Huru Hara Cinta Sang Penguasa

Huru Hara Cinta Sang Penguasa
Part 16


__ADS_3

"Iiih... Kak Breyhan kerjain Ara!! Keseel!!!" Tangan mungil itu kembali meraih dada breyhan, tapi kali ini untuk mencubitnya dengan keras dan sekuat tenaga. Breyhan memekik keras karenanya, tapi juga tertawa gemas melihat ekspresi ara yang begitu kesal dengan tingkahnya.


"Awwhhh... Ra, sakit Ara."


"Biarin, Ara kesel sama Kak brey." geram Ara padanya. "Itu, terus kenapa sampai masuk kesini? Sengaja kerjain Ara?"


"Mana ada, Ra? Ngga tega Kakak kerjain kamu begini." Dan Brey menceritakan semua kejadian yang Ia alami di lokasi proyek barusan. Sean yang terlanjur cemas membawanya ke Rumah sakit meski Ia beberapa kali terus menolaknya dan bahkan mengancam memanggilkan Mami untuk bertindak segera dengan cideranya.


Ara hanya hanya tertunduk malu mendengarnya. Salah Ia juga karena tak bertanya dulu dengan Ila tenyang keadaan yang sebenarnya, dan langsung menyimpulkan sesuatu hanya dengan apa yang Ia dengar saat itu.


"Ara kira, keracunan nasi goreng buatan Ara." ucapnya lesu.


"Engga... Sama sekali bukan karena itu. Nasi goreng ara udah habis kakak makan dikantor tadi, meski keasinan." senyum Brey padanya, membuat Ara malu setengah mati.

__ADS_1


"Terlalu jujur," gumam ara padanya. Ia masih tertunduk dan duduk diharpaan Breyhan saat ini, malu-malu dengan tingkahnya sendiri, apalagi sempat menyentuh Brey di bagian sensitifnya barusan.


"Terimakasih sudah perhatian padaku, Istriku."


"Kak Brey,"


"Kenapa? Mau dijadiin istri beneran belum mau. Inget, sejak saat itu kita belum pernah cerai,"


"Udah, Ih... Ara pergi loh," ancam Ara padanya.


"Khawatir, berantem, akur lagi."


"Ya begitulah," jawab Sean dengan ucapan sepupunya.

__ADS_1


Hingga mendadak Aya datang. Ia membawa Papanya yang duduk di kursi roda untuk menjenguk Brey yang telah menyelamatkan putrinya. Namun, mereka berdua sama-sama diam ketika melihat pemandangan yang ada. Ketika Ara masih dalam posisi menyentuh dada Brey dan Brey menatapnya dengan begitu intens seolah tak ada objek lain yang bisa menggantikan posisi ara disana.


"Pak Breyhan?" Sapa Pak RudiĀ  padanya.


"Ah... Pak Rudi? Kenapa Anda kemari? Bukankah Anda yang sakit, dan justru saya yang akan menjenguk Anda tadi." ucap Breyhan yang tak enak hati lalu beralih dari brankarnya.


"Papa mau terimakasih sama Bapak karena selamatin saya tadi. Papa semakin berhutang budi jadinya," ucap Aya dengan suara yang begitu lembut dan berkharisma, dan itu terdengar sampai ke telinga ara.


Ara sedikit merapikan diri lalu ikut turun untuk sekedar memberi salam pada siapapun yang datang. Ara berusaha ramah meski sedikit sungkan, Ia menatap Aya yang sedaritadi menatap Breyhan dengan tatapan yang penuh kekaguman seperti ketika Breyhan menatapnya.


Ara berpindah dari wajah turun ke tubuh gadis tinggi semampai itu, kurus langsing dengan pakaian yang sopan tertutup hijab. Wajahnya amat cantik meski make upnya hanya natural, dan dari ucapannya ia tampak amat terpelajar dengan karir yang juga cemerlang. Ara mendengar perkacapan yang begitu cocok atara ketiganya disana, hingga membuatnya insecure untuk menyambung kata hingga Ia hanya bisa diam seribu bahasa.


Hingga akhirnya Ara memalingkan wajahnya, memajukan bibir dan kemudian memcari semua perbandingan pelik antara dirinya dan Aya disana.

__ADS_1


"Yang didepan solehah, masa iya yang dikejar solehot? Huhuuu, jauh banget kalau Ara dibandingin sama dia." Diam-diam ara galau dibelakang sana.


__ADS_2