saat ini.


Brey membuka pintu, lalu meraihnya dengan lembut berjalan perlahan masuk kedalam rumah mereka. Dan seperti yang Brey bilang, bahwa Mami papi sudah menunggunya disana.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap keduanya bersamaan.


"Waalaikum salam... Ya allah, calon mantu dateng." Mami langsung menghampiri Ara dan menyambutnya. Ia membawanya duduk di sofa lalu mengajaknya mengobrol bersama.


Mami bersikap biasa saja, mereka belum sampai ke inti pembicaraan karena masih menunggu Ila turun bergabung dengan semuanya.


"Mam, siapa yang_... Ara?" Ila kaget karena ara datang dalam mode rapi dan manis saat ini. Bahkan gaun yang dipakai sama seperti kemeja Brey. Ia juga lupa, jika Ara sempat memberi clue jika Ila harus menyambutnya datang malam ini.


Ila lalu memprcepat langkahnya untuk turun, "Loh... Loh... Loh... Ini ada apa? Kenapa Ila berasa ngga tahu apa-apa? Kalian kok?" tunjuk Ila bergantian antara kakaknya dan Ara.


Papi juga langsung duduk diantara mereka, menunggu sang pitra untuk mulai bicara. Bahkan Papi dengan wajah dinginya menarik Ila untuk diam dan duduk bersamanya.


Brey mulai mengutarakan niatanya pada Ara. Ia akan segera mengesahkan hubungan mereka, langsung ke jenjang pernikahan.


"Ara yakin?" tanya Mami, dan ara menganggukkan kepalanya segera.


Hanya papi sedikit tak enak hati, Ia takut ara menikah karena balas budi atau diminta mamanya untuk membalas jasa mereka. Papi tak ingin ada keterpaksaan antara keduanya.

__ADS_1


"Meski pernikahan kami dulu awalnya juga terpaksa," tatap papi pada istrinya.


"Baiklah, jika kalian berdua sudah sangat yakin. Kita akan segera merancang semua pestanya meski baru akan dihadiri keluarga saja. Kita sama-sama tahu, bagaimana kondisi Ara dan keluarga saat ini." ujar Dady, memaklumi keadaan mantu dan besannya itu.


Brey lalu menatap ara. Gadis itu meneteskan air matanya, dan Brey tahu itu air mata bahagia. Ia amat ingin meraih tisu dan mengusapnya saat ini, namun tisu itu justru segera direbut oleh Ila yang ada didekatnya.


"Huaaaa... Hahahhaaa! Kenap Ila berasa bloon sedunia? Padahal Ara sudah kasih tahu sebelumnya kalau bakal dateng!"


"Kenapa kamu malah nangis? Kamu ngga suka aku beneran jadi ipar kamu?"


"Nangis bukan sedih, tapi nangisnya bahagia, Ara!" Ila semakin menjadi-jadi dengan air matanya.


Ara yang tadinya menangis kini tertawa. Ia pindah mendekati Ila, meraih tisu dan mengusap air matanya.


"Udah jangan nangis. Aku daritadi berusaha buat ngga nangis loh wey," Tapi nyatanya air mata mereka berdua justru keluar bersama.


Mami bengong melihat keduanya, antara ingin ikut menangis atau malah tertawa. Yang jelas mami sangat bahagia karena sang putra akan mendapatkan jodohnya.

__ADS_1


__ADS_2