
"Kakak... Itu tadi siapa?" tanya Ara para Brey ketika aya dan papanya sudah pergi dari sana.
"Rekan bisnis, kenapa? Mereka sudah bersama kami sejak kita masih kecil. Papamu juga kenal siapa Pak Rudi," jawab Brey, yang dengan santainya tengah memakai kembali jasnya.
Ara tertunduk sejenak. Langkah kaki dan tangan entah kenapa spontan membantu Brey memakai jas itu ditubuhnya. Hingga Ila dan sean kembali masuk dan menangkap moment mesra mereka.
" Cieeee... Uhuuyyy! Udah pas banget pokoknya," ledek sean pada mereka. Brey hanya tersenyum membalasnya, tapi Ara seakan tak mendengar dan tetap diam seperti semula.
Entah apa yang di fikir Ara, Breyhan pun tak tahu dan tak paham bagaimana cara mengiburnya saat itu.
" Ara kenapa?" tanya Ila. Tapi ia juga tak peka dengan keadaan sahabatnya itu hingga ia tak bisa menyimpulkan apa yang terjadi dengan perasaannya.
Untuk Sean memancing bicara. Ia mengajak mereka semua pulang bersama dari sana, tapi Ara menolaknya. Apalagi jika bukan karena motor kesayangannya itu.
"Ara mau langsung pulang aja, boleh ya?" tanya ara. Tapi Brey mencekal tangan dan menarik ara kembali padanya.
"Ila, Sean... Kalian bawa motor ara,"
"Ya..." pasrah mereka berdua dengan kompaknya. Untung mereka juga akrab, hingga keduanya dengan aman berjalan bersama memanfaatkan motor untuk menikmati segala pemandangan yang ada disepanjang jalan yang mereka lewati nanti.
Ara di gandeng breyhan masuk kedalam mobil, dan brey segera duduk di kursi setirnya.
__ADS_1
"Kakak masih sakit," lirih Ara padanya. Tapi Brey tak perduli, Ia diam dan segera menyetir mobil itu untuk mengantarkan ara pulang ke kostnya.
"Ara kenapa? Cemburu?"
"Hah, sama siapa?"
"Soraya,"
"Yang tadi?" tanya Ara, dan Brey hanya berdehem menjawabnya.
Ara meragu untuk menjawab, karena ia sendiri belum paham akan perasaan yang sebenarnya.
"Lalu?"
"Ya... Kalau Kakak suka dia, ya ngga papa."
"Jika aku suka dia aku tak akan menunggumu hingga selama ini. Banyak yang lebih dari dia," ujar Brey dengan segala pengalaman yang ia miliki.
"Iya, dia aja secantik itu, gimana yang lain. Tapi kenapa harus ara? Ara dari dulu ngga baper kok dengan permainan itu, dan_..."
Ciiitzzz! Breyhan mengerem mobilnya secara mendadak dan kasar. Terdengar rintihan dari bibir brey yang punggungnya kembali terbentur bahu sofa mobilnya.
__ADS_1
"Kakak marah? Maaf," sesal ara ketika melihat tatapan tajam breyhan padanya.
Tatapan tajam itu seketika berubah menjadi senyum ramah. Brey meraih wajah ara lalu mengusap lembut hingga ke kepalanya, bahkan merapikan anak rambutnya yang tampak berantakan disana.
" Mana bisa aku marah denganmu. Bukankah pernah ku bilang, karena kita belum cerai saat itu, maka kau masih istriku hingga saat ini."
"Ara hanya ngga mau mengekang kakak dengan permainan kecil kita. Ara belum tahu bagaimana perasaan ara sebenarnya,"
"Kita pulang... Kau perlu istirahat dengan tenang. Atau perlu aku memasak untukmu?" tawar brey padanya. Karena brey setidaknya bisa memasak lebih mendingan daripada yang diberikan ara padanya.
Tapi ara menggelengkan kepala. Ia hanya minta diantar pulang sesuai ucapan brey padanya, dan akan istirahat setelah ini. Namun ketika sampai, Ara sudah keduluan terlelap dalam mobil yang tengah mereka naiki.
Dan Breyhan segera membopongnya untuk masuk kedalam kamar kost dibantu membuka kunci oleh sang pemilik disana. Tas Ara terbawa Ila, dan kini ia entah dimana bersama sean. Untung saja pemilik kost itu menuruti permintaan Breyhan setelah Brey bilang jika Ia adalah calon suami ara.
Bahkan ibu pemilik kost tersebut mengawasi hingga brey membawa ara tidur di kamarnya.
"Bolehkah saya menunggu disini? Saya menunggu adik saya membawa motor ara, dan kami akan pulang bersama." tanya Brey padanya.
"Oh silahkan, ngga papa kok. Saya yakin anda orang baik-baik. Saya tinggal dulu, permisi." pamit sang pemilik kost itu padanya.
Dan breyhan duduk dilantai, bersandar dinding meraih sebuah buku yang ada didekatnya. Entah kapan Ila dan Sean akan datang menyusulnya kali ini.
__ADS_1