
*
"Aaaaah! Tolong, ada yang ganggu Ara!" pekik gadis kecil itu ketika tengah dibully teman yang lain. Ia dibully sebagai anak manja dan tak memiliki teman, padahal mereka yang menjauhi dan amat suka membully ara selama ini.
"Ngadu aja terus. Pantes kamu ngga ada temen, semua males berteman sama kamu!" sergah salah seorang dari mereka, sepertinya adalah ketua geng mereka.
"Kan kalian yang ngga mau sama Ara mainnta, kok ara yang disalahin?" tangis gadis itu tersedu-sedu. Padahal dulu sempat berteman, tapi juga mereka selalu memanfaatkan ara untum disuruh ini itu menuruti kemauan mereka semua.
"Iya, itu karna kamu manja. Dikit-dikit ngadu lapor sama mamamu," bocah itu bahkan mendorong tubuh mungil ara hingga tersungkur ketanah, sontak gadis itu semakin keras dan menangis sejadi-jadinya. Bajunya bahkan kotor oleh tanah, telapak tangannya terluka dan perih hingga ia merintih.
"Makanya jangan manja, biar punya temen!"
"Woy!!" pekik seorang anak laki-laki dari arah yang berbeda. Ialah Breyhan dan adiknya yang kebetulan searah dengan mereka, tapi brey pulang sedikit telat karena menunggu Ila yang ekskul disekolahnya.
Breyhan segera berlari dan melerai mereka. Andai bukan perempuan, pasti brey sudah menghajar mereka semua sejadi-jadinya, tapi mereka justru merengek ketika Breyhan datang dan memarahi mereka semua disana.
"Kalau ngga mau dimarahin, makanya jangan nakal!" omel Ila yang berusaha menenangkan sahabatnya itu.
"Kalian jahat!!" mereka semua lari terbirit-birit pergi dari mereka. JIka dikatakan anak-anak, tapi mereka semua cukup jahat dengan tindakan bully yang mereka lakukan saat itu.
Brey segera menoleh dan melihat Ila memapah ara disana, dan Ia segera menghampirinya. Ara hanya diam menundukkan wajahnya, ia malu karena ia bahkan tak bisa membela diri ketika dibully seperti itu hingga harus merepotkan orang lain lagi karena kelemahannya.
Brey berlutut membelakanginya, bermaksud akan menggendong gadis itu dibelakangnya. "Ayo," ajak Brey, tapi Ara justru menoleh pada ila dengan ragu.
"Ayo naik, Ila bawain tas kamu. Kotor semua nih," balas Ila padanya. Bahkan Ila membimbing Ara untuk naik ke punggung kakaknya, dan mengangkat mereka agar berdiri setelah ara naik disana.
Ketiganya berjalan bersama, meski malu tapi tangan Ara melingkar ke leher Breyhan saat ini agar ia tak jatuh dan semakin sakit nantinya. Mereka terus berjalan, dan Ila terus dengan telaten membersihkan wajah ara yang kotor dengan rambut yang berantakan.
Itu sebagian ingatan ara pada mereka, apalagi kebaikannya. Apalagi dengan brey dan Ila yang memang selalu kompak untuk membantu orang dekat mereka. Hanya saja sekian lama berlalu, wajah brey memang begitu berubah dari terakhir mereka bertemu.
__ADS_1
"Sama gantengna, tapi sekarang lebih mateng." celetuk ara disela lamunannya, bahkan laptopnya menyala didepan mata.
"Ah... Apaan sih? Kenapa jadi bayangin masa lalu?" Bahkan terngiang oleh Ara seketika, saat Brey bermain menjadi suaminya dan mengucap ia bersedia menjadi suami ara hingga akhir hayatnya.
Mak Jleeb! Itu rasa yang selalu terasa ketika ara mengingatnya. Selama ini ia tak ingin besar kepala membawa perasan itu hingga dewasa dan sedemikian rupa melupakannya.
"Apaan sih, Ra." Ara menepuk-nepuk wajahnya hingga memerah, memaksa diri sendiri untuk mulai fokus pada tugas kampus yang tertunda karena semua kejadian yang ada.
