
Hari ini memang pembagian tempat magang sesuai dengan jadwal yang ada. Dan mereka bahkan diharuskan mendatangi perusahaan itu untuk meberi surat pengantar magang mereka disana. Hingga nanti jadwal mereka akan mulai bekerja dan belajar dengan pegawai yang lainnya.
"Ya, kekantor..." tatap Ara pada surat pengantar itu.
"Kasih ke kakak aja,"
"Yaudah, Ara mau kesana nemuin HRD nya.
" Lah?" Ila tercengang ketika usulnya justru dibalas lain oleh ara.
" Kan dah dibilang, kalau aku ngga mau bergantung sama kakak suami disana. Malah aku berusaha agar ngga ada yang tahu kok. Kamu tuh, "
" Iya... Mau ditemenin?" tawar Ila.
"Kan ara sama aku," Sherena menyahut dari samping. Dan saat itu baru sadar jika memang she dan ara akan satu kantor dengan kakaknya. Sementara ila dikantor lain dan tak bersama mereka.
"Ila sendirian? Aaaahh, ngga mau. Maunya bareng kalian aja. Ila mau protes!" Gadis itu segera berdiri dan berlari keluar dari ruang kelas. Ia mengejar dosen dan akan meminta agar ia dapat satu kantor dengan saudara dan iparnya itu.
"Kalau kamu maunya sama mereka terus, kamu ngga akan berkembang, Ila. Kemana-mana bertiga, makan, ke kamar mandi izin bareng. Itu si ara, juga udah jadi_..."
"Huusssstt... Aah, Pak Dody jangan gitu. Perkara ini rahasia tauk," bujuk ara pada dosennya itu.
"Terus, sekarangg kamu maunya apa? Mau ikutan dikantor papimu?"
"Pengennya iya,," angguk ara padanya. Tapi sang dosen tetap menolak karena berbagai alasan, bahkan jika ila terus kekeuh dengan permintaanya itu Pak dody mengancam ila dan akan memindah lokasi magang ara agar ila dapat masuk kesana.
__ADS_1
Sebenarnya tujuan itu jelas, karena sang dosen ingin melihat pengembangan diri ila yang terlalu erat dengan sahabat yang sudah terlanjur dekat. Dan percaya atau tidak, itu semua atas persetujuan dari papi dan mami yang sebelumnya sudah sempat ia hubungi.
"Yaudah deh," Ila pasrah, kemudian keluar dari ruangan itu sendiran menuju kelasnya. Ia kembali menemui kakak ipar dan sepupunya itu untuk berpisah arah dan tujuan.
"Apa mau ara temenin ke kantor itu? Kantornya ngga jauh kan?" tawar sang kakak ipar padanya.
"Ngga usah deh. Cari yang barengan aja biar kesana sama-sam. Wait, aku buka website kelas." Ila meraih hp dan mengecek siapa yang akan magang bersamanya.
"Yakssss!" Ila tercengang melihat siapa yang akan satu kantor dengannya.
"Hay ila," sapa pria itu, yang seakan begitu tahu jika ia tengay menjadi bahan pembicaraan saat ini.
Dia Adam Rekoso, pria dari ruangan sebelah yang selama ini suka dengan ila dan selalu mengejarnya. Tapi ila terus tolak, hingga hari ini justru mereka akan terus bersama dalam satu kantor setiap harinya. Ya, libur sehari jika tak ada tugas yang memaksa mereka akan bertemu kembali.
"Kok kamu?" tanya Ila yang saat itu dihampiri adam didepan mata.
Adam sebenarnya bukan cupu, tapi ia pria yang ceria dibandingkan para pria yang selalu ada didekat ila. Seab saja meski humble, ia tak seceria adam yang kadang ila anggap cerewet .
Adam mengajak ila pergi bersama. Sedikit memaksa, tapi akhirnya ila mau daripada ia harus sendiri saat itu. Bahkan ila naik mobil adam, mobil tua yang memang jadi favoritnya sebagai kolektor barang antik. Kijang tahu 80an, tapi mesinnya masih terawat dengan begitu baik.
Tak hanya adam dan ila, tapi saat itu ara dan sherena juga pergi. Karena hanya sebentar, jadi motor ila ditinggal dikampus dan akan diambil lagi oleh ila nanti. Mereka berangkat dengan mobil sherena.
"Aduh, deg-degan."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Ada kak Brey disana," Ara terus memegangi dada dengan degup jantungnya yang tak beraturan
"Udah jadi suami istri, masih deg-degan juga?" tanya she, dan ara menganggukkan kepala saat menjawabnya.
Justru lebih deg-degan lagi mungkin. Karena disana mereka akan bersama, tapi pura-pura tak kenal dan tak memiliki hubungan. Apalagi breyhan yang selalu gemas denganya.
Tiba dikantor, sherena yang sudah mengetahui seluk beluk ruangan itu segera membawa ara masuk kedalam sana. Ara juga ingat, tapi samar karena saat itu ia masih sangat kecik ketika sering diajak main kekantor ketika papanya tengah ada pertemuan.
Keduanya naik lift kelantai atas. Ketika pintu terbuka, rupanya ada breyhan juga didalam sana bersama beberapa pegawai lainnya.
"Permisi, Pak." ucap ara yang gugup menahan perasaannya.
Jangan ditanya breyhan. Karena jika tak ada orang disana pasti ia sudah merentangkan tangan dan memeluk istrinya.
Mereka saat itu berada satu ruangan kecil yang membawa mereka keatas. Ara sengaja mundur agar tak terlalu dekat dengan breyhan dan akan mengganggu konsentrasi suaminya. Tapi, brey justru ikut mundur sedikit menyusulnya.
Brey mencari celah, dengan terus mengobrol dengan pegawai tapi harus bisa menyapa istrinya dengan ramah disana. Breyhan meraih jari kelingking ara, dan menautkan dengan kelingkingnya saat itu juga.
Sherena yang melihat mereka, langsung berdiri ditengah agar siapapun tak akan bisa melihat gelagat keduanya. Sementara ara menundukkan kepala tersipu malu tiada tara. Pasti salah tingkah, jika dengan mode normalnya saat itu.
Mampir karya baru yuk, 'I LOVE YOU OM EDO'
Berkisah tentang gadis belia bernama Zahira yang merana karena ditinggal mati oleh ayahnya. Tapi kemudian ia dibesarkan oleh sahabat sang ayah yang bernama Edo Lazuardo.
Pria itu mendidik zha begitu keras dengan sifat dingin yang ia punya, hingga zha tumbuh dewasa dan mulai ingin mencari jati dirinya. Akankan mereka jatuh cinta, dan dimulai dari siapa rasa itu diantara keduanya.
__ADS_1