Huru Hara Cinta Sang Penguasa

Huru Hara Cinta Sang Penguasa
Part 36


__ADS_3

Acara demi acara berlangsung. Nasehat pernikahan juga telah disampaikan untuk kedua memperlai sebagai arahan untuk membangung biduk rumah tangga diantara keduanya.


Tangis, tawa dan bahagia mengiringi semua acara yang ada. Ijab qabul yang diucapkan Breyhanpun berjalan mulus tanpa hambatan sekali tarikan napas. Apalagi maskawin yang diminta ara tak begitu rumit dan banyak.


Nasehat mama yang mempermudah jalannya saat itu. Mama menekankan bahwa wanita yang hebat tak akan menuntut mahar pada pria, tapi pria yang hebat akan memberi harga pada wanitanya dengan begitu mahal. Memang maharnya kecil, tapi brey memberikan sesuatu yang begitu mewah untuk istrinya.


"Saya terima Nikahnya Tiara Artamevia binti Johan prambudi dengan maskawin seperangkat alat shalah dan kalung emas sepuluh gram dibayar TUNAI!"


Dan semua bersorak SAH setelahnya. Ara menangis, apalagi melihat mama dan papa yang jauh disana. Harusnya ara memeluk mereka saat ini sebagai ungkapan rasa bahagia. Untungnya ada mama Olin dan Papa reza yang mewakili semuanya. Bahkan ketika prosesi sungkeman pada orang tua.


"Aku terharu," tangis Ila melihat mereka disana. She juga menangis, tapi tak sebrutal ila hingga masih bisa mengusap air mata untuknya.


Kedua mempelai saat ini duduk disinggasananya. Meski tak bertamu undangan, tapi mereka perlu melakukan beberapa sesi foto seperti yang seharusnya. Terutama untuk para keluarga yang hadir disana.


Seorang gadis datang, mendorong kursi roda menghampiri mereka. Dialah Aya dengan sang Papa, yang datang ke acara pernikahan mereka.

__ADS_1


"Pak Breyhan, selamat ya... Kalian sudah sah menjadi suami istri," ucap aya yang mengulurkan tangannya saat itu.


Brey menyambutnya, lalu tersenyum dan berterimakasih atas kedatangannya hari ini. Begitu juga ara, yang saat itu sayangnya menangkap wajah Aya aneh padanya.


"Dia siapa?"


"Rekan kerja, kenapa?" jawab santai brey pada istrinya. Lagipula mereka sudah bertemu, kenapa musti bertanya lagi mengenai dirinya.


"Bukan... Tapi dia siapa kakak sebelum ini? Bukan kekasih?"


Ara tak bertanya lagi, Ia kemudian duduk diam dikursi pengantinnya. Rasanya lelah, apalagi jika nanti akan banyak gadis lagi yang datang memberi selamat pada keduanya.


Ila yang bilang, jika brey banyak yang suka. Bahkan ketika fiting kebaya, Ila bilang jika designernya adalah gadis yang juga pernah mengejar breyhan semasa kuliah. Alhasil, ara rasanya ingin membatalkan pesanan saat itu juga dan mengganti butik yang ada. Tapi sayang sudah tak bisa, karena jaraknya yang sudah tak memungkinkan lagi.


"Araaaa," panggil lembut breyhan pada istrinya yang menekuk muka.

__ADS_1


"Tahu ngga, kenapa ara insecure sama kakak? Ya ini,"


"Apa sayang?"


"Cewek yang kejar kakak diluar itu banyak, mereka pinter, solehah. Ara?"


Breyhan hanya tersenyum padanya. Ia meraih wajah itu lantas mengusap air mata cemburu yang menetes ke pipi mulus itu dengan tangannya.


"Kau cemburu?" ledek brey padanya. Ara yang tersipu malu hanya bisa memukul dadanya untuk mengalihkan perhatian brey saat itu.


Breyhan menangkap tangan mungil ara, lalu mengecupnya dengan mesra. Sempat ara menolak, tapi brey menahannya. Andai tak ramai orang, mungkin breyhan yang gemas sudah mengecup bibir mungil manis itu saat ini.


"Iiih... Ngga sabar rasanya, pengen cepet malem."


"Emang ada apa malem nanti?" tanya ara dengan segala keluguannya.

__ADS_1


"Ngga papa. Pertama kalinya tidur sekamar bareng sama kamu. Ngga jadi pisah kamar, kan?" goda brey padanya. Seketika wajah ara memerah, begitu merona bagai kepiting yang baru diangkat dari panci rebusannya.


__ADS_2