Hari semakin larut, Ara mulai ngantuk dan menutup laptopnya untuk mengistirahatkan diri. IA memiliki sebuah niat, dan itu hanya bisa ia mulai jika ia bangun pagi dan melakukan semuanya dengan seruis. Namun, Mamanya menelpon untuk menanyakan kabarnya malam ini.
"Sudah mau tidur?"
"Ya, Ma. Oh iya, tadi ketemu Mami papinya Ila." lapor Ara pada mamanya. Pasti mama amat terkejut dengan penuturan ara saat ini, dan lagi mama juga sebenarnya merindukan mereka semua.
Ara bilang, jika ara menceritakan kondisi keluarga mereka pada mami papi disana. Mereka amat sedih mendegar semua yang diceritakan ara mengenai keluarga malangnya itu saat ini.
"Ara kenapa ceitanya sampai begitu?"
Sang mama juga menangis disana, bersyukur karena anaknya jatuh ketangan yang tepat ketika jauh darinya. Bahkan entah ucapan terimakasih seperti apa yang bisa membalas budi mereka yang bahkan telah menganggap ara keluarganya sendiri.
Ara menyudahi pembicaraan mereka agar bisa degera tidur malam ini. Ia mematikan lampu dan merubah mode hpnya agar tenang dan tak mengganggunya, hanya alarm diseting agar ia bangun subuh besok.
"Bismillah," ucap ara, lalu memejamkan mata.
*
"Kak Brey, ayo cepetan... Udah telat nih," ajak Ila dengan rengekannya. Andai ia memiliki motor seperti ara, pasti ia sudah berangkat dan meninggalkan sang kakak yang masih santai dikamarnya.
"Haissshh... Malah cukur lagi, aaaahhh!" kesal ila padanya.
__ADS_1
"Bentar sayang... Kamu sarapan dulu sana,"
"Mcccckk!" Ila hanya mencebik bibir, lalu keluar meninggalkan kakaknya untuk sarapan secepatnya. Jika hingga ila selesai sarapan kakaknya belum juga turun, maka ila akan segera menyeretnya untuk mengantarnya kekampus saat itu juga.
"Ila, pelan-pelan makannya," tegur Mami pada putri kesayangannya.
"Kak Brey tuh, lama. Ila ada presentasi hari ini, Mi. Lihat, udah rapi kan?" tunjuknya pada diri sendiri.
Dan benar saja, Brey turun ketika sarapan ila sudah selesai.
"Pokoknya kakak antar ila dulu. Sarapan dikantor aja,"
"Ya, baiklah..." pasrah Breyhan, ia juga tahu ini salahnya. Lagipula ia juga belum terlalu lapar hingga masih bisa menunda sarapannya.
"Jangan ngambek, sayang. Kenapa sih?" bujuk Brey ketika sang adik memanyunkan bibirnya. Padahal baru kali ini brey membuatnya nyaris telat.
Tapi Ila tak bicara apa-apa hingga mereka tiba dikampusnya. Justru ila menatap ara yang masih berdiri didekat motornya seakan tengah menunggu seseorang dari tatapan matanya.
"Ara, kok masih diluar?" tanya Ila yang keluar dari mobilnya.
Namun, saat melihat mereka justru wajah ara pucat seketika. Ila takut jika ia pingsan lagi setelah ini dan mereka gagal presentasi.
Ara tampak menghela napas beberapa kali. Ia lalu berjala menuju breyahan yang baru keluar dari mobil untuk menyapannya dan memberikan sesuatu padanya.
"Ini... Buat kakak," ucapnya gugup dan terbata.
Tapi, baru saja brey ingin bertanya justru ara meraih lengan Ila dan lari pergi darinya. Ia tampak amat terburu-buru, memang dikejar waktu atau sebenarnya menghindari suami masa kecilnya itu.
"Apa ini?" gumam Breyhan. Dan saat ia buka, rupanya itu adalah kotak bekal dari ara. Meski hanya berisi nasi goreng sederhana, tapi sepertinya amat istimewa baginya.
__ADS_1
Breyhan hanya bisa tersenyum sembari memainkan bibirnya sendiri saat itu. Andai tak malu, Ia mungkin akan bersorak kegirangan disana. Tapi ia memilih masuk kedalam mobil dan segera berangkat kekantornya.