Huru Hara Cinta Sang Penguasa

Huru Hara Cinta Sang Penguasa
Part 18


__ADS_3

Sementara itu dua muda mudi itu justru tengah menikmati perjalanan mereka. Jam juga menunjukkan waktu makan siang, hingga sean mengajak ara mampir ke resto favoritnya.


Betapa senang Ila, ketika mendapati sean memesankan makan siang begitu banyak untuknya. Apalagi semya hidangan itu kesukaan Ila, rasanya ingin segera menyantapnya hingga habis dan tak tersisa.


"She kok jarang dateng ke kampus, kak? Dia sakit?" tanya Ila meski penuh mulutnya.


" Enga... Dia hanya merawat Opa saat ini, bersama Mama. Ila tahu, Opa selama ini dekat dengan She dan mama."


"Loh, Opa sakit lagi?"


"Ya, penyakit tua. Tapi kekeuh ngga mau diobatin atau bahkan di rawat." jawab Sean padanya. Untung saja She adalah gadis yang pandai, yang bisa dengan cepat menyerap segala bentuk pelajaran meski jarang datang dikelasnya.


"Semoga cepet sembuh," ucap Ila padanya.


Sayangnya memang papa reza sedikit sibuk dengan tugas yang diberikan papi padanya. Mencari tahu mengenai papa mama Ara dan membantu dengan segala usaha yang tengah di rintis saat ini, setidaknya mereka bisa sedikit aman dan membayar semua hutang yang ada dan mengikat leher keduanya.

__ADS_1


Keduanya menyudahi makan siang, lalu kembali berjalan menuju taman. Mereka bermain memanfaatkan waktu yang ada, sekaligus membiarkan kedua pasangan itu mempererat kemistri diantara keduanya.


Ila dan sean yakin, jika Brey tak akan menyentuh Ila sebelum benar-benar menjadi istri sahnya. Meski kelihatannya Brey sudah amat ingin menikahi ara dengan sebenarnya.


Keduanya bagai anak kecil yang baru dilepas liarkan dari kurungannya. Ila begitu bahagia karena selama ini tugas kampus amat menyita waktunya. Ia mengambil percepatan, hingga bisa lebih cepat juga magang dan segera mendapat gelar sarjananya.


Ila bercita-cita mencari pekerjaan yang jauh disana, ia amat ingin mengembangkan diri di usianya yang masih muda. Meski, itu nanti adalah perusahaan orang tuanya juga yang memang sudah menggurita dimana-mana.


"Udah yok, kasihan mereka disana. Nanti ada apa-apa lagi," ajak Ila pada kakak sepupunya.


Hari sudah semakin sore. Ara terbangun dari tidur siang dengan perut yang amat lapar. Ia membuka matanya yang masih lengket dan membuka beberapa pakaiannya karena terasa panas. Bahkan mencari keberadaan kipas anginnya dimana saat itu.


Ara meraih sebuah daster mini yang ia miliki, terasa longgar dan begitu nyaman untuk ia pakai meski amat minim. Toh ia sendirian dan tak akan ada yang melihatnya.


"Haus... Laper," lirih ara mengusap perutnya yang rata. Bahkan terasa cekung karena kekosongan yang ia rasakan saat ini.

__ADS_1


Ara berjalan, perlahan keluar dari kamarnya. Yang sebenarnya bukan kamar, karena satu ruangan yang hanya ia beri pembatas saja ditengahnya saat itu. Ia lurus terus menuju kulkas mininya, meraih sebuah air dingin dan meminumnya dengan penuh dahaga.


"Aaaaah! Nikmat," lenguh ara ketika air dingin itu merasuk dan meresap kedalam tubuhnya.


Ara memutar badan dan berjalan sembari menggaruki kepala. Terus melangkah lagi hingga nyaris mencapai batas kamarnya, namun langkahnya seketika berhenti.


"Astaga!" Ara menepuk kepala dengan kedua tangannya disana. Ia menoleh lagi, memperhatikan sosok yang duduk dan sejak tadi memperhatikan dirinya.


"Ara, suara itu tadi... Sangat indah," puji Breyhan dengan mengedipkan mata genitnya.


Lutut ara bergetar hebat, tubuh ara terasa begitu lemah saat ini apalagi mengingat pakaian minim yang ia pakai dan ia menelan salivanya dengan kuat.


Sraaaaak!


Ara seketika berlari, suaranya seolah hilang hanya untuk sekedar memekik. Ia langsung menghempaskan diri ke kasur dan menutupi tubuhnya rapat dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan selimut yang ada.

__ADS_1


__ADS_2